Home / Romansa / Istri Bayaran Sang Pewaris / Perjanjian Pernikahan

Share

Perjanjian Pernikahan

Author: Agura Senja
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-26 12:32:41

Merasakan pandangan Aluna, Erlangga mengangkat alis. Buru-buru Aluna kembali fokus pada berkas di tangan. Ia harus benar-benar memperhatikan setiap detail yang ada, jangan sampai menandatangani sesuatu yang akan merugikannya nanti.

'Sudah kuduga aku pihak kedua.' Aluna membatin sembari terus membaca setiap butir, mengabaikan nama Nayara yang tertera. Tidak perlu merasa bersalah, Aluna bukan pelakor.

Pernikahan akan berlangsung selama satu tahun, bisa kurang dari itu jika Erlangga tidak lagi membutuhkan pernikahan ini, dengan jaminan akan tetap mendapat bayaran sesuai dengan kesepakatan awal tanpa dikurangi sedikit pun.

'Sebaiknya tidak menggunakan perasaan?' Aluna membaca kalimat yang agak ambigu. Kenapa harus memakai kata 'sebaiknya'?

"Jadi, saya hanya perlu menjadi istri Anda selama kurang lebih setahun? Lalu, saya juga akan selalu ikut setiap kali ada pesta yang 'wajib dihadiri' sebagai pasangan Anda. Nafkah bulanan sebagai istri dan bayaran atas 'status menikah' akan dibedakan ... maksudnya saya tetap mendapat uang bulanan sebagai istri, tapi tidak termasuk 500 juta yang Anda janjikan?"

Aluna mengangguk setelah membaca keseluruhan syarat dari Erlangga. Bukankah situasi ini amat sangat menguntungkan jika yang menikah dengan Erlangga adalah orang biasa seperti Nayara?

'Kenapa dia menyia-nyiakan kesempatan bagus seperti ini?'

"Yah, semua cukup bagus kecuali--!"

"Perbaiki cara bicaramu." Erlangga menyanggah, membuat Aluna langsung terdiam dan menatapnya.

Tapi, tidak ada penjelasan apapun lagi, seolah Aluna pasti mengerti apa maksud ucapannya tanpa perlu pria itu menjelaskan apa-apa. Aluna mengernyit, mulai jengkel.

Julian berdeham pelan. "Sebaiknya jangan terlalu formal, Nyonya. Sekarang kalian adalah suami istri, akan aneh kalau orang lain sampai mendengar bagaimana Nyonya memperlakukan Tuan Erlangga seperti atasan."

Aluna menegakkan punggungnya. Benar juga. Tapi, bukankah wajar untuk bicara formal pada orang yang baru pertama kali ditemui? Mereka yang mengetahui tentang pernikahan dadakan ini juga pasti mengerti kalau masih ada jarak dan rasa canggung antara Erlangga dan Aluna, kan?

"Eum, oke." Aluna menjawab pelan, memilih mengikuti keinginan parternya meski sedikit tidak nyaman karena ini pertama kali ia akan bicara santai pada orang lain selain orang-orang di rumahnya.

“Apa ada sesuatu yang kurang jelas dalam kontraknya, Nyonya? Anda bisa menanyakan apapun," ucap Julian setelah melihat Erlangga meletakkan kontrak pernikahan itu ke meja, menunggu dalam diam.

Merasa sedang dihakimi lewat tatapan suaminya, Aluna menarik napas pelan, menjaga agar suaranya tetap tenang. "Cukup jelas, tapi bagian 'sebaiknya tidak menggunakan perasaan' ini apa? Lalu masalah--"

"Maksudnya jangan jatuh cinta padaku," sela Erlangga, lagi-lagi memotong perkataan Aluna tanpa wanita itu sempat menyelesaikannya.

