LOGINMadam yang paling ditakuti di kantorku sebelum hidupku mendadak berbelok jadi calon ratu adalah Dewi Fortuna Wongso, direktur utama sekaligus putri bungsu kerajaan media Wongso Group.
Di keluarga Wongso ada aturan tidak tertulis: semua anak harus mengelola satu perusahaan. Maka, orang semanja Madam pun harus menyandang jabatan direktur.
Secara resmi, kantor kami adalah tabloid lifestyle untuk perempuan. Dalam kenyataannya, kami lebih mirip playgroup gadungan yang didirikan untuk mengasuh Madam. Sekantor sudah paham, Madam dipasang jadi direktur semata-mata supaya terlihat punya pekerjaan.
Madam sendiri tidak suka bekerja. Yang ia sukai hanya berfoya-foya bersama teman-teman elitnya. Semua keputusan kerja diserahkan kepada Kenzo, asisten pribadi Madam, sementara kami sisanya hanya hamba sahaya yang bisa dibuang kapan saja.
“Kenzo ke mana, sih?”
Seorang laki-laki dari bagian keuangan melipir ke kubikelku. Ia meletakkan setumpuk dokumen administrasi perjalanan di mejaku. Tiket, paspor, reservasi hotel, semuanya atas nama Khairan Alyssa. Namaku.
“Minggu lalu semuanya masih atas nama Kenzo. Tahu-tahu diganti Alyssa. Biasanya kan Kenzo yang menemani Madam ke mana-mana,” katanya sambil geleng kepala.
“Gosipnya Kenzo sedang ada urusan keluarga, ya? Urusan apa sampai berani meninggalkan Madam?” tanyanya lagi.
Aku meratap dramatis. “Tidak paham, salah apa aku, Mas? Tahu sendiri Madam hanya jinak sama Kenzo. Figuran seperti aku pasti hanya dicabik-cabik sepanjang jalan. Merinding ini. Di Manila ada acara apa saja, aku pun belum tahu.”
“Konferensi besar,” sahut Sasha dari kubikel sebelah tanpa diminta. “Konferensi kepala negara dan pemimpin dunia. Madam diajak langsung oleh Pak Presiden. Mana berani Madam nggak berangkat.”
Aneh juga, mengapa Sasha selalu lebih tahu dibanding aku yang mantan jurnalis lapangan. Mungkin karena kubikelnya terlalu dekat dengan meja asisten Madam, jadi semua gosip VIP mampir dulu ke telinganya.
“Kenapa harus aku? Tidak bisa pegawai lain saja?” Aku masih mencoba tawar-menawar dengan nasib. Kutatapi lagi berbagai dokumen perjalanan itu, seolah-olah kalau dipandang cukup lama, nama ‘Khairan Alyssa’ bisa berubah jadi nama orang lain, siapa saja, aku tidak keberatan.
“Mungkin Kenzo yang merekomendasikan namamu,” celetuk Sasha.
Aku mengedip. “Bagaimana logikanya?”
“Ya kamu sebenarnya memang pintar, Alyssa, hanya terlalu kritis saja, mentang-mentang mantan jurnalis,” timpal Sasha santai. “Tahu tidak, gosipnya Kenzo cuti urusan keluarga karena mau menikah. Pacarnya hamil, jadi harus buru-buru naik pelaminan sebelum orang tua pacarnya marah besar.”
“Tuh kan, kalau buru-buru nikah bisa dapat berkah,” aku mendadak kembali bersemangat.
“Menikah betulan, bukan nikah bohongan seperti rencanamu,” Sasha menohok tanpa belas kasihan.
Aku menyeret kursi lebih dekat ke meja Sasha. “Konferensinya tentang apa, siapa saja yang datang, seberapa besar kemungkinan aku dipecat?”
Sasha menghela napas dramatis, lalu meraih remote televisi kecil yang menggantung sendu di sudut ruang redaksi. Televisi itu biasanya dipakai untuk memantau gosip selebritas dan iklan perawatan kulit.
