Mag-log in“Berita terkini! Istana Bai Ling mengonfirmasi kaburnya Putra Mahkota Ling Chenxiao beberapa jam sebelum penandatanganan pernikahan aliansi dengan Kerajaan Yancheng. Sumber internal menyebutkan bahwa sang pangeran menolak pernikahan tersebut karena ketidaksesuaian pribadi, bahkan dikabarkan secara terang-terangan menyebut calon pasangannya terlalu tua seperti tante-tante.”Suara televisi di ruang tengah cukup keras hingga terdengar menusuk ke telinga Yan Zhiyao seperti gema yang berulang-ulang.“Tante-tante? Huh!” Yan Zhiyao mendengus pelan. “Apa aku benar-benar setua itu?”Nada kesalnya ringan, lebih mirip geli daripada marah. Ia baru saja keluar dari ruang pribadinya dengan buku masih di tangan, niatnya hanya ingin mengambil minum. Siapa sangka, berita pagi justru menyambutnya dengan tuduhan yang cukup menyinggung harga diri seorang wanita berusia dua puluh tujuh tahun yang hidup disiplin, sehat, dan nyaris tak pernah tidur larut.Matanya kembali jatuh pada buku yang ia genggam.Judu
Yuze melangkah maju satu langkah.“Nama tabib itu sudah kami ketahui,” katanya dingin. “Ia ditangkap satu jam lalu. Mengaku menerima bayaran.”Beberapa pelayan langsung menangis tertahan.Anli menghela napas kecil.“Kesalahan ini bukan kelalaian biasa,” katanya. “Ini kelalaian yang nyaris membunuh pewaris kerajaan.”Ia berdiri perlahan. Pengawal refleks maju, tapi Anli memberi isyarat kecil agar mereka berhenti.“Dengar baik-baik,” ucapnya.“Dua orang yang langsung menangani obat,” katanya sambil menunjuk dua pelayan, “dilucuti dari jabatan. Diusir dari Kediaman Qin malam ini. Seluruh hak dan rekomendasi dicabut.”Dua pelayan itu ambruk, bersujud berkali-kali.“Tiga lainnya,” lanjut Anli tanpa ragu, “dikirim ke penjara istana. Menunggu keputusan akhir pengadilan kerajaan.”Tangisan pecah.Dengan mata buramnya, Anli menatap mereka sekali lagi.“Ini bukan karena aku kejam,” katanya pelan. “Ini karena aku bertahan hidup.”Ia menurunkan tangannya.“Bawa mereka pergi!"Pengawal bergerak se
“Tapi ibunya…” lanjut dokter itu, suaranya merendah. Kalimat itu menggantung di udara, tajam dan dingin. “Nyonya Qin mengalami komplikasi serius. Kehilangan banyak energi dan respons sarafnya melemah. Kami sudah menanganinya, tapi… tiga hari ke depan akan sangat krusial.” Tidak ada yang bertanya lebih lanjut. Karena semua orang mengerti arti kata itu. — Anli tidak terbangun. Hari pertama, ia hanya terbaring diam di ruang perawatan intensif. Mesin berdetak pelan, selang-selang menempel di tubuhnya. Wajahnya pucat, nyaris transparan. Yuze tidak pernah meninggalkan kursi di samping ranjang. Ia tidur dengan kepala tertunduk di tepi kasur, satu tangan menggenggam tangan Anli, seolah jika dilepas sedetik saja, istrinya akan menghilang. Hari kedua, bayi perempuan itu dipindahkan ke ruang neonatal. Dokter menjelaskan dengan tenang. “Efek obat yang menumpuk membuat responsnya sedikit lambat saat lahir,” kata mereka. “Tapi paru-parunya baik. Refleksnya kuat. Ia akan dirawat intensif be
Sejak memasuki bulan kesembilan, Yuze bahkan hampir tidak memejamkan mata. Setiap gerakan kecil di sisi Anli selalu ia rasakan.Malam itu, perubahan datang terlalu pelan. Napas Anli tidak lagi berirama.Yuze terbangun seketika. Tangannya refleks menyentuh pinggang Anli yang dingin.“Anli?” panggilnya pelan.Tidak ada jawaban.Ia menegakkan tubuh, menyalakan lampu kecil. Wajah istrinya pucat, bibirnya sedikit terbuka seolah kekurangan udara. Satu tangan menekan perutnya, jari-jari gemetar.Yuze langsung duduk, menopang bahunya.“Lihat aku,” katanya tegas.Mata Anli terbuka perlahan.“Yuze…” suaranya lirih. “Aku rasa… ada yang salah.”Kalimat itu membuat dada Yuze seperti diremas.“Apa yang kau rasakan?”“Bayinya… bergerak sangat jarang,” jawab Anli jujur. “Seharian ini. Aku baru sadar sekarang.”Yuze tidak bertanya lagi.Tangannya sudah lebih dulu meraih bel darurat di sisi ranjang. Suaranya memecah keheningan kamar dalam satu tekan singkat.Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dokt
