Share

Kolam renang

Penulis: iindwi_z
last update Tanggal publikasi: 2026-05-12 22:55:16

Aku benar-benar merasa pria yang kini menjadi suamiku itu gila.

Ya, gila! Samuel De Leon sama sekali tidak memiliki perikemanusiaan. Seluruh tubuhku terasa remuk, terutama pinggangku yang serasa ingin patah karena sejak tadi harus memunguti ribuan daun yang berguguran di halaman luas itu.

Aku menghembuskan napas panjang sembari merebahkan diri. Setidaknya, ada satu hal yang patut kusyukuri, malam ini aku bisa tidur di atas ranjang yang empuk. Penderitaanku tidak terasa begitu parah dibandingkan saat di rumah orang tuaku. Di sini, aku juga bisa makan sepuasnya tanpa harus menunggu sisa makanan mereka atau izin dari Ibu.

“Sepertinya aku memang bukan anak kandung mereka,” gumamku lirih.

Pikiran itu selalu melintas setiap kali aku mengingat bagaimana mereka memperlakukanku selama dua puluh lima tahun ini. Namun, aku segera menepisnya. Semuanya sudah menjadi masa lalu. Sekarang aku sudah lepas dari neraka itu dan resmi menjadi bagian dari keluarga De Leon.

Kini, fokusku hanya satu, bertahan. Tapi bagaimana caranya? Apakah aku akan membiarkan diriku terus menjadi pelayan hina seperti yang Samuel inginkan? Ataukah aku harus berjuang agar dia melihatku sebagai seorang istri?

Aku memejamkan mata, membiarkan senyum tipis terukir di bibirku. Aku memutuskan untuk mencoba satu hal yang gila, aku akan menggoda suamiku sendiri.

Kalaupun ternyata dia benar-benar dingin atau tidak bisa memberikan apa yang kuinginkan karena kondisinya, setidaknya aku sudah berusaha. Aku ingin melihat sejauh mana pertahanan pria sombong itu saat aku mulai masuk ke dalam dunianya.

***

Pagi harinya, aku terbangun karena ketukan keras di pintu kamar. Aku tersentak, tidak biasanya aku bangun kesiangan. Mungkin karena seluruh tubuhku terasa remuk akibat pekerjaan melelehkan kemarin, atau karena kasurnya yang empuk?

“Ada apa?” tanyaku ketus pada pengawal di balik pintu.

“Tuan menunggu Anda di tepi kolam renang sekarang,” jelasnya singkat.

Aku mengangguk sembari menghela napas panjang. Tanpa mengganti baju atau bahkan mandi, aku langsung melangkah keluar. Sepanjang koridor, para pelayan menatapku dengan berbagai ekspresi. Ada yang menunduk hormat karena bagaimanapun aku adalah istri pemilik rumah, namun ada juga yang mencibir sinis melihat penampilanku yang berantakan.

Aku tidak peduli. Aku sudah bertekad untuk berubah. Aku bukan lagi Emelia Perez yang lemah dan bisa ditindas.

“Apa?” tanyaku langsung begitu sampai di depan Samuel.

“Tidak sopan. Jam segini baru bangun dan belum mandi!” bentak Samuel, menatapku dengan pandangan merendahkan.

“Salahmu sendiri. Kemarin aku dipaksa membersihkan halaman luas itu sendirian, wajar kalau aku kelelahan,” jawabku tenang, tanpa beban.

“Sekarang, bersihkan kolam renang ini!” perintahnya tajam.

Aku menoleh ke arah kolam dan seketika terbelalak. Bagaimana mungkin? Kolam itu penuh dengan daun kering yang mengapung, padahal kemarin sore aku melihatnya sangat bersih. Apalagi, tidak ada pohon besar yang tumbuh tepat di tepi kolam. Ini jelas disengaja.

“Kenapa kolamnya jadi sekotor ini?” tanyaku menuntut penjelasan.

“Bersihkan. Jangan banyak bicara!”

Aku membuang napas kasar. Aku tahu ini pasti ulahnya hanya untuk menyiksaku. Namun, alih-alih mengeluh, aku justru tersenyum tipis. Membersihkan kolam artinya aku bisa bermain air sepuasnya.