"Itu hanya saran kecil, Nyonya." Julian kembali menjadi wakil dalam menjelaskan maksud perkataan tuannya. "Kita bukan orang yang bisa mengendalikan perasaan orang lain begitu saja, jadi yang bisa Tuan Erlangga lakukan adalah memberi saran. Kontrak ini akan langsung dibatalkan saat Anda memiliki 'niat lain'."

Aluna memahami maksudnya. Wanita mana yang tidak akan jatuh cinta pada seseorang yang tidak hanya tampan, tapi juga kaya raya seperti Erlangga? Tapi kalau cinta bisa hadir hanya dengan 'tampan dan kaya raya' saja, maka Aluna tidak akan duduk disini setelah dicampakkan pria yang tidak tampan dan tidak kaya--yang sayangnya, pernah ia cintai.

"Kalau itu sih nggak perlu khawatir, aku sudah biasa." Aluna menjawab tanpa repot menjelaskan maksud dari 'terbiasa' yang ia lontarkan. Aluna meraih pena yang disediakan, bersiap untuk menulis syaratnya sendiri.

"Oh ya satu lagi!" Aluna menghentikan pergerakannya, "Apa maksud dari 'pihak kedua akan melahirkan pewaris' disini?" tanyanya sembari menunjuk pada salah satu pasal.

Ini kan pernikahan kontrak yang akan berakhir dalam setahun, aneh sekali melihat kata 'pewaris' disana. Memangnya siapa yang bisa punya bayi dalam setahun setelah menikah dengan cara seperti ini?

"Hubungan ini memang hanya sementara, tapi pernikahannya sungguhan.” Erlangga lagi-lagi menjatuhkan ultimatum yang membuat Aluna nyaris tersedak.

Mata wanita itu melebar sempurna saat menatap Erlangga. Kalau Aluna tidak salah mengerti, artinya mereka akan melakukan tugas sebagai suami istri sungguhan termasuk tidur bersama. "Aku harus memberikan keperawananku, kalau begitu!?” ucapnya, terdengar tidak terima.

"Kepera--!"

"Saya akan menjelaskan, Nyonya," Julian segera menengahi, tubuhnya sedikit tersentak saat menyadari tatapan tajam Erlangga. Tanpa sengaja, Julian memotong perkataan atasannya. Meski berkeringat dingin, Julian tetap melanjutkan perkataannya.

"Dalam satu tahun pernikahan, Anda harus mengandung dan melahirkan pewaris untuk Tuan Erlangga. Tapi, seandainya Anda baru hamil di bulan ke sebelas atau dua belas masa kontrak, maka kontraknya akan diperpanjang sampai Anda melahirkan." Julian berhenti sejenak, memperhatikan apakah Aluna mendengarkannya dengan seksama.

Aluna mendengarkan dalam diam, tidak menyela dan tidak mengajukan tanya sama sekali karna tahu Julian belum selesai.

"Anda tetap bisa merawat bayi Anda dimana pun, entah di kediaman Mahendra atau di rumah lain yang Nyonya inginkan. Anak Anda akan menjadi satu-satunya pewaris sah keluarga ini, jadi tidak perlu khawatir tentang biaya hidup, jaminan keamanan dan pendidikannya."

Ucapan itu membuat Aluna terdiam. Bulu kuduknya berdiri memikirkan pergelutan para pewaris dan sekarang ia ada di dalamnya. Bukankah ada Mahendra yang lain? Kenapa Julian mengatakan kalau anaknya dan Erlangga akan jadi pewaris satu-satunya? Apa keamanan dan keselamatan anaknya benar-benar akan terjamin?

Aluna kembali menekuni berkas di hadapannya, menulis beberapa syarat yang diinginkan tanpa mengatakan apapun. Kalau memang harus tidur bersama, ada banyak cara untuk mencegah kehamilan.

“Aku sudah menandatanganinya dan menambahkan beberapa syarat." Aluna berucap kemudian. Ia menyodorkan kembali berkas perjanjian ke atas meja.

Julian membaca syarat yang Aluna tulis sebelum menyerahkannya pada Erlangga.

