LOGIN"Bawa Arka keluar dari rumah sekarang," kata Maya.Maya tidak menunggu jawaban Devan. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk paha luar tiga kali dengan ritme konstan yang tajam. Sepatu hak tingginya berbunyi nyaring menembus keheningan koridor Blackwood Tower sewaktu ia membalikkan badan.Devan merampas ponsel enkripsinya dari saku mantel, jarinya menggeser panel panggilan cepat tanpa melepaskan pandangan dari Adrian. "Sinyal kamera pengawas di Richmond mati sepuluh menit lalu."Adrian melangkah dua tindak mendekati pintu keluar. Langkah kaki kirinya yang tumpat menyisakan gesekan halus di atas marmer. "Hendarto menyewa tim eksekutor dari Marseille. Pria yang memimpin mereka memakai nama samaran Gaspard.""Gaspard?" Devan menegang. Matanya membelalak kaku. "Pria itu pembunuh bayaran yang membakar gudang cadangan di Singapura lima tahun lalu.""Dia sudah di dalam hunian Richmond sejak pukul delapan malam," desis Adrian. "Dia tidak mencari uang atau saham. Hendarto memerintahkannya mengh
"Jangan terlambat, Nyonya Maya," kata Julian Blackwood. Suaranya bergema halus dari pengerat suara di ruang rapat lantai empat puluh Blackwood Tower.Maya tidak menjawab. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk paha luar tiga kali dengan ritme konstan. Karpet tebal bernuansa biru dongker menyerap bunyi langkah kakinya saat ia melangkah mendekati meja kaca berbentuk oval di tengah ruangan."Dua menit lagi pukul sembilan," sahut Devan dari sampingnya. Pria itu menyilangkan tangan di dada, mantel hitamnya yang masih basah oleh gerimis London mengalirkan tetesan air kecil ke atas marmer.Julian berdiri dari kursi kulitnya. Jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap membungkus tubuh jangkungnya yang tegap. Sepasang mata birunya yang tajam menatap lurus ke arah Maya, tanpa sedikit pun keramahan."Aku mengagumi ketepatan waktumu," ujar Julian sambil menggeser sebuah dokumen bersampul kulit merah ke tengah meja. "Terutama di hari pertama setelah kematian ayah biologismu."Maya tidak menyentuh dokume
"Haryo Wibowo meninggal dunia satu jam lalu di klinik Zurich," kata Devan.Maya tertegun. Jari telunjuk tangan kirinya yang biasa mengetuk paha dengan irama cepat mendadak terhenti kaku."Meninggal?" suara Maya tercekat, tenggorokannya mendadak terasa amat kering."Gagal organ," Devan merapikan mantel hitamnya yang lembap oleh gerimis London. "Tim medis di sana mengonfirmasi fisiknya menyerah. Tanpa konspirasi, tanpa sabotase. Haryo sudah tidak ada, Maya."Maya berbalik membelakangi Devan, menatap lurus ke luar jendela kaca besar yang membias rintik hujan malam. Sepersekian detik, bayangan pria tua berpipi cekung yang terbaring lemah di ruang perawatan Swiss melintas di benaknya. Pria yang selama ini menjadi sumber dari segala benang kusut dalam hidupnya, pria yang menyumbang separuh darah di dalam nadinya."Dia ayah biologisku, Devan," bisik Maya. Suaranya serak, bergetar tipis meski ia mencoba menahannya mati-matian. "Selurus apa pun garis hukum memisahkan kami, pria itu tetap ayahk
Lampu gantung kristal di ruang pertemuan lantai atas Wijaya Empire Tower membiaskan cahaya keemasan di atas meja rapat lonjong berbahan kayu mahoni. Di luar, rintik gerimis London menyapu kaca-kaca jendela raksasa, mempertegas jarak antara kenyamanan hangat ruangan ini dengan dinginnya udara malam.Devan menggeser sebuah tablet tipis ke hadapan Maya. Di layarnya, terpampang struktur kepemilikan saham Blackwood Holdings yang rumit, melintasi belasan cangkang perusahaan dari Kepulauan Cayman hingga rekening rahasia di Zurich."Pernyataanmu kemarin terbukti presisi, Maya," ujar Devan, suaranya terdengar berat dan terukur. "Julian Blackwood bukan sekadar investor independen yang tergiur oleh keuntungan ekspansi bisnis kita di Eropa. Dia adalah perpanjangan tangan dari konsorsium Wibowo cabang Asia—lebih tepatnya Paman Hendarto Wibowo."Maya menyilangkan jemarinya di atas meja, menatap bagan silsilah dan aliran dana di layar. "Hendarto... adik kandung Haryo Wibowo.""Tepat," Devan mengangg
Hening membeku di ruang kerja lantai teratas Wijaya Empire Tower. Gemericik hujan sore London yang menghantam dinding kaca tebal seolah tak lagi terdengar, tertutup oleh gemuruh halus dari memori empat tahun lalu yang mendadak bangkit dari dasar ingatan Maya. Maya menatap amplop putih berstempel resmi otoritas hukum Jakarta yang tergeletak di meja kayu mahoni. Nama Adrian yang tertera pada lembaran dokumen itu seperti jarum kecil yang menyengat kesadarannya. "Apakah dia sudah benar-benar bebas?" tanya Maya pelan, suaranya tetap tenang dan terkontrol, meski Devan bisa melihat kepalan halus jemarinya di atas paha. Devan mengangguk perlahan. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, berdiri tegap di samping meja kerja Maya. "Secara hukum, masa bebas bersyaratnya telah aktif mulai minggu ini. Pengadilan menyatakan ia telah memenuhi seluruh masa pemulihan medis isolasi dan kooperatif menyerahkan sisa asetnya kepada otoritas negara." "Lalu... ke mana dia akan pergi?" Maya menegakkan pungg
Suara gemuruh mesin pesawat komersial Boeing 777 perlahan mereda sewaktu roda-roda besinya menyentuh landasan basah Bandara Heathrow, London. Hujan gerimis tipis menyambut kedatangan mereka, membias cahaya lampu kota yang membiru di balik jendela oval pesawat.Maya menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang terasa paling ringan dan lega dalam seluruh perjalanan hidupnya. Di sampingnya, Pak Wijaya duduk mengelus lembut lengan kursi rodanya dengan senyum penuh ketenangan, sementara Bik Darti dengan sigap menata selimut tebal yang membalut tubuh mungil bayi Arka."Kita sudah sampai, Maya," ujar Devan halus dari kursi sebelah. Pria itu berdiri tegap, merapikan kemeja dan jas tebalnya, lalu menjangkau tas dokumen dari kabin atas dengan gerakan yang terlatih dan protektif."Ya, Devan," sahut Maya pelan. Matanya menatap lurus ke luar jendela, memandangi hamparan langit malam London. "Ini tempat di mana kita benar-benar memulai semuanya dari nol. Tanpa ancaman, tanpa dendam.""Kalian mel