Tanpa aba-aba, aku langsung berlari dan menceburkan diri ke dalam air yang jernih itu. Aku berenang kesana kemari dengan lincah, membiarkan air dingin membasuh rasa penat di tubuhku.

“Apa yang kamu lakukan?! Aku menyuruhmu membersihkan kolam, bukan berenang!” suara lantang Samuel menghentikan kegiatanku.

Aku hanya berdecak. Aku bergerak ke tepian untuk mengambil jaring pembersih, namun langkahku terhenti saat mendengar perintah Samuel berikutnya.

“Berhenti di situ!” Samuel menoleh ke arah anak buahnya. “Kalian semua, pergi dari sini sekarang! Jangan ada yang berani menoleh ke arah kolam. Jika ada yang ketahuan mengintip, akan aku congkel bola mata kalian!”

Aku menelan ludah mendengar ancaman sadis itu. Para pengawal segera membubarkan diri dengan cepat. Begitu suasana sepi, aku baru menyadari sesuatu. Aku mengenakan piyama putih berbahan tipis. Dalam keadaan basah kuyup seperti ini, kain itu melekat ketat dan menjadi transparan. Aku bahkan tidak mengenakan bra.

Lengkuk tubuh dan dadaku tercetak sangat jelas di balik kain yang basah. Oh, jadi karena ini dia mengusir semua orang?

Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul. Bukannya mengambil alat untuk membersihkan kolam, aku justru melangkah mendekat ke arah Samuel dengan gerakan perlahan yang menggoda. Sengaja kubuka satu kancing atasan piyamaku agar belahan dadaku semakin terekspos.

“Apa yang kamu lakukan, Emelia?” bentak Samuel saat aku sudah berdiri tepat di depannya. Napasnya tampak sedikit memburu.

“Tidak ada. Hanya ingin menyapa suamiku di pagi hari,” jawabku tenang, menatapnya lurus-lurus.

Aku tersenyum puas melihat Samuel membuang muka saat aku membungkukkan badan di hadapannya. Dengan berani, tanganku menyentuh pahanya yang terbalut celana kain mahal. Aku tahu kakinya lumpuh, tapi aku penasaran apakah bagian tubuhnya yang lain juga ikut mati.

“Kenapa membuang muka? Takut?” tanyaku menggoda.

“Menjauh, Emelia!”

“Menjauh ke mana? Aku hanya ingin melihat wajah suamiku dari dekat. Ternyata kamu sangat tampan ya, apalagi kalau disentuh seperti ini...”

Saat tanganku hendak menyentuh pipinya, Samuel dengan sigap mencengkram pergelangan tanganku. “Jangan berani-berani menyentuh tubuhku!” bentaknya dengan sorot mata yang sanggup membunuh.

Bukannya takut, aku justru tertawa kecil. Aku menarik tangan Samuel yang mencengkeram, lalu menekankannya tepat ke dadaku yang basah. Aku ingin melihat sejauh mana pria ini bisa bertahan.

Sudut bibirku terangkat melihat wajah Samuel yang mendadak pucat. Matanya terbelalak kaget saat merasakan kehangatan kulitku di bawah telapak tangannya.

“Kenapa? Aku istrimu, kan? Bukankah kamu mengusir semua pengawal karena tidak ingin mereka melihat aset milikmu ini? Jadi, apa kamu tidak mau mencobanya?” bisikku tepat di telinganya.

BRAK!

Tubuhku terpental ke belakang karena Samuel mendorongku dengan kasar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu langsung memutar kursi roda otomatisnya dan pergi meninggalkanku begitu saja.

“Awh! Sialan!” aku mengaduh kesal sembari mengusap bokongku yang menghantam lantai dengan keras. “Pria itu benar-benar keras kepala!”

***

“Eh, kamu! Malah enak-enakan makan di sini. Sana kerja seperti yang lain!”

Aku yang sedang asyik menikmati potongan buah segar langsung menoleh. Kutatap seorang pelayan perempuan yang usianya tampak lebih muda dari pelayan yang lain, berdiri dengan berkacak pinggang.