“Lihat sendiri saja.”
Layar menyala. Logo kanal berita internasional mendominasi, diikuti judul yang berkedip-kedip:
KONFERENSI TINGKAT TINGGI PEMIMPIN DUNIA – MANILA SUMMIT
Kamera menyorot aula megah dengan panggung panjang penuh podium dan bendera. Di deretan kursi VIP, para pemimpin negara duduk berjejer: presiden, perdana menteri, tokoh-tokoh penting… hampir semuanya berusia senja. Ada yang ubanan seputih kapas, ada yang duduk tegak saja sudah kelihatan usaha keras.
“Ini konferensi kepala negara atau reuni kakek buyut dunia?” bisikku.
“Diam. Nanti diserbu netizen global,” Sasha cekikikan.
Pembawa acara di layar menyebut satu per satu nama pemimpin: Presiden ini, Perdana Menteri itu, Ketua Dewan dari sana-sini. Setiap nama disambut tepuk tangan sopan, diselipi batuk-batuk halus di beberapa sudut ruangan.
Aku hampir bosan, sampai tulisan di bawah layar berubah:
KEDATANGAN SPESIAL: RAJA DOMNICK LEON OF GRINDLANDIA
Gambar berganti menampilkan bandara. Barikade pengamanan, petugas berseragam rapi, dan yang paling mencolok, segerombolan penggemar perempuan yang berteriak histeris sambil mengangkat poster dan ponsel. Mereka berdesakan di belakang pagar.
“Ini acara apa, konser K-pop?” Aku melongo.
“Bukan. Itu penggemarnya raja yang mau datang,” jelas Sasha dengan nada puas. “Coba lihat.”
Aku refleks memajukan tubuh, mata terpaku pada layar. Dari pintu kedatangan VIP, rombongan keluar. Para pengawal bersetelan gelap dan berkacamata hitam berjalan lebih dulu, tubuh mereka kekar dan tegap. Lalu, dari tengah-tengah mereka, satu sosok melangkah dengan tenang.
Aku sempat lupa bernapas.
Kalau Henry Cavill, Pangeran Mateen Brunei, dan tokoh utama w*****n kerajaan favoritku dicampur jadi satu, mungkin hasilnya mendekati laki-laki itu. Rambutnya hitam kecokelatan, sedikit berombak, disisir rapi namun tetap bervolume. Rahang kotak, dagu sedikit berbelah, hidung tinggi dan tegas, kulit bersih berkilau jenis yang kalau kena lampu sorot bisa memantulkan masa depan. Kaki jenjang, bahu dan dada bidang, sangat mudah dibayangkan jadi bahan poster.
Ini bukan sekadar raja, ini ancaman iman.
Kalau ada satu “cacat” di wajah nyaris sempurnanya, mungkin hanya bekas luka tipis di pelipis yang melintang hingga ekor mata kanan. Itu pun sepertinya baru terlihat jelas karena kamera men-zoom wajahnya.
“Negara apa itu, kok bisa punya raja yang tampannya seperti filter di aplikasi kamera?” komentarku meluncur begitu saja.
“King Domnick Leon,” Sasha membaca tulisan di layar. “Usia tiga puluh tiga tahun. Raja Grindlandia, negara kecil kaya minyak dan gas alam. Luar biasa, sultan beneran.”
Laki-laki itu melambaikan tangan ke arah kerumunan. Senyumnya tipis, sopan, tapi cukup membuat barisan penggemar menjerit lagi. Reporter di lokasi tampak berusaha menjaga wibawa.
“His Majesty Domnick is waving to the crowd…” suara komentator TV terdengar antusias.
“Kalau jadi istrinya, mungkin baru didekati saja sudah mimisan,” gumamku lirih. “Untung kita tidak akan pernah jadi siapa-siapanya.”
