LOGINAlena terjaga dari tidurnya, menatap ponsel di tangan dengan bingung. Pesan misterius yang baru saja ia terima menggetarkan hati. Kalimat yang singkat namun penuh ancaman itu membuatnya terdiam beberapa detik.
Siapa yang bisa mengirim pesan seperti itu? Apakah itu dari seseorang di rumah ini? Atau mungkin dari luar? Hatinya bertanya-tanya. Namun, ia tidak punya banyak petunjuk. Nomor yang mengirim pesan itu adalah nomor tak dikenal, tanpa nama atau tanda-tanda lain. Tiba-tiba, ia merasa sendirian, terjebak dalam pernikahan yang penuh rahasia dan ketidakpastian.
Alena mencoba menenangkan diri. Ia memutuskan untuk tidak membahas ini pada siapa pun dulu. Bahkan pada Aziz. Ia masih belum yakin siapa yang bisa dipercaya. Apakah mungkin salah satu dari anak-anak Aziz yang mengirim pesan ini? Tidak mungkin, pikirnya. Meski Sasya memang masih marah dan Zizi tampak canggung, rasanya pesan itu terlalu dingin dan mengancam untuk datang dari mereka.
"Mungkin ini cuma orang iseng," bisiknya pada dirinya sendiri, berharap kata-kata itu bisa menenangkan kegelisahannya. Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu ada sesuatu yang lebih dari sekadar pesan iseng.
Keesokan paginya, suasana rumah kembali tegang. Aziz sibuk bersiap-siap ke kantor, seperti biasa, tanpa banyak bicara. Alena mencoba bersikap normal, meskipun pikirannya terus dipenuhi oleh pesan misterius itu.
Di meja makan, Sasya dan Zizi duduk berhadapan dengan Alena, tetapi suasana tetap dingin. Sasya masih menunjukkan sikap tak peduli, sementara Zizi tampak lebih tenang, meskipun Alena bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal di antara mereka.
Saat Aziz berdiri untuk pergi, Alena mendekat dan mencoba menyampaikan sesuatu. "Om, bisa pulang lebih awal hari ini? Aku mau ngobrol tentang sesuatu."
Aziz menatapnya sebentar, lalu mengangguk tanpa banyak bertanya. "Oke, nanti kita bicara."
Jawaban singkat itu membuat Alena sedikit lega, meski ia tahu obrolan dengan suaminya nanti mungkin tidak akan mudah. Ia ingin menceritakan tentang pesan itu, tetapi bagian dari dirinya merasa ragu. Aziz sering kali terlihat sibuk dan cenderung menghindari masalah rumah tangga yang rumit.
Setelah Aziz pergi, Alena kembali mencoba mendekati kedua anak tirinya. "Sasya, Zizi... nanti sore kita bisa masak bareng yuk?" tanyanya sambil tersenyum lebar, berharap sedikit bisa mencairkan suasana.
Zizi terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. "Aku mau coba bantu, Kak."
Namun, respon berbeda datang dari Sasya. "Aku enggak ada waktu buat masak,” katanya dingin, lalu bangkit dari kursinya dan pergi ke kamar.
Alena menatap punggung Sasya yang menghilang di lorong dengan hati sedih. Gadis itu benar-benar keras kepala. Mungkin butuh waktu lama untuk bisa membuatnya menerima Alena. Tetapi Alena tidak akan menyerah begitu saja.
Sore harinya pun berlangsung sesuai rencana.
"Yuk, kita mulai, Zizi," Alena berusaha menjaga semangatnya. "Kita bikin spaghetti aja, ya? Gampang kok."
Mereka berdua masuk ke dapur, dan Alena mulai mengeluarkan bahan-bahan dari lemari es. Meskipun ia tidak pandai memasak, setidaknya ia pernah mencoba membuat beberapa makanan sederhana sebelumnya. Kali ini, ia ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak itu, berharap makanan bisa menjadi jembatan untuk membuka hati mereka.
Namun, seperti biasa, keberuntungan tidak berpihak pada Alena. Saat ia sedang merebus pasta, tiba-tiba air mendidih meluap keluar dari panci, membuat dapur menjadi kacau. Zizi yang sedang memotong bawang langsung tersentak kaget.
"Kak, airnya tumpah!" teriak Zizi.
Alena panik dan langsung mematikan kompor. Ia meraih kain lap untuk membersihkan air yang tumpah, tetapi gerakannya yang terburu-buru justru membuatnya tersandung.
