Home / Romansa / Istri Dadakan Sang Raja / 6. Makan Siang Tanpa Ketenangan

Share

6. Makan Siang Tanpa Ketenangan

Author: Naomi Leon
last update publish date: 2026-06-11 22:48:22

Aku terkaget-kaget sendiri ketika omongan Ian malam itu jadi kenyataan.

Tiket pulang ke Indonesia yang sudah susah payah disiapkan pihak kedutaan berakhir dibatalkan begitu saja. Bukan karena masalah teknis, tapi karena kelakuan makhluk jejadian bernama Madam.

“Besok aja pulangnya, saya belum packing.”

Madam merengut di sofa hotel sambil nendang-nendang koper bawaannya.

Astaga, Madam, kebangetannya kenapa jadi kebangetan banget. Apa dia nggak paham kacungnya ini sudah naik status jadi saksi kasus kriminal pembunuhan raja? Isi kopernya apaan, masa setelan Armani dan Bottega lebih berharga dari keselamatan karyawan?

Tentu saja jawabannya iya.

Ian dan orang kedutaan Indonesia sampai kehabisan untuk membujuk Madam segera kembali ke Indoensia. Setelah omongan negosiasi yang melelahkan, akhirnya diputuskan kami akan kembali ke Indonesia dengan pesawat pertama besok pagi-pagi sekali.

Oke, fine. Pulang telat dikit nggak apa-apa, yang penting aku masih bisa pulang.

Atau begitulah yang aku kira.

Besoknya, bahkan sebelum matahari terbit sempurna, mobil kedutaan sudah datang siap semuanya, kecuali koperku. Aku berdiri di depan hotel dengan mata sepet dan rambut dicepol asal, memeluk map dokumen, menunggu giliran naik mobil ke bandara.

Sebuah mobil berlogo kedutaan berhenti. Pintu belakang terbuka, menampilkan wajah Ian yang kelihatan kurang tidur tapi tetap gemesin.

“Sudah siap?” tanyanya.

“Siap, Pak Ajudan. Mana Madam… eh Bu Dewi?”

Tepat saat itu sebuah SUV hitam lain menderu melewati kami. Dari kaca jendela yang terbuka, aku melihat sekilas siluet rambut blow out dan kacamata hitam kebesaran.

Madam???

Mobil itu meluncur mulus meninggalkan hotel tanpa sedikit pun melambat.

“EH! MAD—BU DEWI!” Aku panik memanggil-manggil.

Ian menenangkan. “Tenang. Bu Dewi bilang kamu menyusul saja ke Indonesia. Dia sudah dikabari soal undangan Raja Grindlandia.”

“Undangan apa? Aku mau pulang ke Jakarta, bukan fanmeeting!”

Seorang staf kedutaan mendekatiku, wajah setengah menyesal.

“Miss Alyssa, maaf telat tapi Grindlandia mengirim undangan resmi. Jamuan makan siang kerajaan dengan Raja Domnick. Ada upacara penghargaan singkat untuk Anda.” Ia menyampaikan. 

Aku terkesiap. “Jamuan makan siang? Sama si rajanya, Domnick?”

“Ya, Yang Mulia Raja.” Ia terdengar sangat diplomatis. “Undangannya baru disampaikan dini hari tadi. Kami mengabari Bu Dewi tapi mungkin beliau lupa menyampaikan kepada Anda.”

Enggak lupa, si Madam sialan itu emang sengaja nggak ngasih tahu aku! Sengaja ninggalin karena iri cuma aku yang diundang! Sialan, jamuan makan siang apa ini, sangat mencurigakan. 

“Tapi saya mau pulang, pesawat saya jam berapa?” Aku mencoba kabur. 

“Tiket bisa diatur ulang,” sela Ian pelan. “Yang susah diatur itu… ego negara Grindlandia.”

Aku berdecak.

“Aduh, gimana itu Kerajaan Grindlandia ngundang kok maksa banget, ya. Dia pikir dia presiden gitu ya bisa seenaknya nyuruh orang batalin flight? Apa dia kira karena dia ganteng terus dia bisa bersikap semaunya?” omelku.

“Bukan Presiden,” jawab staf itu tenang. “Raja.”

Sial. Makin aku menawar, makin Ian geleng-geleng.

“Grindlandia menawarkan mengawal Anda pulang sampai ke Jakarta dengan pesawat pribadi kerajaan,” lanjut staf kedutaan.

