Home / Romansa / Istri Dadakan Sang Raja / 3. Kacung Makhluk Jejadian

Share

3. Kacung Makhluk Jejadian

Author: Naomi Leon
last update publish date: 2026-06-09 18:40:54

“Bawain koper saya yang bener! Koper mahal ini!”

Begitu turun dari pesawat, aku sudah resmi berubah fungsi dari jurnalis menjadi porter.

Siapa yang pernah memimpikan perjalanan kerja ke luar negeri bareng atasan yang kelakuannya persis makhluk jejadian?

Hampir semua orang di kantor lebih rela pura-pura menikah daripada berdua saja meladeni Madam. Begitu pesawat mendarat, Madam yang duduk di First Class menolak keluar kalau belum melihat batang hidungku.

“Biar penumpang lain menunggu,” katanya ketika pramugari yang sangat sopan memintanya keluar duluan. “Saya mau staf saya menyambut saya di pintu.”

Jadilah pramugari di First Class lari-lari ke belakang mencari aku di deretan kursi kelas ekonomi. Aku digeret keluar dari antrean, dilirik para penumpang lain dengan penuh kebencian, demi satu tugas mulia: berdiri di pintu pesawat sambil memegang tas Madam.

“Sabar, Alyssa, sabar,” bisikku pada diri sendiri.

Ternyata urusan “perkacungan” tidak berhenti di situ. Madam juga tidak percaya pada panitia yang ditugasi mengurus kopernya.

“Tidak usah,” ujar Madam. “Saya bawa staf sendiri.”

Artinya: aku lagi. Harus aku juga yang ngos-ngosan menyeret koper-koper besar milik Madam menuju sedan mewah yang terparkir di depan terminal VIP.

Di sisi sedan sudah berdiri seorang pria berjas rapi, menunduk hormat sambil membawa papan nama bertuliskan: VIP Mrs. Dewi Fortuna Wongso. Madam hanya melirik sekilas lalu melengos.

Sungguh, kelakuan bos satu ini mengalahkan legenda Nyi Roro Kidul. Setara siluman!

“Pokoknya kamu ikuti saja semua kemauannya, daripada dia tantrum.”

Itu pesan Kenzo, asisten pribadi Madam, lewat telepon sebelum aku benar-benar terbang ke Manila. Sangat menggampangkan dan sama sekali tidak membantu.

“Pak, langsung ke Royal Sofitel, ya,” kataku pada sopir. Ia mengangguk paham, tetapi sedan tidak juga bergerak. Mesin menyala, tapi mobil tetap diam di tempat.

“Maaf, kita harus menunggu. Lajur keluar masih diblokir untuk rombongan raja,” jelas sopir.

“Raja?” ulangku.

“Yes, the King and Queen. That is what they said.” Sopir menunjuk walkie-talkie di tangannya. Ia memundurkan mobil sedikit, memberi ruang di jalur VIP.

Beberapa menit kemudian, iring-iringan sedan hitam panjang yang jelas lebih mahal dari kredit satu kompleks perumahan muncul. Mereka parkir di depan jalur VIP terminal kedatangan. Bendera kecil berwarna kuning-hijau dengan logo pedang dan perisai terpasang di moncong setiap sedan.

Beberapa laki-laki bertubuh kekar dengan jas gelap keluar terlebih dahulu, lalu satu sosok menyusul di tengah-tengah. Tinggi, tegap, langkahnya lebar. Rambut berombak hitam kecokelatan, kulit pucat, rahang kotak, dagu sedikit berbelah, dan sorot mata yang menghunjam.

Astaga, ini jelas Raja Domnick yang kulihat di televisi kemarin.

Aku nyaris meneteskan liur ketika pria itu menoleh sekilas ke arah barisan mobil yang berhenti karena kedatangannya. Sebelum otakku sempat selesai memproses tingkat kegantengannya, seorang perempuan muncul dari pintu terminal VIP. Gaun selutut, rambut pirang bergelombang, sepatu hak tinggi hitam mengilap. Sepertinya raja menjemput ratunya.

Perempuan itu berjalan anggun, nyaris seperti meluncur, lalu menempel di sisi sang raja. Tangan lentiknya langsung melingkar pada lengan kanan Domnick. Tanpa aba-aba, ia mencondongkan tubuh, hendak mencium pipi suaminya.

Dan… ditolak.

Domnick memiringkan wajah, menghindar pelan. Gerakannya tidak kasar, tetapi dingin dan formal. Perempuan itu tertawa kecil, pura-pura tidak terjadi apa-apa. Mereka tetap berjalan berdampingan, tetapi tidak bergandengan. Tangan perempuan itu menggantung bebas, sesekali berusaha menggandeng lengan sang raja dan setiap kali ditepis halus.

