LOGINAku benar-benar merasa pria yang kini menjadi suamiku itu gila.
Ya, gila! Samuel De Leon sama sekali tidak memiliki perikemanusiaan. Seluruh tubuhku terasa remuk, terutama pinggangku yang serasa ingin patah karena sejak tadi harus memunguti ribuan daun yang berguguran di halaman luas itu.
Aku menghembuskan napas panjang sembari merebahkan diri. Setidaknya, ada satu hal yang patut kusyukuri, malam ini aku bisa tidur di atas ranjang yang empuk. Penderitaanku tidak terasa begitu parah dibandingkan saat di rumah orang tuaku. Di sini, aku juga bisa makan sepuasnya tanpa harus menunggu sisa makanan mereka atau izin dari Ibu.
“Sepertinya aku memang bukan anak kandung mereka,” gumamku lirih.
Pikiran itu selalu melintas setiap kali aku mengingat bagaimana mereka memperlakukanku selama dua puluh lima tahun ini. Namun, aku segera menepisnya. Semuanya sudah menjadi masa lalu. Sekarang aku sudah lepas dari neraka itu dan resmi menjadi bagian dari keluarga De Leon.
Kini, fokusku hanya satu, bertahan. Tapi bagaimana caranya? Apakah aku akan membiarkan diriku terus menjadi pelayan hina seperti yang Samuel inginkan? Ataukah aku harus berjuang agar dia melihatku sebagai seorang istri?
Aku memejamkan mata, membiarkan senyum tipis terukir di bibirku. Aku memutuskan untuk mencoba satu hal yang gila, aku akan menggoda suamiku sendiri.
Kalaupun ternyata dia benar-benar dingin atau tidak bisa memberikan apa yang kuinginkan karena kondisinya, setidaknya aku sudah berusaha. Aku ingin melihat sejauh mana pertahanan pria sombong itu saat aku mulai masuk ke dalam dunianya.
***
Pagi harinya, aku terbangun karena ketukan keras di pintu kamar. Aku tersentak, tidak biasanya aku bangun kesiangan. Mungkin karena seluruh tubuhku terasa remuk akibat pekerjaan melelehkan kemarin, atau karena kasurnya yang empuk?
“Ada apa?” tanyaku ketus pada pengawal di balik pintu.
“Tuan menunggu Anda di tepi kolam renang sekarang,” jelasnya singkat.
Aku mengangguk sembari menghela napas panjang. Tanpa mengganti baju atau bahkan mandi, aku langsung melangkah keluar. Sepanjang koridor, para pelayan menatapku dengan berbagai ekspresi. Ada yang menunduk hormat karena bagaimanapun aku adalah istri pemilik rumah, namun ada juga yang mencibir sinis melihat penampilanku yang berantakan.
Aku tidak peduli. Aku sudah bertekad untuk berubah. Aku bukan lagi Emelia Perez yang lemah dan bisa ditindas.
“Apa?” tanyaku langsung begitu sampai di depan Samuel.
“Tidak sopan. Jam segini baru bangun dan belum mandi!” bentak Samuel, menatapku dengan pandangan merendahkan.
“Salahmu sendiri. Kemarin aku dipaksa membersihkan halaman luas itu sendirian, wajar kalau aku kelelahan,” jawabku tenang, tanpa beban.
“Sekarang, bersihkan kolam renang ini!” perintahnya tajam.
Aku menoleh ke arah kolam dan seketika terbelalak. Bagaimana mungkin? Kolam itu penuh dengan daun kering yang mengapung, padahal kemarin sore aku melihatnya sangat bersih. Apalagi, tidak ada pohon besar yang tumbuh tepat di tepi kolam. Ini jelas disengaja.
“Kenapa kolamnya jadi sekotor ini?” tanyaku menuntut penjelasan.
“Bersihkan. Jangan banyak bicara!”
Aku membuang napas kasar. Aku tahu ini pasti ulahnya hanya untuk menyiksaku. Namun, alih-alih mengeluh, aku justru tersenyum tipis. Membersihkan kolam artinya aku bisa bermain air sepuasnya.
Tanpa aba-aba, aku langsung berlari dan menceburkan diri ke dalam air yang jernih itu. Aku berenang kesana kemari dengan lincah, membiarkan air dingin membasuh rasa penat di tubuhku.
“Apa yang kamu lakukan?! Aku menyuruhmu membersihkan kolam, bukan berenang!” suara lantang Samuel menghentikan kegiatanku.
Aku hanya berdecak. Aku bergerak ke tepian untuk mengambil jaring pembersih, namun langkahku terhenti saat mendengar perintah Samuel berikutnya.
