Se connecter“Lucas...”
Aku bergumam pelan, meresapi nama itu setelah salah satu orang kepercayaanku melaporkan bahwa pria bernama Lucas baru saja mengunjungi Diego di penjara.
Apa hubungannya dengan Diego? Setahuku, Lucas adalah pria yang sangat terkenal dan kaya raya. Jika tujuannya hanyalah harta, rasanya tidak masuk akal. Kekayaan Lucas jauh melampaui kekayaan Papa. Harusnya, jika Rosalina hanya mengincar materi, dia lebih baik menikah dengan Lucas saja daripada dengan Papa,
(POV: Emelia)Aku sendiri tidak tahu kenapa malam itu aku mendadak begitu menginginkan sentuhan dan kehangatan Samuel. Mengingat sepanjang sembilan bulan usia kehamilan kedua ini, aku sama sekali tidak bisa berada dekat-dekat dengannya. Bahkan, jika Samuel nekat mendekat, kepala ini langsung pusing dan perutku mendadak mual luar biasa.Namun malam itu, tembok pembatas hormon yang menyiksa suamiku selama berbulan-bulan seolah runtuh tanpa sisa.“Ah, Samuel... aku benar-benar merindukanmu,” lenguhku panjang setelah berhasil meraih pelepasan yang begitu intens di dalam dekapannya.Akan tetapi, tepat ketika hembusan napas lega baru saja terlepas dan aku hendak menyandarkan kepala di dada bidangnya, sebuah desakan dahsyat mendadak menghantam perut bawahku. Rasa mual yang selama ini mengangguku berganti menjadi gelombang cengkraman hebat yang mencengkeram rahimku tanpa ampun.“Ahhh! Sakit...!” teriakku seketika sembari mencengkeram lengan kekar Samuel dengan sangat kuat.“Sakit?! Sayang, k
(POV: Samuel)Aku begitu bahagia saat mendengar kabar bahwa Emelia kembali mengandung buah hati kami. Namun, di saat yang bersamaan, jujur saja rasa sedih yang teramat mendalam juga merayapi benakku.Bagaimana tidak sedih? Aku selama ini tidak bisa jauh darinya, selalu memeluk dan menciumnya. Dan sekarang? Bisa-bisanya aku harus diasingkan dan menjaga jarak aman! Bahkan di dalam ruang pemeriksaan dokter spesialis kandungan saat ini, aku terpaksa berdiri menyudut di pojok ruangan demi kenyamanan istri tercintaku. Sebab, jika aku melangkah maju dua langkah saja mendekatinya, Emelia akan langsung mengeluh pusing dan berujung muntah-muntah hebat.“Kehamilan kali ini benar-benar unik dan berbeda sekali ya, Nyonya Emelia,” puji sang dokter kandungan sembari tersenyum geli setelah mendengarkan keluhnya. “Jika pada kehamilan pertama dulu Tuan Samuel yang harus memikul rasa mual dan pusing, sekarang giliran Nyonya sendiri yang merasakannya.”“Dan masalah terbesarnya, dia sama sekali tidak ma
Jujur saja, aku dan Samuel memang sama sekali tidak menunda untuk memberikan adik bagi Gabriel. Sejak kondisi psikologis dan fisikku pulih total, kami justru sangat mengharapkan kehadiran buah hati kedua untuk meramaikan mansion ini.Namun, garis takdir belum berpihak pada kami selama beberapa bulan terakhir. Aku masih belum kunjung berbadan dua. Bahkan setiap kali aku mengalami telat datang bulan, aku buru-buru mengetesnya dengan alat tes kehamilan, hasil testpack yang tertera selalu saja menunjukkan garis satu alias negatif. Kekecewaan yang berulang itu perlahan membuatku bersikap lebih santai dan pasrah.Jadi, jika sekarang tanda-tanda mual ini dikaitkan dengan kehamilan, aku benar-benar tidak yakin. Logikaku menolak keras. Aku bahkan merasa baru kemarin selesai melewati siklus datang bulan. Masa iya aku bisa hamil secepat ini? Tidak mungkin, pikirku. Ini pasti murni karena aroma parfum Samuel saja yang mendadak tidak cocok dengan indra penciumanku. Rasanya benar-benar busuk, memua
