LOGINPagi hari di rumah Aziz terasa seperti mimpi buruk bagi Alena. Setelah kejadian malam itu, saat ia menemukan Zizi menangis di lorong, Alena semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di rumah ini. Namun, yang lebih mengganggu adalah perasaannya yang semakin tidak diterima. Zizi dan Sasya masih menjaga jarak, sementara Aziz tampak semakin sibuk dengan pekerjaannya dan mengabaikan masalah yang jelas ada di depan mata.
Alena berusaha keras untuk tetap tegar. Setiap pagi ia mencoba memulai hari dengan senyuman, meski hatinya dipenuhi kekhawatiran. Ketika Aziz sudah berangkat ke kantor, Alena berusaha mendekati kedua anak tirinya.
"Sasya, Zizi... gimana kalau hari ini kita keluar bareng? Jalan-jalan ke mall atau makan es krim?" tanyanya ceria saat mereka sarapan.
Namun, respon yang diterima membuatnya kembali terpukul.
"Enggak perlu," kata Sasya tanpa melihat Alena. "Aku ada tugas sekolah, dan Zizi juga."
Zizi hanya menunduk, tidak berkata apa-apa, tetapi jelas terlihat bahwa ia mengikuti apa pun yang dikatakan kakaknya.
Alena menarik napas panjang dan mencoba tersenyum lagi. "Ya sudah, kalau ada yang kalian butuhkan, bilang aja ya."
Namun, tidak ada jawaban dari kedua anak itu. Mereka tetap diam dan melanjutkan sarapan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Alena.
Setelah sarapan, Alena berusaha membersihkan rumah. Meski bukan ahli dalam hal pekerjaan rumah tangga, setidaknya ia bisa mencoba melakukan sesuatu agar tidak merasa terlalu tidak berguna. Saat ia sibuk membersihkan ruang tamu, pikirannya melayang ke arah pernikahan mendadaknya dengan Aziz. Semua terjadi begitu cepat. Saat itu, ia hanya berpikir untuk menjalani hidup dan melunasi hutang budinya pada keluarga Aziz. Namun sekarang, ia mulai meragukan keputusan itu.
Alena menatap foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding ruang tamu. Di foto itu, mereka berdua tampak bahagia atau setidaknya, mencoba terlihat bahagia. Aziz mengenakan setelan jas hitam yang elegan, sementara Alena mengenakan gaun pengantin putih sederhana dengan hijab yang serasi. Tapi di balik senyuman di foto itu, Alena tahu betapa canggungnya hari itu.
"Kau masih muda, Alena. Nggak perlu semua orang tahu kau nikah sama duda beranak dua. Sudahlah. Yang penting jalani saja dulu," kata sang ibu saat ia hendak mengabari pernikahan terpaksa tersebut pada teman-temannya.
Dan sekarang, Alena merasa keputusan itu menambah beban hidupnya. Bagaimana ia bisa menjelaskan kepada teman-temannya, terutama saat mereka terus bertanya kenapa dia memutuskan cuti kuliah mendadak? Bagaimana mereka akan bereaksi jika tahu suaminya jauh lebih tua dan punya dua anak pula?
Sore itu, saat Alena sedang duduk di teras belakang, menikmati secangkir teh, Zizi tiba-tiba datang menghampirinya. Gadis itu berdiri dengan ragu di depannya, menggigit bibir bawahnya.
"Kak... Kak Alena," suara Zizi terdengar lirih.
Alena langsung terkejut. Ini pertama kalinya Zizi memanggilnya dengan sapaan "Kak". Biasanya, gadis itu hanya diam atau menyebut namanya tanpa embel-embel apa pun.
"Iya, Zizi? Ada apa?" tanya Alena lembut, berharap ini bisa menjadi awal yang baik.
Zizi menunduk sejenak, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Aku... Aku mau kasih ini ke Kak Alena."
