MasukAluna kembali ke kediaman Mahendra sore harinya, setelah seharian penuh menjelaskan banyak hal pada orang tuanya, juga pada pengasuhnya yang terus menangis karena Aluna tiba-tiba meninggalkan rumah.
Setelah meyakinkan semua orang kalau Aluna akan sering pulang, barulah ia diperbolehkan kembali ke kediaman Mahendra. Aluna sengaja tidak menjanjikan apa-apa saat orang tuanya meminta agar ia membawa suaminya ke rumah. Wanita itu tidak bisa mengatakan jika pernikahan ini palsu dan bersifat sementara, karena satu-satunya alasan yang bisa Aluna berikan saat ia tanpa pikir panjang mengangkat tangan dan menikahi Erlangga adalah ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Erlangga. Mungkin hanya Mikail dan sekretarisnya--sekaligus sahabat dekat Aluna--yang mengetahui alasan sebenarnya. Tapi, hal itu bisa diurus belakangan. Malam itu, setelah mandi, berganti pakaian tidur yang disiapkan pelayan dan menghabiskan makan malamnya, Aluna duduk di atas ranjang besar dengan laptop di pangkuan. Aluna memutuskan untuk menulis cerita baru. Laptop menyala sejak beberapa waktu. Layar putih kosong untuk novel barunya terbuka tanpa satu kata pun tertera dalam waktu cukup lama. Wanita itu berniat menuliskan apa yang terjadi dalam hidupnya sejak kemarin menjadi sebuah novel, karna genre-nya cocok sekali. Kebetulan ia baru menyelesaikan novelnya bulan lalu, jadi sekarang waktu yang pas untuk menulis lagi. Judul sementara : Istri Kontrak Tuan Dingin. Aluna menatap kursor yang berkedip, membiarkan ide mengalir deras. Jari-jarinya gatal ingin segera menulis, tapi kalimat awal di bab pertama selalu menjadi tantangan tersendiri. Wanita itu menarik napas panjang. "Sekarang, mari kita bayangkan situasinya." Menatap layar kosong tanpa berkedip, Aluna membayangkan wajah dingin Erlangga. Bagaimana cara pria itu menatap dengan acuh tak acuh, juga nada suaranya yang tenang namun penuh tekanan. “Oke, ini harusnya bisa,” bisik Aluna sebelum mulai mengetik kalimat pertama. [Hari pernikahan itu seharusnya menjadi awal kebahagiaan.] Jari-jarinya berhenti sejenak sebelum mengetik lagi. [Tapi, bagaimana kebahagiaan itu akan terwujud jika aku menikah dengan pria asing demi uang dan balas dendam?] Aluna terus berhadapan dengan laptop. Meski tangannya sedikit gemetar akibat semangat yang menggebu, jari-jarinya tidak berhenti sama sekali. Ini mungkin pertama kalinya Aluna merasa tidak tahu apakah ia sedang menulis cerita atau sedang mencatat hidupnya sendiri. Yang pasti, idenya mengalir dengan deras seperti hujan. Hampir pukul dua belas malam ketika Aluna akhirnya menyelesaikan 5 bab pertama untuk ceritanya. Setelah memastikan tidak ada kesalahan ketik, membacanya berulang kali dan memastikan tidak ada kesalahan, barulah Aluna mengirimkan tulisannya ke salah satu platform menulis online tempatnya bernaung. "Ugh, pegalnya...." Aluna meregangkan tubuh setelah mematikan laptop, bersiap untuk tidur. Tepat sebelum wanita itu mematikan lampu, seseorang membuka pintu kamarnya, membuat Aluna hampir berteriak karena terkejut. Ia memang lupa mengunci pintu kamarnya. "Ah, harusnya ketuk dulu sebelum masuk dong! Kamu hampir membunuhku!" Aluna merengut saat mengetahui jika yang datang adalah Erlangga. Kening Aluna mengernyit heran saat Erlangga menutup pintu dan menguncinya. "Kenapa pintunya dikunci?" tanyanya cemas. "Aku terbiasa mengunci pintu saat tidur." Jawaban singkat itu tidak menjawab pertanyaan Aluna sama sekali. Memang apa hubungannya kebiasaan Erlangga mengunci pintu saat tidur dengan situasi saat ini? Bukankah ini kamar pribadi Aluna? ... atau bukan? "Hey, aku hanya ingin