Hatiku yang sempat meleleh mendadak mengering lagi. Baiklah, tampan boleh, tetapi jelas ada badai rumah tangga di balik jas mahal itu.

“Heh, Alyssa, itu siapa?”

Ternyata bukan hanya aku yang terpaku. Dari kursi belakang, Madam ikut melongok, matanya berbinar.

“Izin, Bu, itu Raja Grindlandia. Ikut konferensi bareng kita,” jawabku.

“Masih muda kok sudah raja,” gumam Madam, nada suaranya kagum penuh hasrat. “Pokoknya meja gala dinner saya harus dekat dia, ya.”

“Apa, Bu Dir?”

“Besok malam kan ada gala dinner.” Madam mengibaskan rambut. “Saya mau swafoto bareng rajanya. Kamu urus supaya meja saya bisa di dekat meja dia.”

Astaga. Ini Gala Dinner itu kan jamuan makan malam konferensi internasional, bukan resepsi kelurahan yang kursinya bisa sembarang digeser-geser. Cari gebetan yang realistis sedikit, Bu Direktur! 

Nasehat Kenzo terngiang lagi di kepalaku.

“Karena itu acara level kepala negara, pasti Madam tidak dapat akses ke area VVIP. Kamu telepon ajudan Pak Presiden yang minta Madam berangkat. Minta tolong supaya Madam bisa dimasukkan sebagai delegasi.”

“Aku harus bicara bagaimana?” gerutuku panik waktu itu. Tidak pernah sekalipun aku berurusan langsung dengan ajudan presiden. Habis disuruh mengangkut koper, sekarang disuruh mengurus kursi. Sial betul.

“Improvisasi saja. Madam sudah biasa minta-minta hal seperti itu.”

“Ini pekerjaan apa, Kenzo? Kenapa akhirnya aku merangkap porter dan negosiator?”

Kenzo cuma berdecak di seberang telepon. “Tenang saja, Al. Pejabat-pejabat sudah kenal dekat dengan ayah Madam. Biasanya pasti dibantu. Kamu santai saja.”

Santai, katanya. Enak aja Kenzo ngomong setelah mengorbankan aku begini. 

Setelah iring-iringan kendaraan kerajaan tadi melaju pergi, membawa raja dingin dan istrinya, akhirnya mobil kami boleh bergerak. Jalan keluar dari terminal VIP tidak lagi terblokir.

Sementara aku kalut di kursi depan, membayangkan besok harus menyelundupkan Madam mendekati meja raja di acara gala dinner, Madam di belakang… mendengkur pulas alias ngorok. 

Astaga, betul-betul ujian kesabaran makhluk jejadian satu ini.

*** 

“Siapanya Bu Dewi, Mbak?”

Suara itu menyapaku beberapa jam kemudian di lobi hotel Royal Sofitel. Seorang laki-laki tinggi berkulit gelap dengan wajah manis berlesung pipi berdiri di depanku. Senyumnya sangat menawan, meski rambutnya cepak dan tubuhnya menjulang seperti prajurit.

“Saya?” Aku sempat terpana. “Staf Bu Dewi di kantor.”

“Baru, ya? Biasanya Bu Dewi sama Mas Kenzo, kan?” tanyanya, menyelidik tetapi tetap ramah.

Oh, laki-laki ini kenal dengan Kenzo, asisten asli Madam. Entah ia siapa, mungkin orang dekat pejabat atau staf penting lainnya.

“Saya Hadrian, panggil saja Ian,” katanya sambil tersenyum, membuat lesung pipinya semakin jelas. Ia menunjukkan ponselnya. “Saya dikabari, katanya Bu Dewi ingin minta tolong soal posisi duduk di gala dinner malam ini.”

Benar-benar cepat geraknya Madam. Aku bahkan baru mulai mencari tahu siapa ajudan Pak Presiden seperti saran Kenzo, Madam sudah bergerak entah lewat jalur mana sampai aku yang didatangi.

“Jadi Mas Ian ini ajudannya Pak Presiden?” tanyaku ragu.

Ian menggeleng, tertawa kecil. “Bukan.”

“Lalu siapa?”

Ia mengelak dengan manis. “Bawahan biasa saja.”

Sulit dipercaya. Pikiranku langsung mencatat bahwa laki-laki dengan badan se-atletis itu terlalu mencurigakan untuk sekadar “bawahan biasa”.

“Bu Dewi mau pindah ke meja kepala negara di gala dinner besok, ya?”

Aku mengangguk. “Pak Presiden pasti duduk di meja kepala negara, kan? Akses Bu Dewi hanya sebagai tamu biasa, jadi mejanya pasti jauh dari area utama. Mohon bantuannya, Mas.”

