Share

Xeon VS Loly

Istri Bayaran Sang Opa Menawan

Bab 5 : Xeon VS Loly

 

Setelah mengelilingi mall sampai berjam-jam dan membeli barang-barang keperluanku, Opa Jhon mengajak pulang. 

 

Baguslah, kakiku juga sudah pegal rasanya. Si kakek tua ini enak, kerjanya hanya duduk manis saja menungguku belanja ini dan itu. 

 

Aku meletakkan semua paper bag ke kursi belakang. Lalu aku duduk di kursi sampingnya, masih seperti posisi tadi saat pergi. Mobil Opa Jhon yang dikemudikan oleh supirnya pun meluncur keluar dari area mall dan membelah jalanan. 

 

Aku menyandarkan punggung di kursi dan menghela napas dengan kasar. 

 

Meski pun belanja di mall dengan sepuasnya, tapi tetap saja ini melelahkan. Aku bahkan hampir kehabisan energi. Huh. 

 

Aku mencoba untuk memejamkan mata dan tertidur sampai ke rumah nanti. 

 

“Loly! Bangun! Apa kamu mau tidur di sini sampai nanti malam?” 

 

Terdengar suara tegas seorang lelaki. Aku membuka mata dan Opa Jhon telah melebarkan matanya. Ah, rasanya baru sebentar aku terlelap, mengapa sudah sampai rumah saja? 

 

“Kita udah sampai?” tanyaku sambil mengucek mata dan memindai sekitar. 

 

Benar, ternyata kami memang sudah sampai di depan rumah. Opa Jhon tak menyahut, hanya mendengus kesal saja lalu kemudian turun dari mobil. Aku mengikutinya keluar dari mobil dan mengambil barang-barang yang telah dibeli tadi dan membawanya masuk ke dalam rumah. Opa Jhon juga membantu membawakan beberapa paper bag. 

 

Aku berjalan di belakang Opa Jhon. Pria itu membuka daun pintu. Tampaklah langsung keempat cucunya Opa Jhon sedang duduk santai menunggu kami pulang. Xeon, Morgan, Exel dan Angel menatapku dengan tatapan tajam dan tak suka. Terlebih lagi aku membawa banyak barang belanjaan seperti ini. Tatapan mereka tertuju pada paper bag yang kutenteng ini. 

 

Wajah Xeon tampak sekali tak senangnya melihat diriku yang sedang berbahagia ini. Seolah-olah bahagiaku adalah derita dan bencana bagi dirinya. 

 

Dasar manusia sirik! Apa pun yang kulakukan pastilah tidak akan ada yang kamu sukai, sebab kita adalah musuh bebuyutan. Kamu tenang aja, aku gak akan lupa dengan siapa dirimu dan apa hubungan kita yang sebenarnya. Kamu hanyalah sebagai cucu ketika di hadapan suamiku, sementara itu ketika dia tidak ada, kita tidak lebih hanyalah dua manusia yang saling membenci karena kita adalah musuh. Gerutuku dalam hati. 

 

Aku mencoba menyapa mereka bertiga dengan senyuman yang manis agar Opa Jhon selalu mengira bahwa aku terus bersikap baik pada semua cucunya meskipun mereka semua tak senang melihatku.

 

“Sini Oma biar aku bantuin bawa belanjaannya. Pasti Oma Loly capek 'kan? Sini aku bantu bawa ke atas, ya,” tawarnya dengan nada sindiran. 

 

Hah! Modus! 

 

Melihat Xeon menawarkan diri untuk membantu, Opa Jhon berlalu begitu saja dan memberikan barang yang dibawanya kepada Xeon. Musuhku itu menyeringai di hadapanku. Aku mencium gelagat dari Xeon itu hanya kepura-puraan saja membawakan barang belanjaan milikku. 

 

Xeon adalah musuhku sejak sekolah menengah atas, jadi sangat mustahil jika dia tiba-tiba berubah menjadi baik. 

 

Aku berjalan lebih dulu menaiki anak tangga. Kemudian disusul oleh Xeon. Namun, perasaanku tidak enak dan tiba-tiba .... 

 

Brakkkk! 

 

Aku menoleh ke belakang, ternyata .... 

 

Semua barang belanjaan dalam paper bag yang dibawa oleh Xeon jatuh berserakan di tangga sampai ke lantai. Sepertinya dia memang sengaja menjatuhkan dan mencari masalah denganku. 

 

Terlihat Angel sedang tertawa terbahak-bahak sedangkan Morgan hanya diam mengamati saja. Hatiku terasa memanas. Jengkel dan kesal. Rasanya aku ingin marah pada Xeon dan Angel. Berani sekali mereka mempermainkan aku seperti ini. 

