Home / Romansa / Istri Dadakan Sang Raja / 5. Hari Gedebak Gedebuk

Share

5. Hari Gedebak Gedebuk

Author: Naomi Leon
last update publish date: 2026-06-09 19:00:44

“Orang kami, dari Indonesia.”

Ian menjawab dengan mantap. Ia melangkah mendekat ke arahku, setelan gelapnya kontras dengan wajahku yang pasti sudah sepucat mayat. Tangannya hinggap di bahuku, menenangkan.

“Ia saksi. Kami ingin membawanya ke dalam perlindungan kami sebelum mendengar semua ceritanya.”

Wah. Tiba-tiba aku berubah status jadi saksi. Aku mendongak memandangi Ian dan rekan-rekannya yang mengelilingi posisiku.

Maaf, aku saksi apa, ya? Saksi pernikahan, bukan?

Aku tolah-toleh ke kanan dan kiri dengan kebingungan.

“Ia harus menjawab pertanyaanku dulu, baru boleh pergi,” ujar Domnick kaku. Telunjuknya terarah padaku. Wajahnya jelas tidak mau berkompromi. Ketampanan di luar nalar yang kemarin sempat membuatku diam-diam mengaguminya seketika menguap, berganti aura yang berbahaya dan sangat berkuasa.

Ian perlahan menarikku berdiri dan berusaha mengarahkanku keluar dari ruangan. Namun Domnick menahan langkah Ian dengan menangkap lengannya. Ian tidak melawan. Ia justru menoleh, memilih beradu pandang langsung dengan sang raja. Suasana ruangan mendadak senyap, seperti menunggu hasil pertandingan final.

“Yang Mulia, dia baru saja menyelamatkan nyawa Anda, tetapi Anda memperlakukannya seperti penjahat. Pertama-tama, Anda perlu mengucapkan terima kasih,” tegur Ian dengan nada datar, namun setiap kata terasa menusuk.

Ucapan itu seperti menyentak kesadaran Domnick. Rahangnya yang semula menegang mulai mengendur, ketegangan di wajahnya perlahan memudar.

“Maaf,” kata Domnick sambil melepaskan lengan Ian. Nada yang tadi menuntut kini melembut. Ia kemudian menatapku dengan ekspresi menyesal yang, sialnya, tetap saja tampak menawan.

“Temanmu benar. Terima kasih sudah menyelamatkanku,” ucap Domnick sungguh-sungguh. “Kita akan berbicara lagi nanti, Nona Alyssa.”

Dia tahu namaku? Aku hanya bisa menganga, tidak sanggup menjawab. Otakku masih dalam mode macet total.

Ian kembali menuntunku menjauh dari kerumunan. Aku menyembunyikan wajah di lengan bajunya, berusaha mengecil supaya tidak terus menjadi tontonan. Kami baru beberapa langkah meninggalkan ruangan belakang aula menuju lorong penghubung ketika suara gaduh terdengar.

“Yang Mulia! Yang Mulia! Lewat sini, Yang Mulia!”

Aku refleks menoleh. Dari sela kerumunan pengawal di belakang, kulihat sekilas Domnick membungkuk, berpegangan pada bahu seseorang di dekatnya. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipis.

“Ian,” panggilku ragu. “Sepertinya beliau…”

“Tenang saja, pengawalnya banyak yang mengurus. Bagaimanapun juga, dia raja,” potong Ian, tetap melangkah cepat. “Kita harus segera kembali ke hotel. Bu Dewi sudah duluan menunggu kamu. Orang kedutaan sedang mengurus tiket kepulangan kalian malam ini.”

“K-kita pulang malam ini? Sekarang?” Aku meneguk ludah.

“Segera pulang sebelum kalian tidak bisa pulang,” gumamnya. Kalimat itu terdengar seperti bercanda, tetapi di mata Ian sama sekali tidak ada tawa.

Ternyata, sebelum benar-benar bisa “pulang”, dunia harus heboh dulu.

Beberapa menit setelah kami berjalan di lorong penghubung, sirene halus terdengar dari sistem suara gedung, disusul pengumuman dalam bahasa Inggris dengan nada panik yang ditahan-tahan:

“Para hadirin, karena ada masalah keamanan, kami memberlakukan prosedur darurat. Semua tamu VIP dan delegasi, harap segera mengikuti petugas keamanan menuju ruang aman.”