"Jangan khawatir, pesawat pribadi Grindlandia punya izin spesial untuk mendapat di bandara Halim kapan saja."

Aku langsung merinding. Dikawal naik jet pribadi sampai ke Jakarta rasanya terlalu jomplang dibanding keseharianku naik KRL Bekasi. Bisa-bisa pas turun jetnya aku kena sawan.

“Bilangin Raja Domnick, nggak usah repot-repot, nanti istrinya marah,” tolakku cepat.

Staf itu bertukar pandang dengan Ian.

Ian berdeham. “Maaf Alyssa, kamu belum tahu, Raja Domnick menceraikan istrinya semalam. Mantan ratunya diduga terlibat dalam percobaan pembunuhan. Sekarang dalam tahanan.”

Aku terdiam. Ratu Grindlandia, ratu Domnick beneran terlibat percobaan pembunuhan suaminya sendiri? Dia senekat itu? Sekarang raja itu sudah duda? 

“Jadi… kalau aku menolak makan siang ini, apa akibatnya?"

“Minimal mereka tersinggung,” jawab Ian jujur. “Dan itu akan menyulitkan Indonesia karena kita masih ada impor minyak dari Grindlandia.”

"Kita bisa perang sama Grindlandia?”

Ian menghela napas. "Dingin... perang dingin mungkin."

Akhirnya aku mengalah. Ian dan staf kedutaan mengantarku ke sebuah sedan mewah. Katanya, mobil itu dikirim pihak kerajaan untuk menjemputku. Pelayan hotel, pengawal, bahkan sopir mobil berebut membukakan pintu seakan aku titisan selebritis nyasar di Manila.

Aku sempat menoleh ke Ian. “Kamu ikut kan?”

Ian menunjuk mobil lain di belakang. “Aku ikut konvoi dari mobil ujung belakang. Tenang saja, Alyssa.” Suaranya teduh menenangkan. 

***

Hotel tempat rombongan Grindlandia menginap bertema klasik Eropa. Langit-langit tinggi, lantai marmer, lampu kristal yang kalau jatuh bisa menikam banyak orang. Aku digiring masuk lewat jalur VIP lalu masuk ke sebuah ruangan dengan meja bundar di tengah.

Di meja bundar besar itu hanya ditata dua set alat makan. Perasaanku take nak.

“Silakan duduk, Miss Alyssa. Yang Mulia segera datang,” kata pelayan.

Aku duduk kaku. Perut yang tadi lapar kini penuh kecemasan. Pintu terbuka. Raja Domnick masuk dengan langkah tenang. Jas gelap tanpa medali, rambut tersisir lebih rapi daripada di bandara, wajah pucat dengan garis lelah di bawah mata.

“Miss Khairan Alyssa.” Suaranya datar, profesional.

"Yang Mulia Raja ..." balasku gugup, buru-buru berdiri"Ng... terima kasih atas kesempatan ini?"

Ihhh, kenapa seakan-akan aku baru diterima kerja jadi pelayan raja ini!

Kami duduk berhadapan. Pelayan menyajikan hidangan pembuka, lalu menghilang ke ruangan lain.

“Kudengar kamu ingin pulang ke Indonesia hari ini,” Domnick membuka percakapan.

“Aku ingin segera pulang,” jawabku jujur.

Ia menatap piring sebentar, lalu mengalihkan pembicaraan.

“Berita tentangmu sudah menyebar. Semua orang di Grindlandia tahu ada staf negara lain yang menggagalkan percobaan pembunuhan seorang raja di toilet belakang.”

Aku mengerut. “Tolong, jangan sebut detail ‘toilet’ itu lagi. Nggak heroik sama sekali.”

“Kenyataannya memang heroik,” balasnya tenang. “Efeknya sangat nyata. Kunjungan kenegaraan ini hancur. Mantan ratuku sekarang dalam penyelidikan. Dan kamu…” ia menatap lurus kepadaku, “kamu bisa jadi target berikutnya.”

Nafsu makanku langsung lenyap.

“Jadi ini salah aku?” tanyaku refleks, nada defensif.

“Aku tidak bilang begitu.” Domnick tetap tampak tenang. “Semua terjadi karena orang-orang di sekitarku berkhianat dan aku gagal mengetahuinya lebih awal.”