“Malah diam saja? Cepat pergi kerja, jangan cuma numpang makan!” bentaknya lagi.

Aku bergeming. Sama sekali tidak berniat beranjak dari kursi empuk ini. Prinsipku sekarang sederhana, aku hanya akan bekerja jika Samuel yang menyuruh. Jika tidak, aku akan menikmati fasilitas di istana ini layaknya seorang ratu, setidaknya sampai Samuel muncul lagi. Sejak kejadian di tepi kolam pagi tadi, pria itu menghilang entah ke mana.

Pelayan-pelayan lain sebenarnya tidak ada yang berani menegurku. Mereka mungkin bingung atau ragu melihat keberanianku bersantai di jam kerja. Namun, gadis di depanku ini sepertinya kehilangan akal sehat. Atau tidak tahu tentangku?

“Gila ya anak baru ini! Disuruh bersih-bersih malah tuli! Kamu harus bekerja seperti kami, jangan cuma duduk dan makan! Kamu di sini itu cuma pelayan!” teriaknya sembari menyambar pergelangan tanganku dan menariknya dengan kasar.

“Sakit!” aku memekik saat cengkeramannya meremas kulitku dengan sangat kencang.

“Rasakan! Biar kamu tahu rasa. Sana kerja! Kamu itu cuma babu!” ujarnya seraya mendorong tubuhku sekuat tenaga hingga aku tersungkur ke lantai.

Aku menghembuskan napas kasar. Amarahku mendidih di ubun-ubun. Aku baru saja hendak bangkit untuk membalas perbuatannya, namun niat itu urung saat sebuah suara bariton yang berat menggema dari arah belakang.

“Ada apa ini?”

Itu Samuel. Pria itu muncul dengan kursi rodanya, menatap kami dengan sorot mata sedingin es. Di belakangnya ada beberapa pengawal yang mengikutinya.

“Tuan, saya minta maaf karena telah membuat kegaduhan,” pelayan muda itu langsung menunduk ketakutan, suaranya gemetar. “Saya hanya mencoba memberi tahu pelayan baru ini agar bekerja dengan benar, bukan malah duduk santai dan menghabiskan camilan.”

Aku tetap diam. Aku bangkit berdiri perlahan sambil meringis kesakitan. Sial, dalam sehari ini pantatku sudah dua kali mencium lantai dengan keras gara-gara pria itu dan pelayannya.

“Apa kamu tahu siapa dia?” tanya Samuel dengan nada datar yang sulit ditebak.

Aku menyunggingkan senyum sinis dalam hati. Dadaku mendadak berdebar. Inilah saatnya. Aku sudah tidak sabar mendengar Samuel mengumumkan di depan pelayan kurang ajar ini bahwa aku adalah istrinya, Nyonya di rumah ini.

Namun, kalimat yang keluar dari mulut Samuel justru menghantamku lebih keras daripada dorongan pelayan tadi.

“Dia ini pelayan pribadiku,” ucap Samuel tegas. “Dia hanya bekerja jika aku yang menyuruh. Jika tidak, maka dia tidak perlu melakukan apa pun. Jangan pernah berani memerintahnya lagi!”

Bibirku seketika mencebik. Rasa bangga yang sempat membuncah di dadaku lenyap seketika, berganti dengan rasa sesak yang menyesakkan.

Pelayan pribadi?

Aku ingin tertawa miris. Ternyata di depan orang lain pun, Samuel tetap enggan mengakui statusku sebagai istrinya. Baginya, aku tetaplah barang jaminan yang hanya naik kelas menjadi pelayan khusus.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Tangisan Pertama dan Kebahagiaan Utuh

