แชร์

Squel

ผู้เขียน: Donat Mblondo
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-21 09:00:51

“Berita terkini! Istana Bai Ling mengonfirmasi kaburnya Putra Mahkota Ling Chenxiao beberapa jam sebelum penandatanganan pernikahan aliansi dengan Kerajaan Yancheng. Sumber internal menyebutkan bahwa sang pangeran menolak pernikahan tersebut karena ketidaksesuaian pribadi, bahkan dikabarkan secara terang-terangan menyebut calon pasangannya terlalu tua seperti tante-tante.”

Suara televisi di ruang tengah cukup keras hingga terdengar menusuk ke telinga Yan Zhiyao seperti gema yang berulang-ulang.

“Tante-tante? Huh!” Yan Zhiyao mendengus pelan. “Apa aku benar-benar setua itu?”

Nada kesalnya ringan, lebih mirip geli daripada marah. Ia baru saja keluar dari ruang pribadinya dengan buku masih di tangan, niatnya hanya ingin mengambil minum. Siapa sangka, berita pagi justru menyambutnya dengan tuduhan yang cukup menyinggung harga diri seorang wanita berusia dua puluh tujuh tahun yang hidup disiplin, sehat, dan nyaris tak pernah tidur larut.

Matanya kembali jatuh pada buku yang ia genggam.

Judulnya sederhana, 'Cinta di Bawah Mahkota Hitam'.

Zhiyao sudah menamatkannya beberapa menit lalu. Ia bersandar di sofa, lalu mengembuskan napas pelan. Sepanjang membaca, ekspresinya nyaris tak berubah.

Ceritanya rapi, alurnya jelas, dan seperti kebanyakan novel romansa politik, keadilan berpihak pada protagonis.

Hanya saja…

Entah mengapa, sejak halaman-halaman terakhir, ada perasaan aneh yang mengganjal di dadanya.

Tokoh antagonis dalam buku itu, Putri Ruoyao terus terbayang di benaknya. Seorang putri lemah, sakit-sakitan, berwajah pucat dan tampak lebih tua dari usianya.

"Tapi... apa yang membuatnya tampak begitu tua? Racun?"

Pertayaan itu masih menjadi teka-teki di benak Zhiyao.

Dijodohkan demi aliansi, dibenci tanpa diberi kesempatan, lalu disingkirkan dengan cara paling efisien dan profesional oleh sang pangeran.

"Pangeran kabur demi cinta sejati. Pangeran membunuh demi cinta sejati? Ckck. Sungguh konyol!"

Tiba-tiba, udara di sekitarnya terasa sunyi.

Ia menunduk. Sampul buku di tangannya terasa hangat. Huruf-huruf emas pada judul berkilau samar, berdenyut pelan seolah memiliki napas sendiri. Cahaya tipis merembes dari sela-sela halaman, menyerap cahaya ruang tengah sedikit demi sedikit.

“Ah…” Zhiyao mengernyit. “Apa ini?"

Ia belum sempat berdiri seketika dunia di sekelilingnya seakan retak tanpa suara. Sebuah tarikan kuat mencengkeram kesadarannya dan menyeretnya jatuh, menembus cahaya, huruf, dan cerita.

Ketika Yan Zhiyao membuka mata kembali, hal pertama yang ia rasakan adalah kelemahan.

Tubuhnya terasa sangat ringan dan rapuh, seolah tulangnya terbuat dari kaca tipis. Napasnya dangkal. Ada nyeri samar di persendian, dingin yang tak wajar merayap di kulit, dan bau obat pahit yang asing memenuhi udara.

Langit-langit di atasnya bukan ruang modern yang ia kenal.

Sebuah suara terdengar dekat, lembut namun penuh kehati-hatian.

“Yang Mulia Putri Ruoyao… Anda sudah sadar?”

Zhiyao membeku.

'Ruoyao?'

Perlahan, ia menurunkan pandangan. Tangan yang terbaring di atas selimut itu kurus, pucat, dengan urat-urat halus yang terlihat jelas di balik kulit.

Detak jantungnya melambat.

Lalu, di tengah absurditas situasi itu, bibirnya justru melengkung tipis.

“Jadi…” bisiknya pelan, ada nada geli yang sulit disembunyikan.

“Dari semua tokoh di buku itu…” Ia menghela napas kecil, antara pasrah dan terhibur oleh nasibnya sendiri.

“Aku malah jadi antagonis yang mati?”