Kaca-kaca besar di aula utama tertutup tirai otomatis. Pintu-pintu samping dikunci. Para tamu berjas dan bergaun mahal mendadak terlihat seperti murid sekolah yang dikepung guru piket. Pengawal pribadi masing-masing VVIP membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang bergerak cepat sesuai arahan petugas keamanan tuan rumah.

Dari arah berlawanan, kulihat seorang perempuan tinggi langsing berjalan cepat: gaun malam pas badan, rambut pirang disanggul rapi, lipstik merah darah.

Lady Anna.

Cantiknya menyolok mata. Pandangannya menyapu ruangan yang kacau dengan santai, seolah semua ini hanya pesta yang acaranya diperpanjang. Ia melewatiku begitu saja.

Anna langsung menghampiri Domnick. Tangannya melingkar manja di lengan sang raja, kepalanya sedikit dimiringkan, senyum cemas menempel di bibir. Domnick justru tampak berusaha menjaga jarak. Rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke arah pengawal yang menunggu perintah.

“Aku tidak apa-apa,” ucapnya pendek. “Fokus pada keamanan para tamu.”

Aku menahan lengan Ian yang sejak tadi berusaha membawaku keluar menuju area parkir kendaraan. Aku berbalik, menonton percakapan Domnick dan Anna. Ian dan rekan-rekannya ikut berhenti, mengikuti arah pandangku.

“Tunggu sebentar saja,” pintaku tidak yakin.

“Kita harus pergi,” Ian mengingatkan. “Orang-orang yang mengancam Raja Domnick mungkin masih ada di sekitar sini dan bisa mengincarmu.”

Aku menggeleng. Kata-kata yang kudengar di toilet tadi berputar lagi di kepala. Belum semuanya kuceritakan kepada Ian.

“Jangan biarkan dia pingsan di tengah kerumunan. Segera bawa raja kembali ke kamarnya.”

“Ratu kita yang akan menyelesaikan sisanya.”

Ratu kami. Apa maksudnya ratu di sini adalah istri Domnick? Perempuan cantik yang sedang berdiri di sampingnya itu? Jantungku berdebar tidak karuan.

Kulihat Anna mengeratkan pegangan di lengan Domnick. Seolah menyadari sedang diperhatikan, Anna menoleh ke arahku. Kepalanya naik-turun menilaiku, seakan aku adalah noda di karpet yang harus segera dibersihkan.

Dari gerak bibirnya, aku bisa membaca: “Gadis itu orangnya?”

Aku merasakan darahku surut dari wajah hingga sepucat mayat.

“Saksi,” ralat salah satu pengawal Domnick cepat-cepat.

“Pengacau, maksudmu,” sahut Anna, nadanya tajam. “Kalau dia tidak membuat panik keamanan dengan imajinasinya, kita masih bisa menikmati makan malam.”

Domnick menoleh cepat, sorot matanya penuh teguran. “Anna.”

Lady Anna tersenyum lebih lebar, pura-pura polos. “Kenapa? Aku hanya bilang, semua kekacauan ini berawal dari dia tanpa bukti jelas.”

“Orang yang memulai semua ini,” nada suara Domnick naik, “adalah orang yang berusaha meracuniku.”

Suhu ruangan seakan turun beberapa derajat. Semua yang mendengar kalimat itu mendadak diam.

Anna masih memasang senyum, tetapi pegangan tangannya di lengan Domnick jelas melemah.

“Kau sungguh ingin membahas ini di sini? Dengan semua orang mendengar?” desisnya.

Aku tidak tahu harus apa, jadi aku hanya bisa menonton pasangan yang jauh dari definisi rumah tangga bahagia itu saling lempar pandang. Sekarang Domnick menepis lengan istrinya. Tidak kasar, tetapi jelas. Ketidaksukaannya jauh lebih terang daripada saat ia menepis ciuman di bandara.

“Pergilah bersama pengawalmu,” katanya dingin. “Aku akan menyusul nanti.”

Anna terdiam sepersekian detik. Lalu ekspresinya berubah: dari terkejut, menjadi terluka, lalu mengeras menjadi marah yang ditahan.

“Baiklah.” Ia merapikan gaunnya sendiri. “Nikmati drama kecilmu ini.”

Sebelum melewatiku, Lady Anna sempat sekali lagi menatap tajam. Bukan sekadar tidak suka; di matanya ada kebencian, seolah aku telah melakukan dosa yang tak terampuni. Pengawal menggiring Anna ke ujung lorong, suara hak sepatunya berdetak keras di lantai marmer.

