Share

Aku Hamil, Adrian!

Author: Maidina Asifa
last update publish date: 2026-08-29 06:58:25

Rumah besar itu terasa begitu sunyi saat Maya melangkah masuk. Ia berjalan pelan dengan tongkat yang selalu terganggam di tangan. Penglihatannya sudah sangat stabil untuk membawanya menuju ruang tengah. Mata yang dulu dihiasi kegelapan itu melirik dinding, di mana sebuah foto pernikahan tergantung begitu rapi.

Potret yang dulu hanya bisa dia bayangkan, sekarang dia bisa melihat sendiri bagaimana sosok Adrian mengenakan jas hitam dengan tatapan begitu dingin, dan senyum bodoh dari ....

"Mungkinkah ini yang terakhir kalinya kau menyebutku wanita buta," gumam Maya, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan diri sejenak sebelum dia melanjutkan langkah kakinya membawa harapan yang begitu konyol.

Ya, konyol! Meski satu jam lalu Maya masih dihardik dan dicaci maki Adrian di telpon, ia tetap pulang membawa amplop cokelat berisi hasil memeriksaan USG dan surat keterangan dari Dokter Bagas yang digenggam erat di tangan kanannya, dan di dalam saku gaunnya, selembar foto hitam putih berukuran kecil tersimpan rapat. Maya berharap jika Adrian tahu ia mengandung anak dari pria itu, mungkin Adrian akan menghentikan perselingkuhannya. Mereka bisa memperbaiki pernikahan yang hancur ini tanpa adanya Larisa lagi di tengah mereka.

Namun, baru saja Maya melewati pilar batu di dekat ruang keluarga, suara keributan cangkir yang menghantam ubin menggema nyaring dari kamar tamu.

PRANG!

"Mana janjimu, Adrian? Kau tidak bisa terus menundanya!"

Suara Larisa melengking tinggi sampai terdengar ke semua pelosok rumah. Intonasinya yang tajam, berkebalikan dengan nada lembut dan polos yang biasa dipakainya di depan orang-orang.

Maya mendadak menghentikan langkahnya di balik dinding batu pilar. Tangannya refleks membekap mulutnya sendiri. Matanya memicing, mengintip dari balik celah ornamen pilar.

Adrian berdiri di dekat pintu yang terbuka lebar, kemeja kerjanya sudah terlepas dua kancing atas. Wajah pria itu tampak sangat lelah, rahangnya yang mengetat bersamaan dengan urat-urat leher tertarik kaku.

"Larisa, kecilkan suaramu!" pinta Adrian. "Para pelayan bisa mendengar!"

"Biarkan mereka mendengar!" seru Larisa yang berdiri di depan Adrian dengan dada naik turun. "Kalau bisa sekalian Maya yang dengar dan tau kenyataannya! Aku lelah berpura-pura jadi adik yang baik hati rumah ini!"

"Larisa!" bentak Adrian. "Kita sudah sepakat untuk menunggu dokumen aset itu selesai!" balas Adrian yang juga tak mampu membendung kemarahan.

"Kenapa kamu jadi berantakan begini?"

"Karena aku tidak punya waktu lagi, Adrian!" Larisa mencengkeram kerah kemeja Adrian kasar. "Aku hamil!"

Dua kata sederhana, tapi mampu menghantam koridor seperti bom waktu yang meledak tanpa suara.

Maya meremas amplop cokelat di tangannya hingga kertas tebal itu robek di sudutnya. Seluruh persendian di kaki serasa lolos, memaksanya menyandarkan punggung ke dinding batu yang dingin.

"Apa kau bilang?" Bahkan Adrian merasakan lemas pada tulang kakinya.

"Aku hamil anakmu, Adrian!" Larisa mengulanginya dengan intonasi penuh kepemilikan, menggoyangkan bahu lelaki itu, dia pun menjatuhkan dahinya ke dada Adrian.