__________

Nantikan kisah Yan Zhiyao dengan judul:

WASPADALAH, PANGERAN! AKU BUKAN ISTRI LEMAH YANG KAU KENAL

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   Squel

    “Berita terkini! Istana Bai Ling mengonfirmasi kaburnya Putra Mahkota Ling Chenxiao beberapa jam sebelum penandatanganan pernikahan aliansi dengan Kerajaan Yancheng. Sumber internal menyebutkan bahwa sang pangeran menolak pernikahan tersebut karena ketidaksesuaian pribadi, bahkan dikabarkan secara terang-terangan menyebut calon pasangannya terlalu tua seperti tante-tante.”Suara televisi di ruang tengah cukup keras hingga terdengar menusuk ke telinga Yan Zhiyao seperti gema yang berulang-ulang.“Tante-tante? Huh!” Yan Zhiyao mendengus pelan. “Apa aku benar-benar setua itu?”Nada kesalnya ringan, lebih mirip geli daripada marah. Ia baru saja keluar dari ruang pribadinya dengan buku masih di tangan, niatnya hanya ingin mengambil minum. Siapa sangka, berita pagi justru menyambutnya dengan tuduhan yang cukup menyinggung harga diri seorang wanita berusia dua puluh tujuh tahun yang hidup disiplin, sehat, dan nyaris tak pernah tidur larut.Matanya kembali jatuh pada buku yang ia genggam.Judu

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   204.

    Yuze melangkah maju satu langkah.“Nama tabib itu sudah kami ketahui,” katanya dingin. “Ia ditangkap satu jam lalu. Mengaku menerima bayaran.”Beberapa pelayan langsung menangis tertahan.Anli menghela napas kecil.“Kesalahan ini bukan kelalaian biasa,” katanya. “Ini kelalaian yang nyaris membunuh pewaris kerajaan.”Ia berdiri perlahan. Pengawal refleks maju, tapi Anli memberi isyarat kecil agar mereka berhenti.“Dengar baik-baik,” ucapnya.“Dua orang yang langsung menangani obat,” katanya sambil menunjuk dua pelayan, “dilucuti dari jabatan. Diusir dari Kediaman Qin malam ini. Seluruh hak dan rekomendasi dicabut.”Dua pelayan itu ambruk, bersujud berkali-kali.“Tiga lainnya,” lanjut Anli tanpa ragu, “dikirim ke penjara istana. Menunggu keputusan akhir pengadilan kerajaan.”Tangisan pecah.Dengan mata buramnya, Anli menatap mereka sekali lagi.“Ini bukan karena aku kejam,” katanya pelan. “Ini karena aku bertahan hidup.”Ia menurunkan tangannya.“Bawa mereka pergi!"Pengawal bergerak se

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   203.

    “Tapi ibunya…” lanjut dokter itu, suaranya merendah. Kalimat itu menggantung di udara, tajam dan dingin. “Nyonya Qin mengalami komplikasi serius. Kehilangan banyak energi dan respons sarafnya melemah. Kami sudah menanganinya, tapi… tiga hari ke depan akan sangat krusial.” Tidak ada yang bertanya lebih lanjut. Karena semua orang mengerti arti kata itu. — Anli tidak terbangun. Hari pertama, ia hanya terbaring diam di ruang perawatan intensif. Mesin berdetak pelan, selang-selang menempel di tubuhnya. Wajahnya pucat, nyaris transparan. Yuze tidak pernah meninggalkan kursi di samping ranjang. Ia tidur dengan kepala tertunduk di tepi kasur, satu tangan menggenggam tangan Anli, seolah jika dilepas sedetik saja, istrinya akan menghilang. Hari kedua, bayi perempuan itu dipindahkan ke ruang neonatal. Dokter menjelaskan dengan tenang. “Efek obat yang menumpuk membuat responsnya sedikit lambat saat lahir,” kata mereka. “Tapi paru-parunya baik. Refleksnya kuat. Ia akan dirawat intensif be

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   202.

    Sejak memasuki bulan kesembilan, Yuze bahkan hampir tidak memejamkan mata. Setiap gerakan kecil di sisi Anli selalu ia rasakan.Malam itu, perubahan datang terlalu pelan. Napas Anli tidak lagi berirama.Yuze terbangun seketika. Tangannya refleks menyentuh pinggang Anli yang dingin.“Anli?” panggilnya pelan.Tidak ada jawaban.Ia menegakkan tubuh, menyalakan lampu kecil. Wajah istrinya pucat, bibirnya sedikit terbuka seolah kekurangan udara. Satu tangan menekan perutnya, jari-jari gemetar.Yuze langsung duduk, menopang bahunya.“Lihat aku,” katanya tegas.Mata Anli terbuka perlahan.“Yuze…” suaranya lirih. “Aku rasa… ada yang salah.”Kalimat itu membuat dada Yuze seperti diremas.“Apa yang kau rasakan?”“Bayinya… bergerak sangat jarang,” jawab Anli jujur. “Seharian ini. Aku baru sadar sekarang.”Yuze tidak bertanya lagi.Tangannya sudah lebih dulu meraih bel darurat di sisi ranjang. Suaranya memecah keheningan kamar dalam satu tekan singkat.Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dokt

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   201.