Meilin tidak langsung berteriak.Ia hanya berdiri kaku, seolah kakinya tertanam di tanah. Pemandangan di depannya terlalu kejam untuk diproses dalam satu tarikan napas.Song Weiyan.Adiknya.Seragam putih sekolah kerajaan yang seharusnya bersih kini kotor oleh debu dan noda darah. Bahunya turun naik menahan sakit, tapi matanya tetap keras, menolak menangis di hadapan mereka.Zhenrui melangkah ke depan.Satu langkah.Dua langkah.Langkahnya tidak tergesa, tidak pula marah secara terbuka. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana berubah.Para murid yang tadi tertawa mulai merasakan sesuatu yang salah.“Masih belum cukup?” tanya Zhenrui akhirnya.Suaranya datar. Hampir tenang.Tidak ada teriakan. Tidak ada ancaman.Namun entah mengapa, halaman belakang itu mendadak terasa sempit.Salah satu murid menelan ludah. “Kami hanya… mengajarinya tempatnya, Yang—”“Kau tidak tahu tempatmu sendiri,” potong Zhenrui.Ia berdiri tepat di depan mereka sekarang, tubuhnya menjadi penghalang alami an
Zhenrui langsung menyadari satu hal penting.Jika ia tidak menjelaskan sekarang juga, Meilin benar-benar akan merendah.Ia menghela napas kecil, lalu mundur setengah langkah, sengaja memberi jarak agar gadis itu tidak semakin panik.“Tenang,” katanya pelan. Nada suaranya berubah, tidak lagi menggoda, melainkan tenang dan serius. “Duduk dulu. Jangan berdiri tiba-tiba.”Meilin menelan ludah, lalu menurut, duduk kaku di ranjang dengan tangan mencengkeram selimut.Zhenrui melanjutkan, kali ini menatap lurus ke arahnya.“Aku tidak bercanda soal ini,” katanya jujur.Meilin berkedip.“…Eh?”Zhenrui menyilangkan tangannya di depan dada, sikap seorang raja muda kembali muncul, tenang dan rasional.“Kau baru saja menjadi target,” ujarnya. “Dan setelah apa yang terjadi hari ini, akan ada lebih banyak mata yang tertuju padamu.”Meilin menegang.“Orang-orang seperti Jia Liang,” lanjutnya, “tidak bekerja sendirian. Gosip, tekanan, intimidasi, itu semua akan datang. Terutama pada seseorang tanpa sta
Balairung istana malam itu berat oleh bau dupa dan obat. Lentera digantung berderet, bayang-bayangnya memanjang di pilar batu. Para pejabat berdiri dalam setengah lingkaran, jubah mereka berdesis halus setiap kali bergeser. Di sisi kanan, tabib-tabib kerajaan membisiki catatan, suara mereka terpoto
Pagi masih lembut ketika Madam Qin berdiri di depan cermin, menukar gaun sutra dengan mantel wol abu-abu. Bros keluarga diselipkannya ke kotak kecil; tongkat perak tetap ia bawa, tapi tanpa hiasan mencolok. Ia tidak ingin menarik perhatian siapa pun.“Mobil kecil. Tanpa lambang,” ucapnya datar pada
Lorong kembali sunyi setelah bayangan pria misterius itu lenyap ditelan gelap. Hanya tersisa bau darah yang mengental di udara.Anli berdiri kaku beberapa detik. Namun bunyi napas berat yang bercampur erangan tertahan membuat kepalanya menoleh samar.Langkahnya pelan, jemarinya menyentuh dinding, m
Malam itu, di paviliun timur istana, cahaya layar holografik memantul di wajah Yan Zhenrui. Ruangan kerjanya sunyi, hanya suara gesekan halus pena digital di tangannya yang mencatat sesuatu di udara.Ia sudah terbiasa hidup dengan dua wajah: raja muda yang bijak di hadapan dunia, dan arsitek dingin