Ian berpikir sebentar. “Gampang. Pak Presiden pasti tidak keberatan kalau Bu Dewi jadi pendamping salah satu Menteri. Nanti saya mintakan akses VIP tambahan.”

Wajahku langsung cerah. Untung aku tidak asing dengan konsep pendamping di acara resmi. Sebagai mantan jurnalis yang dulu sering meliput pejabat, aku tahu di acara VIP jumlah tamu sangat dibatasi. Setiap pejabat penting hanya berhak membawa satu orang pendamping.

“Boleh minta nama dan nomor kamu?” Ian sekalian mengulurkan tangan, mengajak berkenalan.

Kami bersalaman.

“Alyssa,” kataku, berusaha terdengar tenang padahal jantungku sedang lari maraton.

“Besok ikut saya, ya,” ujarnya santai.

“Pergi dengan…?”

Tuhan, baru kali ini lima menit kenal dengan laki-laki tampan langsung diajak “jalan”.

“Dengan saya,” Ian mengulang sambil tersenyum. “Supaya kamu bisa duduk di meja khusus ajudan, dekat area VIP. Kalau-kalau Bu Dewi mencari kamu.”

“Oh, baik, baik.” Aku buru-buru mengangguk, malu karena sempat mengkhayal yang macam-macam.

Ponselku bergetar. Pesan singkat dari Madam masuk, singkat padat menyebalkan:

Siapkan bahan tentang Raja Grindlandia tadi. Jangan sampai saya duduk di sebelah dia tapi tidak tahu harus bicara apa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Dadakan Sang Raja   24. Nikahan of The Century

    Kami bertiga berdiri di koridor rumah sakit saat Mark menyampaikan laporan bahwa pelaku yang melukai Sasha adalah bagian korps elit pengamanan istana. Otak tersangka: Jenderal Russhel Laporan Mark mengusik sesuatu yang sejak awal sudah mengganjal di dadaku, rasa tidak aman yang bahkan tembok tebal Grindlandia tidak mampu redakan. Malam itu, ketika Ibu tertidur di kursi lipat di samping ranjang Sasha dan dokter menyatakan kondisi sahabatku mulai stabil, aku duduk sendiri di kursi kecil dekat jendela rumah sakit. Ian tadi baru saja keluar setelah memastikan obat-obatan bekerja dan tekanan darah Sasha membaik. Aku memandang kota Grindlandia yang temaram, lampu-lampu berkilau di kejauhan. Kepalaku penuh. Sasha datang ke negeri ini karena aku. Sasha dilukai karena seseorang yang ingin menyakiti calon ratu. Calon ratu itu AKU. Sekarang, bayangan bunga-bunga berlonceng ungupenuh racun itu menempel di pikiranku. Aku marah. Bukan saja pada Russhel dan orang-orangnya, bukan hanya pa

  • Istri Dadakan Sang Raja   23. Piknik Bikin Panik (2)

    Aku baru menyadari tangan gemetarku ketika pandanganku turun ke papan kecil di depan rumpun tanaman yang merubungi Sasha tadi. Papan itu miring, setengah tertutup tanah yang terciprat. Aku berjongkok hati-hati, menghindari cabang yang menjulur, lalu menyeka pelan permukaannya dengan ujung tisu.Bunga-bunga lonceng kecil berwarna keunguan bergoyang pelan di ujung batang. Cantik. Sangat cantik. Dan sangat tidak bersahabat. Tulisan di sana kubaca perlahan.Digitalis purpurea atau Foxglove Di bawahnya, dengan huruf lebih kecil ada keterangan lebih panjang. “Bunga indah berwarna ungu dan putih, seluruh bagian tanaman mengandung glikosida jantung. Dapat menyebabkan mual, muntah, pusing, gangguan irama jantung, dan reaksi alergi berat bila tertelan atau terkena luka terbuka. Penanganan medis segera diperlukan.” Aku menelan ludah. “Sas, kenapa jatuhnya ke sini…” gumamku. Ian yang berdiri di belakangku ikut mengamati. Rahangnya mengeras. “Foxglove,” gumamnya. “Cantik, tapi beracun, bis