    (POV: Emelia)Aku sendiri tidak tahu kenapa malam itu aku mendadak begitu menginginkan sentuhan dan kehangatan Samuel. Mengingat sepanjang sembilan bulan usia kehamilan kedua ini, aku sama sekali tidak bisa berada dekat-dekat dengannya. Bahkan, jika Samuel nekat mendekat, kepala ini langsung pusing dan perutku mendadak mual luar biasa.Namun malam itu, tembok pembatas hormon yang menyiksa suamiku selama berbulan-bulan seolah runtuh tanpa sisa.“Ah, Samuel... aku benar-benar merindukanmu,” lenguhku panjang setelah berhasil meraih pelepasan yang begitu intens di dalam dekapannya.Akan tetapi, tepat ketika hembusan napas lega baru saja terlepas dan aku hendak menyandarkan kepala di dada bidangnya, sebuah desakan dahsyat mendadak menghantam perut bawahku. Rasa mual yang selama ini mengangguku berganti menjadi gelombang cengkraman hebat yang mencengkeram rahimku tanpa ampun.“Ahhh! Sakit...!” teriakku seketika sembari mencengkeram lengan kekar Samuel dengan sangat kuat.“Sakit?! Sayang, k

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Sembilan Bulan yang Menyiksa dan Malam Rindu

    (POV: Samuel)Aku begitu bahagia saat mendengar kabar bahwa Emelia kembali mengandung buah hati kami. Namun, di saat yang bersamaan, jujur saja rasa sedih yang teramat mendalam juga merayapi benakku.Bagaimana tidak sedih? Aku selama ini tidak bisa jauh darinya, selalu memeluk dan menciumnya. Dan sekarang? Bisa-bisanya aku harus diasingkan dan menjaga jarak aman! Bahkan di dalam ruang pemeriksaan dokter spesialis kandungan saat ini, aku terpaksa berdiri menyudut di pojok ruangan demi kenyamanan istri tercintaku. Sebab, jika aku melangkah maju dua langkah saja mendekatinya, Emelia akan langsung mengeluh pusing dan berujung muntah-muntah hebat.“Kehamilan kali ini benar-benar unik dan berbeda sekali ya, Nyonya Emelia,” puji sang dokter kandungan sembari tersenyum geli setelah mendengarkan keluhnya. “Jika pada kehamilan pertama dulu Tuan Samuel yang harus memikul rasa mual dan pusing, sekarang giliran Nyonya sendiri yang merasakannya.”“Dan masalah terbesarnya, dia sama sekali tidak ma

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Garis Dua dan Jarak Satu Meter

    Jujur saja, aku dan Samuel memang sama sekali tidak menunda untuk memberikan adik bagi Gabriel. Sejak kondisi psikologis dan fisikku pulih total, kami justru sangat mengharapkan kehadiran buah hati kedua untuk meramaikan mansion ini.Namun, garis takdir belum berpihak pada kami selama beberapa bulan terakhir. Aku masih belum kunjung berbadan dua. Bahkan setiap kali aku mengalami telat datang bulan, aku buru-buru mengetesnya dengan alat tes kehamilan, hasil testpack yang tertera selalu saja menunjukkan garis satu alias negatif. Kekecewaan yang berulang itu perlahan membuatku bersikap lebih santai dan pasrah.Jadi, jika sekarang tanda-tanda mual ini dikaitkan dengan kehamilan, aku benar-benar tidak yakin. Logikaku menolak keras. Aku bahkan merasa baru kemarin selesai melewati siklus datang bulan. Masa iya aku bisa hamil secepat ini? Tidak mungkin, pikirku. Ini pasti murni karena aroma parfum Samuel saja yang mendadak tidak cocok dengan indra penciumanku. Rasanya benar-benar busuk, memua

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Aroma yang membuat mual

    Keesokan harinya, perasaan bahagia yang melonjak dua kali lipat di kediamaku. Suasana di dalam mansion kami terasa begitu hidup dan hangat karena semua orang berkumpul di sini. Akhir-akhir ini, para orang tua—baik orang tuaku maupun papa Arturo—memang jauh lebih sering menghabiskan waktu luang mereka di rumah kami alih-alih di kediaman mereka sendiri. Mansion yang dulunya terasa sunyi kini selalu dipenuhi riuh tawa.“Kalau bisa, cepat buatkan adik baru lagi untuk Gabriel, Emelia. Papa masih ingin punya cucu yang banyak agar rumah ini semakin ramai,” ujar papa Arturo tiba-tiba, saat kamu berkumpul di ruang tengah. Raut wajahnya tampak cemberut, mengingat sejak tadi belum kebagian menggendong cucunya.“Lah? Daripada menuntut istriku, kenapa Papa saja tidak menikah lagi?” Bukan aku yang menyahut, melainkan Samuel yang langsung memotong dengan nada santai.Pria itu kemudian bergeser mendekat, merangkul

