Share

Squel

Author: Donat Mblondo
last update Last Updated: 2026-01-21 09:00:51

Yan Zhiyao tumbuh di tengah dua dunia yang sama-sama menuntut kesempurnaan. Sebagai satu-satunya putri Anli dan Yuze, ia dibesarkan dengan kasih sayang yang nyaris berlebihan, namun juga disiplin yang tidak pernah lunak. Sejak kecil, Zhiyao belajar bahwa kelembutan tidak sama dengan kelemahan, dan kekuasaan tidak selalu harus ditunjukkan dengan suara keras. Ia mengamati, menyerap, dan mengingat. Cara ibunya bertahan hidup, cara ayahnya memikul tanggung jawab tanpa banyak kata.

Berbeda dari anak-anak lain, Zhiyao tidak pernah tumbuh menjadi gadis yang manja. Ia tenang, cerdas, dan memiliki ketajaman naluri yang membuat orang dewasa pun berhati-hati saat berbicara di hadapannya. Di usia muda, ia telah menguasai akupuntur dan pengobatan tradisional, warisan keluarga Jin dari garis neneknya, Jin Sua Luqi, teknik yang bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga mampu melumpuhkan. Di sisi lain, ia dilatih beladiri sejak dini, bukan untuk pamer kekuatan, melainkan agar tak pernah menjadi korban.

Ketika usianya bertambah, nama Yan Zhiyao mulai dikenal bukan hanya sebagai tuan putri Kerajaan Yancheng, tetapi sebagai pewaris sah Qin Holdings, perusahaan raksasa yang berpengaruh hingga ke luar negeri. Ia memasuki ruang rapat dengan langkah tenang, duduk di kursi pimpinan tanpa perlu pengakuan lisan, dan membuat keputusan yang mengubah arah banyak kehidupan. Orang-orang belajar satu hal penting: Yan Zhiyao tidak mengancam, tidak berteriak, dan tidak terburu-buru. Namun setiap keputusannya selalu membawa konsekuensi.

Di mata dunia, Yan Zhiyao adalah simbol kekuasaan modern yang sempurna: berdarah kerajaan, berotak pebisnis, dan bertangan tabib. Namun bagi mereka yang benar-benar mengenalnya, ia adalah wanita yang hidup dengan satu prinsip sederhana, hidup adalah sesuatu yang harus dipertahankan, dan siapa pun yang mencoba merenggutnya, akan membayar dengan harga yang setimpal.

Di luar jam-jam resmi dan rapat tanpa akhir, Yan Zhiyao punya satu kebiasaan yang jarang diketahui siapa pun, membaca novel romance. Ia tidak mencari pelarian, apalagi mimpi manis. Ia hanya menikmati melihat bagaimana cerita mengatur emosi manusia, siapa yang menang, siapa yang dikorbankan.

Malam itu, ia duduk santai di ruang pribadinya, buku terbuka di pangkuan.

Judulnya sederhana namun dramatis: Cinta di Bawah Mahkota Hitam.

Zhiyao membaca sampai halaman terakhir tanpa banyak ekspresi. Saat menutup buku, ia menyandarkan punggung dan menghembuskan napas pelan.

“Lumayan,” gumamnya jujur.

Protagonisnya mendapatkan takhta. Cintanya berakhir bahagia. Negeri stabil. Dunia berjalan sebagaimana mestinya.

Ia tidak menyangkal, sebagai novel romance, ceritanya rapi. Bahkan menyentuh, jika tidak terlalu memperhatikan siapa yang harus mati agar akhir bahagia itu bisa terjadi.

Nama Yan Ruoyao terlintas sebentar di pikirannya. Putri lemah, antagonis tragis, mati dengan tenang demi kebahagiaan orang lain.

Zhiyao mengangkat bahu kecil. "Peran yang klise," gumamnya.

Ia menutup buku dan berdiri, lalu berhenti.

Udara di sekitarnya berubah sunyi. Sampul buku di tangannya terasa hangat, lalu panas. Huruf-huruf emas di judul berkilau samar, seolah menyerap cahaya ruangan.

“Menarik…” ujarnya datar, lebih penasaran daripada waspada.

Ia bahkan sempat berpikir, akhir yang bahagia memang pantas diperjuangkan, tepat sebelum dunia di sekelilingnya runtuh.

Tidak ada jeritan. Tidak ada rasa sakit. Tarikan kuat, seolah sesuatu mencengkeram kesadarannya dan menyeretnya masuk.