"Hanya ini?" Erlangga bertanya setelah membaca syarat yang Aluna berikan.

Aluna ingin kebebasannya tidak dibelenggu dan ia boleh pergi ke mana pun selama tidak merugikan kedua belah pihak--termasuk mengunjungi rumah orang tuanya.

"Eum, itu saja. Sediakan sopir dan mobil untukku, dan aku nggak keberatan kalau aktivitas harianku seperti kemana aku pergi, bertemu siapa dan sebagainya, dilaporkan padamu. Lalu, kalau orangtuaku ingin bertemu denganmu, bagaimana? Sekarang mereka pasti sudah mendengar kabar pernikahan ini."

Sejak mobil memasuki kediaman Mahendra, Aluna sengaja mematikan ponsel, jaga-jaga agar tidak mengganggu obrolannya dan Erlangga seandainya kabar pernikahannya sudah Mikail sampaikan.

"Baiklah, aku akan menemui orang tuamu kapan pun mereka mau."

"Saya akan segera mengurus kontraknya sesuai revisi hari ini. Anda akan menandatangani ulang kontrak ini lusa, saya akan datang bersama seorang pengacara."

Julian kembali menjelaskan beberapa hal lain tentang hak dan kewajiban Aluna sebagai nyonya kediaman ini saat ponsel Erlangga berdering. Aluna tidak terlalu memperhatikan, tapi setelah panggilan itu selesai, Erlangga langsung berdiri dari tempatnya.

"Lepas cincin itu," ucap Erlangga sembari melepas cincin di jarinya lalu melemparnya begitu saja ke atas meja. "Pelayan akan mengantarmu ke kamar, jadi beristirahatlah. Ayo, Julian!"

Aluna yang terkejut dengan sikap kasar Erlangga, langsung melepas cincinnya tanpa banyak tanya. Memangnya siapa yang mau pakai cincin di pernikahan kontrak ini?!

"Maksud Tuan Erlangga, cincinnya akan dibuat ulang juga, dengan desain berbeda dan nama kalian yang terukir disana. Kalian tidak mungkin memakai cincin pernikahan dengan nama wanita lain, kan?" Julian cepat-cepat menjelaskan, sebelum dengan sopan mengajak Aluna keluar ruangan.

Pelayan dengan cepat mendekat, tersenyum sopan dan membawa Aluna ke kamar yang telah disiapkan, sedangkan Julian bergegas mengejar Erlangga yang telah pergi lebih dulu.

'Hari ini kacau sekali. Besok pasti akan lebih tenang, kan?'

Begitu pikir Aluna sebelum ia membaca artikel gosip keesokan harinya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
fly likes butterflies
hmmm gimana yh kelanjutannya
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Tangis Tanpa Suara

    Aluna tertegun, jantungnya terasa berdenyut aneh ketika pertanyaan itu terlontar dari bibir suaminya. Wanita itu membalas pandangan laki-laki di sampingnya, yang matanya dipenuhi kekalutan, kemarahan, kesedihan, juga ketakutan. Kenapa ada begitu banyak emosi di sana, di mata seorang pria angkuh seperti Erlangga?Siapa atau apa yang telah melukai Erlangga hingga menjadi seperti ini?"Entahlah, karena ada juga yang tidak mati meski sakit selama puluhan tahun." Aluna menjawab pertanyaan suaminya, sebelum menghela napas panjang dan melanjutkan, "--tapi yang pasti rasanya tidak akan menyenangkan," katanya.Erlangga mendengus pelan, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Pria itu hanya kembali menunduk dan merenung, tidak bergerak sama sekali, bahkan suara napasnya pun terlalu pelan untuk seseorang yang sedang berada dalam kekalutan."Erlangga...." Aluna memanggil lagi, kali ini sambil meraih tangan Erlangga, "Ayo pindah," bujuknya, kembali meminta agar suaminya mau tidur di kamar.Erlangga me