Begitu pintu tertutup, ruangan akhirnya terasa bisa bernapas lagi. Bulu kudukku berdiri.

“Nona Alyssa.”

Aku tersentak dan berbalik. Domnick kini berdiri hanya beberapa langkah di belakangku. Pengawalnya menjaga jarak, membentuk setengah lingkaran yang terasa menekan.

“Ya, Yang Mulia?” suaraku melengking setengah oktaf lebih tinggi dari biasanya.

Domnick menatapku lama, seolah menimbang sesuatu. Akhirnya ia menegakkan tubuh, nadanya kembali resmi, mode raja aktif.

“Sekali lagi, terima kasih. Mulai sekarang, kamu berada dalam perlindungan kami. Aku akan mengirim pesan selanjutnya kepada mereka.”

Aku mengerjap. “Mereka?”

“Orang-orangku,” ia memberi isyarat halus ke pengawal di sekitarnya. “Akan berkoordinasi dengan orang-orangmu,” tambahnya, melirik Ian dan rekan-rekannya di belakang.

Ian mengangguk, wajahnya sangat serius.

“Kita akan bertemu lagi,” kata Domnick pelan.

Aku menelan ludah. “Nggak ketemu juga nggak apa-apa, Yang Mulia.”

Mendengar jawabanku, untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, Domnick tampak seperti tersenyum kecil. Tipis sekali, hampir seperti ilusi, tetapi cukup membuat ruangan terasa sedikit kurang menakutkan. Sekilas, aku melihat ada lesung pipit samar di salah satu pipinya. Menggemaskan, seandainya saja istrinya tidak seseram itu.

“Tidak janji,” jawab Domnick. “Tapi akan kucoba.”

Dan entah mengapa, saat ia berbalik dan melangkah pergi diiringi pagar betis para pengawal, satu firasat aneh menempel di kepalaku: sepertinya akan sulit bagi aku untuk benar-benar pergi.

Bukan hanya pergi dari Manila, tapi pergi dari orbit seorang raja yang baru saja berjanji kalau kami akan bertemu lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Dadakan Sang Raja   5. Hari Gedebak Gedebuk

    “Orang kami, dari Indonesia.”Ian menjawab dengan mantap. Ia melangkah mendekat ke arahku, setelan gelapnya kontras dengan wajahku yang pasti sudah sepucat mayat. Tangannya hinggap di bahuku, menenangkan.“Ia saksi. Kami ingin membawanya ke dalam perlindungan kami sebelum mendengar semua ceritanya.”Wah. Tiba-tiba aku berubah status jadi saksi. Aku mendongak memandangi Ian dan rekan-rekannya yang mengelilingi posisiku.Maaf, aku saksi apa, ya? Saksi pernikahan, bukan?Aku tolah-toleh ke kanan dan kiri dengan kebingungan.“Ia harus menjawab pertanyaanku dulu, baru boleh pergi,” ujar Domnick kaku. Telunjuknya terarah padaku. Wajahnya jelas tidak mau berkompromi. Ketampanan di luar nalar yang kemarin sempat membuatku diam-diam mengaguminya seketika menguap, berganti aura yang berbahaya dan sangat berkuasa.Ian perlahan menarikku berdiri dan berusaha mengarahkanku keluar dari ruangan. Namun Domnick menahan langkah Ian dengan menangkap lengannya. Ian tidak melawan. Ia justru menoleh, memil

  • Istri Dadakan Sang Raja   4. Nyawa Orang Ganteng

    Rupanya bukan hanya dari Madam, pesan singkat dari Kenzo juga masuk bertubi-tubi memenuhi ponselku.Chat Kenzo: Al, urusan tempat duduk gala dinner sudah beres, kan? Kamu siapkan bahan obrolan untuk Bu Dewi. Siapa saja yang duduk di mejanya. Siapa yang duduk di meja VVIP. Kalau banyak tamu dari negara lain di sekitar meja Bu Dewi, kamu riset sedikit tentang negara mereka.Chat Kenzo: Kasih ke Bu Dewi bahannya sebelum gala dinner. Jangan sampai beliau tidak punya topik obrolan atau tidak mengenali tamu VVIP di sekitar mejanya.Chat Kenzo: Bisa ya, Al? Tolong kerja yang benar, kalau nggak kita bisa di-PHK.Chat Kenzo: Al, tolong. Aku baru menikah, masa langsung menganggur!Aku mengangkat kepala. Ian masih berdiri di depanku, menunggu aku selesai menekuri layar ponsel dengan wajah tertarik. Aku tersenyum pada laki-laki macho dengan lesung pipi yang dalam itu.Keesokan sorenya, begitu aku keluar dari lift bersama rombongan orang, Ian lagi-lagi menyapaku lebih dulu. Laki-laki tegap itu kin

