مشاركة

Bab 5

مؤلف: VAD_27
last update تاريخ النشر: 2026-07-29 17:45:49

Evelyn masih mematung, tanpa disadari serigala tadi kembali ingin menyerangnya namun serigala raksasa itu menghantamnya.

Evelyn memalingkan wajah ngeri saat kedua hewan buas itu saling beradu taring dan menyakiti. Sampai serigala raksasa berbulu cokelat kemerahan itu berhasil mengoyak leher serigala yang lain sampai putus.

Baru serigala raksasa itu menghampiri Evelyn membuatnya mundur dengan mata bergetar ketakutan.

Evelyn jadi meneguk ludah, apa serigala raksasa ini juga berniat memangsanya setelah mengalahkan serigala lain?

Dan lagi, ukuran tubuhnya sangat besar, lebih tinggi dari serigala biasa membuat lutut Evelyn melemas.

Dia akan langsung mati jika dikejar monster seperti ini.

Kening Evelyn mengerut saat asap keluar dari tubuh serigala raksasa, menutupi pemandangan dan membuat Evelyn terbatuk.

Bola mata Evelyn membesar dengan mulut menganga saat serigala raksasa tadi berubah menjadi manusia.

Evelyn menggeleng kuat, dia tidak yakin itu manusia.

Sampai Evelyn mengernyit saat mendapati tubuh kokoh, liat dan wajah yang familiar.

"Kau—, bukannya kau pria gila yang di Cafe dan yang aku peluk saat malam tadi?" Gumam Evelyn bingung sebelum membelalak saat dia menyadari sesuatu.

Pria itu telanjang bulat!

Evelyn terperanjat saat pria itu menabrak dan memeluk tubuh Evelyn erat. Degup jantung Evelyn berpacu cepat saat rasa hangat langsung menjalar ke setiap nadinya, membalut kulitnya yang sedari tadi membeku kedinginan.

Entah kenapa kehangatan ini rasanya familiar tapi Evelyn tidak ingat apapun.

"Kenapa kau berada di dunia supranatural? Aku pikir kau sedang bekerja!" Tukas Agaras dengan napas memburu.

Pelukannya mengerat pada tubuh mungil Evelyn yang tenggelam di tubuh besarnya. Dia masih panik setengah mati setelah beberapa menit lalu mencium bau tubuh Evelyn dari area hutan terlarang.

"A-aku ... Ta-tadi," ucap Evelyn gelagapan.

"Untung aku tepat waktu." Ujar Agaras mencengkram lembut kepala Evelyn, mengusapkan kening pada puncak kepalanya.

"Evelyn!"

Agaras menaikan pandangan mendapati Bram tengah mendekat dengan napas memburu.

"Sudah kuduga, ini ulahmu! Kau membahayakan nyawa istri kita dengan membawanya ke hutan terlarang! Aku akan membunuhmu sesudah ini!" Tukas Agaras menggeram rendah dengan suara hewan buasnya.

"Baik-baik, tapi kau lepaskan Evelyn dulu!" Tukas Bram memisahkan keduanya sampai pelukan Agaras lepas.

"Aku sedang menenangkannya!" Protes Agaras.

"Kau lupa sedang telanjang! Kau membuatnya seperti kepiting rebus!" Tukas Bram.

Agaras baru sadar, dia jadi menoleh dan mendapati wajah Evelyn sudah merah padam dengan pandangan kosong.

"Kenapa kau shock begitu? Bukannya istri suka melihat suaminya gagah dan telanjang begini?!" Tanya Agaras membuat Bram berdecak dan mendorongnya mundur.

Evelyn tersentak saat Bram menutup matanya dengan sebelah telapak tangan.

"Kau lupa? Evelyn masih perawan. Tentu saja dia akan pingsan melihat tubuh pria telanjang." Tukas Bram membuat Evelyn tertegun.

Jadi, dirinya benar masih perawan?

Ketujuh pria itu tidak menyentuhnya meskipun semalaman ada di rumahnya?