"Aku telat menstruasi beberapa minggu, dan aku sudah melakukan tes dua kali pagi ini. Dua-duanya hasilnya positif."

"Ini tidak mungkin, kita selalu memakai peng—"

"Kau ingat malam terakhir kita di hotel? Kamu tidak memakai pengaman, Adrian."

Adrian tidak bergeming di tempatnya. Lengan pria itu tetap menggantung di samping tubuh, pandangannya kosong, tidak berusaha memeluk Larisa, tetapi juga tidak mendorong perempuan itu menjauh.

"Kau harus menceraikan Maya minggu ini juga, Adrian," tuntut Larisa. "Aku tidak meminta banyak hal, aku hanya ingin anak ini punya keluarga yang sah. Aku tidak mau dia lahir tanpa ayah dan di cap sebagai anak haram."

Pasokan udara di balik pilar batu itu sudah habis, dada Maya sesak, air mata sudah menumpuk di pelupuk mata, tetapi ia memaksa berada di sana. Ia ingin memastikan jawaban Adrian, menunggu pria itu mengatakan tidak.

Maya hanya ingin mendengar suaminya membantah malam di hotel itu, dan menolak keberadaan bayi di dalam rahim Larisa. Namun satu kata pun tidak pernah datang.

Satu detik.

Tiga detik.

Sepuluh detik.

Adrian tetap diam. Pria itu menatap lurus ke arah lantai dengan raut wajah hancur, tak ada sepatah kata pun bantahan, tak ada sedikit pun gestur penolakan. Justru Adrian mengangkat tangan dan menepuk kepala Larisa yang masih bersandar di dadanya. Ia menerima klaim kehamilan itu tanpa perlawanan.

Maya menarik jemarinya dari pilar batu. Amplop cokelat di tangannya terlepas, jatuh meluncur ke atas karpet tebal tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Di dalam saku gaunnya, jemari Maya yang gemetar meremas foto USG ukuran kecil milik calon bayinya hingga membentuk bola. Senyum pahit terukir di bibirnya. Harapan konyol yang sempat tumbuh beberapa jam lalu hancur lebur, menyisakan reruntuhan yang membakar habis sisa rasa kasih sayangnya pada pria itu.

Maya berbalik arah, memijakkan kaki begitu mantap meninggalkan beribu kepalsuan di ruang tengah. Masuk ke dalam kamar, ia merogoh ponselnya dari dalam saku gaun, memencet satu nomor yang sangat ia hafal.

Sebuah kontak yang tidak butuh waktu lama menerima panggilannya. "Devan."

"Maya? Kau di mana? Maaf, tadi aku terlalu emosi dan meninggalkanmu di kafe," suara Devan terdengar begitu khawatir dari seberang telepon. Dia baru menyadari perbuatannya dan merasa terlewat batas dengan Maya.

Tatapan mata kosong Maya lemparkan ke luar jendela, burung-burung yang terbang bebas di udara seakan berbisik memantapkan hatinya.

"Siapkan tiket penerbangan ke London," ucapnya begitu serius. "Aku pergi tiga bulan lagi."

"Maya kau tidak bercanda 'kan? Bagaimana dengan kandunganmu?" tanya Devan justru ragu.

Maya menyentuh perutnya pelan, mengusap permukaan kain gaunnya dengan kelembutan seorang ibu yang telah mengambil keputusan mutlak.

"Anak ini akan lahir di London," jawabnya. "Dan ayahnya... tidak akan pernah tahu bahwa dia pernah memiliki seorang anak dari wanita yang selalu dia anggap buta."

Maya memutus sambungan telepon sembari memejamkan erat mata. Ia lalu membuang napas panjang seperti membuang beban untuk selama-lamanya, membiarkan sepi di kamar untuk memeluk tubuh rapuhnya.

Namun, baru beberapa saat pintu kamar terbuka, sebuah bayangan tegap sudah berdiri di ambangnya, memegang sebuah kotak obat kecil berwarna putih milik Maya yang tertinggal di atas meja.