Alena menerima benda yang diberikan Zizi. Itu adalah sebuah gambar. Gambar yang dibuat oleh tangan kecil Zizi, menggambarkan seorang wanita yang sedang berdiri di samping dua gadis kecil.
"Ini... gambar untuk aku?" Alena menatap gambar itu dengan mata berbinar.
Zizi mengangguk pelan. "Aku tahu... Aku tahu kau bukan Mama. Tapi... tapi aku enggak mau kau pergi juga."
Hati Alena mencelos. Gadis kecil ini ternyata memiliki ketakutan yang tidak pernah ia duga. Zizi mungkin belum bisa menerima sepenuhnya kehadiran Alena, tapi di balik semua itu, ia takut kehilangan lagi sosok ibu dalam hidupnya.
"Zizi... aku enggak akan pergi ke mana-mana," kata Alena dengan suara lembut, meski di dalam hatinya ia pun tidak yakin dengan kata-kata itu.
Malam harinya, Alena mencoba berbicara dengan Aziz tentang apa yang terjadi dengan gadis kecil itu. Ia berharap suaminya bisa memberi pandangan atau setidaknya membantunya memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Om, sepertinya Zizi ada masalah," kata Alena saat mereka sedang duduk di ruang keluarga setelah makan malam.
Aziz menatapnya dengan ekspresi datar, lalu menghela napas panjang. "Zizi masih trauma setelah mamanya meninggal. Dia takut kehilangan lagi. Itu hal yang wajar."
"Aku tahu. Tapi Om harus lebih perhatian lagi ke mereka. Sejauh ini aku ngelihat kalau Om sibuk kerja terus. Kasihan. Kapan Om ada waktu untuk mereka? desak Alena. “Mereka lebih butuh Om."
Aziz mengangguk pelan, tetapi tidak banyak bicara. Ia tampak seperti seseorang yang terjebak dalam pikirannya sendiri, dan Alena tidak bisa menembus tembok yang semakin tinggi di antara mereka.
"Aku akan coba bicara dengan mereka lagi," jawab Aziz akhirnya, meski nada suaranya terdengar hambar.
Alena hanya bisa mengangguk, merasa percakapan itu tidak membawa perubahan apa pun. Ia ingin sekali Aziz menunjukkan lebih banyak perhatian, tapi sepertinya pria itu terlalu sibuk atau terlalu bingung dengan situasi ini.
Keesokan harinya, ketika Alena sedang berada di dapur, ia mendengar suara gaduh dari ruang tamu. Dengan cepat ia keluar dan melihat Sasya dan Zizi sedang bertengkar.
"Apa yang terjadi?" tanya Alena sambil berjalan mendekat.
Sasya, dengan wajah marah, langsung menjawab. "Zizi bilang kau masak untuk kita, tapi aku enggak mau!"
Zizi yang ketakutan, berusaha membela diri. "Tapi Kak Alena ‘kan udah berusaha, Kak Sasya, Kakak enggak bisa terus-terusan marah!"
Alena merasa hatinya mencelos. Sasya begitu keras kepala, dan Zizi, meski sudah mulai melembut, masih terjebak dalam ketidakpastian. Kedua gadis itu tampaknya memiliki dunia mereka sendiri yang Alena tidak bisa masuki dengan mudah.
Sasya lalu menatap Alena tajam. "Kau enggak akan pernah jadi mama kami. Jangan berpikir kau bisa gantiin Mama."
Kata-kata itu menusuk hati Alena, tetapi ia berusaha tetap tenang. "Aku enggak pernah ingin menggantikan mama kalian, Sasya. Aku cuma ingin membantu. Aku di sini untuk kalian."
Sasya menggeleng dengan marah, lalu berlari ke kamar, meninggalkan Alena dan Zizi di ruang tamu yang hening.
Zizi mendekati Alena dan menarik tangannya. "Aku minta maaf, Kak. Kak Sasya memang suka marah-marah terus. Tapi aku enggak seperti dia..."