Evelyn menipiskan bibir, apakah dia bisa mempercayai ucapannya?

"Lantas kenapa kau membawanya kemari?" Tanya Agaras.

"Aku bermaksud pergi ke Istana, tapi entah kenapa aku malah berteleportasi ke hutan terlarang." Tukas Bram mengacak rambutnya.

Agaras mengernyit, "mustahil. Apa kau salah mengucap mantra?"

Bram menggeleng, "aku merasa ada yang aneh saat melakukan teleportasi, dan benar saja ... Portal dimensi dunia supranatural berubah menjadi di tengah hutan terlarang. Padahal harusnya portal itu jauh ratusan kilometer di sebelah hutan sialan ini."

"Ini aneh, apa ada seseorang yang mengotak-atik portal?" Tanya Agaras bingung.

"Bangsa maha hebat mana yang bisa mengotak-atik portal dimensi selain pemerintah dunia ini, Agaras. Mungkin pemerintah dunia supranatural sedang melakukan perbaikan atau apapun entahlah." Tukas Bram acuh, tidak mau memikirkan lebih jauh.

"Haruskah aku protes ke pemerintahan? Mereka sudah membahayakan istriku!" Tukas Agaras menggeram kesal.

"Jangan. Kita sudah membuat mereka membenci kita dengan menikahi manusia, jangan sampai mereka membuat kita makin susah." Peringat Bram membuat Agaras berdecak.

"Bisa hentikan omong kosong kalian dan antarkan aku pulang?" Potong Evelyn menyingkirkan tangan Bram.

Keduanya jadi menoleh pada gadis yang melipat tangannya kesal dengan ekspresi campur aduk.

"Eve, kau harus menenangkan pikiran dulu. Portal dimensi tidak bisa dipakai setiap saat ke dunia manusia. Hanya bisa satu kali sehari." Ujar Agaras membuat Evelyn tersentak.

"Ta-tapi, bagaimana aku pulang? Apa harus menunggu besok? Tapi aku tidak bisa! Aku sudah bolos kerja, dan kedua saudaraku akan membunuhku jika aku tidak pulang!" Tukas Evelyn panik.

"Mumpung sudah di sini, kenapa tidak ke Istana Eldoria dahulu?" Tawar Bram dan mendapat pelototan tajam dari Evelyn.

"Dari awal ini semua salahmu yang membawaku ke tempat antah berantah ini!" Tukas Evelyn kesal.

Bram mengaduh saat gadis itu kembali memukul lengannya.

"Lihat, Agaras. Darianth benar, dia tetap Evelyn yang suka memukulku." Ujar Bram melirik Agaras yang nyengir.

"Siapa tahu kau akan mengingat sesuatu jika melihat istana Eldoria. Mengingat siapa kami ...," lanjut Bram masih mencoba membujuk gadis itu.

Evelyn mengedikan bahu dan berdecak.

"Tidak mau! Dari awal aku tidak kenal kalian sama sekali! Kau salah orang dan salah mengira aku istrimu!" Tolak Evelyn mentah-mentah membuat Bram menipiskan bibir.

"Evelyn, kita tidak berbohong saat mengatakan kau istri kami. Kita memang sudah menikah tiga tahun lalu. Dulu kau selalu berkunjung ke dunia supranatural ini." Ujar Agaras melembutkan suaranya.

Evelyn mengernyit, "tiga tahun lalu? Tapi tiga tahun lalu aku—,"

Ucapannya terhenti.

Evelyn meneguk ludah menyadari sesuatu, ingatannya tiga tahun lalu samar.

Yang dia ingat hanya kematian kedua orangtuanya dan awal dimana hidupnya hancur di tangan kedua saudaranya.

Kening Evelyn jadi mengernyit, apa benar ketujuh pria aneh itu berada di ingatannya tiga tahun lalu?

Evelyn jadi penasaran.

"Kau akan aman di istana dibanding di sini. Nanti kau akan dilayani dengan baik dan makan untuk menghangatkan tubuh. Kami tidak akan menyakitimu. Sayangku, cintaku, aku akan memulangkanmu begitu portalnya dibuka besok, bagaimana?" Tawar Agaras sambil mengusap puncak kepala Evelyn.