memastikan. Apa kamu akan tidur disini juga? Bukankah kamar ini disiapkan untukku? Aku tidak yakin bisa tidur dengan nyaman kalau ada seseorang di sampingku." Aluna bertanya dengan suara canggung, situasi ini sama sekali tak terpikirkan olehnya. Mereka memang berencana 'membuat pewaris', tapi bukankah hal itu sudah dijadwalkan dan akan dilaksanakan di kamar khusus? Atau tidak begitu? Erlangga yang baru melepas jas dan menggantungnya di lemari, menaikkan satu alis mendengar pertanyaan istrinya. "Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau suami istri tidur di kamar terpisah?" Aluna tidak bisa berkata-kata, wajahnya pucat dengan kenyataan baru ini. Bukankah sejak kemarin ada banyak kejadian aneh dalam pernikahan kontrak mereka? "A-aku harus tidur duluan!" Aluna cepat-cepat menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya, memejamkan mata dengan jantung berdebar kencang. Pertama kali ia akan tidur di ranjang yang sama dengan seorang pria, Aluna tidak yakin bisa terlelap. Begitu pikirnya, tapi tidak sampai lima menit sejak memejamkan mata, Aluna sudah jatuh ke dalam mimpi. Erlangga yang keluar dari walk in closet setelah memakai piyama dan menemukan istrinya tertidur nyenyak, mengernyitkan dahi. "Tidak bisa tidur dengan nyaman katanya?" Pria itu duduk di ranjang, mengisi tempat kosong di samping Aluna, sebuah tablet pintar ada di tangannya. Tanggung jawab besar yang diemban membuat Erlangga sibuk setiap hari, bahkan waktu istirahatnya tidak menentu. Pria itu juga tidak ingat kapan terakhir kali ia benar-benar tidur nyenyak. Meski begitu, ia tidak boleh lalai dan membuat orang-orang yang berusaha menjatuhkannya mendapat kesempatan. Hening kamar hanya diisi suara halus dari tablet di tangan Erlangga yang sesekali disentuh. Cahaya layar itu menjadi satu-satunya penerang di ruangan yang gelap, memantul samar di wajah pria itu yang tampak serius. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama karena Aluna mulai bergerak. Awalnya hanya kegelisahan kecil, jari-jarinya mencengkeram ujung selimut, napasnya berubah tidak teratur. Kening wanita itu berkerut, bibirnya sedikit terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar. Tubuh Aluna tiba-tiba menegang. Napasnya memburu, kepalanya bergerak gelisah ke kanan dan kiri. Tangan kecilnya mencengkeram selimut kuat sampai buku-buku jarinya memutih. “Mm… jangan…." Erlangga langsung menoleh. Alisnya berkerut melihat kondisi istrinya yang jelas tidak sedang baik-baik saja. Ia langsung meletakkan tabletnya ke samping dan mendekat. “Aluna,” panggilnya pelan. Tidak ada respon. Sebaliknya, tubuh Aluna justru semakin gelisah. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya, napasnya terdengar semakin tidak stabil. Erlangga menghela napas pendek, lalu mengulurkan tangan, menyentuh bahu Aluna dengan hati-hati. “Bangun, Aluna.” Namun sentuhan itu justru membuat Aluna tersentak lebih keras. Tangannya bergerak refleks, seolah menepis sesuatu yang tak terlihat. “Jangan! Pergi! Lepaskan aku!” suara Aluna pecah, setengah teriak, setengah tangis. Erlangga terdiam sejenak. Ia menggeser posisinya, duduk lebih dekat, lalu dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati, ia menggenggam tangan Aluna yang gemetar. “Aluna, ini aku.” Suaranya rendah, stabil, berusaha menembus mimpi buruk apapun yang sedang istrinya alami. “Tidak ada apa-apa di sini.” Erlangga berkata lembut. Tangannya mengusap dahi Aluna yang berkeringat sebelum pria itu memutuskan untuk berbaring, menarik Aluna ke dalam pelukan sambil terus berusaha menenangkan, bahwa semua akan baik-baik saja, dan Aluna berada