    Meilin tidak langsung berteriak.Ia hanya berdiri kaku, seolah kakinya tertanam di tanah. Pemandangan di depannya terlalu kejam untuk diproses dalam satu tarikan napas.Song Weiyan.Adiknya.Seragam putih sekolah kerajaan yang seharusnya bersih kini kotor oleh debu dan noda darah. Bahunya turun naik menahan sakit, tapi matanya tetap keras, menolak menangis di hadapan mereka.Zhenrui melangkah ke depan.Satu langkah.Dua langkah.Langkahnya tidak tergesa, tidak pula marah secara terbuka. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana berubah.Para murid yang tadi tertawa mulai merasakan sesuatu yang salah.“Masih belum cukup?” tanya Zhenrui akhirnya.Suaranya datar. Hampir tenang.Tidak ada teriakan. Tidak ada ancaman.Namun entah mengapa, halaman belakang itu mendadak terasa sempit.Salah satu murid menelan ludah. “Kami hanya… mengajarinya tempatnya, Yang—”“Kau tidak tahu tempatmu sendiri,” potong Zhenrui.Ia berdiri tepat di depan mereka sekarang, tubuhnya menjadi penghalang alami an

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   200.

    Zhenrui langsung menyadari satu hal penting.Jika ia tidak menjelaskan sekarang juga, Meilin benar-benar akan merendah.Ia menghela napas kecil, lalu mundur setengah langkah, sengaja memberi jarak agar gadis itu tidak semakin panik.“Tenang,” katanya pelan. Nada suaranya berubah, tidak lagi menggoda, melainkan tenang dan serius. “Duduk dulu. Jangan berdiri tiba-tiba.”Meilin menelan ludah, lalu menurut, duduk kaku di ranjang dengan tangan mencengkeram selimut.Zhenrui melanjutkan, kali ini menatap lurus ke arahnya.“Aku tidak bercanda soal ini,” katanya jujur.Meilin berkedip.“…Eh?”Zhenrui menyilangkan tangannya di depan dada, sikap seorang raja muda kembali muncul, tenang dan rasional.“Kau baru saja menjadi target,” ujarnya. “Dan setelah apa yang terjadi hari ini, akan ada lebih banyak mata yang tertuju padamu.”Meilin menegang.“Orang-orang seperti Jia Liang,” lanjutnya, “tidak bekerja sendirian. Gosip, tekanan, intimidasi, itu semua akan datang. Terutama pada seseorang tanpa sta

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   151.

    Udara malam menusuk tulang. Rasa dingin pertama yang dirasakan Ling Yue bukan dari angin, tapi dari tanah lembap di bawah tubuhnya.Ia perlahan membuka mata. Pandangannya berputar, langit hitam pekat, tanpa bintang.Kepalanya berdengung. Darah hangat mengalir dari pelipisnya.“Di… mana ini…” bisikn

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   116.

    Ketegangan di udara begitu pekat hingga terasa menyesakkan. Akhirnya, di bawah tatapan dingin Raja Muda, orang-orang itu mulai saling memukul, gugup, setengah menangis, memohon ampun.Zhenrui hanya menatap mereka dalam diam, matanya dingin seperti kaca beku. Setelah beberapa saat, ketika semuanya t

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   103. Penangkapan

    Suara borgol besi beradu terdengar jelas ketika pasukan istana membungkukkan Yuefang ke kap truk baja. Cahaya sorot masih menyala terang, menyorot wajahnya yang keras dan berdebu.Yifan meronta di sebelahnya, panik, matanya liar.“Aku tidak tahu apa-apa! Aku hanya disuruh membantu sistem—!”Salah sa

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   102. ZhaoYifan_TerminalAccess

    Namun pada detik itu juga, di ruang bawah istana, Zhenrui duduk di depan layar yang sama. Monitor di depannya menampilkan kode berwarna hijau yang terus bergerak, diiringi suara halus dari sistem pelacaknya.“Mereka sedang mencoba menghapus server kerajaan,” gumamnya pelan.Haoran, yang berdiri di

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status