Share

Jual Mahal

Istri Bayaran Sang Opa Menawan

Bab 4 : Jual Mahal

 

Mobil kembali dilajukan oleh supir Opa Jhon. Sepanjang perjalanan kami tidak ada bicara apa pun. Sibuk dengan pemikiran masing-masing saja. Opa Jhon orangnya memang jutek, jadi tidak asyik jika diajak bicara dan bercanda. 

 

Mataku terus melihat keluar dari jendela samping kiriku. Menikmati pemandangan di samping kiri lebih mengenakkan mata dibandingkan dengan pemandangan samping kananku. 

 

Berselang setengah jam lebih, tibalah kami di area parkir mall yang dituju. Setelah memarkirkan mobil, kami turun bersama-sama. Lebih tepatnya Opa Jhon berjalan lebih cepat dariku. Aku kesusahan mengimbangi langkahnya yang lebar. 

 

Sesampainya di dalam mall, Opa Jhon langsung menuju sebuah toko pakaian yang menjual khusus untuk wanita. Dia masuk ke dalam toko yang bermerek. Aku mengekor saja dari belakang. 

 

“Selamat datang Tuan dan Nona, selamat berbelanja. Ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang wanita cantik yang menjaga toko ini. 

 

“Saya mau belikan baju untuk istri saya ini. Tolong kamu bantu dia pilih, ya,” jawab Opa Jhon. 

 

“Silakan pilih saja baju sesukamu yang kamu mau. Masalah uang, tak jadi masalah bagi saya,” cetusnya. 

 

“Saya tidak ingin kamu dihina lagi oleh cucu-cucu saya karena penampilan kamu yang dekil,” sambungnya lagi sambil menyilakan aku untuk memilih baju-baju yang ada di sini. 

 

Mataku mendelik tak percaya bahwa aku diberikan kebebasan untuk berbelanja pakaian sepuasnya oleh lelaki tua ini. Ah, wajar saja jika dia mengatakan bahwa uang itu tak jadi masalahnya, harta dan kekayaannya banyak, tak akan habis bila kubelikan satu toko pakaian ini sekali pun. Kuakui dia memang sangat kaya raya. 

 

“Baik, Mas.” 

 

Aku berjalan menyelusuri pakaian cantik yang sangat mahal-mahal ini ditemani oleh seorang karyawan toko. 

 

“Maaf, Nyonya, ini ada bagus keluaran terbaru dari kami. Menurut saya sangat cocok untuk Anda. Bagaimana pendapat Anda Nyonya?” tanyanya sambil memegang dress berwarna hitam. 

 

“Nyonya?” protesku. 

 

“Bukankah di awal tadi memanggil saya dengan Nona? Mengapa sekarang menjadi Nyonya?” tambahku lagi. 

 

Wajar saja aku tidak terima, tadi sewaktu di depan menyambut kami, aku dipanggil Nona, kini sudah ganti pula. 

 

“Oh, Maaf, Nyonya, tadi saya pikir Anda cucunya Tuan, ternyata Anda istrinya. Itulah sebabnya saya memanggil dengan sebutan Nyonya. Karena Nona hanya untuk yang belum menikah,” jelasnya sambil tersenyum. 

 

Aku berdecak, dasar, aneh-aneh saja! Bodo ah, otak tak pintarku ini malas berpikir. Skip aja deh.

 

“Bagaimana dengan pilihan dress ini, Nyonya? Ini terlihat elegan ketika Anda yang pakai. Ingin dicoba dulu?” tawarnya. 

 

Aku berpikir sejenak. Sepertinya tidak ada salahnya aku mencoba. Lagi pula dres itu memang terlihat sangat cantik. 

 

“Boleh.” Aku meraih dress itu dan bertanya di mana kah ruangan gantinya. 

 

Wanita itu menunjukkan arah ruang ganti dan aku pun segera menuju ke sana. Tak lama setelah memakai dress itu, aku keluar dan menunjukkan pada Opa Jhon untuk meminta penilaian. 

 

“Bagaimana?” tanyaku sambil berputar di depannya. 

 

“Bagus,” pujinya. 

 

Senyumku pun mengembang. Akhirnya aku memilih satu dress ini, kemudian aku memilih-milih baju yang lainnya lagi. Tentunya tanpa melihat harga dan sesukaku sesuai perintah Opa Jhon. 

 

Ketika selesai mengambil beberapa helai baju, aku melapor pada Opa Jhon bahwa telah selesai aku belanjanya. Opa Jhon bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju kasir. Aku menumpukkan baju-baju pilihanku di atas meja. Setelah sang kasir mentotalkan barang belanjaan ku, Opa Jhon mengeluarkan black card-nya untuk pembayaran. 

 

Aku sedikit terkejut mendengar jumlah dari keseluruhan belanjaanku. Namun, Opa Jhon tidak menunjukkan sedikit pun keterkejutan di wajahnya. Bagiku harga segitu sudah sangat mahal dan sudah bisa membeli rumah di kampung. Namun ini, aku menghabiskan puluhan juta hanya untuk belanja pakaian saja. 

 

Kami keluar dari toko dengan menenteng beberapa paper bag di tangan. Senyumku terus mengembang karena aku senang bisa membeli baju sebanyak ini dengan harga yang wow. 

 

Aku dan Opa Jhon berjalan terus hingga akhirnya sampailah kami di depan konter ponsel. Tiba-tiba ingin sekali aku membeli hape baru. 

 

Aku menggandeng lengan Opa Jhon dengan mesra. 

 

“Mas Jhon Sayang, aku pengen deh kita ke situ dan beli hape baru untukku,” rengekku manja seperti anak kecil sambil menunjuk konter ponsel itu. 

 

Tiba-tiba lenganku ditepis kasar olehnya, dengan menampakkan ekspresi risih.

 

“Saya tidak mau digandeng seperti itu, Lolyta!” Protesnya dengan kesal. 

 

Idih, sok jual mahal?  Lagian siapa juga yang mau gandeng dia kayak gitu kalau bukan karena terpaksa?! Aku juga ogah! Padahal aku hanya ingin mengerjainya dan pura-pura manja saja. Aslinya juga aku risih dan geli kalau diapa-apain dia. 

 

Aku menggerutu dalam hati.

 

Bersambung ....

 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status