Adrian menelisik dari ujung rambut hingga ujung kepala wanita yang susah payah memutar badan karena harus meraba dulu lantai dengan ujung kakinya.

"Adrian, apakah itu kau?"

"Obat penambah darah dan vitamin asam folat," sebut Adrian lantang dan tajam, ia mengangkat botol obat tersebut ke udara. "Apa kau habis dari rumah sakit, Maya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Layani Aku Menantuku

    "Siapa kalian!"Maya terbangun dengan napas memburu dan kepala yang serasa dihantam beban berat. Efek obat bius yang menyengat masih menyisa di tenggorokannya, meninggalkan rasa pahit, mual, dan pening yang menusuk hingga ke ubun-ubun. Namun, rasa kantuk dan pusingnya seketika sirna berganti ketakutan hebat saat menyadari kedua pergelangan tangan dan kakinya terikat amat erat pada sebuah kursi kayu tebal di tengah ruangan tua berdebu yang minim pencahayaan.Ia menjerit histeris ketika matanya yang buram perlahan menyesuaikan diri dengan kegelapan, menangkap siluet beberapa pria berbadan tegap yang berdiri mengelilinginya dalam sunyi bagai algojo."Tuan Putri sudah bangun rupanya."Sebuah suara berat, serak, dan penuh intrik mengalun dari kegelapan sudut ruangan. Seorang pria tua—berusia sekitar awal lima puluhan, dengan paras yang tampak sedikit lebih muda dari Pak Wijaya—melangkah maju membelah remang cahaya. Wajahnya keras, dihiasi garis-garis kejam dengan kumis tebal yang merawat k

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Tiga Hari Lagi

    "Semua sudah hampir selesai, Pak. Gedung, dekorasi, hingga pengamanan privat untuk Tuan Muda Arka dan Pak Wijaya sudah rampung seratus persen," ujar Rian, orang kepercayaan Devan, melalui sambungan telepon dengan suara mantap."Bagus, Rian. Pastikan tidak ada celah sekecil apa pun. Tiga hari lagi adalah hari terpenting dalam hidupku," balas Devan, suaranya mengalun berat namun sarat akan kebahagiaan murni saat jemarinya memutar kemudi mobilnya membelah gurat jingga sore ibu kota."Siap, Pak Devan. Nona Maya sangat beruntung memiliki Anda," sahut Rian penuh rasa hormat sebelum menutup sambungan telepon.Devan tersenyum tipis, menatap jalanan kota yang dihiasi pendar lampu yang mulai menyala. Tanpa menunda waktu, ia segera menyambungkan ponselnya ke nomor wanita yang kini memenuhi seluruh relung pikirannya."Tiga hari lagi, Maya..." suara Devan mengalun hangat di seberang telepon, terdengar begitu dalam dan sarat akan kerinduan. "Rasanya masih seperti mimpi. Aku takut kalau aku memejamk

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Persiapan Wedding D****e

    "Aku mau pernikahan ini bukan cuma sekadar pesta megah, Devan. Aku mau ini jadi awal dari hidup yang baru untuk kita dan Arka," ujar Maya pelan, menatap lurus ke sepasang mata Devan saat berita pertunangan mereka melesat cepat bak gempuran badai, mendominasi headline media cetak, televisi, hingga portal berita bisnis internasional. Kabar bahwa dua sosok terkuat di balik kejayaan Wijaya Empire akan bersatu tak hanya mengguncang ibu kota, tetapi juga menyebar hingga ke luar daerah dan pelosok negeri. Semua orang membicarakan bagaimana Maya berhasil bangkit dari pengkhianatan masa lalu, menghentikan intrik kejam musuh-musuhnya, dan kini melangkah menuju pelaminan bersama pria yang selalu berdiri di sisinya."Serahkan semuanya padaku, Baby." Di tengah riuk-pikuk pemberitaan yang kian liar, Devan fokus pada satu hal: mewujudkan wedding dream Maya tanpa celah sedikit pun. Bagi Devan, Maya telah terlalu banyak menelan pahitnya penderitaan dan pengkhianatan. Kini, sudah saatnya ia merayakan