Kamera berganti ke rekaman pidato pembukaan konferensi hari pertama. Para pemimpin berumur tadi satu per satu naik podium, berbicara dengan bahasa diplomatik yang kaku, penuh data dan janji manis.
Lalu giliran Grindlandia dipanggil.
“His Excellency, King Domnick Leon Guerrero of Grindlandia.”
Lampu sorot menyorot podium. Domnick berdiri tegak, kini mengenakan seragam resmi dengan deretan medali dan lambang negara di dada. Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk mengingatkan semua orang bahwa laki-laki ini bisa menggerakkan pasukan hanya dengan satu anggukan.
Suara baritonnya memenuhi ruangan. Bahasa Inggrisnya jelas, tenang, dengan aksen sedikit asing yang justru terdengar menarik.
“Kita berdiri di sini bukan hanya sebagai pemimpin negara masing-masing,” katanya, “melainkan sebagai penjaga masa depan. Anak-anak kita akan hidup dengan konsekuensi dari setiap perjanjian yang kita tanda tangani di ruangan ini.”
Biasanya aku alergi pidato politik, tetapi kalimat itu membuatku menahan napas. Ada sesuatu dalam nada suaranya: campuran darah muda, idealisme, dan kemarahan yang… berbahaya sekaligus memikat.
“Lihat itu,” Sasha mencolek lenganku. “Raja itu paling muda di panggung, tapi paling kelihatan punya masa depan.”
Aku mengangguk pelan, masih memandangi layar. Kamera men-zoom wajah Domnick saat ia membahas krisis energi, negara kecil yang selalu diremehkan, dan bagaimana mereka tidak mau hanya menjadi catatan kaki dalam perjanjian negara-negara besar.
“Kami mungkin hanya negara kecil,” lanjutnya, “tapi semangat kami besar, rasa tanggung jawab kami besar.”
“Ini kalau dijadikan drama politik dan di-dubbing Korea, ratingnya tinggi nih,” desisku.
Pidato Domnick berakhir dengan tepuk tangan panjang. Beberapa pemimpin tua yang tadi tampak mengantuk kini saling pandang dengan ekspresi berbeda.
Televisi kembali menayangkan acara lain di studio. Aku bersandar di kursi, menatap layar yang perlahan meredup.
Sasha terkekeh. “Kamu kebayang tidak, Madam akan minta berapa kali swafoto kalau bisa satu ruangan dengan raja itu?”
“Bukan cuma swafoto. Bisa-bisa kalau ada kesempatan, Madam minta tukar nasib sama istrinya raja itu. Kelakuan ajaib Madam kan sudah mengalahkan ratu beneran, hanya kurang gelar saja. Sayang keraton-keraton kita nggak punya giveaway gelar ratu,” sahutku.
Saat itu, aku benar-benar tidak mengira bahwa beberapa hari kemudian aku akan berhadapan langsung dengan Raja Domnick.
Menatap wajahnya yang terlalu tampan … sekaligus menyelamatkan nyawanya.
