Mag-log in"Jadi, ada duyung di dunia ini? Aku baru mengetahuinya." Tukas Evelyn. Saking senangnya, dia sampai menutup mulutnya yang menganga lebar. Saat itu Dwaki baru muncul ke permukaan, "anda baik-baik saja? Sepertinya iya." Perhatian Dwaki jadi beralih pada ekor Ariel, pantas saja renangnya tersusul. Mahluk lain tidak akan bisa mengalahkan cepatnya berenang Siren dan Duyung di lautan. Mereka jagonya. "Hm? Kenapa kau terkejut seperti itu?" Tanya Ariel bingung. Evelyn jadi tersadar sebelum berdehem pelan, "hanya saja ... Aku terkejut karena ini pertama kalinya aku melihat duyung." Sontak Ariel mengernyit dengan Dwaki yang memejam sambil menepuk keningnya. "Bukankah kau kerabat Raidne? Lagipula aku baru sadar, kalau kau kerabatnya ... Bukankah kau harusnya juga Siren tapi kau tidak bisa berenang dan kau pertama kalinya melihat duyung." Ujar Ariel. Evelyn jadi menipiskan bibir dan mengumpati d
"Hah?" Tukas Evelyn membelalak terkejut. Dia bahkan tidak repot menyembunyikan ekspresi syoknya. "Maaf. Aku lancang, ya!" Ujar Ariel meringis pelan. Evelyn jadi tersadar, "eh—, aku hanya ... Tidak menyangka." "Habisnya aku selalu tidak bisa menyembunyikan perasaanku!" Tukas Ariel merangkum kedua pipinya yang memerah. Sementara Evelyn tertegun, dia tahu Ariel yang sekarang adalah reaksi perempuan saat jatuh cinta. Evelyn jadi meneguk ludah di tenggorokannya yang mendadak kering. Mulutnya kelu, dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. "Ariel, cinta katamu ... Itu maksudnya cinta dari rakyat pada pemimpinnya, kan?" Tanya Evelyn memastikan. Dia tidak mau ada kesalahpahaman. "Tentu saja bukan, Evelyn. Ini adalah cinta dari wanita ke pria." Jawab Ariel terkekeh riang. Berbanding terbalik dengan Evelyn yang mematung canggung. "Aku tahu kisah cintaku tidak akan mungkin t
"Anda baik-baik saja?" Dwaki menyerobot diantara keduanya dan menatap Evelyn khawatir. "Ah, iya. Aku baik." Jawab Evelyn melirik sekilas. "Syukurlah." "Hati-hati saat melangkah, meskipun datar tapi angin di sini kencang. Tidak jarang ada orang yang terbawa angin lalu jatuh." Sahut si penolong sambil tersenyum. Evelyn sontak tertawa pelan, "itu lucu." "Akhirnya ada yang tertawa dengan leluconku." Sahut si penolong. "Terimakasih." Ujar Evelyn mengangguk sopan. Barusan dia terkejut karena yang menolongnya sangat cantik. Bahkan Evelyn belum pernah menemukan perempuan secantik ini di dunia manusia. Netranya berkilau keemasan, rambutnya panjang bergelombang dan menyala merah kecoklatan. Hidungnya bangir, bibirnya tipis dan kulitnya putih licin yang berkilau. Lekukan tubuhnya sempurna dan pas, dibalut dengan bikini merah dan rok tipis warna senada yang ditalikan di pinggangnya.
"Kau akan pergi ke mana?" Tanya Salim menghentikan langkah Raidne keluar ruangan."Pa-pantai."Blam!Pintu ditutup meninggalkan Salim yang masih terjerat dokumen di meja kerjanya. Salim jadi menghela nafas, dia tidak berhak menghentikan karena pekerjaan Raidne sudah tuntas.Hanya saja ada yang menganggu benak Salim."Sepertinya dia ke pantai untuk menghindar dari Ratu." Simpul Salim menggeleng pelan.Raidne adalah orang yang cerdas, buktinya dia selalu menjadi orang tercepat menyelesaikan tugas Kerajaan. Karena itu pula dia bisa menjadi Raja.Kelemahannya adalah di ketakutan dan keraguannya sendiri.Jika saja Raidne tidak berpikir berlebihan bahwa semuanya akan berakhir buruk mungkin dia tidak perlu menyimpan rahasia pada Ratu."Mungkin." Gumam Salim.Dia sendiri jadi meragu saat mengingat masa lalu dimana terjadi masalah besar yang melibatkan Raidne dan Evelyn.Hari itu Salim menyuruhnya tenang dan berhenti memprediksi semua akhir bu
Langkah Darianth terhenti saat pintu utama Istana terbuka. Penjaga memberitakan kedatangan Evelyn dan Raidne.Kebetulan sekali."Makan malam sudah siap, mari-," ucapan Darianth terhenti dengan netra melebar.Keningnya mengernyit melihat keadaan keduanya yang kacau. Pakaian Evelyn robek dan memakai jubah Raidne asal sedangkan kondisi Raidne lebih parah. Tubuhnya berlumuran darah, hidungnya patah dan wajahnya babak belur.Keduanya bergeming dengan raut wajah tidak terbaca, apalagi mereka berdiri dengan jarak."Apa yang terjadi?" Tanya Darianth.Hening.Tidak ada jawaban dari keduanya sampai Darianth tersentak. Ujung jarinya terhenti beberapa senti di depan leher evelyn yang terluka. Ada bekas cekikan di sana."Sebenarnya apa yang-," ucapan Darianth terhenti saat Raidne melewatinya.Beranjak pergi tanpa mengatakan apapun. Darianth jadi menoleh pada Evelyn yang menunduk sambil mengusap lengannya. Raut wajahnya tidak terbaca. Kenin
"Raidne tidak mungkin seorang pembunuh. Aku tidak akan tetipu." Ujar Evelyn menggeleng kuat dengan jantung berdegup kencang.Dalam artian buruk.Tapi dia akan tetap mempercayai Raidne."Aku tidak tahu apa hubunganmu dengannya, tapi terlihat bahwa pria ini menaruh kasih sayang dan cinta besar untukmu namun sepertinya itu hanya perasaan sepihak, ya?" Tanya Raidne membuat Evelyn tersentak."Kau ... Sama sekali tidak tahu apapun soal pria ini. Sedari awal kau hanya menumbuhkan kepercayaan tanpa tahu bagaimana karakter asli san masa lalunya."Evelyn jadi meneguk ludah dengan jantung mencelos, yang dikatakan hantu itu benar adanya."Kalau begitu, haruskah aku ceritakan bagaimana sifat Siren yang sebenarnya?" Tanyanya membuat Evelyn jadi bimbang.Haruskah Evelyn mendengarkannya karena sejujurnya dia sangat penasaran apalagi Raidne terlihat menghindar dan menyembunyikan sesuatu darinya."Kau sepertinya penasaran. Baiklah, akan aku ceritakan padamu-,"