Aku memainkan garpu, lalu mengembuskan napas tajam.

“Yang Mulia… dengan segala hormat, aku tidak menginginkan semua ini,” kataku pelan. “Aku datang ke sini hanya untuk mengurus tugas atasanku, bukan untuk jadi tokoh utama dalam drama politik. Tolong… tolong…”

Kuangkat kedua tangan, menangkup di depan dada.

“... tolong biarkan aku pulang.”

“Tentu saja. Tapi kamu sudah menyelamatkan nyawaku,” jawab Domnick. “Aku tidak bisa membiarkanmu pulang begitu saja. Ada urusan protokoler. Ada etika. Ada citra…”

Ia menggantung kalimatnya sejenak. “Aku adalah raja. Aku tidak boleh terlihat… tidak tahu berterima kasih.” Domnick sendiri tampak sedikit canggung mendengar kalimat terakhirnya.

“Baik, sama-sama. Sekarang aku ingin pulang,” ujarku lirih.

Domnick tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya mengangguk singkat.

Kami menyelesaikan makan siang dalam keheningan yang aneh. Bukannya membaik, suasana justru terasa makin janggal ketika konvoi mobil mengantarku kembali ke hotel. Dari balik jendela, aku melihat mobil pengawal di depan perlahan menjauh, membiarkan jarak kosong di antara kami.

“Kenapa kita melambat?” tanyaku spontan.

Supir tidak menjawab. Ia justru menoleh ke belakang dengan seringai mengerikan di wajahnya. Tangan kanannya terangkat. Sebuah pistol mengilap sudah tergenggam di sana, ujungnya diarahkan tepat ke wajahku.

Otakku langsung korslet. Seumur hidup, aku belum pernah melihat senjata sedekat itu.

“A-apa ini?” suaraku pecah.

“Matilah kau atas nama Ratu Anna.”

Peluru ditembakkan. Aku memekik, refleks memejam. Sesuatu berdesing lewat telinga, disusul benturan keras. Mobil menghantam sesuatu, oleng gila-gilaan.

Benturan. Gedoran. Tubuhku terbanting ke kanan, lalu ke kiri. Sabuk pengaman menjerat dada. Kaca depan pecah berserakan, serpihannya menyambar kulit seperti hujan es.

Lalu hening.

Beberapa waktu setelah hujaman rasa sakit yang menembus tubuhku bolak-balik itu, aku kembali membuka mata. Cahaya luar biasa terang menyorot bagai lampu stadion, membuatku tak yakin aku berada di mana.

Di mana ini? Apakah ini surga? Apa aku sudah meninggal dunia?

“Miss Khairan Alyssa, maukah kamu menikah ...."

Suara seseorang sayup-sayup menembus kabut di kepalaku. Siluet jangkung menunduk mendekati jangkauan pandanganku, dikelilingi cahaya menyilaukan.

Menikah?

Aku tertawa cekikikan antara sadar dan nggak sadar. Rasa sakit di tubuhku lenyap. Ya sudahlah, kalau hidupku ini harus bad ending pakai kecelakaan mobil, mau gimana lagi. Setidaknya sekarang aku bisa menikmati indahnya “surga” yang isinya bidadara-bidadara berwajah Domnick. Embat selagi sempat!

Kuangkat tangan, antusias menyambut arah suara yang gilang-gemilang.

"Miss Khairan Alyssa, maukah kamu menikah denganku ...."

"Iya, mau," jawabku spontan. "Mau banget!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Dadakan Sang Raja   24. Nikahan of The Century

    Kami bertiga berdiri di koridor rumah sakit saat Mark menyampaikan laporan bahwa pelaku yang melukai Sasha adalah bagian korps elit pengamanan istana. Otak tersangka: Jenderal Russhel Laporan Mark mengusik sesuatu yang sejak awal sudah mengganjal di dadaku, rasa tidak aman yang bahkan tembok tebal Grindlandia tidak mampu redakan. Malam itu, ketika Ibu tertidur di kursi lipat di samping ranjang Sasha dan dokter menyatakan kondisi sahabatku mulai stabil, aku duduk sendiri di kursi kecil dekat jendela rumah sakit. Ian tadi baru saja keluar setelah memastikan obat-obatan bekerja dan tekanan darah Sasha membaik. Aku memandang kota Grindlandia yang temaram, lampu-lampu berkilau di kejauhan. Kepalaku penuh. Sasha datang ke negeri ini karena aku. Sasha dilukai karena seseorang yang ingin menyakiti calon ratu. Calon ratu itu AKU. Sekarang, bayangan bunga-bunga berlonceng ungupenuh racun itu menempel di pikiranku. Aku marah. Bukan saja pada Russhel dan orang-orangnya, bukan hanya pa

