Share

Bab 3

Author: VAD_27
last update publish date: 2026-07-28 23:32:16

BRAK!

Pintu depan rumah ditutup kasar, dada Evelyn bergemuruh dengan kepala berdenyut. Perasaannya aneh, bergelombang takut namun ada sedikit nostalgia?

Evelyn menggeleng kuat.

Pikirannya kacau, jarinya yang menekan nomor polisi bergetar sebelum pundaknya di tepuk lembut.

"Argh!"

Reaksi Evelyn masih sama hebohnya, sontak ia menjauh dengan tatapan waspada saat pria rambut biru muda keriting panjang sudah berdiri di depannya.

"Kau! Lewat mana kau keluar?!" Tanya Evelyn bingung, padahal pintu depan tepat di depan matanya.

"itu tidak penting! Aku akan melaporkan kalian semua ke polisi!" Ancam Evelyn sambil menekan tombol memanggil, dia memperlihatkan layar ponselnya dengan muka digarang-garangkan.

Berharap pria di depannya takut dan tidak berbuat macam-macam.

Pria berambut biru berdehem lalu mengangguk pelan, tidak ada wajah panik seolah ancaman Evelyn tidak berarti baginya. Itu membuat Evelyn jengkel.

Tapi anehnya, gerak-gerik pria ini aneh, dia gelagapan dan tidak berani menatap mata Evelyn.

"La-kukan apa yang ingin kau lakukan. La-laporkan kami semaumu." Ujarnya pelan.

Kening Evelyn berkerut, sejak kapan penjahat ingin dilaporkan?

"Ta-tapi lakukan sambil berpakaian. Kau akan kedinginan." Ujar pria rambut biru—menyodorkan baju yang terlipat rapi.

Evelyn sontak melotot sambil memeluk tubuhnya, dia menoleh ke depan halaman, banyak tetangga yang lewat sambil meliriknya.

Ada pula bapak-bapak yang melirik genit.

Evelyn sontak menyambar dan segera memakai kaos oversize dan rok panjang selutut itu.

"Tapi ini bukan berarti aku tidak akan melaporkanmu! Aku tetap akan—, eh? Kemana dia?" Tanya Evelyn saat pria berambut biru sudah menghilang dari hadapannya.

"Halo? Dengan kepolisian—,"

Evelyn terhenyak mendengar suara dari telpon, dia segera mendekatkan ponsel ke telinga dan melaporkan kejadian gila pagi ini.

Langkahnya dibawa menjauh sebelum berlari meninggalkan pelataran rumah dengan ketakutan.

Dari balik jendela rumah, ketujuh pria itu mengawasi gerak-geriknya sampai punggung gadis itu tidak nampak lagi.

"Sudah aku bilang, kita akan membuatnya ketakutan." Ujar Darianth—pria berambut blonde dengan lensa mata biru menyala.

Wajahnya datar, tatapannya tajam mengawasi keluar jendela.

"Ketakutan? Aku pikir dia senang sampai tidak bisa berkata-kata." Ujar Kaito.

Pria berambut putih dengan mata semerah darah itu tersenyum sambil memainkan gelas berisi wine di tangannya, duduk di meja makan.

"Wajahnya pucat, itu artinya dia ketakutan, Vampir tidak peka." Tukas Bram sambil menggigit apel, berdiri di samping Kaito.

"Itu salahmu karena menggerayangi dada Evelyn sembarangan, Naga gila." Umpat Agaras melempar kacang dari sebrang meja makan.

"Sialan! Bagaimana aku tidak kepanasan saat melihat istriku memelukmu begitu erat?!" Tukas Bram tidak terima.

Agaras hanya tertawa tengil sambil melempar kacang ke mulutnya.

"Mau bagaimana lagi? Dari semua suaminya, hanya aku yang bisa memenuhi kehangatan tubuh Evelyn." Tukas Agaras pongah membuat pria berambut hijau mendengus di sofa.

"Kau hanya punya kehangatan, sementara aku punya ketampanan, wibawa dan segalanya." Tukas pria berambut hijau—Lucian.

"Bu-bukannya sekarang yang lebih penting adalah meyakinkan Eve bahwa kita adalah suami aslinya tanpa menganggap kita orang gila?" Ujar pria berambut biru keriting—Raidne.

"Terlambat." Ujar Bram menunjuk Raidne. "Dia sudah menganggap kita orang gila."

Kening Raidne mengerut dengan wajah gelisah. Dia yang paling terlihat panik diantara yang lain.