"Astaga!" Alena hampir jatuh, tapi untungnya berhasil menopang tubuhnya dengan tangan di meja. Zizi hanya bisa menahan tawa kecil sambil menatap kekacauan yang terjadi.
"Maaf ya, Zizi. Kakak memang enggak bisa masak," kata Alena dengan senyum malu-malu.
Zizi terkekeh pelan. "Enggak apa-apa, Kak. Tapi Kakak harus lebih hati-hati."
Meskipun dapur menjadi kacau, setidaknya Alena berhasil membuat Zizi tertawa sedikit. Itu sudah menjadi kemenangan kecil baginya.
Malam itu, ketika Aziz pulang, Alena menyiapkan makan malam dengan hati-hati. Meskipun hasil masakannya jauh dari sempurna, ia berusaha menata meja makan dengan rapi dan memberikan suasana yang hangat.
Saat mereka mulai makan, Alena mencoba membuka pembicaraan. "Om, kapan ada waktu untuk anak-anak?"
Aziz menatapnya sejenak sebelum menjawab. "Kalau proyek ini sudah selesai, kita akan membahasnya.”
Alena ingin mengatakan lebih banyak, terutama tentang pesan misterius yang ia terima. Namun, ia merasa belum saatnya. Mungkin nanti, ketika situasinya lebih tenang, ia akan membicarakannya.
Setelah makan malam, Zizi menghampiri Alena di kamar. Gadis kecil itu terlihat cemas, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu.
"Kak Alena... ada yang mau aku bilang," kata Zizi pelan.
Alena duduk di tepi tempat tidurnya, menatap Zizi dengan penuh perhatian. "Apa, Zizi? Ada masalah?"
Zizi menggeleng, tetapi wajahnya menunjukkan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. "Aku cuma... aku cuma mau bilang, jangan terlalu peduli sama apa yang Kak Sasya bilang. Dia memang gitu orangnya. Tapi sebenarnya, dia enggak benci sama Kakak."
Alena tersenyum lembut. "Makasih, Zizi. Kakak ngerti kok. Tapi Kakak juga mau kau sama Sasya tahu kalau Kakak di sini untuk kalian berdua. Kita bisa berteman."
Zizi mengangguk, lalu memeluk Alena dengan erat. Itu adalah momen pertama di mana Alena benar-benar merasa diterima, meskipun hanya oleh salah satu anak tirinya.
“Jadi tolong jangan pernah merasa bahwa aku akan menggantikan posisi mama kalian ya?” ucap Alena lagi. Kali ini Zizi mengangguk tanpa suara sembari tersenyum lembut pada ibu sambungnya itu.
Namun, momen manis itu terhenti ketika ponsel Alena bergetar di atas meja. Dengan cepat, Alena meraih ponselnya dan melihat ada pesan baru dari nomor yang sama seperti sebelumnya.
[Apa pun yang kau lakukan, kau enggak akan pernah jadi bagian dari keluarga ini.]
Alena menatap pesan itu dengan perasaan campur aduk. Siapa pun yang mengirim pesan ini jelas tidak main-main. Tetapi siapa sebenarnya yang menginginkannya menjauh dari keluarga ini? Dan kenapa?
Alena mencoba berpikir jernih, tapi hatinya dipenuhi rasa takut dan kebingungan. Apakah ini peringatan? Atau ancaman?
Keesokan harinya. Pagi itu datang tanpa hujan, tapi udara terasa lebih berat dari biasanya.Aziz bangun lebih dulu. Bukan karena alarm, melainkan karena kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang. Ia bangun sebelum semua orang, duduk di tepi ranjang, lalu menatap kosong ke lantai. Ia menghela napas panjang, seolah sedang menghitung sesuatu yang tak kasatmata. Angka. Waktu. Kemungkinan. Di sampingnya, Alena masih terlelap dengan satu tangan memeluk bantal, wajahnya tampak damai. Aziz sempat menatap istrinya cukup lama, lalu bangkit perlahan agar tak membangunkannya. Ia berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah, dan menatap pantulannya sendiri di cermin. Wajah itu tampak lebih tua dari usianya.&
Senin datang tanpa permisi. Udara pagi terasa lebih berat dari biasanya. Alena terbangun sebelum alarm berbunyi, jantungnya sudah berdegup tak wajar. Di sampingnya, Aziz masih berbaring telentang, mata terbuka menatap langit-langit. Sejak subuh, ia tidak bergerak.“Kamu enggak tidur, Mas?” tanya Alena pelan.“Tidur,” jawab Aziz cepat. Terlalu cepat. “Sedikit.” Alena tidak menimpali. Ia tahu, malam tadi bukan soal kurang tidur, melainkan pikiran yang tak pernah benar-benar berhenti. Di dapur, suara sendok beradu dengan cangkir terdengar kaku. Tidak ada obrolan ringan. Tidak ada candaan kecil. Bahkan aroma kopi pun terasa pahit sebelum disentuh.Aziz mengenakan kemeja putih. Dasi hitam. Terlalu formal. Terlalu serius.