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Mata yang Menyimpan Kesedihan

    Malam semakin larut, tapi Erlangga belum juga pulang atau memberi kabar. Aluna menghubungi Julian untuk menanyakan keberadaan suaminya, juga menghubungi nomor pribadi Erlangga, tapi tidak mendapat jawaban apapun. Setelah menunggu sampai hampir jam sebelas, Aluna tertidur karena lelah. Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul satu dini hari ketika terdengar suara cukup keras dari arah ruang ganti. Bruk!Aluna mengerutkan dahi saat lagi-lagi mendengar sesuatu terjatuh. Wanita itu mengerjapkan mata beberapa kali sebelum perlahan duduk di atas ranjang."Langga?" Aluna memanggil, tapi tidak ada jawaban.Saat melihat sisi ranjang di sebelahnya masih rapi, barulah Aluna benar-benar tersadar.Artinya, Erlangga sama sekali belum pulang. Aluna menoleh ke arah jam."Sudah jam satu. Kenapa dia belum pulang?" Aluna bergumam sebelum perhatiannya teralihkan ke arah ruang ganti, arah suara yang membuatnya terbangun.Menelan ludah gugup, Aluna yang percaya tidak percaya dengan gangguan makhluk as

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Mereka yang Berdiri Bersama

    Aluna berdecak pelan, sejujurnya tidak suka membuka kelemahannya, tapi ia hapal tabiat teman-temannya jika tidak dijawab dengan jujur. "Awalnya aku pikir aku bisa mengabaikan komentar-komentar itu." Aluna menunduk menatap es yang perlahan mencair di dalam gelasnya. "Ternyata nggak semudah itu. Ada yang bilang aku wanita murahan. Ada yang nuduh aku sengaja menghancurkan hubungan orang. Bahkan.... ada yang menyebar fitnah katanya aku perempuan yang terbiasa menggoda cowo-cowo kaya." Suara Aluna tetap tenang selama mengatakan isi hatinya. Justru karena terlalu tenang, kedua sahabatnya tahu bahwa semua kalimat itu benar-benar melukai Aluna. Kaela berdecak pelan. "Orang-orang itu pasti hidupnya terlalu damai sampai harus ikut campur urusan orang lain." "Lebih tepatnya," sela Febia, "Mereka merasa paling tahu hanya karena melihat dan membaca beberapa unggahan." Kaela mengangguk setuju. "Lucunya lagi, kalau nanti kebenarannya terungkap, mereka cuma bakal bilang, 'Oh, ternyata salah,' hab

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Orang-orang yang Melindungi

    Nada bicara Pradipta tetap tenang, tetapi ketegasannya begitu jelas. Mikail mengambil sepotong butter cookies sebelum melanjutkan dengan nada santai. "Tim keamanan siber kita juga lagi menelusuri akun-akun yang paling aktif menyebarkan fitnah." "Ketemu semuanya?" Aluna bertanya dengan mata berbinar, penasaran. "Beberapa." "Serius?" Mikail mengangguk. "Lucunya, sebagian besar bukan orang yang tahu apa-apa soal kejadian sebenarnya. Mereka cuma ikut-ikutan dan jadi ketakutan setelah tertangkap." Pria itu terkekeh pelan, berbanding terbalik dengan sorot matanya yang dingin. "Internet memang tempat yang aneh. Ada orang yang menganggap mencemarkan nama baik orang lain itu hiburan." Aluna menghela napas pelan. "Kasihan sekali hidup mereka," katanya sembari mengingat komentar-komentar tidak masuk akal yang beredar hanya karena ikut-ikutan mengomentari yang sedang trending. "Kasihan?" Elara berdecak pelan. "Aku lebih kasihan dengan putriku." Pradipta menganggukkan kepala pelan, setuju d

