Accueil / Romansa / Istri Bayaran Sang Pewaris / Menjadi Istri Seseorang

Partager

Menjadi Istri Seseorang

Auteur: Agura Senja
last update Date de publication: 2026-06-10 21:42:02

Padahal Aluna yakin sekali tidak akan bisa tidur karna kehadiran orang asing di sebelahnya. Tapi tiba-tiba sudah pagi, lalu Aluna membuka mata dengan perasaan segar yang menandakan bahwa tidurnya nyenyak semalam.

"Ah, gila ...." Aluna menutup wajah, merasa telah melakukan kejahatan dengan membiarkan dirinya lengah di dekat pria asing. Meski pria itu berstatus suaminya, tetap saja Aluna tidak seharusnya tidur nyenyak begitu saja!

Aluna menghela napas lelah, bersyukur Erlangga sudah tidak ada saat ia membuka mata.

"Dia pasti sudah pergi ke kantor sekarang, kan?"

Seperti kemarin, pagi ini Aluna pasti akan makan sendirian lagi.

Begitulah yang wanita itu pikirkan sambil menghela napas lega, sampai ia tiba di ruang makan dan menemukan Erlangga sedang memeriksa sesuatu di tablet pintarnya.

Saat Aluna tiba, Erlangga langsung meletakkan tabletnya--memberikannya pada Julian lebih tepatnya. Dengan cepat, asisten Erlangga itu membungkuk pada Aluna sebelum meninggalkan ruang makan.

"Selamat pagi, Aluna. Bagaimana tidurmu?"

Aluna mendekat dan duduk di kursinya, gerakannya canggung. "Tidurku nyenyak, terima kasih. Bagaimana denganmu?"

Apa-apaan dengan tanya jawab penuh kecanggungan ini?! Aluna ingin berteriak, tapi ekspresi wajahnya tetap tidak berubah.

"Tidak terlalu nyenyak berkat seseorang."

Jawaban itu membuat Aluna membelalak. Apa ia tidur sambil menendang pria itu atau bergulingan kesana kemari?! Seingatnya, ia tidak pernah mendapat protes dari sahabatnya saat mereka tidur bersama!

"Itu ... apa maksudnya?"

Pertanyaan Aluna terabaikan saat para pelayan mulai menyiapkan makanan. Bahkan setelah para pelayan pergi, Erlangga tidak mengatakan apa pun lagi. Tapi sesekali, tatapan pria itu terus mengikuti pergerakan Aluna.

'Apa sih? Ada apa? Katakan sesuatu dong, jangan membuatku sakit perut di meja makan!' Aluna membatin, namun tidak berani bertanya langsung. Habisnya cara Erlangga menatap seperti belati yang sangat tajam, sangat menusuk.

"Apa mantan pacarmu bernama Elang?"

"Pfftt! Ughk!" Aluna cepat-cepat menenangkan diri, menerima air yang disodorkan Erlangga. Kenapa tiba-tiba bertanya tentang mantan?!

"Apa aku mengigau atau sesuatu?" tanya Aluna khawatir. Ia yakin tidak mungkin mengigaukan nama mantannya yang tidak tahu diri itu, tapi siapa tahu kan? Lagi pula nama mantannya bukan Elang.

"Ternyata benar, ya?"

"Nggak, nggak! Bukan!" Aluna langsung menggeleng, "--namanya bukan Elang," lanjutnya cepat.

Bagian mantannya benar. Erlangga melirik sekilas pada istrinya yang semalam sempat mimpi buruk sambil memanggil nama Elang. Jika Elang itu bukan mantan kekasihnya, lalu siapa? Cinta pertama?

"Kuharap aku tidak merebut kekasih seseorang. Pastikan hubungan kalian benar-benar sudah berakhir agar tidak ada masalah di masa depan."

"Ya, aku tau. Benar-benar nggak ada hubungan lagi, kok, aku sudah dicampakkan." Aluna menimpali dengan suara pelan. Kembali mengingat mantannya yang langsung minta putus begitu naik jabatan dan punya gaji bulanan besar hanya membuat paginya buruk.

Erlangga tidak mengatakan apapun lagi, tampak tidak tertarik dengan masa lalu istrinya atau alasan kenapa Aluna dicampakkan.