di tempat yang aman. Beberapa detik berikutnya terasa sangat panjang. Sampai akhirnya Aluna terengah pelan. Kerutan di wajahnya perlahan mereda, meski napasnya masih sedikit tidak beraturan. Genggaman tangannya yang tadinya kaku mulai melemah, tapi Erlangga tidak melepaskannya. Pria itu tetap di sana, menjaga dalam diam. Tatapan Erlangga jatuh pada wajah Aluna yang kini lebih tenang, meski masih menyisakan jejak ketakutan. Ada jeda panjang sebelum ia akhirnya menghela napas pelan. “Tidurlah,,” gumamnya hampir tak terdengar. Untuk pertama kalinya malam itu, Erlangga tidak kembali pada tabletnya. Tangannya tetap menggenggam Aluna, sementara tubuhnya tetap mendekap erat di bawah selimut yang sama. Mata pria itu memang masih terbuka, tapi fokusnya sudah tidak bisa lagi pada pekerjaan, melainkan pada wanita di sampingnya yang bahkan dalam tidur pun terlihat seperti sedang berperang dengan sesuatu yang tidak terlihat. Entah mimpi jenis apa yang mendatangi istrinya, tapi jelas itu buruk sekali. "Elang...." Pria itu tertegun, tubuhnya menegang mendengar suara lirih Aluna. "Elang...." Kenapa Aluna memanggil nama kecil Erlangga? Padahal satu-satunya yang memanggil dengan nama panggilan itu adalah ibunya yang sudah lama meninggal.Padahal Aluna yakin sekali tidak akan bisa tidur karna kehadiran orang asing di sebelahnya. Tapi tiba-tiba sudah pagi, lalu Aluna membuka mata dengan perasaan segar yang menandakan bahwa tidurnya nyenyak semalam."Ah, gila ...." Aluna menutup wajah, merasa telah melakukan kejahatan dengan membiarkan dirinya lengah di dekat pria asing. Meski pria itu berstatus suaminya, tetap saja Aluna tidak seharusnya tidur nyenyak begitu saja!Aluna menghela napas lelah, bersyukur Erlangga sudah tidak ada saat ia membuka mata. "Dia pasti sudah pergi ke kantor sekarang, kan?" Seperti kemarin, pagi ini Aluna pasti akan makan sendirian lagi.Begitulah yang wanita itu pikirkan sambil menghela napas lega, sampai ia tiba di ruang makan dan menemukan Erlangga sedang memeriksa sesuatu di tablet pintarnya.Saat Aluna tiba, Erlangga langsung meletakkan tabletnya--memberikannya pada Julian lebih tepatnya. Dengan cepat, asisten Erlangga itu membungkuk pada Aluna sebelum meninggalkan ruang makan."Selamat pagi
Aluna kembali ke kediaman Mahendra sore harinya, setelah seharian penuh menjelaskan banyak hal pada orang tuanya, juga pada pengasuhnya yang terus menangis karena Aluna tiba-tiba meninggalkan rumah. Setelah meyakinkan semua orang kalau Aluna akan sering pulang, barulah ia diperbolehkan kembali ke kediaman Mahendra. Aluna sengaja tidak menjanjikan apa-apa saat orang tuanya meminta agar ia membawa suaminya ke rumah. Wanita itu tidak bisa mengatakan jika pernikahan ini palsu dan bersifat sementara, karena satu-satunya alasan yang bisa Aluna berikan saat ia tanpa pikir panjang mengangkat tangan dan menikahi Erlangga adalah ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Erlangga. Mungkin hanya Mikail dan sekretarisnya--sekaligus sahabat dekat Aluna--yang mengetahui alasan sebenarnya. Tapi, hal itu bisa diurus belakangan. Malam itu, setelah mandi, berganti pakaian tidur yang disiapkan pelayan dan menghabiskan makan malamnya, Aluna duduk di atas ranjang besar dengan laptop di pa