 

Aku mengembuskan napas dengan kasar. Lalu berjalan menuruni beberapa anak tangga di mana tempat Xeon berdiri. Lalu kemudian aku mendorongnya sampai terpeleset dari anak tangga. 

 

“Hei! Kalian tidak bisa semena-mena sama aku di rumah ini. Saat ini statusku adalah istrinya opa kalian. Itu berarti aku adalah nyonya besar di rumah ini! Jadi, kamu Xeon, tidak bisa berbuat sesuka hatimu lagi padaku.” Aku berkata sambil menunjuk laki-laki yang berwujud manusia tapi berhati busuk itu. 

 

“Gak usah belagu deh kamu. Emang kamu pikir kamu berhak atas rumah ini?” 

 

Tampak rahangnya Xeon mengeras. Giginya gemeretak. Wajahnya merah padam. Lalu kulihat tangannya sedang mengepal kuat. Kemudian, dia melayangkan tangannya hendak menampar diriku. Namun, tiba-tiba Opa Jhon datang dan menghentikan aksi Xeon yang hampir memukulku. Tangannya kini tertahan di udara. 

 

“Xeon! Apa-apaan kamu, hah!” bentak Opa Jhon pada cucunya itu. 

 

Xeon menurunkan tangannya saat Opa Jhon telah berada di sampingku. 

 

“Kenapa kalian ribut begini?” tanya Opa Jhon mengintrogasi kami. 

 

“Opa tanyakan saja pada istri baru Opa itu apa yang dia lakukan.” Xeon menjawab seolah-olah akulah yang mulai membuat pertengkaran ini. 

 

Picik sekali dia! 

 

“Enak aja kamu, ya. Seolah-olah akulah yang salah dan kamu korbannya. Jika kamu tidak menjatuhkan barang belanjaanku dengan sengaja, mungkin aku tidak akan marah. Terlebih lagi Angel juga tadi tertawa. Aku yakin ada sesuatu di antara kalian yang sedang kalian rencanakan untukku.” Aku membela diri. 

 

“Xeon! Mulai saat ini, hargai dan hormati Oma Loly di rumah ini dan bersikap baik padanya jika tak ingin namamu dicoret dari dalam daftar warisan!” ancam Opa Jhon pada cucunya yang songong itu. 

 

Xeon tak membantah apa pun, dia hanya berdecak kesal saja lalu turun dan duduk kembali di sofa ruang tamu. 

 

Kemudian Opa Jhon memanggilkan dua orang asisten rumah tangganya untuk membantuku membawakan barang-barang belanjaan ini. 

 

Hatiku bertepuk tangan dengan meriah dan bersorak gembira karena merasa menang dari musuhku yang picik itu. Aku menyunggingkan senyuman pada Xeon dengan makna sedang mengejek dirinya yang kalah saat ini. 

 

Hahaha. Mampus. Memang enak diancam gitu? Masih mau main-main denganku lagi? Hah, aku pemegang kendalinya saat ini. 

 

Aku bergelayut manja di lengan Opa Jhon sambil melirik Xeon dan menyeringai puas. 

 

“Ayo Mas Jhon Sayang kita masuk ke dalam kamar. Aku udah capek banget nih,” kataku dengan manja. 

 

“Ayo!” jawabnya lirih.

 

Opa Jhon menggandeng tanganku dan kami berjalan bersama menaiki tangga sampai ke kamar atas. Dua wanita yang bekerja di sini ikut masuk ke kamar juga. 

 

“Taruh situ saja ya, Bik, biar nanti saya yang rapiin sendiri,” titahku. Mereka pun mengangguk lalu meletakkan di dekat pintu. 

 

Setelah dua wanita bertubuh gempal itu keluar dan menutup pintu, tangan tak kekar Opa Jhon menepis tanganku yang masih bergelayut dengan kasar. Dia menatapku dengan sinis dan risih. 

 

Opa Jhon si pemilik wajah jutek itu kembali menampilkan ekspresi juteknya kepadaku ketika berada di dalam kamar ini. 

 

“Loly, kita hanya boleh bermesraan seperti tadi ketika berada di depan cucu-cucu saya saja. Ngerti kamu?!” Dia mengomeliku dengan wajah perang.

 

Aku mendengus kesal melihat si kakek tua ini yang terlihat begitu alergi jika bersentuhan denganku. Akan tetapi, aku juga tidak mau sebenarnya disentuh olehnya. Tidak tahu saja dia bahwa yang kulakukan itu adalah hanya akting belaka saja di depan para cucu Opa Jhon. Aku tidak segenit itu, Ferguso! Lolyta gadis baik-baik, jomlo sejak lahir malahan.

 

Bersambung ....

 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status