"Gunakan ini untuk kebutuhanmu." Erlangga menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam setelah ia menyelesaikan sarapannya. "Tidak ada limitnya, jadi kamu bisa beli apapun yang kamu mau. Uang bulanan yang kujanjikan akan dikirim setiap tanggal lima ke rekeningmu."

Aluna menerima kartu dengan senang hati, tidak ada limit artinya ia benar-benar diakui sebagai nyonya Mahendra yang tidak perlu memikirkan uang.

"Sore nanti Julian akan membawa desainer perhiasan. Sebaiknya kamu pilih sendiri desain cincin nikah yang diinginkan, sekalian beli beberapa set perhiasan. Kita juga membutuhkan banyak gaun pesta dan lainnya. Pokoknya, Julian akan mengatur semua itu."

Aluna mengikuti langkah Erlangga menuju pintu utama. "Baiklah, aku akan di rumah sore ini. Kamu juga pulang untuk pilih cincinnya, kan?"

Erlangga berhenti tepat di depan pintu. "Tentu saja, itu kan cincin pernikahan kita," ucapnya seraya mendekat dan tanpa basa-basi mendaratkan kecupan di kening Aluna.

Menerima ciuman selamat tinggal di depan pintu saat banyak pasang mata melihat, adalah adegan yang cukup ikonik dalam cerita romansa. Aluna beberapa kali menulis adegan ini, tapi tidak pernah menyangka akan berada di situasi yang sama.

"Dia berusaha sangat keras," gumam Aluna, melihat mobil suaminya melaju meninggalkan pekarangan dengan tatapan rumit. Mereka sudah menikah, dan di depan umum, Aluna dan Erlangga adalah suami istri yang akur.

'Kenapa dia mudah sekali bersikap mesra dengan orang asing? Apa harus seperti itu saat menjadi pasangan seseorang?'

Aluna menghela napas, kembali ke dalam rumah megah Mahendra. Hari ini ia berniat pergi ke kafe milik temannya, selain untuk melanjutkan tulisannya semalam, Aluna juga punya hutang untuk menjelaskan situasi ini pada dua sahabatnya.

"Haruskah aku mentraktir mereka dengan uang saku dari suamiku?" Aluna tersenyum kecil saat melihat kartu hitam di tangannya. Secara pribadi, ia juga memiliki kartu seperti itu.

Saat kembali ke kamar dan memeriksa ponsel, Aluna mendapat pesan dari Mikail. Informasi yang Aluna minta kemarin sudah terlampir dalam sebuah file. Sebuah informasi tentang segala hal yang terkait dengan Erlangga.

[Informasinya tidak lengkap, sulit mencarinya dengan cepat meski dengan jaringan keluarga kita. Mungkin akan ada informasi tambahan nanti. Kami masih terus menyelidiki.]

"Begini pun sudah sangat hebat, Mikail. Bagaimana dia bisa langsung mendapatkannya hanya dalam sehari?"

Sekali lagi, Aluna mengagumi pekerjaan kakaknya.

"Nah, aku akan baca ini di tempat lain. Aku penasaran apa yang tertulis di sini."

Selama tidak ada hal yang membahayakan nyawa, Aluna akan terus melanjutkan pernikahan ini dan menjadi istri seorang Erlangga.

"Sepertinya tidak akan terlalu buruk juga. Toh, ini semua terasa seru ternyata."

Begitulah pikirnya ... sebelum Aluna mendapat serangan-serangan itu.

- Aluna si jalang dan Erlangga itu pasti sudah merencakan semuanya. Beraninya mereka menjebak Nayara kami!

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Muspiroh Oktavia
lanjut thor, buat Erlangga dluan yg jatuh cinta sma aluna, dn jngan smpai tuh ada pnjahat huhu
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Tangis Tanpa Suara