  • Istri Dadakan Sang Raja   23. Piknik Bikin Panik (2)

    Aku baru menyadari tangan gemetarku ketika pandanganku turun ke papan kecil di depan rumpun tanaman yang merubungi Sasha tadi. Papan itu miring, setengah tertutup tanah yang terciprat. Aku berjongkok hati-hati, menghindari cabang yang menjulur, lalu menyeka pelan permukaannya dengan ujung tisu.Bunga-bunga lonceng kecil berwarna keunguan bergoyang pelan di ujung batang. Cantik. Sangat cantik. Dan sangat tidak bersahabat. Tulisan di sana kubaca perlahan.Digitalis purpurea atau Foxglove Di bawahnya, dengan huruf lebih kecil ada keterangan lebih panjang. “Bunga indah berwarna ungu dan putih, seluruh bagian tanaman mengandung glikosida jantung. Dapat menyebabkan mual, muntah, pusing, gangguan irama jantung, dan reaksi alergi berat bila tertelan atau terkena luka terbuka. Penanganan medis segera diperlukan.” Aku menelan ludah. “Sas, kenapa jatuhnya ke sini…” gumamku. Ian yang berdiri di belakangku ikut mengamati. Rahangnya mengeras. “Foxglove,” gumamnya. “Cantik, tapi beracun, bis

  • Istri Dadakan Sang Raja   22. Piknik Bikin Panik

    “Alyssa,” panggil Domnick sebelum ia benar-benar pergi. “Maaf soal gaun. Aku marah pada keadaan, bukan pada kamu. Aku tidak seharusnya memaksa.”Aku hanya mengangguk, agak tersinggung karena tiba-tiba Domnick mengurungkan niatnya.“Baik," jawabku pendek.Ia menatapku, seakan ingin bicara lebih panjang, lalu memilih mundur.“Istirahatlah bersama keluargamu. Besok-besok, kita bicara lagi. Akan kuminta Olivia meluangkan waktu lebih banyak untuk kita."Aku menggeleng, menjawab tanpa melihat ke arahnya. "Tidak perlu."Besoknya, aku memutuskan sengaja mengambil jeda dari segala percakapan tentang gaun, gaya, protokol, dan pelajaran tetek bengek soal menjadi ratu baru. Begitu jadwal latihan pagi selesai dan Olivia pergi mengurus hal lain, aku mengumpulkan pasukan kecilku. “Ibu,” panggilku. “Sasha. Mas Dokter. Ayo kita pergi keluar.” Sasha muncul dengan wajah siap bersenang-senang. “Kita kabur?” tanyanya penuh harap. “Tidak sejauh itu,” jawabku. “Kita jalan-jalan dekat sini saja.”

  • Istri Dadakan Sang Raja   21. Busana Laknat

    Dua hari setelah pertemuan dengan Lady Anna, Olivia mengetuk pintu kamarku dengan wajah ceria.“Lady Alyssa, isi lemari barumu sudah tiba. Hari ini kita fitting,” katanya penuh semangat.Tanpa menunggu persetujuanku, Olivia dan rombongan dayangnya yang multifungsi menyerbu masuk ke kamar. Untung Ibu sedang di kamar mandi, jadi beliau tidak perlu melihat kericuhan proses mereka menelanjangiku sampai tinggal pakaian dalam.Katanya aku perlu mencoba semua ini untuk memastikan ukurannya sesuai kalau tidak harus di-fitting ulang atau dibuang. Mubazir banget!Dua lemari besar didorong masuk, pintunya dibuka, memperlihatkan deretan gaun menggantung rapi seperti koleksi museum mode. Ada yang terbungkus plastik tipis, ada yang diselubungi kain beludru berwarna-warni seolah menyimpan rahasia, ada juga yang masih terlipat dalam kotak-kotak mewah.“Dari siapa?” tanyaku, meski sudah bisa menebak.Olivia menunjuk kartu kec