Hari berganti dengan cepat. Aluna terbangun dengan tubuh kaku dan kepala berat. Membutuhkan beberapa menit penuh bagi wanita itu untuk mengingat bahwa ia tidak berada di kamarnya sendiri dan ini bukan rumah orang tuanya. Langit-langit tinggi berornamen klasik menyambut Aluna, dan samar-samar ia mencium aroma teh hangat yang dari arah pintu. Aluna menatap sekitarnya sekali lagi. “Bukan mimpi,” gumamnya. Ternyata pernikahan dadakan kemarin bukan mimpi. Ketukan pelan dari luar dan suara seseorang yang meminta izin untuk masuk membuyarkan lamunan Aluna. Seorang pelayan masuk setelah Aluna mengizinkan. “Selamat pagi, Nyonya, kami sudah menyiapkan sarapan di ruang makan, tapi jika Nyonya ingin makan di kamar atau tempat lain, kami akan mengaturnya." Kata nyonya membuat perut Aluna menggelitik aneh. "Aku akan turun setelah mandi," ucapnya sembari meregangkan tubuh, sementara salah satu pelayan langsung bergegas untuk menyiapkan perlengkapan mandi Aluna. Setelah mandi dan memakai gaun
Merasakan pandangan Aluna, Erlangga mengangkat alis. Buru-buru Aluna kembali fokus pada berkas di tangan. Ia harus benar-benar memperhatikan setiap detail yang ada, jangan sampai menandatangani sesuatu yang akan merugikannya nanti.'Sudah kuduga aku pihak kedua.' Aluna membatin sembari terus membaca setiap butir, mengabaikan nama Nayara yang tertera. Tidak perlu merasa bersalah, Aluna bukan pelakor.Pernikahan akan berlangsung selama satu tahun, bisa kurang dari itu jika Erlangga tidak lagi membutuhkan pernikahan ini, dengan jaminan akan tetap mendapat bayaran sesuai dengan kesepakatan awal tanpa dikurangi sedikit pun.'Sebaiknya tidak menggunakan perasaan?' Aluna membaca kalimat yang agak ambigu. Kenapa harus memakai kata 'sebaiknya'?"Jadi, saya hanya perlu menjadi istri Anda selama kurang lebih setahun? Lalu, saya juga akan selalu ikut setiap kali ada pesta yang 'wajib dihadiri' sebagai pasangan Anda. Nafkah bulanan sebagai istri dan bayaran atas 'status menikah' akan dibedakan ...
Melihat tingkah sang adik, di sisi Aluna, Mikail mematung dengan mata melotot. “Jangan macam-macam, Aluna, turunkan tanganmu!" desis Mikail tajam.Tapi sudah terlambat. Aluna kini menjadi perhatian ratusan pasang mata yang menoleh padanya. Dan Aluna baru menyadari bahwa ia telah berdiri, meninggalkan Mikail di belakang. Wanita itu menelan ludah. Sudah terlambat untuk mundur dan tekadnya tidak akan goyah. Dari atas panggung, Erlangga menatapnya. Pandangan pria itu tajam menatap calon istri dadakannya.“Nama?” Satu pertanyaan dilontarkan.“Aluna,” Aluna menjawab lebih tenang dari yang ia kira. Padahal jantungnya sedang bertalu sangat kencang. Gugup, tapi terasa menyenangkan.“Pekerjaan?”Penulis novel online. Aluna menahan diri untuk tidak mengatakan itu. Tapi ngomong-ngomong, calon suaminya di atas sana benar-benar terlihat seperti calon bos yang sedang mewawancarai.“Asisten penulis.” Aluna menjawab tegas, karena itu satu-satunya pekerjaan yang masuk akal hingga ia bisa mendapat und
"Wah, apa mereka benar-benar manusia?"Aluna Dyaksa Maheswari hampir lupa menutup mulutnya sendiri ketika melihat sepasang pengantin berjalan perlahan menuju altar. Gaun putih panjang yang dikenakan sang mempelai perempuan berkilau di bawah lampu kristal, sementara pria di sampingnya tampak tenang dan dingin, seperti tokoh utama novel yang biasa ia lihat di layar ponsel.Hari ini Aluna dipaksa mengikuti kakaknya untuk menghadiri sebuah pernikahan menggantikan orang tua mereka setelah beberapa hari ini ia mengurung diri di kamar, tapi tidak pernah wanita itu sangka kalau yang menikah adalah seorang aktris yang namanya sedang sangat 'harum' di industri hiburan."Kenapa Papa bisa dapat undangan ke sini?” Aluna berbisik pada kakaknya, Mikail, tanpa mengalihkan pandangan dari sepasang pengantin di depan.Mikail menghela napas kecil. "Undangannya berasal dari pengantin pria," ucap Mikail pelan, menjawab pertanyaan adiknya.“Siapa?”“Erlangga Aiza Mahendra.”Aluna mengernyit. Nama itu terden