"La-lalu bagaimana?" Tanya Raidne.

"Ikat tubuhnya, bius, masukan dalam tas dan bawa ke Kerajaan Eldoria dalam keadaan pingsan. Di Istana, kita bisa mencuci otaknya sampai dia menerima ketujuh suaminya." Jawab pria berambut hitam keunguan yang duduk tegak di sofa dengan wajah bengis.

"Aku akan membiusmu, Zev. Diam!" Tukas Bram berdecak kesal mendengar ide penculikan itu.

"Eve itu gadis keras kepala. Kita semua tahu itu. Membawa ke istana secara paksa hanya akan membuatnya semakin membenci dan takut pada kita." Ujar Darianth datar membuat mereka semua setuju dalam diam.

"Satu-satunya cara adalah mendekatinya secara perlahan, menariknya ke dunia kita, membuatnya penasaran dan memenangkan hatinya." Lanjut Darianth datar.

"Lagi?" Tanya Agaras menghela napas.

"Kita sudah melakukannya sekali." Komentar Kaito tersenyum samar.

"Dan dia hilang ingatan." Tambah Darianth mengungkap fakta yang membuat mereka bungkam.

"Jangan gegabah. Evelyn itu rapuh di kehidupannya yang sekarang, dia bahkan melupakan indahnya cerita dongeng yang sangat dia sukai." Tukas Darianth menelan ludah pahit.

"Haruskah aku membunuh kedua saudaranya agar dia bebas?" Tawar Zev santai membuat Bram dan Agaras melotot garang padanya.

"Jangan gegabah. Dekati perlahan." Ujar Darianth tegas, dia sangat berhati-hati kali ini.

"Kenapa kalian ragu? Ini Evelyn. Eve kita. Meskipun ingatannya hilang ratusan kalipun, dia tetap akan jatuh cinta pada kita." Tukas Darianth membuat keenam pria itu mengerjap, seolah membenarkan dalam hati.

Darianth benar.

Ini Eve, gadis manis mereka.

Istri mereka.

***

"Kau gila, ya? Bayangkan ada pria asing aneh tiba-tiba ada di rumah dan kau sedang sendirian! Tentu saja aku ketakutan, bodoh! Bukannya jatuh cinta! Kau terlalu hopeless romantic!" Sembur Evelyn kesal.

Sindi hanya cekikikan sambil garuk kepala. Dia terlalu banyak membaca cerita romantis sampai lupa memakai logika.

"Memang sih, jika dipikir lagi, aku akan takut setengah mati jika itu terjadi padaku. Astaga, Evelyn! Apa kau sudah mengecek tubuhmu sendiri? Bagaimana kalau ... Ka-kalau mereka sudah memperkosa—,"

Evelyn menggebrak meja untuk menghentikan ucapan Sindi yang terasa mengerikan. Dia menekan keningnya yang berdenyut dengan jantung berdebar.

Kenapa dia tidak kepikiran?

Ketujuh pria itu semalaman ada di rumahnya, di kamarnya!

"Astaga!! Bagaimana cara mengecek keperawananku sudah hilang atau tidak?!" Tanya Evelyn panik sambil mondar-mandir.

"Apa bagian privatmu sakit?" Tanya Sindi.

Evelyn mengernyit sebelum menggeleng kuat.

"Apa ada bercak darah di ranjangmu tadi?" Tanya Sindi lagi.

"Tapi bukannya seprei bisa diganti?" Tanya Evelyn membuat Sindi menepuk kepalanya, benar juga.

"Bagaimana ini?" Panik Evelyn.

Percakapan mereka terpotong oleh bel masuk.

"Kita cari tahu lagi nanti. Sekarang waktunya masuk kerja. Tapi apa kau baik-baik saja langsung bekerja? Seharusnya kau istirahat bukan?" Tanya Sindi khawatir.

Penampilan Evelyn acak-acakan dengan wajah pucat. Dia langsung pergi ke tempat kerja setelah kabur sambil menelpon polisi.

"Aku butuh mengalihkan pikiranku. Jika sudah pulang ke rumah nanti, polisi pasti sudah mengatasi mereka dan aku akan aman, bukan?" Tanya Evelyn membuat Sindi mengangguk.

"Kalau begitu ayo." Ajak Sindi bergabung bersama ratusan pekerja lainnya untuk masuk ke gerbang pabrik besar di kota mereka.

