INICIAR SESIÓNRuang ballroom utama gedung Wijaya Empire dipenuhi riuh tepuk tangan dan tawa riang para karyawan. Banner raksasa bertuliskan Apresiasi & Syukuran Keluarga Besar Wijaya membentang megah di panggung utama.Hari itu, Devan menutup seluruh operasional kantor lebih awal. Pria itu menyewa restoran-restoran bintang lima di sekitar kawasan bisnis untuk menyediakan makan siang gratis bagi seluruh staf, lengkap dengan bingkisan berlogo klan keluarga yang berisi bonus tunai dan perhiasan emas kecil sebagai tanda sukacita."Sekali lagi, terima kasih atas kerja keras kalian selama ini," ujar Devan tegas melalui mikrofon di atas panggung, satu tangannya merangkul rapat pinggang Maya yang berdiri anggun di sampingnya. "Hari ini, saya dan istri ingin membagi kebahagiaan. Mohon doa terbaik untuk kesehatan istri dan calon anak kami."Sorak-sorai dan doa tulus bergema dari ratusan karyawan yang hadir.Maya berdiri di samping Devan dengan mata berkaca-kaca. Jemarinya mencengkeram erat lengan jas suaminy
Mobil sedan hitam mewah Devan terparkir tepat di seberang kedai es campur durian langganan mereka. Devan tidak membiarkan Maya turun sendiri; pria itu mengawal istrinya ketat, melingkarkan satu tangannya di pinggang Maya dengan protektif saat mereka mendekati meja kayu di sudut kedai.Sesuai kesepakatan, Maya benar-benar menepati janjinya. Ia hanya memakan satu ulas kecil buah durian di atas mangkuk es campurnya."Enak banget, Devan..." gumam Maya riang, menyuap sendok esnya dengan binar mata yang berbinar puas.Devan yang duduk di sampingnya mengusap lembut kepala Maya, meresapi senyum bahagia sang istri. "Sudah kan? Cuma satu ulas. Habiskan esnya saja, duriannya jangan ditambah lagi.""Iya, Papa Devan yang rewel," tawa Maya renyah, meletakkan sendoknya karena mangkuknya sudah bersih.Ketika mereka berdiri dan bersiap melangkah kembali ke mobil, area kedai mendadak ramai oleh rombongan pemuda yang berjalan terburu-buru. Salah satu dari mereka yang sibuk bermain ponsel tidak memperhat
Devan mengusap wajahnya kasar. Pria tegap yang biasanya memenangkan setiap negosiasi bisnis bernilai triliunan rupiah itu kini tampak benar-benar kewalahan di hadapan istrinya yang sedang merajuk."Maya, dengarkan aku dulu," bisik Devan lembut, merengkuh jemari dingin Maya walau wanita itu terus berusaha menarik tangannya. "Jangan menangis lagi, ya? Nanti kepalamu makin pusing."Maya bergeming, membelakangi Devan seraya mengusap air matanya dengan ujung lengan baju.Devan menarik napas panjang, mencoba jurus baru. "Bagaimana kalau kita beli tas baru? Kamu mau Hermes edisi terbaru yang kamu lihat di majalah kemarin? Atau kita pesan perhiasan buatan tangan dari Italia? Apa pun yang kamu mau, aku belikan sekarang juga, Sayang. Asal kamu tidak menangis lagi dan mau maafkan aku.""Aku nggak butuh tas atau perhiasan!" pangkas Maya lemas dengan suara yang serak akibat terisak. "Aku cuma mau melukis, tapi kamu malah menguncinya!"Devan mengusap tengkuknya yang mendadak terasa panas. Semua taw
"Devan, sakit..." bisik Maya parau.Kuas cat berujung kayu di tangan Maya terlepas, jatuh meluncur di atas lantai kayu studio kaca dan meninggalkan bercak warna biru muda. Maya mendadak memegangi perut bagian bawahnya, wajahnya yang tadinya berseri seketika pucat pasi bersimbah keringat dingin.Devan yang baru saja melangkah masuk membawa segelas susu hangat langsung melempar nampan di tangannya ke atas meja. Gelas kaca itu berdenting keras, namun Devan sama sekali tidak peduli.Dalam hitungan detik, Devan sudah berlutut di samping kanvas, menyangga tubuh Maya yang perlahan terkulai lemas."Mana yang sakit, Sayang?! Bagian mana?!" cecar Devan dengan suara bariton yang melengking panik. Napas pria tegap itu memburu parau, matanya membelalak lebar melihat raut kesakitan di wajah istrinya."Perut bawah... agak keram..." meringis Maya, mencengkeram erat kerah kemeja Devan. "Aduh, Devan... sakitnya makin terasa."Tanpa membuang waktu satu detik pun dan tanpa meminta persetujuan, Devan meny
"Devan, aku mau tetap bekerja di Wijaya Empire minggu depan, ya," ucap Maya memotong keheningan sarapan pagi mereka dengan nada membujuk manja.Jemari Devan yang sedang memegang cangkir kopi mendadak berhenti di udara. Pria itu meletakkan cangkirnya perlahan ke atas tatakan porselen, lalu menatap Maya dengan raut wajah yang langsung berubah serius."Tidak. Aku sama sekali tidak mengizinkan," pangkas Devan tegas tanpa ragu sedikit pun. "Kamu sedang hamil muda, Maya. Bekerja di kantor dengan tekanan rapat dan tumpukan berkas itu berisiko tinggi. Dokter di Paris kemarin sudah wanti-wanti agar kamu banyak istirahat.""Devan, aku cuma mau bantu Papa mengawasi divisi kreatif!" hela Maya, mencoba bernegosiasi. "Aku nggak bakal lembur, kok.""Tetap tidak, Nyonya Devan," sahut Devan dingin dan tak terbantahkan. "Kesehatanmu dan bayi kita itu prioritas utama. Lagian Papa juga tidak akan mengizinkan kamu bekerja."Maya mendengkus pelan, menyilangkan kedua tangan di dada seraya menawar kembali. "
"Arka," panggil Devan sekali lagi tetap dengan suara pelan seraya mengetuk pintu tiga kali secara teratur.Tidak ada jawaban suara, hanya terdengar isak tangis pelan yang diredam di balik selimut.Devan menarik kunci cadangan dari atas kosen pintu, memutar kuncinya perlahan lalu melangkah masuk. Di atas ranjang empuknya, Arka meringkuk membentuk bulatan kecil di bawah selimut gambar dinosaurus. Devan berlutut di tepi ranjang, menarik lembut ujung selimut hingga memperlihatkan wajah kecil Arka yang memerah bersimbah air mata."Kenapa Arka bilang Mama sama Papa jahat?" tanya Devan lembut, mengusap air mata di pipi gembil bocah itu."Karena... kata teman Arka di sekolah, kalau Mama punya bayi baru, Arka nggak bakal dipeluk lagi," bisik Arka sesenggukan, matanya menatap Devan dengan pendar ketakutan murni. "Papa Devan juga pasti cuma sayang sama adik bayi..."Devan tersenyum hangat. Ia merengkuh tubuh kecil Arka ke dalam dekapannya yang kokoh, mengangkat bocah itu lalu mendudukkannya di a