    Aluna tertegun, jantungnya terasa berdenyut aneh ketika pertanyaan itu terlontar dari bibir suaminya. Wanita itu membalas pandangan laki-laki di sampingnya, yang matanya dipenuhi kekalutan, kemarahan, kesedihan, juga ketakutan. Kenapa ada begitu banyak emosi di sana, di mata seorang pria angkuh seperti Erlangga?Siapa atau apa yang telah melukai Erlangga hingga menjadi seperti ini?"Entahlah, karena ada juga yang tidak mati meski sakit selama puluhan tahun." Aluna menjawab pertanyaan suaminya, sebelum menghela napas panjang dan melanjutkan, "--tapi yang pasti rasanya tidak akan menyenangkan," katanya.Erlangga mendengus pelan, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Pria itu hanya kembali menunduk dan merenung, tidak bergerak sama sekali, bahkan suara napasnya pun terlalu pelan untuk seseorang yang sedang berada dalam kekalutan."Erlangga...." Aluna memanggil lagi, kali ini sambil meraih tangan Erlangga, "Ayo pindah," bujuknya, kembali meminta agar suaminya mau tidur di kamar.Erlangga me

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Mata yang Menyimpan Kesedihan

    Malam semakin larut, tapi Erlangga belum juga pulang atau memberi kabar. Aluna menghubungi Julian untuk menanyakan keberadaan suaminya, juga menghubungi nomor pribadi Erlangga, tapi tidak mendapat jawaban apapun. Setelah menunggu sampai hampir jam sebelas, Aluna tertidur karena lelah. Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul satu dini hari ketika terdengar suara cukup keras dari arah ruang ganti. Bruk!Aluna mengerutkan dahi saat lagi-lagi mendengar sesuatu terjatuh. Wanita itu mengerjapkan mata beberapa kali sebelum perlahan duduk di atas ranjang."Langga?" Aluna memanggil, tapi tidak ada jawaban.Saat melihat sisi ranjang di sebelahnya masih rapi, barulah Aluna benar-benar tersadar.Artinya, Erlangga sama sekali belum pulang. Aluna menoleh ke arah jam."Sudah jam satu. Kenapa dia belum pulang?" Aluna bergumam sebelum perhatiannya teralihkan ke arah ruang ganti, arah suara yang membuatnya terbangun.Menelan ludah gugup, Aluna yang percaya tidak percaya dengan gangguan makhluk as

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Mereka yang Berdiri Bersama

    Aluna berdecak pelan, sejujurnya tidak suka membuka kelemahannya, tapi ia hapal tabiat teman-temannya jika tidak dijawab dengan jujur. "Awalnya aku pikir aku bisa mengabaikan komentar-komentar itu." Aluna menunduk menatap es yang perlahan mencair di dalam gelasnya. "Ternyata nggak semudah itu. Ada yang bilang aku wanita murahan. Ada yang nuduh aku sengaja menghancurkan hubungan orang. Bahkan.... ada yang menyebar fitnah katanya aku perempuan yang terbiasa menggoda cowo-cowo kaya." Suara Aluna tetap tenang selama mengatakan isi hatinya. Justru karena terlalu tenang, kedua sahabatnya tahu bahwa semua kalimat itu benar-benar melukai Aluna. Kaela berdecak pelan. "Orang-orang itu pasti hidupnya terlalu damai sampai harus ikut campur urusan orang lain." "Lebih tepatnya," sela Febia, "Mereka merasa paling tahu hanya karena melihat dan membaca beberapa unggahan." Kaela mengangguk setuju. "Lucunya lagi, kalau nanti kebenarannya terungkap, mereka cuma bakal bilang, 'Oh, ternyata salah,' hab

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Orang-orang yang Melindungi

    Nada bicara Pradipta tetap tenang, tetapi ketegasannya begitu jelas. Mikail mengambil sepotong butter cookies sebelum melanjutkan dengan nada santai. "Tim keamanan siber kita juga lagi menelusuri akun-akun yang paling aktif menyebarkan fitnah." "Ketemu semuanya?" Aluna bertanya dengan mata berbinar, penasaran. "Beberapa." "Serius?" Mikail mengangguk. "Lucunya, sebagian besar bukan orang yang tahu apa-apa soal kejadian sebenarnya. Mereka cuma ikut-ikutan dan jadi ketakutan setelah tertangkap." Pria itu terkekeh pelan, berbanding terbalik dengan sorot matanya yang dingin. "Internet memang tempat yang aneh. Ada orang yang menganggap mencemarkan nama baik orang lain itu hiburan." Aluna menghela napas pelan. "Kasihan sekali hidup mereka," katanya sembari mengingat komentar-komentar tidak masuk akal yang beredar hanya karena ikut-ikutan mengomentari yang sedang trending. "Kasihan?" Elara berdecak pelan. "Aku lebih kasihan dengan putriku." Pradipta menganggukkan kepala pelan, setuju d