Bram mengernyit mual mendengarnya, dia mendengus. Tidak mungkin Evelyn yang sangat ganas dan kasar itu akan menurut ajakan manis Agaras.

Namun mulut Bram menganga tatkala Evelyn berdehem mengiyakan dengan bibir maju seperti anak kecil.

Mana adegan dia memukul selangkangan Agaras? Padahal Bram sudah menunggu daritadi!

Agaras tersenyum sebelum menarik pipi Evelyn dengan gemas. Gadisnya tidak berubah, tetap seperti anak kecil manja di mata Agaras.

"Mau mencoba naik punggung serigala?" Tawar Agaras membuat Evelyn mengerjap.

Dia takut tapi jauh di lubuk hatinya dia penasaran.

"Tunggu! Cih, ini tidak adil! Kenapa kau patuh dan tenang begitu di depan Agaras!" Protes Bram membuat Evelyn menjulurkan lidah padanya.

"Ayo, pulang ke istana Eldoria, Eve. Kau harus bertemu suamimu yang lain." Ajak Agaras sebelum pertengkaran keduanya memanjang.

Evelyn sontak mengerjap.

Bertemu suaminya yang lain, ya?

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 25

    Evelyn sontak bangkit berdiri dan menjauh, napasnya memburu dengan mata bergetar ketakutan. Keringat dingin bercucuran saat kilasan mimpi baru itu muncul lagi menguasai rasa takutnya. "Kau kenapa?" Tanya Lucian bingung. Tangannya hendak menggapai bahu Evelyn, ingin menenangkan namun dia tersentak saat Evelyn menepisnya dengan air mata turun membasahi pipinya. Mata hitam gelap yang tajam itu beradu dengan mata hazel terang yang teduh. Angin menerbangkan bunga-bunga beserta helaian rambut keduanya. "Ada yang salah dengan ucapanku?" Tanya Lucian menurunkan intonasi. Evelyn jadi meneguk ludah sebelum menggeleng pelan. Melihat Evelyn yang tidak sewaspada barusan membuat Lucian berani mendekat, dia menarik pakaian Evelyn dan menggunakannya untuk menghapus air matanya. "Ck, memangnya air mataku kotor sampai kau jijik menyentuhnya." Omel Evelyn kesal, ini sudah kedua kalin

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 24

    "Apa maksudmu? Rendi itu manusia ... Dimana kalian pernah bertemu?" Tanya Evelyn bingung. Evelyn jadi memutar otak sebelum terkejut, melotot menatap Lucian. "Jangan bilang ... Rendi bukan manusia?" Lucian menggeleng sambil menghela napas panjang, "imajinasimu tinggi sekali." "Bukan? Lalu dimana kau melihatnya? Dunia ini?" Tanya Evelyn menghampiri Lucian yang duduk di atas rumput pendek. "Tentu saja dunia manusia. Kau pikir aku tidak pernah pergi ke sana di masa lalu?" Tanya Lucian. Tangannya menempel ke atas rumput, ranting tipis dan kuat mencuat muncul dari sana—dahan itu saling melilit sebelum melengkung membentuk bulat. Evelyn ikut duduk di depannya, "dulu kau ke dunia manusia untuk bertemu siapa?" Lucian yang tengah memetik bunga di sampingnya jadi terhenti, dia menatap Evelyn sebelum kilasan masa lalu muncul di otaknya. ~~~ "Hah?