“SHIT!!” Lagi. Suara itu meledak di kamar yang tadinya sunyi. Aziz menggeram penuh amarah, ponsel di tangannya bergetar hebat seiring jemarinya yang mengepal sempurna. Urat di lehernya menegang, napasnya ikut memburu.“Berita tentang perusahaan sudah naik ke media bisnis,” katanya tajam, lebih seperti meludah daripada berbicara. Alena tidak langsung mendekat. Ia berdiri beberapa langkah dari suaminya, menyandarkan punggung ke lemari. Dadanya naik turun perlahan. Tidak kaget. Hanya… lelah. Akhirnya sampai juga ke titik ini, batinnya. Ia sudah menduga sejak lama. Sejak pulang yang makin larut, sejak cerita yang terpotong-potong, sejak rokok yang tiba-tiba hadir di malam hari. Media hanya mempercepat sesuatu yang memang menunggu w
“Kenapa memangnya?” Suara barusan membuat ketiga perempuan itu menoleh. Pun Aksara yang semula fokus menyusun mobil-mobilannya di lantai ruang tengah, ikut mengangkat kepala. Pintu kamar utama terbuka. Aziz muncul dari sana, masih mengenakan kaus rumah dan celana santai. Rambutnya sedikit berantakan, seperti seseorang yang baru saja mencoba beristirahat tapi gagal benar-benar tidur. Di tangannya, ponsel masih menyala.“Papa akan periksa email dari sekolah dan langsung menuntaskan semua syaratnya,” lanjut Aziz kemudian, suaranya datar tapi tegas.Sontak Sasya berjingkrak senang. Gadis itu berlari kecil dan memeluk ayahnya.“Makasih, Papa!” Aziz tidak menjawab. Ia hanya mengusap pelan punggung
Suara Alena terdengar pelan, tapi cukup untuk memotong malam.“Mas…” suara Alena keluar lirih. “Kamu ngerokok di sini?” Aziz tersentak. Gerakannya cepat. Terlalu cepat. Ia mematikan rokok itu seketika, menekannya kasar ke asbak.“Kenapa kamu ke sini?” balasnya. Nada suaranya naik tanpa sadar.Alena menelan ludah. “Aku nyariin kamu.”“Jam segini?” Aziz mengusap rambutnya, berjalan mondar-mandir dua langkah. “Mau apa?”“Aku khawatir, Mas. Makanya aku susulin. Aku kira kamu cuma ke dapur.”Aziz hanya diam. Dia membelakangi Alena.“Mas,” lanjut Alena, masih berdiri di tempat yang sama. Ia tidak masuk, tidak juga mundur. “Kamu kenapa?”Pertanyaan itu membuat bahu Aziz mengera
Tangisan Aksara mereda di pelukan Alena. Ia berdiri cukup lama di samping boks, menepuk-nepuk punggung kecil itu dengan ritme yang teratur. Bukan karena Aksara sulit ditenangkan, justru karena dirinya sendiri yang butuh waktu.Di ruang keluarga, suara langkah Aziz terdengar ragu. Tidak mendekat, tidak juga menjauh.“Len…” panggilnya pelan dari balik pintu. Alena tidak menjawab. Ia menunggu sampai napas Aksara benar-benar stabil, sampai mata kecil itu kembali terpejam. Baru setelanya, ia meletakkan tubuh mungil sang buah hati perlahan, menutup selimut, lalu berbalik.Pintu kamar terbuka ketika ia hendak keluar. Aziz berdiri di sana.“Aku …kebablasan,” katanya cepat. “Tadi. Maaf ya.” Alena menatapnya. Wajah suaminya tampak lelah, tapi juga defensif. Campuran yang belakangan sering ia lihat.“Enggak apa-apa,” jawab Alena singkat.Justru jawaban itu yang membuat Aziz makin gelisah.“Bukan, Len. Itu bukan maksudku.”Alena melangkah melewatinya. “Aku mau ambil air min