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Keluarga Dyaksa

    Jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi ketika taman belakang kediaman keluarga Dyaksa kembali terisi penuh setelah sebulan terakhir anggotanya berkurang.Sinar matahari yang lembut menembus sela-sela pepohonan trembesi yang menaungi gazebo bercat putih di tengah hamparan rumput hijau. Embusan angin membawa harum bunga melati dan mawar yang bermekaran, berpadu dengan aroma teh hangat yang baru saja diseduh.Di atas meja bundar berbahan kayu jati, seperangkat teh porselen bermotif bunga telah tertata rapi. Uap tipis masih mengepul dari teko teh melati yang baru diseduh, di sampingnya berbagai kudapan tersaji rapi di atas piring-piring porselen. Ada scones hangat lengkap dengan clotted cream dan selai stroberi, mini fruit tart dengan potongan kiwi dan stroberi segar, butter cookies, serta Éclair cokelat."Tapi, memangnya Ayah dan Ibu nggak kesepian? Mereka kan orang dewasa nih, apa nggak butuh kehangat--aduh!" Aluna meringis sembari memegang dahinya y

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Pulang ke Rumah

    Selama sebulan terakhir menjadi istri Erlangga, sekarang Aluna sudah benar-benar terbiasa ketika tidak menemukan suaminya saat terbangun. Tapi, tidak seperti biasa, kali ini Erlangga bahkan tidak ada di meja makan."Tuan sudah berangkat pagi-pagi sekali, Nyonya." Mendengar penjelasan pelayan, Aluna hanya mengangguk dan menghabiskan sarapannya sendirian. Bukankah Erlangga yang bilang untuk selalu sarapan dan makan malam bersama? "Apa dia punya urusan mendesak sampai nggak sarapan dulu?" Aluna bergumam pelan, merasa sedikit kesepian. Padahal ini akhir pekan. Selama sebulan terakhir, Erlangga tidak akan pergi kemana pun dan hanya menemani Aluna di rumah setiap akhir pekan, tapi kenapa hari ini pria itu pergi? Itu pun sejak pagi sekali. Selesai dengan rutinitas paginya, Aluna langsung memanggil sopir untuk mengantarnya ke kediaman Dyaksa. Meski Aluna bilang ingin menemui teman-temannya di kafe, tapi sebenarnya Aluna ingin pulang dulu, karena sudah tiga minggu ia juga tidak bertemu oran

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Mimpi Buruk

    Aluna kembali ke kediaman Mahendra sore harinya, setelah seharian penuh menjelaskan banyak hal pada orang tuanya, juga pada pengasuhnya yang terus menangis karena Aluna tiba-tiba meninggalkan rumah. Setelah meyakinkan semua orang kalau Aluna akan sering pulang, barulah ia diperbolehkan kembali ke

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Pulang

    Hari berganti dengan cepat. Aluna terbangun dengan tubuh kaku dan kepala berat. Membutuhkan beberapa menit penuh bagi wanita itu untuk mengingat bahwa ia tidak berada di kamarnya sendiri dan ini bukan rumah orang tuanya. Langit-langit tinggi berornamen klasik menyambut Aluna, dan samar-samar ia men

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Perjanjian Pernikahan

    Merasakan pandangan Aluna, Erlangga mengangkat alis. Buru-buru Aluna kembali fokus pada berkas di tangan. Ia harus benar-benar memperhatikan setiap detail yang ada, jangan sampai menandatangani sesuatu yang akan merugikannya nanti.'Sudah kuduga aku pihak kedua.' Aluna membatin sembari terus membac

  • Istri Bayaran Sang Pewaris   Menjadi Nyonya Mahendra

    Melihat tingkah sang adik, di sisi Aluna, Mikail mematung dengan mata melotot. “Jangan macam-macam, Aluna, turunkan tanganmu!" desis Mikail tajam.Tapi sudah terlambat. Aluna kini menjadi perhatian ratusan pasang mata yang menoleh padanya. Dan Aluna baru menyadari bahwa ia telah berdiri, meninggal

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status