Masuk"Siapa kalian!"Maya terbangun dengan napas memburu dan kepala yang serasa dihantam beban berat. Efek obat bius yang menyengat masih menyisa di tenggorokannya, meninggalkan rasa pahit, mual, dan pening yang menusuk hingga ke ubun-ubun. Namun, rasa kantuk dan pusingnya seketika sirna berganti ketakutan hebat saat menyadari kedua pergelangan tangan dan kakinya terikat amat erat pada sebuah kursi kayu tebal di tengah ruangan tua berdebu yang minim pencahayaan.Ia menjerit histeris ketika matanya yang buram perlahan menyesuaikan diri dengan kegelapan, menangkap siluet beberapa pria berbadan tegap yang berdiri mengelilinginya dalam sunyi bagai algojo."Tuan Putri sudah bangun rupanya."Sebuah suara berat, serak, dan penuh intrik mengalun dari kegelapan sudut ruangan. Seorang pria tua—berusia sekitar awal lima puluhan, dengan paras yang tampak sedikit lebih muda dari Pak Wijaya—melangkah maju membelah remang cahaya. Wajahnya keras, dihiasi garis-garis kejam dengan kumis tebal yang merawat k
"Semua sudah hampir selesai, Pak. Gedung, dekorasi, hingga pengamanan privat untuk Tuan Muda Arka dan Pak Wijaya sudah rampung seratus persen," ujar Rian, orang kepercayaan Devan, melalui sambungan telepon dengan suara mantap."Bagus, Rian. Pastikan tidak ada celah sekecil apa pun. Tiga hari lagi adalah hari terpenting dalam hidupku," balas Devan, suaranya mengalun berat namun sarat akan kebahagiaan murni saat jemarinya memutar kemudi mobilnya membelah gurat jingga sore ibu kota."Siap, Pak Devan. Nona Maya sangat beruntung memiliki Anda," sahut Rian penuh rasa hormat sebelum menutup sambungan telepon.Devan tersenyum tipis, menatap jalanan kota yang dihiasi pendar lampu yang mulai menyala. Tanpa menunda waktu, ia segera menyambungkan ponselnya ke nomor wanita yang kini memenuhi seluruh relung pikirannya."Tiga hari lagi, Maya..." suara Devan mengalun hangat di seberang telepon, terdengar begitu dalam dan sarat akan kerinduan. "Rasanya masih seperti mimpi. Aku takut kalau aku memejamk
"Aku mau pernikahan ini bukan cuma sekadar pesta megah, Devan. Aku mau ini jadi awal dari hidup yang baru untuk kita dan Arka," ujar Maya pelan, menatap lurus ke sepasang mata Devan saat berita pertunangan mereka melesat cepat bak gempuran badai, mendominasi headline media cetak, televisi, hingga portal berita bisnis internasional. Kabar bahwa dua sosok terkuat di balik kejayaan Wijaya Empire akan bersatu tak hanya mengguncang ibu kota, tetapi juga menyebar hingga ke luar daerah dan pelosok negeri. Semua orang membicarakan bagaimana Maya berhasil bangkit dari pengkhianatan masa lalu, menghentikan intrik kejam musuh-musuhnya, dan kini melangkah menuju pelaminan bersama pria yang selalu berdiri di sisinya."Serahkan semuanya padaku, Baby." Di tengah riuk-pikuk pemberitaan yang kian liar, Devan fokus pada satu hal: mewujudkan wedding dream Maya tanpa celah sedikit pun. Bagi Devan, Maya telah terlalu banyak menelan pahitnya penderitaan dan pengkhianatan. Kini, sudah saatnya ia merayakan
"Terima kasih atas perhatian palsumu selama ini, Chandra," potong Maya dingin menembus mikrofon, suaranya mengalun tajam menghentikan langkah pria itu di tengah kerumunan.Layar proyektor raksasa di belakang panggung masih memancarkan dokumen resmi penolakan hak waris klan Wibowo saat dua petugas kepolisian mengunci pergelangan tangan Chandra dan Lavina dengan borgol besi. Bunyi klik logam yang beradu bergema kaku, memutus seluruh ambisi kedua dalang kejahatan itu di hadapan ratusan pasang mata elit London.Devan melangkah perlahan mengikis jarak. Langkah kakinya mantap, penuh dominasi mutlak. Dengan kedua tangan tersimpan santai di saku celana bahan mewahnya, ia menghampiri Chandra yang kini berdiri kaku menahan kemurkaan.Devan menyunggingkan senyum kemenangan yang teramat dingin, menatap lurus ke dalam iris mata Chandra yang menyala oleh rasa benci."Bukan hanya ular cobra yang bisa tertangkap, Chandra," bisik Devan rendah, intonasinya begitu tenang namun meneteskan cemoohan tajam.
Layar proyektor raksasa itu memancarkan pendar cahaya terang, menampilkan cuplikan video secara gamblang. Suara Lavina terdengar begitu jernih memantul di setiap sudut grand ballroom, mengakui setiap niat jahatnya, aksinya memancing emosi Maya, hingga tawa ejekannya yang menghina sisa penderitaan keluarga Maya.Belum sempat para tamu memproses rasa terkejut mereka, layar berganti menampilkan dokumen rahasia: lembar demi lembar bukti transfer bank Zurich dengan angka fantastis. Aliran dana rahasia itu mengalir langsung dari rekening cangkang milik klan Wibowo—keluarga yang sudah menjadi rahasia umum di dunia bisnis sebagai musuh bebuyutan yang terobsesi meruntuhkan Maya sejak bertahun-tahun lalu."Bohong! Semua ini rekayasa! Video ini editan!" jerit Lavina histeris. Wajah cantiknya kini merah padam, hancur oleh rasa malu yang teramat sangat. Ia mengamuk tanpa kendali, menghempaskan cangkir dan peralatan makan di mejanya hingga berdenting keras menghantam lantai.Dengan mata memerah ibl
Malam puncak peringatan ulang tahun Wijaya Empire di grand ballroom hotel Rosewood London berlangsung megah. Ratusan kolega bisnis, investor kelas atas, dan jajaran pemegang saham hadir memenuhi ruangan bernuansa emas tersebut. Di antara kerumunan, Chandra berdiri anggun menggenggam gelas sampanye, sementara Lavina tampil memukau dalam balutan gaun merah, bergelayut manja di lengan Devan yang berpura-pura menikmati sandiwara itu."Tatap semua orang di sini, Devan," bisik Lavina penuh kemenangan di samping Devan. "Malam ini, semua mata tertuju pada kita. Maya bukan lagi siapa-siapa bagimu."Devan menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Fokus saja pada acaranya, Lavina. Jangan sampai karena hal kecil kau merusak malam ini."Tak lama kemudian, Maya melangkah naik ke atas panggung utama dalam balutan gaun hitam polos yang elegan. Tepuk tangan riuh seketika membahana memenuhi ruangan."Selamat malam, para hadirin yang terhormat," sapa Maya anggun di depan mikrofon, suaranya mengalun