Alena tersenyum kecil dan memeluk Zizi. "Enggak apa-apa, Zizi. Aku ngerti."
Tapi dalam hati, Alena tahu bahwa pertarungannya belum selesai. Ia harus menghadapi lebih banyak rintangan jika ingin diterima sepenuhnya oleh keluarga ini.
Malam harinya, saat Alena sedang bersiap tidur, ia menerima pesan dari nomor tak dikenal. Pesan itu berbunyi
[Kau enggak akan pernah bisa memiliki keluarga ini. Jangan terlalu berharap.]
"Aku sangat yakin, Mas. Mbak Sandra butuh kebahagiaannya sendiri.” Aziz menatap istrinya dengan kekaguman yang sulit disembunyikan. Ia menarik napas lega, seolah beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya luruh begitu saja. "Terima kasih, Sayang. Kamu jauh lebih bijaksana daripada yang aku kira." Satu bulan berlalu dengan cepat, membawa perubahan atmosfer yang luar biasa di kediaman mereka. Jakarta sedang memasuki musim yang lebih bersahabat, sama seperti hubungan Alena dan Aziz yang kini kian merekat. Tidak ada lagi sindiran tentang takaran gula aren atau kecemburuan buta. Semuanya terasa lebih ringan. Sore itu, halaman belakang rumah mereka tampak lebih ramai dari biasanya. Suara tawa pecah dari arah kolam renang. Sasya akhirnya pulang untuk liburan semester. Kehadirannya membawa energi baru yang ceria di rumah tersebut."Ma! Lihat Dek Arka, dia sudah bisa merespons panggilanku!" seru Sasya dengan riang. Ia mengenakan kaus santai, wajahnya t
"Tapi Mas Jimmy benar, Mas. Kamu memang enggak pernah melamarku secara romantis," ucap Alena lirih, memecah keheningan yang sempat menggantung setelah kepergian Jimmy yang terburu-buru. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Jimmy baru saja pamit dengan wajah kikuk, membawa serta aura canggung setelah tanpa sengaja memantik api dari masa lalu yang sensitif. Sementara kini Alena memperhatikan Aziz yang masih berdiri mematung di dekat meja kerja. Napas suaminya masih sedikit memburu, rahangnya terkatup rapat, sisa dari pembelaan emosional yang baru saja ia lontarkan di depan Jimmy. Ada rasa bangga sekaligus haru yang merayap di hati Alena. Ia tidak menyangka bahwa Aziz akan sebegitu tersinggungnya saat sejarah pernikahan mereka dianggap remeh. Meski dimulai dengan kata terpaksa, Aziz seolah menegaskan bahwa proses setelahnya adalah sesu
Tangisan Arka pecah, melengking tinggi bersahutan dengan isak tangis Alena yang tidak lagi bisa dibendung. Pertahanan yang ia bangun selama sebulan ini runtuh seketika melihat kemeja Aziz yang terbuka dan barang-barang wanita yang berserakan di sofa. Di mata Alena, ruangan ini bukan lagi kantor suaminya, melainkan bukti nyata dari pengkhianatan yang paling rendah.“Sayang, tenang dulu ya. Aku bisa jelasin,” Aziz mencoba mendekat dengan tangan gemetar.“Apa, hah?? Apa yang mau kamu jelasin, Mas?” jerit Alena pilu. “Sepatu ini? Pakaian ini? Atau kemejamu yang terbuka itu?” Tepat saat ketegangan itu berada di puncaknya, pintu jati besar itu kembali terbuka. Seorang pria bertubuh tegap masuk dengan wajah ceria sembari menenteng sekotak cokelat mewah. Namun, langkahnya terhenti seketika melihat Alena