Ketika Yan Zhiyao membuka mata kembali, hal pertama yang ia rasakan adalah kelemahan.

Tubuh sangat ringan dan rapuh. Napasnya dangkal. Ada rasa nyeri samar di persendian, dan dingin yang tak biasa merayap di kulit.

Sebuah suara terdengar dekat.

“Yang Mulia Putri Ruoyao… Anda sudah sadar?”

Zhiyao membeku.

Ruoyao?

Ia menurunkan pandangan. Tangan yang kurus, pucat, dan asing baginya. Detak jantungnya melambat. Lalu ia tersenyum tipis.

“Jadi…” bisiknya pelan, ada nada geli di sana.

“Dari semua tokoh di buku itu…”

Ia menghela napas kecil.

“Aku malah jadi antagonis yang mati?"

_________

Saat Yan Zhiyao membuka mata di dalam sebuah buku, ia mendapati dirinya terjebak sebagai Yan Ruoyao, putri lemah berusia 18 tahun, berwajah tua seperti tante-tante, dan sudah dijadwalkan mati secara menyedihkan setelah menikah dengan Ling Xiaochen, pangeran bengis yang hobi menyiksa istri sahnya sendiri. Di dunia di mana air mata dianggap wajar dan kematian adalah penutup bab, Zhiyao hanya bisa tertawa dingin: jika cerita ini memang ingin darah, maka kali ini yang berdarah bukanlah dirinya.

Nantikan dengan judul: Aku Kira, Kau Tante-tante

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   Squel

    Yan Zhiyao tumbuh di tengah dua dunia yang sama-sama menuntut kesempurnaan. Sebagai satu-satunya putri Anli dan Yuze, ia dibesarkan dengan kasih sayang yang nyaris berlebihan, namun juga disiplin yang tidak pernah lunak. Sejak kecil, Zhiyao belajar bahwa kelembutan tidak sama dengan kelemahan, dan kekuasaan tidak selalu harus ditunjukkan dengan suara keras. Ia mengamati, menyerap, dan mengingat. Cara ibunya bertahan hidup, cara ayahnya memikul tanggung jawab tanpa banyak kata.Berbeda dari anak-anak lain, Zhiyao tidak pernah tumbuh menjadi gadis yang manja. Ia tenang, cerdas, dan memiliki ketajaman naluri yang membuat orang dewasa pun berhati-hati saat berbicara di hadapannya. Di usia muda, ia telah menguasai akupuntur dan pengobatan tradisional, warisan keluarga Jin dari garis neneknya, Jin Sua Luqi, teknik yang bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga mampu melumpuhkan. Di sisi lain, ia dilatih beladiri sejak dini, bukan untuk pamer kekuatan, melainkan agar tak pernah menjadi korban.Ke

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   204.

    Yuze melangkah maju satu langkah.“Nama tabib itu sudah kami ketahui,” katanya dingin. “Ia ditangkap satu jam lalu. Mengaku menerima bayaran.”Beberapa pelayan langsung menangis tertahan.Anli menghela napas kecil.“Kesalahan ini bukan kelalaian biasa,” katanya. “Ini kelalaian yang nyaris membunuh pewaris kerajaan.”Ia berdiri perlahan. Pengawal refleks maju, tapi Anli memberi isyarat kecil agar mereka berhenti.“Dengar baik-baik,” ucapnya.“Dua orang yang langsung menangani obat,” katanya sambil menunjuk dua pelayan, “dilucuti dari jabatan. Diusir dari Kediaman Qin malam ini. Seluruh hak dan rekomendasi dicabut.”Dua pelayan itu ambruk, bersujud berkali-kali.“Tiga lainnya,” lanjut Anli tanpa ragu, “dikirim ke penjara istana. Menunggu keputusan akhir pengadilan kerajaan.”Tangisan pecah.Dengan mata buramnya, Anli menatap mereka sekali lagi.“Ini bukan karena aku kejam,” katanya pelan. “Ini karena aku bertahan hidup.”Ia menurunkan tangannya.“Bawa mereka pergi!"Pengawal bergerak se

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   203.