Kami bertiga berdiri di koridor rumah sakit saat Mark menyampaikan laporan bahwa pelaku yang melukai Sasha adalah bagian korps elit pengamanan istana. Otak tersangka: Jenderal Russhel Laporan Mark mengusik sesuatu yang sejak awal sudah mengganjal di dadaku, rasa tidak aman yang bahkan tembok tebal Grindlandia tidak mampu redakan. Malam itu, ketika Ibu tertidur di kursi lipat di samping ranjang Sasha dan dokter menyatakan kondisi sahabatku mulai stabil, aku duduk sendiri di kursi kecil dekat jendela rumah sakit. Ian tadi baru saja keluar setelah memastikan obat-obatan bekerja dan tekanan darah Sasha membaik. Aku memandang kota Grindlandia yang temaram, lampu-lampu berkilau di kejauhan. Kepalaku penuh. Sasha datang ke negeri ini karena aku. Sasha dilukai karena seseorang yang ingin menyakiti calon ratu. Calon ratu itu AKU. Sekarang, bayangan bunga-bunga berlonceng ungupenuh racun itu menempel di pikiranku. Aku marah. Bukan saja pada Russhel dan orang-orangnya, bukan hanya pa
Aku baru menyadari tangan gemetarku ketika pandanganku turun ke papan kecil di depan rumpun tanaman yang merubungi Sasha tadi. Papan itu miring, setengah tertutup tanah yang terciprat. Aku berjongkok hati-hati, menghindari cabang yang menjulur, lalu menyeka pelan permukaannya dengan ujung tisu.Bunga-bunga lonceng kecil berwarna keunguan bergoyang pelan di ujung batang. Cantik. Sangat cantik. Dan sangat tidak bersahabat. Tulisan di sana kubaca perlahan.Digitalis purpurea atau Foxglove Di bawahnya, dengan huruf lebih kecil ada keterangan lebih panjang. “Bunga indah berwarna ungu dan putih, seluruh bagian tanaman mengandung glikosida jantung. Dapat menyebabkan mual, muntah, pusing, gangguan irama jantung, dan reaksi alergi berat bila tertelan atau terkena luka terbuka. Penanganan medis segera diperlukan.” Aku menelan ludah. “Sas, kenapa jatuhnya ke sini…” gumamku. Ian yang berdiri di belakangku ikut mengamati. Rahangnya mengeras. “Foxglove,” gumamnya. “Cantik, tapi beracun, bis
“Alyssa,” panggil Domnick sebelum ia benar-benar pergi. “Maaf soal gaun. Aku marah pada keadaan, bukan pada kamu. Aku tidak seharusnya memaksa.”Aku hanya mengangguk, agak tersinggung karena tiba-tiba Domnick mengurungkan niatnya.“Baik," jawabku pendek.Ia menatapku, seakan ingin bicara lebih panjang, lalu memilih mundur.“Istirahatlah bersama keluargamu. Besok-besok, kita bicara lagi. Akan kuminta Olivia meluangkan waktu lebih banyak untuk kita."Aku menggeleng, menjawab tanpa melihat ke arahnya. "Tidak perlu."Besoknya, aku memutuskan sengaja mengambil jeda dari segala percakapan tentang gaun, gaya, protokol, dan pelajaran tetek bengek soal menjadi ratu baru. Begitu jadwal latihan pagi selesai dan Olivia pergi mengurus hal lain, aku mengumpulkan pasukan kecilku. “Ibu,” panggilku. “Sasha. Mas Dokter. Ayo kita pergi keluar.” Sasha muncul dengan wajah siap bersenang-senang. “Kita kabur?” tanyanya penuh harap. “Tidak sejauh itu,” jawabku. “Kita jalan-jalan dekat sini saja.”