“Berhenti di situ!” Samuel menoleh ke arah anak buahnya. “Kalian semua, pergi dari sini sekarang! Jangan ada yang berani menoleh ke arah kolam. Jika ada yang ketahuan mengintip, akan aku congkel bola mata kalian!”
Aku menelan ludah mendengar ancaman sadis itu. Para pengawal segera membubarkan diri dengan cepat. Begitu suasana sepi, aku baru menyadari sesuatu. Aku mengenakan piyama putih berbahan tipis. Dalam keadaan basah kuyup seperti ini, kain itu melekat ketat dan menjadi transparan. Aku bahkan tidak mengenakan bra.
Lengkuk tubuh dan dadaku tercetak sangat jelas di balik kain yang basah. Oh, jadi karena ini dia mengusir semua orang?
Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul. Bukannya mengambil alat untuk membersihkan kolam, aku justru melangkah mendekat ke arah Samuel dengan gerakan perlahan yang menggoda. Sengaja kubuka satu kancing atasan piyamaku agar belahan dadaku semakin terekspos.
“Apa yang kamu lakukan, Emelia?” bentak Samuel saat aku sudah berdiri tepat di depannya. Napasnya tampak sedikit memburu.
“Tidak ada. Hanya ingin menyapa suamiku di pagi hari,” jawabku tenang, menatapnya lurus-lurus.
Aku tersenyum puas melihat Samuel membuang muka saat aku membungkukkan badan di hadapannya. Dengan berani, tanganku menyentuh pahanya yang terbalut celana kain mahal. Aku tahu kakinya lumpuh, tapi aku penasaran apakah bagian tubuhnya yang lain juga ikut mati.
“Kenapa membuang muka? Takut?” tanyaku menggoda.
“Menjauh, Emelia!”
“Menjauh ke mana? Aku hanya ingin melihat wajah suamiku dari dekat. Ternyata kamu sangat tampan ya, apalagi kalau disentuh seperti ini...”
Saat tanganku hendak menyentuh pipinya, Samuel dengan sigap mencengkram pergelangan tanganku. “Jangan berani-berani menyentuh tubuhku!” bentaknya dengan sorot mata yang sanggup membunuh.
Bukannya takut, aku justru tertawa kecil. Aku menarik tangan Samuel yang mencengkeram, lalu menekankannya tepat ke dadaku yang basah. Aku ingin melihat sejauh mana pria ini bisa bertahan.
Sudut bibirku terangkat melihat wajah Samuel yang mendadak pucat. Matanya terbelalak kaget saat merasakan kehangatan kulitku di bawah telapak tangannya.
“Kenapa? Aku istrimu, kan? Bukankah kamu mengusir semua pengawal karena tidak ingin mereka melihat aset milikmu ini? Jadi, apa kamu tidak mau mencobanya?” bisikku tepat di telinganya.
BRAK!
Tubuhku terpental ke belakang karena Samuel mendorongku dengan kasar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu langsung memutar kursi roda otomatisnya dan pergi meninggalkanku begitu saja.
“Awh! Sialan!” aku mengaduh kesal sembari mengusap bokongku yang menghantam lantai dengan keras. “Pria itu benar-benar keras kepala!”
***
“Eh, kamu! Malah enak-enakan makan di sini. Sana kerja seperti yang lain!”
Aku yang sedang asyik menikmati potongan buah segar langsung menoleh. Kutatap seorang pelayan perempuan yang usianya tampak lebih muda dari pelayan yang lain, berdiri dengan berkacak pinggang.
“Malah diam saja? Cepat pergi kerja, jangan cuma numpang makan!” bentaknya lagi.
Aku bergeming. Sama sekali tidak berniat beranjak dari kursi empuk ini. Prinsipku sekarang sederhana, aku hanya akan bekerja jika Samuel yang menyuruh. Jika tidak, aku akan menikmati fasilitas di istana ini layaknya seorang ratu, setidaknya sampai Samuel muncul lagi. Sejak kejadian di tepi kolam pagi tadi, pria itu menghilang entah ke mana.
Pelayan-pelayan lain sebenarnya tidak ada yang berani menegurku. Mereka mungkin bingung atau ragu melihat keberanianku bersantai di jam kerja. Namun, gadis di depanku ini sepertinya kehilangan akal sehat. Atau tidak tahu tentangku?
“Gila ya anak baru ini! Disuruh bersih-bersih malah tuli! Kamu harus bekerja seperti kami, jangan cuma duduk dan makan! Kamu di sini itu cuma pelayan!” teriaknya sembari menyambar pergelangan tanganku dan menariknya dengan kasar.
“Sakit!” aku memekik saat cengkeramannya meremas kulitku dengan sangat kencang.