Satu bulan telah berlalu sejak kepulangan Alena ke rumah itu. Perlahan namun pasti, Alena mulai menata kembali kepingan otoritasnya yang sempat tercerai-berai. Ruang makan kini kembali beraroma masakannya, dan setiap sudut rumah mulai memancarkan kembali seleranya yang lembut namun tegas. Pukul sebelas siang, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, namun suasana di dapur Alena terasa sejuk. Ia baru saja selesai menata kotak bekal mewah berisi nasi daun jeruk, empal gentong, dan sambal goreng ati kesukaan Aziz. Hari ini, Alena memiliki rencana spesial. Ia ingin memberikan kejutan makan siang ke kantor suaminya, sesuatu yang sudah lama sekali tidak ia lakukan. Alena berdiri di depan cermin besar di lorong, merapikan gamis berwarna pastel yang ia kenakan. Kerudung senadanya
"Angkat saja. Nyalakan pengeras suaranya," kata Aziz sambil tersenyum penuh arti. Ia bisa merasakan tubuh Alena yang seketika menegang di dalam dekapannya. Aziz tahu bahwa istrinya kembali merasa tidak nyaman, sebuah naluri pertahanan yang wajar muncul setelah kejadian di meja makan tadi pagi. Ia ingin membuktikan sesuatu, ingin menunjukkan bahwa tidak ada rahasia yang ia sembunyikan di balik layar ponsel itu."Enggak ah. Kan hape Mas yang bunyi," sewot Alena. Ia membuang muka, mencoba mengabaikan getaran ponsel yang seolah-olah sedang menggedor pintu privasi mereka yang baru saja kembali rekat."Angkatlah, Sayang. Biar kamu dengar sendiri," rayu Aziz lembut, sambil menyodorkan ponselnya ke tangan Alena. Alena akhirnya menurut meski dengan bibir yang sedikit mengerucut. Ia menyentuh tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara. Seketika, suara Sandra yang menggebu-gebu memenuhi kesunyian kamar yang masih hangat itu."Mas, aku baru saja telepon pihak perwakilan
Keheningan yang pekat mendadak jatuh di antara mereka, menelan sisa-sisa gema suara Aziz yang baru saja meninggi. Alena terdiam, napasnya masih memburu kecil, namun matanya yang tadinya tajam kini mulai melunak oleh rasa bersalah yang merayap. Di sisi lain, Aziz berdiri mematung, menatap istrinya dengan gurat penyesalan yang mendalam karena telah kehilangan kendali atas emosinya. Detik demi detik berlalu hanya dengan suara detak jam dinding yang seolah mengejek kekakuan mereka. Sampai akhirnya, bibir keduanya bergerak hampir secara bersamaan, memecah kesunyian dengan satu kata yang sama."Maaf..." Mereka tertegun sejenak, saling menatap dengan mata yang berkaca-kaca. Tanpa perlu aba-aba lagi,
“Pelan, Mas! Kamu bisa bunuh kita semua kalau begini!” Suara Alena melengking di sela deru mesin yang dipaksa bekerja melewati batas kewajaran. Di kursi belakang, Aksara menjerit histeris. Suara tangis bocah itu bukan lagi sekadar rengekan, melainkan jeritan murni penuh ketakutan yang me
“Ibu sudah salah paham,” kata Alena, mencoba ramah meski firasatnya mulai tidak enak. “Oh ya. Lagi apa di sini?”"Ini... lagi ambil tumbler keponakan yang ketinggalan di kelas PAUD," wanita itu mengangkat botol minum yang ada di genggamannya, tapi matanya tetap meny
Lampu neon di ruang kantor itu berkedip-kedip, seolah mengejek nasib Aziz. Di atas meja kerjanya yang kini lebih sempit, papan nama "Manajer Operasional" terasa seperti penghinaan. Beberapa bulan lalu, ia adalah Direk
Aziz menatap istrinya. Alena terisak pilu, bahunya bergetar. Genggaman tangan Aziz yang posesif perlahan mengendur saat kata-kata mengejutkan tadi menghantam kesadarann