Dua hari setelah pertemuan dengan Lady Anna, Olivia mengetuk pintu kamarku dengan wajah ceria.“Lady Alyssa, isi lemari barumu sudah tiba. Hari ini kita fitting,” katanya penuh semangat.Tanpa menunggu persetujuanku, Olivia dan rombongan dayangnya yang multifungsi menyerbu masuk ke kamar. Untung Ibu sedang di kamar mandi, jadi beliau tidak perlu melihat kericuhan proses mereka menelanjangiku sampai tinggal pakaian dalam.Katanya aku perlu mencoba semua ini untuk memastikan ukurannya sesuai kalau tidak harus di-fitting ulang atau dibuang. Mubazir banget!Dua lemari besar didorong masuk, pintunya dibuka, memperlihatkan deretan gaun menggantung rapi seperti koleksi museum mode. Ada yang terbungkus plastik tipis, ada yang diselubungi kain beludru berwarna-warni seolah menyimpan rahasia, ada juga yang masih terlipat dalam kotak-kotak mewah.“Dari siapa?” tanyaku, meski sudah bisa menebak.Olivia menunjuk kartu kec
Seharian aku mengikuti Domnick bekerja seharian di Esher Palace.Dari rapat energi dengan menteri-menteri, penandatanganan nota kesepahaman, hingga pertemuan kecil dengan perwakilan organisasi kemanusiaan, aku duduk di kursi yang disediakan di sudut ruangan. Sesekali Domnick menjelaskan singkat isi agenda, sekadar agar aku tidak merasa hanya menonton tanpa mengerti.“Aku ingin kamu melihat sendiri apa yang kulakukan,” katanya di jeda makan siang.Aku mengangguk. Meski lelah, ada bagian dari diriku yang lega melihat sisi kantoran dari Domnick. Bukan hanya urusan melambaikan tangan di podium dan berpose untuk kamera, tetapi juga mendiskusikan data, grafik, dan peraturan.Mengikuti Domnick seharian di Esher Palace ternyata memberi efek samping yang tidak kuduga. Kepercayaan diriku sebagai calon ratu pelan-pelan naik.Bukan karena ruangan-ruangan megah yang kulewati, atau karena duduk di kursi tamu istimewa. Justru karena orang-orang yang bekerja di balik meja dan sisi pintu mulai memperl
Acara pertunangan berjalan lumayan lancar, kalau lumayan itu artinya hampir pingsan, salah napas, dan kecupan kaku di depan pejabat. Begitu semua tamu bubar dan dekorasi pelan-pelan dibereskan, hidupku tidak kembali tenang. Setelah lamaran, Olivia menaikkan level kesibukanku dengan program khusus persiapan pernikahan. “Seminggu sekali kita akan gladi bersih,” jelasnya suatu pagi, sambil membacakan jadwal dari tablet. “Kita akan melakukan beberapa simulasi upacara pernikahan Yang Mulia dan Lady Alyssa di Norfolk. Mulai dari berjalan menuju aula, pengambilan sumpah, prosesi di balkon, sampai sesi menyapa rakyat.” Pagi itu sarapan bahkan belum dihidangkan, tetapi Olivia sudah seperti MC buka seminar. Aku cuma sempat membeo. "Norfolk? Norfolk itu apa?" Kini, semua kegiatanku dimulai begitu matahari terbit. Cuci muka, mandi, latihan fisik di ruang kebugaran, sarapan, kemudian perpustakaan, pelajaran privat, makan siang, pelajaran lagi sampai sore. Bedanya, setelah makan malam, D
“Bawain koper saya yang bener! Koper mahal ini!”Begitu turun dari pesawat, aku sudah resmi berubah fungsi dari jurnalis menjadi porter.Siapa yang pernah memimpikan perjalanan kerja ke luar negeri bareng atasan yang kelakuannya persis makhluk jejadian?Hampir semua orang di kantor lebih rela pura-
“Miss Khairan Alyssa, maukah kamu menikah denganku supaya aku bisa melindungimu?”Ternyata itu kalimat lengkapnya. Menyebalkan sekali.Begitu aku benar-benar siuman di rumah sakit, Domnick sudah ada di sisi ranjang. Wajahnya terlihat sangat khawatir.Domnick bercerita bahwa sopir mobil yang kutumpa
Aku terkaget-kaget sendiri ketika omongan Ian malam itu jadi kenyataan.Tiket pulang ke Indonesia yang sudah susah payah disiapkan pihak kedutaan berakhir dibatalkan begitu saja. Bukan karena masalah teknis, tapi karena kelakuan makhluk jejadian bernama Madam.“Besok aja pulangnya, saya belum packi
“Miss Khairan Alyssa, kamu harus menikah denganku. Hanya ini caranya aku bisa memberimu perlindungan penuh yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Tidak oleh musuhku, tidak juga oleh negaramu.”Kesadaranku belum terkumpul sepenuhnya saat mendengar kalimat panjang yang membingungkan itu. Sepert