  • Istri Dadakan Sang Raja   3. Kacung Makhluk Jejadian

    “Bawain koper saya yang bener! Koper mahal ini!”Begitu turun dari pesawat, aku sudah resmi berubah fungsi dari jurnalis menjadi porter.Siapa yang pernah memimpikan perjalanan kerja ke luar negeri bareng atasan yang kelakuannya persis makhluk jejadian?Hampir semua orang di kantor lebih rela pura-pura menikah daripada berdua saja meladeni Madam. Begitu pesawat mendarat, Madam yang duduk di First Class menolak keluar kalau belum melihat batang hidungku.“Biar penumpang lain menunggu,” katanya ketika pramugari yang sangat sopan memintanya keluar duluan. “Saya mau staf saya menyambut saya di pintu.”Jadilah pramugari di First Class lari-lari ke belakang mencari aku di deretan kursi kelas ekonomi. Aku digeret keluar dari antrean, dilirik para penumpang lain dengan penuh kebencian, demi satu tugas mulia: berdiri di pintu pesawat sambil memegang tas Madam.“Sabar, Alyssa, sabar,” bisikku pada diri sendiri.Ternyata urusan “perkacungan” tidak berhenti di situ. Madam juga tidak percaya pada

  • Istri Dadakan Sang Raja   2. Pengen Cepet Nikah

    Madam yang paling ditakuti di kantorku sebelum hidupku mendadak berbelok jadi calon ratu adalah Dewi Fortuna Wongso, direktur utama sekaligus putri bungsu kerajaan media Wongso Group. Di keluarga Wongso ada aturan tidak tertulis: semua anak harus mengelola satu perusahaan. Maka, orang semanja Madam pun harus menyandang jabatan direktur. Secara resmi, kantor kami adalah tabloid lifestyle untuk perempuan. Dalam kenyataannya, kami lebih mirip playgroup gadungan yang didirikan untuk mengasuh Madam. Sekantor sudah paham, Madam dipasang jadi direktur semata-mata supaya terlihat punya pekerjaan.Madam sendiri tidak suka bekerja. Yang ia sukai hanya berfoya-foya bersama teman-teman elitnya. Semua keputusan kerja diserahkan kepada Kenzo, asisten pribadi Madam, sementara kami sisanya hanya hamba sahaya yang bisa dibuang kapan saja.“Kenzo ke mana, sih?”Seorang laki-laki dari bagian keuangan melipir ke kubikelku. Ia meletakkan setumpuk dokumen administrasi perjalanan di mejak

  • Istri Dadakan Sang Raja   1. Calon Ratu, Enggak Terima Refund

    “Miss Khairan Alyssa, kamu harus menikah denganku. Hanya ini caranya aku bisa memberimu perlindungan penuh yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Tidak oleh musuhku, tidak juga oleh negaramu.”Kesadaranku belum terkumpul sepenuhnya saat mendengar kalimat panjang yang membingungkan itu. Seperti bukan kalimat yang seharusnya ditujukan untukku. Tapi percayalah, aku sangat yakin kalau tadi dia menyebut Khairan Alyssa. Memangnya ada berapa Khairan Alyssa di dunia ini? Di ruangan ini? Tunggu. Ruangan apa ini?Mataku sontak terbuka lebar, dan pandanganku menjadi sangat fokus. Aku langsung melihat ke segala arah. Ke tubuhku, ke ruangan asing itu, tiang infus, juga pria berhidung mancung di hadapanku.Kalau tidak geger otak, berarti ingatanku masih utuh. Laki-laki ini adalah Domnick. Domnick si Raja Kerajaan Grindlandia. Domnick Raja Grindlandia yang kaya raya tampan berkuasa dengan istri cantik jelita serba sempurna.“Maaf, tadi kau bilang apa?” pintaku memastikan.“Jadilah ratuku, Alys

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status