  • Istri Dadakan Sang Raja   20. Ancaman Janda Edan

    Seharian aku mengikuti Domnick bekerja seharian di Esher Palace.Dari rapat energi dengan menteri-menteri, penandatanganan nota kesepahaman, hingga pertemuan kecil dengan perwakilan organisasi kemanusiaan, aku duduk di kursi yang disediakan di sudut ruangan. Sesekali Domnick menjelaskan singkat isi agenda, sekadar agar aku tidak merasa hanya menonton tanpa mengerti.“Aku ingin kamu melihat sendiri apa yang kulakukan,” katanya di jeda makan siang.Aku mengangguk. Meski lelah, ada bagian dari diriku yang lega melihat sisi kantoran dari Domnick. Bukan hanya urusan melambaikan tangan di podium dan berpose untuk kamera, tetapi juga mendiskusikan data, grafik, dan peraturan.Mengikuti Domnick seharian di Esher Palace ternyata memberi efek samping yang tidak kuduga. Kepercayaan diriku sebagai calon ratu pelan-pelan naik.Bukan karena ruangan-ruangan megah yang kulewati, atau karena duduk di kursi tamu istimewa. Justru karena orang-orang yang bekerja di balik meja dan sisi pintu mulai memperl

  • Istri Dadakan Sang Raja   19. Mendadak Seleb

    Acara pertunangan berjalan lumayan lancar, kalau lumayan itu artinya hampir pingsan, salah napas, dan kecupan kaku di depan pejabat. Begitu semua tamu bubar dan dekorasi pelan-pelan dibereskan, hidupku tidak kembali tenang. Setelah lamaran, Olivia menaikkan level kesibukanku dengan program khusus persiapan pernikahan. “Seminggu sekali kita akan gladi bersih,” jelasnya suatu pagi, sambil membacakan jadwal dari tablet. “Kita akan melakukan beberapa simulasi upacara pernikahan Yang Mulia dan Lady Alyssa di Norfolk. Mulai dari berjalan menuju aula, pengambilan sumpah, prosesi di balkon, sampai sesi menyapa rakyat.” Pagi itu sarapan bahkan belum dihidangkan, tetapi Olivia sudah seperti MC buka seminar. Aku cuma sempat membeo. "Norfolk? Norfolk itu apa?" Kini, semua kegiatanku dimulai begitu matahari terbit. Cuci muka, mandi, latihan fisik di ruang kebugaran, sarapan, kemudian perpustakaan, pelajaran privat, makan siang, pelajaran lagi sampai sore. Bedanya, setelah makan malam, D

  • Istri Dadakan Sang Raja   7. Balada Tunangan Instan

    “Miss Khairan Alyssa, maukah kamu menikah denganku supaya aku bisa melindungimu?”Ternyata itu kalimat lengkapnya. Menyebalkan sekali.Begitu aku benar-benar siuman di rumah sakit, Domnick sudah ada di sisi ranjang. Wajahnya terlihat sangat khawatir.Domnick bercerita bahwa sopir mobil yang kutumpa

  • Istri Dadakan Sang Raja   5. Hari Gedebak Gedebuk

    “Orang kami, dari Indonesia.”Ian menjawab dengan mantap. Ia melangkah mendekat ke arahku, setelan gelapnya kontras dengan wajahku yang pasti sudah sepucat mayat. Tangannya hinggap di bahuku, menenangkan.“Ia saksi. Kami ingin membawanya ke dalam perlindungan kami sebelum mendengar semua ceritanya.

  • Istri Dadakan Sang Raja   4. Nyawa Orang Ganteng

    Rupanya bukan hanya dari Madam, pesan singkat dari Kenzo juga masuk bertubi-tubi memenuhi ponselku.Chat Kenzo: Al, urusan tempat duduk gala dinner sudah beres, kan? Kamu siapkan bahan obrolan untuk Bu Dewi. Siapa saja yang duduk di mejanya. Siapa yang duduk di meja VVIP. Kalau banyak tamu dari neg

  • Istri Dadakan Sang Raja   3. Kacung Makhluk Jejadian

    “Bawain koper saya yang bener! Koper mahal ini!”Begitu turun dari pesawat, aku sudah resmi berubah fungsi dari jurnalis menjadi porter.Siapa yang pernah memimpikan perjalanan kerja ke luar negeri bareng atasan yang kelakuannya persis makhluk jejadian?Hampir semua orang di kantor lebih rela pura-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status