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Penyatuan

    POV EmeliaAku tidak pernah bisa menolak sentuhan lembut tangan Samuel. Jemari kokoh yang selalu berhasil mengalirkan rasa nyaman, sekaligus benteng pertahanan terkuat yang membuatku merasa terlindungi sepenuhnya semenjak aku menyandang status sebagai istrinya. Beban trauma, ketakutan akan kehilangan, dan bayang-bayang masa lalu seketika menguap setiap kali tubuhku merapat dalam dekapannya.Setelah memastikan Gabriel benar-benar terlelap nyenyak di dalam boks bayinya yang terletak di sudut ruangan, Samuel kembali menghampiriku di atas ranjang. Ia mulai memanjakanku dengan rangkaian kecupan-kecupan kecil yang hangat. Yang membuat tubuhku semakin terbakar akan gairah.Awalnya ia mengecup keningku dengan khidmat, lalu turun ke kedua belah pipi, sebelum akhirnya mengunci bibirku dengan lumatan lembut yang penuh tuntutan manis. Kecupannya perlahan bergeser turun ke ceruk leher, menyesap kulitku di sana dan membuatku refleks mendongak pasrah. Sensa

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Kebahagiaan

    “Samuel...!”Aku segera menyambut tubuh Emelia ke dalam pelukanku, mendekapnya erat-erat begitu aku melangkah masuk ke dalam ruang keluarga mansion utama. Kuhirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang familier, menyalurkan rasa rindu yang teramat membuncah meski kami sebenarnya hanya berpisah selama beberapa hari saja.“Bahagia sekali istriku ini, hmm?” ujarku lembut sembari mengelus rambut panjangnya yang halus.Emelia mengangguk mantap. Ia mendongak, menatapku dengan sepasang netra yang berbinar penuh kebahagiaan. “Hm! Aku sudah diceritakan oleh Papa Lucas semuanya, Samuel. Aku sangat bahagia karena orang-orang jahat yang menculik dan merencanakan kehancuran bagi keluarga kita sekarang sudah hancur total!”“Benar, Sayang. Sekarang kamu tidak perlu merasa takut lagi. Aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan ada satu pun bajingan yang berani menyentuhmu dan anak kita lagi,” balasku meyakinkan.Emelia kemb

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Diego, kamu?

    Beberapa hari sejak kepulanganku dari rumah sakit, aku tidak lagi melihat kehadiran Diego. Entahlah, aku sendiri tidak ingin ambil pusing soal itu. Saat ini, fokusku teralih sepenuhnya pada Samuel yang katanya akan pergi melakukan perjalanan dinas singkat. Bibirku mengerucut cemberut, aku benar-b

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Samuel, bangun...

    Pov Emelia ​“Daniel, stop!!!”​Aku menjerit histeris dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tenggorokanku. Air mataku luruh semakin deras, membasahi pipi yang terasa kaku karena ketakutan yang teramat masif. Menyaksikan Samuel—suamiku, pria yang selalu berdiri gagah melindungi

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Masa lalu 2

    Hari-hari berikutnya kulalui dalam kesendirian yang sarat akan kesedihan. Aku terlanjur jatuh hati terlalu dalam pada pria asing yang telah kuselamatkan nyawanya malam itu. Namun, aku sadar diri bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa atau menuntut hak apa pun, karena di sisi lain, aku memang telah

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Pertukaran

    Suasana di halaman depan kediamanku berubah mencekam dalam hitungan menit. Langit sore yang mulai menggelap seolah ikut menyambut kedatangan badai. Setelah memastikan Emelia aman bersama tim perlindungan berlapis di bunker bawah tanah, aku melangkah ke teras depan dengan langkah lebar dan tenang.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status