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Lamaran Untuk Maya

    "Terima kasih atas perhatian palsumu selama ini, Chandra," potong Maya dingin menembus mikrofon, suaranya mengalun tajam menghentikan langkah pria itu di tengah kerumunan.Layar proyektor raksasa di belakang panggung masih memancarkan dokumen resmi penolakan hak waris klan Wibowo saat dua petugas kepolisian mengunci pergelangan tangan Chandra dan Lavina dengan borgol besi. Bunyi klik logam yang beradu bergema kaku, memutus seluruh ambisi kedua dalang kejahatan itu di hadapan ratusan pasang mata elit London.Devan melangkah perlahan mengikis jarak. Langkah kakinya mantap, penuh dominasi mutlak. Dengan kedua tangan tersimpan santai di saku celana bahan mewahnya, ia menghampiri Chandra yang kini berdiri kaku menahan kemurkaan.Devan menyunggingkan senyum kemenangan yang teramat dingin, menatap lurus ke dalam iris mata Chandra yang menyala oleh rasa benci."Bukan hanya ular cobra yang bisa tertangkap, Chandra," bisik Devan rendah, intonasinya begitu tenang namun meneteskan cemoohan tajam.

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Titik Akhir Dendam Lavina dan chandra

    Layar proyektor raksasa itu memancarkan pendar cahaya terang, menampilkan cuplikan video secara gamblang. Suara Lavina terdengar begitu jernih memantul di setiap sudut grand ballroom, mengakui setiap niat jahatnya, aksinya memancing emosi Maya, hingga tawa ejekannya yang menghina sisa penderitaan keluarga Maya.Belum sempat para tamu memproses rasa terkejut mereka, layar berganti menampilkan dokumen rahasia: lembar demi lembar bukti transfer bank Zurich dengan angka fantastis. Aliran dana rahasia itu mengalir langsung dari rekening cangkang milik klan Wibowo—keluarga yang sudah menjadi rahasia umum di dunia bisnis sebagai musuh bebuyutan yang terobsesi meruntuhkan Maya sejak bertahun-tahun lalu."Bohong! Semua ini rekayasa! Video ini editan!" jerit Lavina histeris. Wajah cantiknya kini merah padam, hancur oleh rasa malu yang teramat sangat. Ia mengamuk tanpa kendali, menghempaskan cangkir dan peralatan makan di mejanya hingga berdenting keras menghantam lantai.Dengan mata memerah ibl

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Pertunjukkan Lukisan

    Malam puncak peringatan ulang tahun Wijaya Empire di grand ballroom hotel Rosewood London berlangsung megah. Ratusan kolega bisnis, investor kelas atas, dan jajaran pemegang saham hadir memenuhi ruangan bernuansa emas tersebut. Di antara kerumunan, Chandra berdiri anggun menggenggam gelas sampanye, sementara Lavina tampil memukau dalam balutan gaun merah, bergelayut manja di lengan Devan yang berpura-pura menikmati sandiwara itu."Tatap semua orang di sini, Devan," bisik Lavina penuh kemenangan di samping Devan. "Malam ini, semua mata tertuju pada kita. Maya bukan lagi siapa-siapa bagimu."Devan menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Fokus saja pada acaranya, Lavina. Jangan sampai karena hal kecil kau merusak malam ini."Tak lama kemudian, Maya melangkah naik ke atas panggung utama dalam balutan gaun hitam polos yang elegan. Tepuk tangan riuh seketika membahana memenuhi ruangan."Selamat malam, para hadirin yang terhormat," sapa Maya anggun di depan mikrofon, suaranya mengalun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status