Evelyn masih menetralkan jantungnya yang berpacu cepat dan tangan gemetar.

Sejujurnya, Evelyn ingin sekali istirahat untuk menetralkan pikiran dan perasaannya.

Kejadian pagi ini sangat menghantamnya.

Namun Evelyn harus bekerja karena absensinya. Bolong satu hari saja, kontrak kerja kedepannya akan dipertaruhkan.

Evelyn mengepalkan tangannya yang gemetar sebelum melangkah ke gerbang.

Namun langkahnya terhenti saat kepalan tangannya digenggam dan ditarik, membuat Evelyn membalikan tubuhnya.

Mata Evelyn melebar mendapati pria berambut merah mesum tadi pagi yang menggenggam tangannya.

"KA-KAU—,"

"Kenapa memaksakan diri bekerja saat tubuhmu perlu rehat? Ayo pergi." Ujar Bram menarik lengannya membuat Evelyn menahan.

"Kau mesum! Lepaskan aku! Kenapa kau masih berkeliaran?! Apa kau kabur dari polisi?!" Teriak Evelyn panik sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Bram.

"Percaya padaku, kau akan suka jika sudah mengunjungi Kerajaan Eldoria. Dulu juga begitu." Ujar Bram membuat Evelyn memukul tangannya kesal.

"Lepaskan aku!"

"Tenang, Eve." Ujar Bram mencengkram kedua bahunya membuat Evelyn tersentak.

Mata mereka bertemu, baru saat itu jantung Evelyn berpacu normal, anehnya ketakutan dan kegelisahannya mendadak hilang secara perlahan.

"Sekarang ayo bolos kerja, kita akan pergi jalan-jalan ke Kerajaan Eldoria di dunia supranatural."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 59

    "Kau akan pergi ke mana?" Tanya Salim menghentikan langkah Raidne keluar ruangan."Pa-pantai."Blam!Pintu ditutup meninggalkan Salim yang masih terjerat dokumen di meja kerjanya. Salim jadi menghela nafas, dia tidak berhak menghentikan karena pekerjaan Raidne sudah tuntas.Hanya saja ada yang menganggu benak Salim."Sepertinya dia ke pantai untuk menghindar dari Ratu." Simpul Salim menggeleng pelan.Raidne adalah orang yang cerdas, buktinya dia selalu menjadi orang tercepat menyelesaikan tugas Kerajaan. Karena itu pula dia bisa menjadi Raja.Kelemahannya adalah di ketakutan dan keraguannya sendiri.Jika saja Raidne tidak berpikir berlebihan bahwa semuanya akan berakhir buruk mungkin dia tidak perlu menyimpan rahasia pada Ratu."Mungkin." Gumam Salim.Dia sendiri jadi meragu saat mengingat masa lalu dimana terjadi masalah besar yang melibatkan Raidne dan Evelyn.Hari itu Salim menyuruhnya tenang dan berhenti memprediksi semua akhir bu

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 58

    Langkah Darianth terhenti saat pintu utama Istana terbuka. Penjaga memberitakan kedatangan Evelyn dan Raidne.Kebetulan sekali."Makan malam sudah siap, mari-," ucapan Darianth terhenti dengan netra melebar.Keningnya mengernyit melihat keadaan keduanya yang kacau. Pakaian Evelyn robek dan memakai jubah Raidne asal sedangkan kondisi Raidne lebih parah. Tubuhnya berlumuran darah, hidungnya patah dan wajahnya babak belur.Keduanya bergeming dengan raut wajah tidak terbaca, apalagi mereka berdiri dengan jarak."Apa yang terjadi?" Tanya Darianth.Hening.Tidak ada jawaban dari keduanya sampai Darianth tersentak. Ujung jarinya terhenti beberapa senti di depan leher evelyn yang terluka. Ada bekas cekikan di sana."Sebenarnya apa yang-," ucapan Darianth terhenti saat Raidne melewatinya.Beranjak pergi tanpa mengatakan apapun. Darianth jadi menoleh pada Evelyn yang menunduk sambil mengusap lengannya. Raut wajahnya tidak terbaca. Kenin

