FAZER LOGINSetelah menyaksikan kehancuran pernikahan mewah akibat perselingkuhan sang pengantin wanita, Aluna mengajukan dirinya sebagai pengantin pengganti karena iming-iming uang bulanan sebesar 500 juta. Ia tidak menyangka itu akan membuat kehidupan Aluna yang tenang jadi penuh konflik panas dan membara setelah ia menikahi Erlangga Mahendra, si konglomerat arogan.
Ver mais"Wah, apa mereka benar-benar manusia?"
Aluna Dyaksa Maheswari hampir lupa menutup mulutnya sendiri ketika melihat sepasang pengantin berjalan perlahan menuju altar. Gaun putih panjang yang dikenakan sang mempelai perempuan berkilau di bawah lampu kristal, sementara pria di sampingnya tampak tenang dan dingin, seperti tokoh utama novel yang biasa ia lihat di layar ponsel. Hari ini Aluna dipaksa mengikuti kakaknya untuk menghadiri sebuah pernikahan menggantikan orang tua mereka setelah beberapa hari ini ia mengurung diri di kamar, tapi tidak pernah wanita itu sangka kalau yang menikah adalah seorang aktris yang namanya sedang sangat 'harum' di industri hiburan. "Kenapa Papa bisa dapat undangan ke sini?” Aluna berbisik pada kakaknya, Mikail, tanpa mengalihkan pandangan dari sepasang pengantin di depan. Mikail menghela napas kecil. "Undangannya berasal dari pengantin pria," ucap Mikail pelan, menjawab pertanyaan adiknya. “Siapa?” “Erlangga Aiza Mahendra.” Aluna mengernyit. Nama itu terdengar mahal, seperti seorang pewaris kaya raya yang akan jatuh cinta pada wanita dari kalangan biasa. Sungguh hal yang mustahil terjadi di dunia nyata--meski hal ini tidak pantas diucapkan Aluna secara langsung setelah apa yang terjadi padanya. “Ini alasan kamu harus keluar untuk melihat dunia,” lanjut Mikail pelan. “Bukan hanya kejar deadline di depan laptop dan jatuh cinta pada orang brengsek.” Aluna merengut, berusaha mengabaikan sindiran Mikail yang telak mengenai jantungnya. Memang siapa yang mau jatuh cinta pada orang brengsek?! Mana Aluna tahu kalau dia akan diremehkan oleh pria yang gaji bulanannya saja jauh lebih kecil dari uang jajannya! Menghela napas, Aluna kembali melihat ke depan. Prosesi dimulai. Musik mengalun. Lampu kristal memantul di gaun sang pengantin wanita, berkilau seperti serpihan bintang. Namun, perhatian Aluna sepenuhnya berada pada si pengantin pria. Cara Erlangga yang tidak benar-benar tersenyum membuat kesan 'tokoh utama pria' yang dingin, sementara, tubuh pria itu terbalut jas formal pernikahan, menonjolkan proporsi tubuhnya yang tinggi tegap. Aluna mencatat deskripsi itu di kepala sementara prosesi pernikahan akan dimulai. “Tuan Erlangga Aiza Mahendra, apakah Anda bersedia–” “Tunggu, kenapa layarnya tiba-tiba menyala?” Perhatian semua orang langsung terarah ke sebuah layar LED raksasa di belakang altar yang tiba-tiba menyala. Sebuah video tengah diputar, menampilkan Nayara, si pengantin wanita, di sebuah kamar hotel bersama seorang pria. Bukan hanya sekali. Layar berganti, menampilkan foto dan video lain dengan pria yang berbeda, di tempat yang berbeda pula. Aluna terkesiap saat ia mendengar teriakan histeris dari si pengantin wanita. “Matikan! Matikan sekarang! Itu semua palsu!” Sementara itu, beberapa tamu menutup mulut dan sisanya langsung berbisik-bisik. Ada pula yang langsung merekam dengan ponsel. “Itu Nayara, kan?” “Artinya dia selingkuh sebelum pernikahan?” “Lihat tanggal dan jamnya. Jelas-jelas itu terjadi beberapa minggu yang lalu–yah, salah satu perselingkuhannya sih.” “Eh, di video kedua bukannya si sutradara terkenal itu? Nayara tidur dengannya?” “Wah, jangan-jangan banyak proyek Nayara yang ia dapatkan dengan cara seperti ini!” Aluna menutup matanya sejenak mendengar semua komentar para tamu di sekitarnya. Ia tidak mengenal Nayara secara pribadi, tapi melihat seorang wanita dihancurkan di depan banyak orang seperti itu … rasanya tetap mengerikan. “Nggak kebayang besok beritanya kayak apa,” gumam Aluna prihatin. Bagaimana pun