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 23

    Rendi membanting pintu, menarik dasi yang terasa mencekik dan bergegas menuju lantai tiga menggunakan lift. Dia membuka dua kancing teratas kemeja dan pergelangan tangan. Keluar dari lift, Rendi masuk ke dalam satu-satunya ruangan di sana. "Hai, honey." Sapa wanita rambut pendek sebahu. Rendi langsung menenggak wine yang ada di meja kerja si wanita. "Ada masalah?" Napas Rendi memburu sebelum berdecak. "Aku ketahuan, Virda. Evelyn tahu!" Tukas Rendi gusar. "Apa dia tahu pacarmu itu aku?" Tanya Virda, nada bicaranya tenang. Seolah tidak terganggu. Rendi menggeleng, Virda menarik lengannya lembut dengan senyuman sensual yang menggoda, membuat Rendi mendekat dan duduk di kursi kerjanya. "Lalu apa yang dia tahu?" Tanya Virda duduk di pangkuan Rendi. Tangannya bergerak memijat bahu Rendi yang tegang. Berusaha membuatnya tenang

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 22

    "Aku tidak bisa menggunakannya." Ujar Evelyn menutup kopernya. Lucian berdecak gemas, "jangan keras kepala. Jika kau tidak mau, aku akan merusak kertas ini sekarang juga dengan kekuatanku." Lucian berdecih saat Evelyn lekas memeluk kopernya erat. "Dasar munafik." Sungut Lucian menggeleng pelan. Evelyn hanya memajukan bibir bawahnya, "sayang jika dirusak. Lagipula ini sudah jelas untukku, kan. Kau tidak mengerti, aku hanya terkejut. Selama bekerja, belum pernah aku memegang uang dua digit." "Tentu saja aku tidak mengerti. Karena aku adalah Raja yang terbiasa bergelimang harta." Ujar Lucian menyugar rambutnya sombong membuat Evelyn mengumpat dalam hati. "Dan kau adalah istri Raja. Jangan bersikap seperti rakyat jelata, sayang." Tukas Lucian. "Tidak masalah meskipun aku belum sepenuhnya mengakui kalian sebagai suamiku?" Evelyn memastikan.

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 21

    Evelyn melirik Rendi yang fokus menyetir, ia menoleh ke kursi belakang dimana Lucian duduk. Pria hijau itu menaikan alisnya sok tampan yang dibalas wajah garang Evelyn. Tidak tahu apa yang Lucian lakukan, tapi Rendi tidak bisa melihat keberadaannya. Evelyn tidak begitu mengerti kenapa, tapi katanya mahluk supranatural seperti Lucian sulit di rasakan apalagi dilihat jelas oleh manusia. Kecuali manusia yang punya kepekaan tinggi terhadap hal supranatural. Sedangkan kondisi Evelyn adalah pengecualian karena dia terikat hubungan suami-istri yang membuatnya bisa melihat dan merasakan kehadiran mereka dengan jelas. Meskipun ada bagian dari diri Evelyn yang tidak mengakui hubungan suami-istri itu, tapi dia tidak banyak bicara. "Eh," gumam Rendi dan Evelyn waktu jari mereka bersentuhan saat akan menekan layar. "Kau ingin memutar lagu?" Tanya Rendi mempersilahkan.

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 20

    "Kau terlihat cantik sekali, Evelyn." Ujar Rendi menyampirkan anak rambut ke belakang telinga. Evelyn jadi tersenyum dengan wajah memerah sebelum menyuapinya kue. Keduanya duduk di atas karpet polkadot merah putih yang di gelar di pinggir danau. "Pencarian rumahmu berjalan lancar?" Tanya Rendi duduk santai, menikmati piknik mereka. "Bagaimana jika aku tinggal di rumahmu saja? Bukankah itu lebih mudah?" Tanya Evelyn. "Eh?" Tanya Rendi terkejut sebelum berdehem. "Tidak bisa, Evelyn. Kita kan belum menikah, nanti tetangga bertanggapan jelek. Namamu jadi buruk." "Lalu kenapa kau tidak mengajak aku menikah? Kita sudah berpacaran tiga tahun tapi kau sekalipun tidak pernah membicarakan tentang pernikahan." Tukas Evelyn membuat Rendi gelagapan. "Karirku masih stuck, aku juga masih punya cicilan mobil, kenapa harus buru-buru?" Tanya Rendi. Evelyn mengerut dengan raut wajah menurun, "meman

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status