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Keluarga Dyaksa

    Jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi ketika taman belakang kediaman keluarga Dyaksa kembali terisi penuh setelah sebulan terakhir anggotanya berkurang.Sinar matahari yang lembut menembus sela-sela pepohonan trembesi yang menaungi gazebo bercat putih di tengah hamparan rumput hijau. Embusan angin membawa harum bunga melati dan mawar yang bermekaran, berpadu dengan aroma teh hangat yang baru saja diseduh.Di atas meja bundar berbahan kayu jati, seperangkat teh porselen bermotif bunga telah tertata rapi. Uap tipis masih mengepul dari teko teh melati yang baru diseduh, di sampingnya berbagai kudapan tersaji rapi di atas piring-piring porselen. Ada scones hangat lengkap dengan clotted cream dan selai stroberi, mini fruit tart dengan potongan kiwi dan stroberi segar, butter cookies, serta Éclair cokelat."Tapi, memangnya Ayah dan Ibu nggak kesepian? Mereka kan orang dewasa nih, apa nggak butuh kehangat--aduh!" Aluna meringis sembari memegang dahinya y

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Pulang ke Rumah

    Selama sebulan terakhir menjadi istri Erlangga, sekarang Aluna sudah benar-benar terbiasa ketika tidak menemukan suaminya saat terbangun. Tapi, tidak seperti biasa, kali ini Erlangga bahkan tidak ada di meja makan."Tuan sudah berangkat pagi-pagi sekali, Nyonya." Mendengar penjelasan pelayan, Aluna hanya mengangguk dan menghabiskan sarapannya sendirian. Bukankah Erlangga yang bilang untuk selalu sarapan dan makan malam bersama? "Apa dia punya urusan mendesak sampai nggak sarapan dulu?" Aluna bergumam pelan, merasa sedikit kesepian. Padahal ini akhir pekan. Selama sebulan terakhir, Erlangga tidak akan pergi kemana pun dan hanya menemani Aluna di rumah setiap akhir pekan, tapi kenapa hari ini pria itu pergi? Itu pun sejak pagi sekali. Selesai dengan rutinitas paginya, Aluna langsung memanggil sopir untuk mengantarnya ke kediaman Dyaksa. Meski Aluna bilang ingin menemui teman-temannya di kafe, tapi sebenarnya Aluna ingin pulang dulu, karena sudah tiga minggu ia juga tidak bertemu oran

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Menjadi Istri Seseorang

    Padahal Aluna yakin sekali tidak akan bisa tidur karna kehadiran orang asing di sebelahnya. Tapi tiba-tiba sudah pagi, lalu Aluna membuka mata dengan perasaan segar yang menandakan bahwa tidurnya nyenyak semalam."Ah, gila ...." Aluna menutup wajah, merasa telah melakukan kejahatan dengan membiarka

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Mimpi Buruk

    Aluna kembali ke kediaman Mahendra sore harinya, setelah seharian penuh menjelaskan banyak hal pada orang tuanya, juga pada pengasuhnya yang terus menangis karena Aluna tiba-tiba meninggalkan rumah. Setelah meyakinkan semua orang kalau Aluna akan sering pulang, barulah ia diperbolehkan kembali ke

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Pulang

    Hari berganti dengan cepat. Aluna terbangun dengan tubuh kaku dan kepala berat. Membutuhkan beberapa menit penuh bagi wanita itu untuk mengingat bahwa ia tidak berada di kamarnya sendiri dan ini bukan rumah orang tuanya. Langit-langit tinggi berornamen klasik menyambut Aluna, dan samar-samar ia men

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Menjadi Nyonya Mahendra

    Melihat tingkah sang adik, di sisi Aluna, Mikail mematung dengan mata melotot. “Jangan macam-macam, Aluna, turunkan tanganmu!" desis Mikail tajam.Tapi sudah terlambat. Aluna kini menjadi perhatian ratusan pasang mata yang menoleh padanya. Dan Aluna baru menyadari bahwa ia telah berdiri, meninggal

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status