Nayara itu aktris yang sedang naik daun, sudah pasti skandal sebesar ini akan dibahas hingga bertahun-tahun kemudian. Tidak perlu jauh-jauh. Dalam waktu dekat pun, pastilah Nayara akan kehilangan semuanya dan bahkan tidak akan sanggup mengangkat kepala. Tatapan Aluna tidak beralih dari Nayara yang kini sudah jatuh terduduk di hadapan Erlangga. Gaunnya kusut, maskara mulai luntur. “Ini ulahmu, Lang?” Sang pengantin wanita berucap dengan suara gemetar. “Aku akui aku salah, tapi kamu nggak berhak mempermalukanku seperti ini!” Erlangga tampak membalas tatapan itu tanpa mengatakan apa pun. Aluna mengamati sosok itu dengan perasaan campur aduk. Kagum, terpesona, tapi juga takut akan apa yang mampu dilakukan oleh pria tersebut. “Saya tidak bisa melanjutkan pernikahan dengan wanita kotor,” ucap Erlangga. Suaranya yang dingin mengandung cemooh dan arogansi. Lalu dia mengalihkan pandangan pada para hadirin. “Apa ada yang bersedia menggantikan dia menikah dengan saya?” Aluna terkejut di tempatnya. Omong kosong apa yang baru saja ia dengar? Bisik-bisik kembali muncul. Mereka yang hadir tentu tidak percaya kalau sosok yang baru saja diselingkuhi akan langsung mencari pengantin pengganti. Tepat saat itu juga. Lagi pula, mengasumsikan semua ini adalah ulah Erlangga sendiri seperti tuduhan Nayara tadi, Aluna ragu akan ada orang yang mau hidup bersama pria dingin dan arogan seperti itu. Sepertinya hanya orang gila yang mau mengangkat tangan. Tapi … kenapa wajah pria itu justru tampak puas? Aluna mengernyit, memperhatikan Erlangga yang seakan memang ini yang ia inginkan sejak awal– “Saya akan berikan uang bulanan sebesar lima ratus juta bagi yang bersedia.” Gila! Aluna sontak terkesiap. Lima ratus juta? Per bulan!? Otak Aluna langsung berteriak dan menghitung berbagai macam hal dengan kecepatan penuh, mengabaikan napas tertahan dan bisikan-bisikan di sekitar yang terkejut dengan pengumuman Erlangga. "Lima ratus juta? Itu banyak, kan?" Aluna bergumam pelan, jantungnya berdebar kencang. Untuk orang biasa, lima ratus juta itu tentu saja banyak! Kata 'banyak' itu menggantung di kepalanya. Seolah-olah angka itu sedang menertawakan kisah cinta Aluna. Menertawakan pria pilihannya. Dan seperti luka yang disentuh tanpa izin, ingatan itu tiba-tiba terbuka begitu saja— "Sampai kapan kamu cuma nulis cerita nggak jelas? Itu pekerjaan yang nggak menghasilkan apapun selain recehan!" "Kamu nggak punya apapun untuk mendukungku, nggak punya koneksi dimana pun, nggak pernah bantu aku dalam hal apapun, tapi kamu mau ikut menikmati uang yang kuhasilkan?!" "Kita putus aja. Aku nggak mau menikah sama perempuan yang cuma bisa numpang hidup. Di dunia ini, nggak akan ada laki-laki yang mau menikah dengan perempuan seperti itu! Siapa yang mau ngasih makan anak orang cuma-cuma di zaman sekarang?" "Aku kerja keras setiap hari sampai punya penghasilan besar, semua ini hasil usahaku sendiri, masa depanku cerah, jadi aku nggak mau menghabiskan waktu sama kamu yang nggak punya apa-apa. Aku sekarang ada di angka tujuh, tapi kamu masih di angka 1." Napas Aluna tercekat. Tangannya gemetar, dadanya bergejolak saat mengingat kalimat-kalimat yang diucap mantan kekasihnya beberapa hari lalu saat mencampakkannya. Padahal Aluna tidak mengatakan apa-apa tentang statusnya karna khawatir membebani dan memberi tekanan, tapi pria brengsek itu langsung lupa segalanya setelah naik tingkat sedikit. Tidak ada yang mau memberi makan anak orang secara cuma-cuma katanya? Akan seperti apa wajah si brengsek itu kalau sekarang Aluna punya penghasilan puluhan kali lipat lebih banyak hanya dengan duduk manis jadi istri orang? Iming-iming uang bulanan itu tanpa sadar membuat tangan Aluna terangkat. Tinggi, dan tampak jelas di antara kerumunan tamu yang hadir.Padahal Aluna yakin sekali tidak akan bisa tidur karna kehadiran orang asing di sebelahnya. Tapi tiba-tiba sudah pagi, lalu Aluna membuka mata