Pagi itu, rumah utama keluarga Qin benar-benar berubah menjadi lautan kesibukan. Dari depan aula hingga ke dapur, setiap sudut dipenuhi aktivitas. Pelayan berlarian, membawa baki, mengatur kursi, menggantung lampion renda putih di sepanjang lorong.Karpet merah digelar dari pintu masuk utama, dibentangkan lurus tanpa satu pun lipatan. Vas-vas kristal besar diletakkan di kedua sisi, dipenuhi bunga segar yang baunya menyatu dengan aroma masakan mewah yang mulai keluar dari dapur. Ada wangi kaldu, kue kukus, dan anggur manis yang baru dibuka.Anli berjalan pelan menyusuri lorong. Langkahnya tidak terburu-buru, jemarinya membawa sebuah kotak kayu kecil. Kotak itu sederhana, hanya diikat pita kain yang ia siapkan sendiri semalam.Di ruang tamu besar, Madam Qin sudah duduk, dikelilingi beberapa pelayan yang sibuk menata kado dari tamu. Begitu Anli mendekat, ia berhenti sejenak, lalu mengulurkan kotak kayu kecil itu dengan kedua tangan.“Hadiah untuk Madam,” ucapnya tenang. “Sabun herbal yan
Tubuh Yuze langsung menegang, ia terlonjak setengah bangun. “A-apa…?! Kenapa kau di sini?!”Anli tetap bersandar, wajahnya pucat lelah. Ia sudah setengah semalaman menahan tubuh Yuze yang berat. Matanya yang buram menoleh pelan, suaranya tenang meski nadanya terdengar getir.“Anda yang salah masuk kamar, Tuan Qin.”Yuze terdiam. Ingatannya berkelebat, pulang dalam keadaan mabuk, pintu yang salah, langkah goyah… dan bisikan samar yang ia keluarkan semalam.Panas merambat ke telinganya. Rahangnya mengeras. “Cih!” Ia berdiri cepat, menepuk debu tak terlihat dari jas kusutnya, seolah itu bisa menutupi rasa malunya.Anli tak bergerak, hanya meraba dan merapikan selimut yang setengah terlepas dari bahu Yuze. Jemarinya halus, tapi gerakannya tegas. “Pergilah, Tuan! Sebelum ada pelayan yang melihat.”Suasana kamar hening, hanya suara jantung Yuze sendiri yang berdentum keras di telinganya. Sesaat ia menatap Anli lebih lama, tapi buru-buru memalingkan wajah.“Sial…” gumamnya pelan, hampir tak
Anli membeku. Dada Yuze nyaris menempel di bahunya, hangat alkohol bercampur aroma malam menyesak. Ia ingin menarik diri, tapi genggaman itu membuatnya sulit bergerak.‘Apa yang sebenarnya terjadi padanya?’ batinnya tegang.Lampu malam di meja memantulkan cahaya lembut. Dalam remang itu, wajah Yuze terlihat jelas, lelah, kecewa, rapuh, jauh berbeda dari sosok dingin yang biasa ia tunjukkan di siang hari.Anli menahan napas, berusaha tetap tenang. “Tuan, Anda salah kamar.”Namun Yuze tak merespons. Matanya setengah terpejam, tetapi sorotnya terhenti pada wajah Anli, seolah menemukan sesuatu yang lama ia cari.Ketegangan memenuhi kamar.Tubuh Yuze makin merosot, separuh berat badannya menindih bahu Anli. Napasnya berat, campuran alkohol dan kelelahan membuat dada bidangnya naik turun tidak teratur.Anli menegakkan tubuh dengan sulit, berusaha menjaga jarak. Jemarinya menyentuh perlahan pergelangan tangan Yuze, mencoba melepaskan genggaman itu. “Tuan… lepaskan. Anda butuh istirahat di ka
Anli diam sebentar, jemarinya masih menyusuri permukaan catatan titik timbul di pangkuannya. Lalu, perlahan ia menutup buku itu dan meletakkannya di meja. Senyumnya samar, tapi bukan senyum yang benar-benar hangat, lebih seperti senyum untuk menenangkan lawan bicara.“Saya… tidak punya banyak cerita, Madam,” jawabnya pelan. “Yang saya tahu, saya ditemukan di pinggir hutan oleh orang tua angkat saya. Saat itu saya masih kecil. Kepala saya sering sakit, dan ingatan saya… tidak utuh. Banyak yang hilang.”Madam Qin mengangguk pelan, tak memotong. Matanya tetap mengamati, seolah setiap kata Anli ia timbang satu-satu.“Orang tua angkat saya merawat saya seadanya,” lanjut Anli. “Kami tinggal sederhana, tidak pernah punya banyak hal. Mereka tidak mengajarkan kemewahan, hanya… bagaimana bertahan hidup. Saya belajar dengan cara yang berbeda, mengandalkan hidung, telinga, dan rabaan. Mata saya… sejak kecil sudah begini. Samar.”Hening turun sejenak. Di luar jendela, suara burung elektronik terde
“Ibu,” Xiumei segera berdiri, memberi hormat ringan. “Mari duduk bersama kami.”Madam Qin melangkah perlahan ke bangku batu. Xiumei membantu menata selendang peraknya. Begitu ia duduk di samping Anli, hidungnya langsung menangkap aroma lembut yang samar-samar menguar. Wangi itu berbeda, bukan parfum mewah, melainkan segar dan menenangkan, ada asam manis rosela, sejuknya kemangi, dan lapisan hangat yang membuat pikiran terasa damai.Alis Madam Qin bergerak tipis. Wangi ini… batinnya bergolak. Ingatan lama berkelebat: sabun herbal yang pernah diracik Sua Luqi, menantu Raja Yan Shiming. Puluhan tahun berlalu, namun baunya tidak berubah.Ia menatap Anli lebih lama, lalu tersenyum samar. “Anli… hari ini kau tampak berbeda. Rambutmu terurai, gaun krem sederhana itu, dan…” ia menghirup pelan, “…bahkan wangimu pun lain. Lembut, menenangkan. Aku hampir lupa rasanya.”Anli menunduk sopan, tangannya meremas pangkuan. “Itu… bukan dari parfum, Madam. Saya membuat sabun herbal. Dari rosela dan kema
Aroma bubur hangat memenuhi aula sarapan. Semangkuk bubur encer dengan taburan bawang goreng tersaji di meja utama, ditemani beberapa hidangan pendamping ringan.Xiumei sudah duduk anggun di kursinya, selendang plum menjuntai lembut. Di sebelahnya, Anli juga duduk dengan tenang. Wajahnya teduh, tangannya meraba sendok perlahan, lalu mengambil suapan kecil. Gerakannya hati-hati, tapi sama sekali tidak kikuk, seolah ia sudah terbiasa menghadapi tatapan orang yang menilai dari setiap gerakannya.Para pelayan di belakang masih kaku. Ada yang curi-curi pandang ke arah Yuze yang baru masuk. Jas abu-abu mudanya rapi, dasi terikat sempurna. Namun langkahnya lebih cepat dari biasanya, dan saat matanya bersentuhan sekilas dengan Anli, ada jeda tipis.Xiumei memperhatikan jeda itu. Ia menahan senyum samar sambil menyesap buburnya.“Yuze,” katanya ringan, “kau pulang terlambat semalam?”“Rapat,” jawabnya singkat. Ia duduk, meraih sendok. Bubur masuk ke mulutnya, namun pikirannya melayang pada sesu