    “Tapi ibunya…” lanjut dokter itu, suaranya merendah. Kalimat itu menggantung di udara, tajam dan dingin. “Nyonya Qin mengalami komplikasi serius. Kehilangan banyak energi dan respons sarafnya melemah. Kami sudah menanganinya, tapi… tiga hari ke depan akan sangat krusial.”Tidak ada yang bertanya lebih lanjut.Karena semua orang mengerti arti kata itu.—Anli tidak terbangun.Hari pertama, ia hanya terbaring diam di ruang perawatan intensif. Mesin berdetak pelan, selang-selang menempel di tubuhnya. Wajahnya pucat, nyaris transparan.Yuze tidak pernah meninggalkan kursi di samping ranjang.Ia tidur dengan kepala tertunduk di tepi kasur, satu tangan menggenggam tangan Anli, seolah jika dilepas sedetik saja, istrinya akan menghilang.Hari kedua, bayi perempuan itu dipindahkan ke ruang neonatal.Dokter menjelaskan dengan tenang.“Efek obat yang menumpuk membuat responsnya sedikit lambat saat lahir,” kata mereka. “Tapi paru-parunya baik. Refleksnya kuat. Ia akan dirawat intensif beberapa ha

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   202.

    Sejak memasuki bulan kesembilan, Yuze bahkan hampir tidak memejamkan mata. Setiap gerakan kecil di sisi Anli selalu ia rasakan.Malam itu, perubahan datang terlalu pelan. Napas Anli tidak lagi berirama.Yuze terbangun seketika. Tangannya refleks menyentuh pinggang Anli yang dingin.“Anli?” panggilnya pelan.Tidak ada jawaban.Ia menegakkan tubuh, menyalakan lampu kecil. Wajah istrinya pucat, bibirnya sedikit terbuka seolah kekurangan udara. Satu tangan menekan perutnya, jari-jari gemetar.Yuze langsung duduk, menopang bahunya.“Lihat aku,” katanya tegas.Mata Anli terbuka perlahan.“Yuze…” suaranya lirih. “Aku rasa… ada yang salah.”Kalimat itu membuat dada Yuze seperti diremas.“Apa yang kau rasakan?”“Bayinya… bergerak sangat jarang,” jawab Anli jujur. “Seharian ini. Aku baru sadar sekarang.”Yuze tidak bertanya lagi.Tangannya sudah lebih dulu meraih bel darurat di sisi ranjang. Suaranya memecah keheningan kamar dalam satu tekan singkat.Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dokt

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   201.

    Meilin tidak langsung berteriak.Ia hanya berdiri kaku, seolah kakinya tertanam di tanah. Pemandangan di depannya terlalu kejam untuk diproses dalam satu tarikan napas.Song Weiyan.Adiknya.Seragam putih sekolah kerajaan yang seharusnya bersih kini kotor oleh debu dan noda darah. Bahunya turun naik menahan sakit, tapi matanya tetap keras, menolak menangis di hadapan mereka.Zhenrui melangkah ke depan.Satu langkah.Dua langkah.Langkahnya tidak tergesa, tidak pula marah secara terbuka. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana berubah.Para murid yang tadi tertawa mulai merasakan sesuatu yang salah.“Masih belum cukup?” tanya Zhenrui akhirnya.Suaranya datar. Hampir tenang.Tidak ada teriakan. Tidak ada ancaman.Namun entah mengapa, halaman belakang itu mendadak terasa sempit.Salah satu murid menelan ludah. “Kami hanya… mengajarinya tempatnya, Yang—”“Kau tidak tahu tempatmu sendiri,” potong Zhenrui.Ia berdiri tepat di depan mereka sekarang, tubuhnya menjadi penghalang alami an

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   200.

    Zhenrui langsung menyadari satu hal penting.Jika ia tidak menjelaskan sekarang juga, Meilin benar-benar akan merendah.Ia menghela napas kecil, lalu mundur setengah langkah, sengaja memberi jarak agar gadis itu tidak semakin panik.“Tenang,” katanya pelan. Nada suaranya berubah, tidak lagi menggoda, melainkan tenang dan serius. “Duduk dulu. Jangan berdiri tiba-tiba.”Meilin menelan ludah, lalu menurut, duduk kaku di ranjang dengan tangan mencengkeram selimut.Zhenrui melanjutkan, kali ini menatap lurus ke arahnya.“Aku tidak bercanda soal ini,” katanya jujur.Meilin berkedip.“…Eh?”Zhenrui menyilangkan tangannya di depan dada, sikap seorang raja muda kembali muncul, tenang dan rasional.“Kau baru saja menjadi target,” ujarnya. “Dan setelah apa yang terjadi hari ini, akan ada lebih banyak mata yang tertuju padamu.”Meilin menegang.“Orang-orang seperti Jia Liang,” lanjutnya, “tidak bekerja sendirian. Gosip, tekanan, intimidasi, itu semua akan datang. Terutama pada seseorang tanpa sta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status