“Rasakan! Biar kamu tahu rasa. Sana kerja! Kamu itu cuma babu!” ujarnya seraya mendorong tubuhku sekuat tenaga hingga aku tersungkur ke lantai.
Aku menghembuskan napas kasar. Amarahku mendidih di ubun-ubun. Aku baru saja hendak bangkit untuk membalas perbuatannya, namun niat itu urung saat sebuah suara bariton yang berat menggema dari arah belakang.
“Ada apa ini?”
Itu Samuel. Pria itu muncul dengan kursi rodanya, menatap kami dengan sorot mata sedingin es. Di belakangnya ada beberapa pengawal yang mengikutinya.
“Tuan, saya minta maaf karena telah membuat kegaduhan,” pelayan muda itu langsung menunduk ketakutan, suaranya gemetar. “Saya hanya mencoba memberi tahu pelayan baru ini agar bekerja dengan benar, bukan malah duduk santai dan menghabiskan camilan.”
Aku tetap diam. Aku bangkit berdiri perlahan sambil meringis kesakitan. Sial, dalam sehari ini pantatku sudah dua kali mencium lantai dengan keras gara-gara pria itu dan pelayannya.
“Apa kamu tahu siapa dia?” tanya Samuel dengan nada datar yang sulit ditebak.
Aku menyunggingkan senyum sinis dalam hati. Dadaku mendadak berdebar. Inilah saatnya. Aku sudah tidak sabar mendengar Samuel mengumumkan di depan pelayan kurang ajar ini bahwa aku adalah istrinya, Nyonya di rumah ini.
Namun, kalimat yang keluar dari mulut Samuel justru menghantamku lebih keras daripada dorongan pelayan tadi.
“Dia ini pelayan pribadiku,” ucap Samuel tegas. “Dia hanya bekerja jika aku yang menyuruh. Jika tidak, maka dia tidak perlu melakukan apa pun. Jangan pernah berani memerintahnya lagi!”
Bibirku seketika mencebik. Rasa bangga yang sempat membuncah di dadaku lenyap seketika, berganti dengan rasa sesak yang menyesakkan.
Pelayan pribadi?
Aku ingin tertawa miris. Ternyata di depan orang lain pun, Samuel tetap enggan mengakui statusku sebagai istrinya. Baginya, aku tetaplah barang jaminan yang hanya naik kelas menjadi pelayan khusus.
***
Beberapa hari sejak kepulanganku dari rumah sakit, aku tidak lagi melihat kehadiran Diego. Entahlah, aku sendiri tidak ingin ambil pusing soal itu. Saat ini, fokusku teralih sepenuhnya pada Samuel yang katanya akan pergi melakukan perjalanan dinas singkat. Bibirku mengerucut cemberut, aku benar-benar tidak suka akan ditinggal, meskipun aku tahu ia pasti akan pulang. Aku hanya ingin bersamanya setiap hari, setiap detik.Ah, tapi aku tidak boleh egois. Samuel adalah pemimpin perusahaan besar dengan tanggung jawab yang luar biasa berat.“Jangan cemberut begitu. Besok aku langsung kembali, Emelia,” ujarnya saat menyadari perubahan raut wajahku yang mendung.“Tetap saja, malam ini aku tidak tidur bersamamu, Samuel. Aku akan kesepian,” jawabku dengan nada manja yang tak tertahankan.Tawa kecil lolos dari bibir Samuel. Suamiku itu sepertinya tidak benar-benar mengerti betapa beratnya bagiku untuk jauh darinya walau hanya semalam. Aku suda
Aku berharap semua itu hanyalah kecurigaanku belaka. Selama beberapa hari di rumah sakit, Diego memang selalu berkunjung. Ia tidak menunjukkan gelagat aneh, atau mungkin itu karena ada Samuel yang selalu menjagaku? Aku sendiri tidak mengerti. Samuel benar-benar tidak membiarkanku berdua saja dengan Diego. Bahkan saat Samuel harus pergi sebentar, aku dijaga ketat oleh beberapa pengawal perempuan.Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang. Dan lihatlah, Diego bahkan ikut mengantarku. Sepanjang perjalanan tadi, ia bertingkah layaknya anak kecil pada umumnya yang menganggapku sebagai teman baru yang seru.“Kakak, apa aku boleh tinggal di rumah Kakak?” tanya Diego pada Samuel. Sebelum suamiku sempat menjawab, Diego kembali bersuara. “Atau, Kakak dan Kakak Ipar tinggal di rumah utama saja? Aku kesepian, Kak,” ujarnya dengan wajah polos yang dibuat sedemikian rupa.“Tidak bisa. Kami sudah menikah. Kamu main saja ke sini kalau m