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 57

    "Raidne tidak mungkin seorang pembunuh. Aku tidak akan tetipu." Ujar Evelyn menggeleng kuat dengan jantung berdegup kencang.Dalam artian buruk.Tapi dia akan tetap mempercayai Raidne."Aku tidak tahu apa hubunganmu dengannya, tapi terlihat bahwa pria ini menaruh kasih sayang dan cinta besar untukmu namun sepertinya itu hanya perasaan sepihak, ya?" Tanya Raidne membuat Evelyn tersentak."Kau ... Sama sekali tidak tahu apapun soal pria ini. Sedari awal kau hanya menumbuhkan kepercayaan tanpa tahu bagaimana karakter asli san masa lalunya."Evelyn jadi meneguk ludah dengan jantung mencelos, yang dikatakan hantu itu benar adanya."Kalau begitu, haruskah aku ceritakan bagaimana sifat Siren yang sebenarnya?" Tanyanya membuat Evelyn jadi bimbang.Haruskah Evelyn mendengarkannya karena sejujurnya dia sangat penasaran apalagi Raidne terlihat menghindar dan menyembunyikan sesuatu darinya."Kau sepertinya penasaran. Baiklah, akan aku ceritakan padamu-,"

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 56

    "Raidne! Ohok-ohok ... A-apa yang kau lakukan?!" Jerit Evelyn terbatuk perih saat cekikan tangan Raidne semakin menguat. Membuat tenggorokannya tertekan dan kesulita mengambil nafas. Evelyn melotot dan meronta saat cekikan Raidne seolah ingin mematahkan tulang lehernya. Suara tawa melengking dari hantu laut itu kembali memenuhi atmosfer, seolah menertawakannya yang tengah sekarat. Jemari Evelyn mencoba mencengkram sekitarnya, dia meraup pasir dan melemparkannya ke mata Raidne namun yang terjadi adalah Evelyn lebih terkejut saat Raidne tetap membuka matanya meskipun memerah karena pasir. Ini gila! "Bunuh! bunuh!" Desis Raidne dengan gigi menggertak. Evelyn kembali meronta, meraba-raba sekitarnya untuk mencari benda apapun yang bisa dia gunakan. "Aku akan membunuhmu terlebih dahulu, membuat Siren ini menderita sebelum kemudian membunuhnya untuk menyusulmu!" Desis Raidne menyeringai dengan netra melotot dan diakhiri

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 55

    "Hahh, akhirnya selesai juga." Gumam Bram merenggangkan badan dan pinggangnya, berdiri di pelataran Rumah sakit."Anda tidak perlu memaksakan diri, Yang Mulia." Ujar Yul di sampingnya."Aku tidak, namun jika tidak melihat langsung kondisi para korban yang terluka, aku sama sekali tidak bisa tenang." Ujar Bram.Yul jadi mengulum senyum di wajahnya yang renta, "anda sungguh berhati mulia, Yang Mulia.""Tentu saja. Sekarang, ayo mulai bekerja. Aku harus cepat menyelesaikannya karena ada istriku yang cerewet tengah menungguku." Ujar Bram tersenyum geli saat wajah kesal Evelyn terbayang di kepalanya."Anda pasti menyelesaikannya dengan cepat.""Tentu saja! Rakyat percaya padaku karena aku bijak, berhati mulia dan baik hati. Apalagi aku sangat populer karena ketampananku." Tukas Bram sambil menyeringai bangga."Lalu, apakah dengan itu semua Ratu Evelyn sudah menyukai anda kembali, Yang Mulia?" Tanya Yul sontak membuat Bram terbatuk karena ucapannya tepat s

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 54

    "Raidne, ada apa?" Tanya Evelyn bingung saat dia ditarik untuk berlari menjauh dari pantai.Tapi Evelyn tidak mendapatkan jawaban apapun saat Raidne terus berlari dengan wajah panik. Seolah secepat mungkin ingin membawa Evelyn pergi dari sana.Nafas Evelyn memburu saat langkah mereka terhenti di depan gua sebelumnya, kali ini dengan tangga menanjak."Ah!" Tukas Evelyn terkejut saat tubuhnya diangkat ke pundak. Raidne memanggulnya seperti sekarung beras sebelum menaiki tangga gua dengan sangat cepat.Raidne tidak bisa mendapatkan risiko kaki Evelyn yang tergellincir jatuh di tangga seperti sebelumnya. Dia juga tidak tega jika harus menarik Evelyn tertatih-tatih ditangga.Cukup lama sampai keduanya berhasil keluar dari gua. Evelyn pikir Raidne akan langsung menurunkannya namun ternyata tidak, dia lanjut berlari sambil terus menggendongnya melewati hutan sebelumnya.Kening Evelyn mengernyit dengan mata membelalak saat langit yang sebelumnya cerah mendadak g

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status