Keesokan harinya, perasaan bahagia yang melonjak dua kali lipat di kediamaku. Suasana di dalam mansion kami terasa begitu hidup dan hangat karena semua orang berkumpul di sini. Akhir-akhir ini, para orang tua—baik orang tuaku maupun papa Arturo—memang jauh lebih sering menghabiskan waktu luang mereka di rumah kami alih-alih di kediaman mereka sendiri. Mansion yang dulunya terasa sunyi kini selalu dipenuhi riuh tawa.“Kalau bisa, cepat buatkan adik baru lagi untuk Gabriel, Emelia. Papa masih ingin punya cucu yang banyak agar rumah ini semakin ramai,” ujar papa Arturo tiba-tiba, saat kamu berkumpul di ruang tengah. Raut wajahnya tampak cemberut, mengingat sejak tadi belum kebagian menggendong cucunya.“Lah? Daripada menuntut istriku, kenapa Papa saja tidak menikah lagi?” Bukan aku yang menyahut, melainkan Samuel yang langsung memotong dengan nada santai.Pria itu kemudian bergeser mendekat, merangkul
POV EmeliaAku tidak pernah bisa menolak sentuhan lembut tangan Samuel. Jemari kokoh yang selalu berhasil mengalirkan rasa nyaman, sekaligus benteng pertahanan terkuat yang membuatku merasa terlindungi sepenuhnya semenjak aku menyandang status sebagai istrinya. Beban trauma, ketakutan akan kehilangan, dan bayang-bayang masa lalu seketika menguap setiap kali tubuhku merapat dalam dekapannya.Setelah memastikan Gabriel benar-benar terlelap nyenyak di dalam boks bayinya yang terletak di sudut ruangan, Samuel kembali menghampiriku di atas ranjang. Ia mulai memanjakanku dengan rangkaian kecupan-kecupan kecil yang hangat. Yang membuat tubuhku semakin terbakar akan gairah.Awalnya ia mengecup keningku dengan khidmat, lalu turun ke kedua belah pipi, sebelum akhirnya mengunci bibirku dengan lumatan lembut yang penuh tuntutan manis. Kecupannya perlahan bergeser turun ke ceruk leher, menyesap kulitku di sana dan membuatku refleks mendongak pasrah. Sensa
“Samuel...!”Aku segera menyambut tubuh Emelia ke dalam pelukanku, mendekapnya erat-erat begitu aku melangkah masuk ke dalam ruang keluarga mansion utama. Kuhirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang familier, menyalurkan rasa rindu yang teramat membuncah meski kami sebenarnya hanya berpisah selama beberapa hari saja.“Bahagia sekali istriku ini, hmm?” ujarku lembut sembari mengelus rambut panjangnya yang halus.Emelia mengangguk mantap. Ia mendongak, menatapku dengan sepasang netra yang berbinar penuh kebahagiaan. “Hm! Aku sudah diceritakan oleh Papa Lucas semuanya, Samuel. Aku sangat bahagia karena orang-orang jahat yang menculik dan merencanakan kehancuran bagi keluarga kita sekarang sudah hancur total!”“Benar, Sayang. Sekarang kamu tidak perlu merasa takut lagi. Aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan ada satu pun bajingan yang berani menyentuhmu dan anak kita lagi,” balasku meyakinkan.Emelia kemb
Suasana di halaman depan kediamanku berubah mencekam dalam hitungan menit. Langit sore yang mulai menggelap seolah ikut menyambut kedatangan badai. Setelah memastikan Emelia aman bersama tim perlindungan berlapis di bunker bawah tanah, aku melangkah ke teras depan dengan langkah lebar dan tenang.
Kami baru saja menginjakkan kaki di rumah, bahkan baru beberapa menit memasuki kamar utama kami yang luas dan familier. Namun, saat aku berbalik untuk membantunya melepaskan jaket, aku menyadari sesuatu yang salah. Warna kulit di wajah Samuel tiba-tiba berubah drastis menjadi teramat pucat, nyari
Pov Emelia “Daniel, stop!!!”Aku menjerit histeris dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tenggorokanku. Air mataku luruh semakin deras, membasahi pipi yang terasa kaku karena ketakutan yang teramat masif. Menyaksikan Samuel—suamiku, pria yang selalu berdiri gagah melindungi
Hari-hari berikutnya kulalui dalam kesendirian yang sarat akan kesedihan. Aku terlanjur jatuh hati terlalu dalam pada pria asing yang telah kuselamatkan nyawanya malam itu. Namun, aku sadar diri bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa atau menuntut hak apa pun, karena di sisi lain, aku memang telah