Pov Emelia Aku sudah lama menduga bahwa aku bukanlah anak kandung mereka. Cara mereka memperlakukanku selama ini adalah bukti yang paling nyata.Kutatap dua orang yang selama ini kuanggap sebagai orang tua itu. Aku menunggu jawaban. Sebenarnya siapa aku? Dari mana aku berasal? Apakah aku sudah tidak punya orang tua kandung lagi? Apakah aku diambil dari panti asuhan, atau ada cerita lain di baliknya?“Jujurlah, siapa orang tuaku yang sebenarnya?” desakku sekali lagi.“Maafkan kami, Emelia. Dulu kami sudah lama tidak memiliki anak, jadi kami memutuskan untuk mengambilmu dari panti asuhan. Tapi ternyata, tidak lama setelah kehadiranmu, Ana mengandung Bianca. Kami sudah berusaha untuk berlaku adil,” ujar Pedro dengan suara rendah.“Adil?” Aku tersenyum getir mendengarnya. Tidak ada kata adil dalam ingatanku. Mulai dari pakaian, makanan, bahkan tempat tidur saja aku dan Bianca selalu dibedakan. Lantas, dari mana letak keadilannya?“Emelia, maafkan Ayah,” ujar Pedro pelan, tampak tidak ber
POV Samuel “Apa yang sudah kamu dapatkan?”Aku berdiri membelakangi orang kepercayaanku, menatap kosong ke arah jendela ruang kerja. Sebelumnya, aku telah memerintahkannya untuk membuntuti ibu tiriku. Di dunia yang penuh intrik ini, siapa pun bisa menjadi musuh, bahkan wanita yang sudah membesarkanku dan menganggapku seperti anak kandungnya sendiri. Biar bagaimanapun, aku hanyalah putra tiri di rumah itu.“Tidak ada, Tuan. Nyonya Besar sama sekali tidak terlihat terlibat dalam rencana ini. Namun...” Pengawalku menjeda kalimatnya sejenak, suaranya merendah. “Saya menaruh curiga pada Tuan Diego.”“Diego?” ulangku dengan kening berkerut.Aku tidak menyangka nama adik tiriku yang memiliki keterbatasan khusus itu disebut. Selama ini, Diego berperilaku seperti anak kecil, dunianya hanya seputar mainan dan tawa polos. Dia sama sekali tidak terlihat mencurigakan di mataku.“Benar, Tuan. Saya pernah melihatnya di suatu tempat dengan penampilan yang sangat berbeda. Sama sekali bukan seperti Tu
Aku menggenggam tangan Samuel semakin kuat. Rasa gugupku semakin mengguncang saat mobil hitam yang kami tumpangi perlahan memasuki gerbang megah rumah utama.Rumah ini tidak jauh berbeda dari kediaman Samuel—megah dan sangat mewah. Hanya saja, di sini tidak terlihat banyak penjagaan ketat seolah semua orang bisa masuk dengan bebas.“Apa kamu takut?” tanya Samuel, mengelus punggung tanganku dengan lembut seakan bisa merasakan kecemasanku.Aku mengangguk pelan. Biar bagaimanapun, ini adalah pertemuan pertamaku dengan keluarga besar Samuel. Ada ketakutan tersendiri jika mereka tidak menyukaiku.“Jangan takut, mereka tidak akan bisa menentang keputusanku,” jelas Samuel menenangkan. “Ayo turun, mereka sudah menunggu kita.”Aku kembali mengangguk, lalu mengikuti Samuel keluar saat pintu mobil dibukakan. Aku terus menggandeng tangannya erat saat
Setibanya di rumah, Samuel langsung mengangkat tubuhku dengan gaya bridal style. Mata kami saling bertemu, saling menunjukkan rasa cinta dan gairah yang membara. Tanganku melingkar erat di lehernya, meskipun aku tahu Samuel tidak akan pernah membiarkanku jatuh, aku tetap ingin merasa sedekat mungkin dengannya.“Kali ini, kita mau main di mana?” goda Samuel sembari menatapku dengan tatapan lapar yang memabukkan.Aku tidak langsung menjawab. Pikiranku sempat melayang membayangkan bagaimana rasanya jika kami melakukannya di dalam kolam renang. Namun, aku segera menggeleng pelan, udara malam terlalu dingin dan itu tidak baik untuk kesehatan.“Kenapa?” tanya Samuel lagi, suaranya terdengar rendah dan serak.“Bagaimana kalau di ruang kerja? Aku ingin menikmatimu di ruang kerjamu, Samuel,” ujarku dengan nada menggoda.“Dengan senang hati, Sayang. Sekarang juga kita ke ruang kerja,” jawab Samuel mantap. Ia segera memutar langkah, beralih menuju ruang kerjanya alih-alih menuju kamar tidur kami