dengan perasaan segar yang menandakan bahwa tidurnya nyenyak semalam."Ah, gila ...." Aluna menutup wajah, merasa telah melakukan kejahatan dengan membiarkan dirinya lengah di dekat pria asing. Meski pria itu berstatus suaminya, tetap saja Aluna tidak seharusnya tidur nyenyak begitu saja!Aluna menghela napas lelah, bersyukur Erlangga sudah tidak ada saat ia membuka mata. "Dia pasti sudah pergi ke kantor sekarang, kan?" Seperti kemarin, pagi ini Aluna pasti akan makan sendirian lagi.Begitulah yang wanita itu pikirkan sambil menghela napas lega, sampai ia tiba di ruang makan dan menemukan Erlangga sedang memeriksa sesuatu di tablet pintarnya.Saat Aluna tiba, Erlangga langsung meletakkan tabletnya--memberikannya pada Julian lebih tepatnya. Dengan cepat, asisten Erlangga itu membungkuk pada Aluna sebelum meninggalkan ruang makan."Selamat pagi
Aluna kembali ke kediaman Mahendra sore harinya, setelah seharian penuh menjelaskan banyak hal pada orang tuanya, juga pada pengasuhnya yang terus menangis karena Aluna tiba-tiba meninggalkan rumah. Setelah meyakinkan semua orang kalau Aluna akan sering pulang, barulah ia diperbolehkan kembali ke kediaman Mahendra. Aluna sengaja tidak menjanjikan apa-apa saat orang tuanya meminta agar ia membawa suaminya ke rumah. Wanita itu tidak bisa mengatakan jika pernikahan ini palsu dan bersifat sementara, karena satu-satunya alasan yang bisa Aluna berikan saat ia tanpa pikir panjang mengangkat tangan dan menikahi Erlangga adalah ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Erlangga. Mungkin hanya Mikail dan sekretarisnya--sekaligus sahabat dekat Aluna--yang mengetahui alasan sebenarnya. Tapi, hal itu bisa diurus belakangan. Malam itu, setelah mandi, berganti pakaian tidur yang disiapkan pelayan dan menghabiskan makan malamnya, Aluna duduk di atas ranjang besar dengan laptop di pa
Hari berganti dengan cepat. Aluna terbangun dengan tubuh kaku dan kepala berat. Membutuhkan beberapa menit penuh bagi wanita itu untuk mengingat bahwa ia tidak berada di kamarnya sendiri dan ini bukan rumah orang tuanya. Langit-langit tinggi berornamen klasik menyambut Aluna, dan samar-samar ia mencium aroma teh hangat yang dari arah pintu. Aluna menatap sekitarnya sekali lagi. “Bukan mimpi,” gumamnya. Ternyata pernikahan dadakan kemarin bukan mimpi. Ketukan pelan dari luar dan suara seseorang yang meminta izin untuk masuk membuyarkan lamunan Aluna. Seorang pelayan masuk setelah Aluna mengizinkan. “Selamat pagi, Nyonya, kami sudah menyiapkan sarapan di ruang makan, tapi jika Nyonya ingin makan di kamar atau tempat lain, kami akan mengaturnya." Kata nyonya membuat perut Aluna menggelitik aneh. "Aku akan turun setelah mandi," ucapnya sembari meregangkan tubuh, sementara salah satu pelayan langsung bergegas untuk menyiapkan perlengkapan mandi Aluna. Setelah mandi dan memakai gaun
Merasakan pandangan Aluna, Erlangga mengangkat alis. Buru-buru Aluna kembali fokus pada berkas di tangan. Ia harus benar-benar memperhatikan setiap detail yang ada, jangan sampai menandatangani sesuatu yang akan merugikannya nanti.'Sudah kuduga aku pihak kedua.' Aluna membatin sembari terus membaca setiap butir, mengabaikan nama Nayara yang tertera. Tidak perlu merasa bersalah, Aluna bukan pelakor.Pernikahan akan berlangsung selama satu tahun, bisa kurang dari itu jika Erlangga tidak lagi membutuhkan pernikahan ini, dengan jaminan akan tetap mendapat bayaran sesuai dengan kesepakatan awal tanpa dikurangi sedikit pun.'Sebaiknya tidak menggunakan perasaan?' Aluna membaca kalimat yang agak ambigu. Kenapa harus memakai kata 'sebaiknya'?"Jadi, saya hanya perlu menjadi istri Anda selama kurang lebih setahun? Lalu, saya juga akan selalu ikut setiap kali ada pesta yang 'wajib dihadiri' sebagai pasangan Anda. Nafkah bulanan sebagai istri dan bayaran atas 'status menikah' akan dibedakan ...


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações