LOGIN“Orang kami, dari Indonesia.”
Ian menjawab dengan mantap. Ia melangkah mendekat ke arahku, setelan gelapnya kontras dengan wajahku yang pasti sudah sepucat mayat. Tangannya hinggap di bahuku, menenangkan.
“Ia saksi. Kami ingin membawanya ke dalam perlindungan kami sebelum mendengar semua ceritanya.”
Wah. Tiba-tiba aku berubah status jadi saksi. Aku mendongak memandangi Ian dan rekan-rekannya yang mengelilingi posisiku.
Maaf, aku saksi apa, ya? Saksi pernikahan, bukan?
Aku tolah-toleh ke kanan dan kiri dengan kebingungan.
“Ia harus menjawab pertanyaanku dulu, baru boleh pergi,” ujar Domnick kaku. Telunjuknya terarah padaku. Wajahnya jelas tidak mau berkompromi. Ketampanan di luar nalar yang kemarin sempat membuatku diam-diam mengaguminya seketika menguap, berganti aura yang berbahaya dan sangat berkuasa.
Ian perlahan menarikku berdiri dan berusaha mengarahkanku keluar dari ruangan. Namun Domnick menahan langkah Ian dengan menangkap lengannya. Ian tidak melawan. Ia justru menoleh, memilih beradu pandang langsung dengan sang raja. Suasana ruangan mendadak senyap, seperti menunggu hasil pertandingan final.
“Yang Mulia, dia baru saja menyelamatkan nyawa Anda, tetapi Anda memperlakukannya seperti penjahat. Pertama-tama, Anda perlu mengucapkan terima kasih,” tegur Ian dengan nada datar, namun setiap kata terasa menusuk.
Ucapan itu seperti menyentak kesadaran Domnick. Rahangnya yang semula menegang mulai mengendur, ketegangan di wajahnya perlahan memudar.
“Maaf,” kata Domnick sambil melepaskan lengan Ian. Nada yang tadi menuntut kini melembut. Ia kemudian menatapku dengan ekspresi menyesal yang, sialnya, tetap saja tampak menawan.
“Temanmu benar. Terima kasih sudah menyelamatkanku,” ucap Domnick sungguh-sungguh. “Kita akan berbicara lagi nanti, Nona Alyssa.”
Dia tahu namaku? Aku hanya bisa menganga, tidak sanggup menjawab. Otakku masih dalam mode macet total.
Ian kembali menuntunku menjauh dari kerumunan. Aku menyembunyikan wajah di lengan bajunya, berusaha mengecil supaya tidak terus menjadi tontonan. Kami baru beberapa langkah meninggalkan ruangan belakang aula menuju lorong penghubung ketika suara gaduh terdengar.
“Yang Mulia! Yang Mulia! Lewat sini, Yang Mulia!”
Aku refleks menoleh. Dari sela kerumunan pengawal di belakang, kulihat sekilas Domnick membungkuk, berpegangan pada bahu seseorang di dekatnya. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipis.
“Ian,” panggilku ragu. “Sepertinya beliau…”
“Tenang saja, pengawalnya banyak yang mengurus. Bagaimanapun juga, dia raja,” potong Ian, tetap melangkah cepat. “Kita harus segera kembali ke hotel. Bu Dewi sudah duluan menunggu kamu. Orang kedutaan sedang mengurus tiket kepulangan kalian malam ini.”
“K-kita pulang malam ini? Sekarang?” Aku meneguk ludah.
“Segera pulang sebelum kalian tidak bisa pulang,” gumamnya. Kalimat itu terdengar seperti bercanda, tetapi di mata Ian sama sekali tidak ada tawa.
Ternyata, sebelum benar-benar bisa “pulang”, dunia harus heboh dulu.
Beberapa menit setelah kami berjalan di lorong penghubung, sirene halus terdengar dari sistem suara gedung, disusul pengumuman dalam bahasa Inggris dengan nada panik yang ditahan-tahan:
“Para hadirin, karena ada masalah keamanan, kami memberlakukan prosedur darurat. Semua tamu VIP dan delegasi, harap segera mengikuti petugas keamanan menuju ruang aman.”
Kaca-kaca besar di aula utama tertutup tirai otomatis. Pintu-pintu samping dikunci. Para tamu berjas dan bergaun mahal mendadak terlihat seperti murid sekolah yang dikepung guru piket. Pengawal pribadi masing-masing VVIP membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang bergerak cepat sesuai arahan petugas keamanan tuan rumah.
Dari arah berlawanan, kulihat seorang perempuan tinggi langsing berjalan cepat: gaun malam pas badan, rambut pirang disanggul rapi, lipstik merah darah.
Lady Anna.
Cantiknya menyolok mata. Pandangannya menyapu ruangan yang kacau dengan santai, seolah semua ini hanya pesta yang acaranya diperpanjang. Ia melewatiku begitu saja.
Anna langsung menghampiri Domnick. Tangannya melingkar manja di lengan sang raja, kepalanya sedikit dimiringkan, senyum cemas menempel di bibir. Domnick justru tampak berusaha menjaga jarak. Rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke arah pengawal yang menunggu perintah.
“Aku tidak apa-apa,” ucapnya pendek. “Fokus pada keamanan para tamu.”
Aku menahan lengan Ian yang sejak tadi berusaha membawaku keluar menuju area parkir kendaraan. Aku berbalik, menonton percakapan Domnick dan Anna. Ian dan rekan-rekannya ikut berhenti, mengikuti arah pandangku.
“Tunggu sebentar saja,” pintaku tidak yakin.
“Kita harus pergi,” Ian mengingatkan. “Orang-orang yang mengancam Raja Domnick mungkin masih ada di sekitar sini dan bisa mengincarmu.”
Aku menggeleng. Kata-kata yang kudengar di toilet tadi berputar lagi di kepala. Belum semuanya kuceritakan kepada Ian.
“Jangan biarkan dia pingsan di tengah kerumunan. Segera bawa raja kembali ke kamarnya.”
“Ratu kita yang akan menyelesaikan sisanya.”
Ratu kami. Apa maksudnya ratu di sini adalah istri Domnick? Perempuan cantik yang sedang berdiri di sampingnya itu? Jantungku berdebar tidak karuan.
Kulihat Anna mengeratkan pegangan di lengan Domnick. Seolah menyadari sedang diperhatikan, Anna menoleh ke arahku. Kepalanya naik-turun menilaiku, seakan aku adalah noda di karpet yang harus segera dibersihkan.
Dari gerak bibirnya, aku bisa membaca: “Gadis itu orangnya?”
Aku merasakan darahku surut dari wajah hingga sepucat mayat.
“Saksi,” ralat salah satu pengawal Domnick cepat-cepat.
“Pengacau, maksudmu,” sahut Anna, nadanya tajam. “Kalau dia tidak membuat panik keamanan dengan imajinasinya, kita masih bisa menikmati makan malam.”
Domnick menoleh cepat, sorot matanya penuh teguran. “Anna.”
Lady Anna tersenyum lebih lebar, pura-pura polos. “Kenapa? Aku hanya bilang, semua kekacauan ini berawal dari dia tanpa bukti jelas.”
“Orang yang memulai semua ini,” nada suara Domnick naik, “adalah orang yang berusaha meracuniku.”
Suhu ruangan seakan turun beberapa derajat. Semua yang mendengar kalimat itu mendadak diam.
Anna masih memasang senyum, tetapi pegangan tangannya di lengan Domnick jelas melemah.
“Kau sungguh ingin membahas ini di sini? Dengan semua orang mendengar?” desisnya.
Aku tidak tahu harus apa, jadi aku hanya bisa menonton pasangan yang jauh dari definisi rumah tangga bahagia itu saling lempar pandang. Sekarang Domnick menepis lengan istrinya. Tidak kasar, tetapi jelas. Ketidaksukaannya jauh lebih terang daripada saat ia menepis ciuman di bandara.
“Pergilah bersama pengawalmu,” katanya dingin. “Aku akan menyusul nanti.”
Anna terdiam sepersekian detik. Lalu ekspresinya berubah: dari terkejut, menjadi terluka, lalu mengeras menjadi marah yang ditahan.
“Baiklah.” Ia merapikan gaunnya sendiri. “Nikmati drama kecilmu ini.”
Sebelum melewatiku, Lady Anna sempat sekali lagi menatap tajam. Bukan sekadar tidak suka; di matanya ada kebencian, seolah aku telah melakukan dosa yang tak terampuni. Pengawal menggiring Anna ke ujung lorong, suara hak sepatunya berdetak keras di lantai marmer.
Begitu pintu tertutup, ruangan akhirnya terasa bisa bernapas lagi. Bulu kudukku berdiri.
“Nona Alyssa.”
Aku tersentak dan berbalik. Domnick kini berdiri hanya beberapa langkah di belakangku. Pengawalnya menjaga jarak, membentuk setengah lingkaran yang terasa menekan.
“Ya, Yang Mulia?” suaraku melengking setengah oktaf lebih tinggi dari biasanya.
Domnick menatapku lama, seolah menimbang sesuatu. Akhirnya ia menegakkan tubuh, nadanya kembali resmi, mode raja aktif.
“Sekali lagi, terima kasih. Mulai sekarang, kamu berada dalam perlindungan kami. Aku akan mengirim pesan selanjutnya kepada mereka.”
Aku mengerjap. “Mereka?”
“Orang-orangku,” ia memberi isyarat halus ke pengawal di sekitarnya. “Akan berkoordinasi dengan orang-orangmu,” tambahnya, melirik Ian dan rekan-rekannya di belakang.
Ian mengangguk, wajahnya sangat serius.
“Kita akan bertemu lagi,” kata Domnick pelan.
Aku menelan ludah. “Nggak ketemu juga nggak apa-apa, Yang Mulia.”
Mendengar jawabanku, untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, Domnick tampak seperti tersenyum kecil. Tipis sekali, hampir seperti ilusi, tetapi cukup membuat ruangan terasa sedikit kurang menakutkan. Sekilas, aku melihat ada lesung pipit samar di salah satu pipinya. Menggemaskan, seandainya saja istrinya tidak seseram itu.
“Tidak janji,” jawab Domnick. “Tapi akan kucoba.”
Dan entah mengapa, saat ia berbalik dan melangkah pergi diiringi pagar betis para pengawal, satu firasat aneh menempel di kepalaku: sepertinya akan sulit bagi aku untuk benar-benar pergi.
Bukan hanya pergi dari Manila, tapi pergi dari orbit seorang raja yang baru saja berjanji kalau kami akan bertemu lagi.
Kami bertiga berdiri di koridor rumah sakit saat Mark menyampaikan laporan bahwa pelaku yang melukai Sasha adalah bagian korps elit pengamanan istana. Otak tersangka: Jenderal Russhel Laporan Mark mengusik sesuatu yang sejak awal sudah mengganjal di dadaku, rasa tidak aman yang bahkan tembok tebal Grindlandia tidak mampu redakan. Malam itu, ketika Ibu tertidur di kursi lipat di samping ranjang Sasha dan dokter menyatakan kondisi sahabatku mulai stabil, aku duduk sendiri di kursi kecil dekat jendela rumah sakit. Ian tadi baru saja keluar setelah memastikan obat-obatan bekerja dan tekanan darah Sasha membaik. Aku memandang kota Grindlandia yang temaram, lampu-lampu berkilau di kejauhan. Kepalaku penuh. Sasha datang ke negeri ini karena aku. Sasha dilukai karena seseorang yang ingin menyakiti calon ratu. Calon ratu itu AKU. Sekarang, bayangan bunga-bunga berlonceng ungupenuh racun itu menempel di pikiranku. Aku marah. Bukan saja pada Russhel dan orang-orangnya, bukan hanya pa
Aku baru menyadari tangan gemetarku ketika pandanganku turun ke papan kecil di depan rumpun tanaman yang merubungi Sasha tadi. Papan itu miring, setengah tertutup tanah yang terciprat. Aku berjongkok hati-hati, menghindari cabang yang menjulur, lalu menyeka pelan permukaannya dengan ujung tisu.Bunga-bunga lonceng kecil berwarna keunguan bergoyang pelan di ujung batang. Cantik. Sangat cantik. Dan sangat tidak bersahabat. Tulisan di sana kubaca perlahan.Digitalis purpurea atau Foxglove Di bawahnya, dengan huruf lebih kecil ada keterangan lebih panjang. “Bunga indah berwarna ungu dan putih, seluruh bagian tanaman mengandung glikosida jantung. Dapat menyebabkan mual, muntah, pusing, gangguan irama jantung, dan reaksi alergi berat bila tertelan atau terkena luka terbuka. Penanganan medis segera diperlukan.” Aku menelan ludah. “Sas, kenapa jatuhnya ke sini…” gumamku. Ian yang berdiri di belakangku ikut mengamati. Rahangnya mengeras. “Foxglove,” gumamnya. “Cantik, tapi beracun, bis
“Alyssa,” panggil Domnick sebelum ia benar-benar pergi. “Maaf soal gaun. Aku marah pada keadaan, bukan pada kamu. Aku tidak seharusnya memaksa.”Aku hanya mengangguk, agak tersinggung karena tiba-tiba Domnick mengurungkan niatnya.“Baik," jawabku pendek.Ia menatapku, seakan ingin bicara lebih panjang, lalu memilih mundur.“Istirahatlah bersama keluargamu. Besok-besok, kita bicara lagi. Akan kuminta Olivia meluangkan waktu lebih banyak untuk kita."Aku menggeleng, menjawab tanpa melihat ke arahnya. "Tidak perlu."Besoknya, aku memutuskan sengaja mengambil jeda dari segala percakapan tentang gaun, gaya, protokol, dan pelajaran tetek bengek soal menjadi ratu baru. Begitu jadwal latihan pagi selesai dan Olivia pergi mengurus hal lain, aku mengumpulkan pasukan kecilku. “Ibu,” panggilku. “Sasha. Mas Dokter. Ayo kita pergi keluar.” Sasha muncul dengan wajah siap bersenang-senang. “Kita kabur?” tanyanya penuh harap. “Tidak sejauh itu,” jawabku. “Kita jalan-jalan dekat sini saja.”
Dua hari setelah pertemuan dengan Lady Anna, Olivia mengetuk pintu kamarku dengan wajah ceria.“Lady Alyssa, isi lemari barumu sudah tiba. Hari ini kita fitting,” katanya penuh semangat.Tanpa menunggu persetujuanku, Olivia dan rombongan dayangnya yang multifungsi menyerbu masuk ke kamar. Untung Ibu sedang di kamar mandi, jadi beliau tidak perlu melihat kericuhan proses mereka menelanjangiku sampai tinggal pakaian dalam.Katanya aku perlu mencoba semua ini untuk memastikan ukurannya sesuai kalau tidak harus di-fitting ulang atau dibuang. Mubazir banget!Dua lemari besar didorong masuk, pintunya dibuka, memperlihatkan deretan gaun menggantung rapi seperti koleksi museum mode. Ada yang terbungkus plastik tipis, ada yang diselubungi kain beludru berwarna-warni seolah menyimpan rahasia, ada juga yang masih terlipat dalam kotak-kotak mewah.“Dari siapa?” tanyaku, meski sudah bisa menebak.Olivia menunjuk kartu kec
Seharian aku mengikuti Domnick bekerja seharian di Esher Palace.Dari rapat energi dengan menteri-menteri, penandatanganan nota kesepahaman, hingga pertemuan kecil dengan perwakilan organisasi kemanusiaan, aku duduk di kursi yang disediakan di sudut ruangan. Sesekali Domnick menjelaskan singkat isi agenda, sekadar agar aku tidak merasa hanya menonton tanpa mengerti.“Aku ingin kamu melihat sendiri apa yang kulakukan,” katanya di jeda makan siang.Aku mengangguk. Meski lelah, ada bagian dari diriku yang lega melihat sisi kantoran dari Domnick. Bukan hanya urusan melambaikan tangan di podium dan berpose untuk kamera, tetapi juga mendiskusikan data, grafik, dan peraturan.Mengikuti Domnick seharian di Esher Palace ternyata memberi efek samping yang tidak kuduga. Kepercayaan diriku sebagai calon ratu pelan-pelan naik.Bukan karena ruangan-ruangan megah yang kulewati, atau karena duduk di kursi tamu istimewa. Justru karena orang-orang yang bekerja di balik meja dan sisi pintu mulai memperl
Acara pertunangan berjalan lumayan lancar, kalau lumayan itu artinya hampir pingsan, salah napas, dan kecupan kaku di depan pejabat. Begitu semua tamu bubar dan dekorasi pelan-pelan dibereskan, hidupku tidak kembali tenang. Setelah lamaran, Olivia menaikkan level kesibukanku dengan program khusus persiapan pernikahan. “Seminggu sekali kita akan gladi bersih,” jelasnya suatu pagi, sambil membacakan jadwal dari tablet. “Kita akan melakukan beberapa simulasi upacara pernikahan Yang Mulia dan Lady Alyssa di Norfolk. Mulai dari berjalan menuju aula, pengambilan sumpah, prosesi di balkon, sampai sesi menyapa rakyat.” Pagi itu sarapan bahkan belum dihidangkan, tetapi Olivia sudah seperti MC buka seminar. Aku cuma sempat membeo. "Norfolk? Norfolk itu apa?" Kini, semua kegiatanku dimulai begitu matahari terbit. Cuci muka, mandi, latihan fisik di ruang kebugaran, sarapan, kemudian perpustakaan, pelajaran privat, makan siang, pelajaran lagi sampai sore. Bedanya, setelah makan malam, D
Rupanya bukan hanya dari Madam, pesan singkat dari Kenzo juga masuk bertubi-tubi memenuhi ponselku.Chat Kenzo: Al, urusan tempat duduk gala dinner sudah beres, kan? Kamu siapkan bahan obrolan untuk Bu Dewi. Siapa saja yang duduk di mejanya. Siapa yang duduk di meja VVIP. Kalau banyak tamu dari neg
“Bawain koper saya yang bener! Koper mahal ini!”Begitu turun dari pesawat, aku sudah resmi berubah fungsi dari jurnalis menjadi porter.Siapa yang pernah memimpikan perjalanan kerja ke luar negeri bareng atasan yang kelakuannya persis makhluk jejadian?Hampir semua orang di kantor lebih rela pura-
Madam yang paling ditakuti di kantorku sebelum hidupku mendadak berbelok jadi calon ratu adalah Dewi Fortuna Wongso, direktur utama sekaligus putri bungsu kerajaan media Wongso Group. Di keluarga Wongso ada aturan tidak tertulis: semua anak harus mengelola satu perusahaan. Maka, orang s
“Miss Khairan Alyssa, kamu harus menikah denganku. Hanya ini caranya aku bisa memberimu perlindungan penuh yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Tidak oleh musuhku, tidak juga oleh negaramu.”Kesadaranku belum terkumpul sepenuhnya saat mendengar kalimat panjang yang membingungkan itu. Sepert