  • Istri Dadakan Sang Raja   22. Piknik Bikin Panik

    “Alyssa,” panggil Domnick sebelum ia benar-benar pergi. “Maaf soal gaun. Aku marah pada keadaan, bukan pada kamu. Aku tidak seharusnya memaksa.”Aku hanya mengangguk, agak tersinggung karena tiba-tiba Domnick mengurungkan niatnya.“Baik," jawabku pendek.Ia menatapku, seakan ingin bicara lebih panjang, lalu memilih mundur.“Istirahatlah bersama keluargamu. Besok-besok, kita bicara lagi. Akan kuminta Olivia meluangkan waktu lebih banyak untuk kita."Aku menggeleng, menjawab tanpa melihat ke arahnya. "Tidak perlu."Besoknya, aku memutuskan sengaja mengambil jeda dari segala percakapan tentang gaun, gaya, protokol, dan pelajaran tetek bengek soal menjadi ratu baru. Begitu jadwal latihan pagi selesai dan Olivia pergi mengurus hal lain, aku mengumpulkan pasukan kecilku. “Ibu,” panggilku. “Sasha. Mas Dokter. Ayo kita pergi keluar.” Sasha muncul dengan wajah siap bersenang-senang. “Kita kabur?” tanyanya penuh harap. “Tidak sejauh itu,” jawabku. “Kita jalan-jalan dekat sini saja.”

  • Istri Dadakan Sang Raja   21. Busana Laknat

    Dua hari setelah pertemuan dengan Lady Anna, Olivia mengetuk pintu kamarku dengan wajah ceria.“Lady Alyssa, isi lemari barumu sudah tiba. Hari ini kita fitting,” katanya penuh semangat.Tanpa menunggu persetujuanku, Olivia dan rombongan dayangnya yang multifungsi menyerbu masuk ke kamar. Untung Ibu sedang di kamar mandi, jadi beliau tidak perlu melihat kericuhan proses mereka menelanjangiku sampai tinggal pakaian dalam.Katanya aku perlu mencoba semua ini untuk memastikan ukurannya sesuai kalau tidak harus di-fitting ulang atau dibuang. Mubazir banget!Dua lemari besar didorong masuk, pintunya dibuka, memperlihatkan deretan gaun menggantung rapi seperti koleksi museum mode. Ada yang terbungkus plastik tipis, ada yang diselubungi kain beludru berwarna-warni seolah menyimpan rahasia, ada juga yang masih terlipat dalam kotak-kotak mewah.“Dari siapa?” tanyaku, meski sudah bisa menebak.Olivia menunjuk kartu kec

  • Istri Dadakan Sang Raja   20. Ancaman Janda Edan

    Seharian aku mengikuti Domnick bekerja seharian di Esher Palace.Dari rapat energi dengan menteri-menteri, penandatanganan nota kesepahaman, hingga pertemuan kecil dengan perwakilan organisasi kemanusiaan, aku duduk di kursi yang disediakan di sudut ruangan. Sesekali Domnick menjelaskan singkat isi agenda, sekadar agar aku tidak merasa hanya menonton tanpa mengerti.“Aku ingin kamu melihat sendiri apa yang kulakukan,” katanya di jeda makan siang.Aku mengangguk. Meski lelah, ada bagian dari diriku yang lega melihat sisi kantoran dari Domnick. Bukan hanya urusan melambaikan tangan di podium dan berpose untuk kamera, tetapi juga mendiskusikan data, grafik, dan peraturan.Mengikuti Domnick seharian di Esher Palace ternyata memberi efek samping yang tidak kuduga. Kepercayaan diriku sebagai calon ratu pelan-pelan naik.Bukan karena ruangan-ruangan megah yang kulewati, atau karena duduk di kursi tamu istimewa. Justru karena orang-orang yang bekerja di balik meja dan sisi pintu mulai memperl

  • Istri Dadakan Sang Raja   19. Mendadak Seleb

    Acara pertunangan berjalan lumayan lancar, kalau lumayan itu artinya hampir pingsan, salah napas, dan kecupan kaku di depan pejabat. Begitu semua tamu bubar dan dekorasi pelan-pelan dibereskan, hidupku tidak kembali tenang. Setelah lamaran, Olivia menaikkan level kesibukanku dengan program khusus persiapan pernikahan. “Seminggu sekali kita akan gladi bersih,” jelasnya suatu pagi, sambil membacakan jadwal dari tablet. “Kita akan melakukan beberapa simulasi upacara pernikahan Yang Mulia dan Lady Alyssa di Norfolk. Mulai dari berjalan menuju aula, pengambilan sumpah, prosesi di balkon, sampai sesi menyapa rakyat.” Pagi itu sarapan bahkan belum dihidangkan, tetapi Olivia sudah seperti MC buka seminar. Aku cuma sempat membeo. "Norfolk? Norfolk itu apa?" Kini, semua kegiatanku dimulai begitu matahari terbit. Cuci muka, mandi, latihan fisik di ruang kebugaran, sarapan, kemudian perpustakaan, pelajaran privat, makan siang, pelajaran lagi sampai sore. Bedanya, setelah makan malam, D

  • Istri Dadakan Sang Raja   5. Hari Gedebak Gedebuk

    “Orang kami, dari Indonesia.”Ian menjawab dengan mantap. Ia melangkah mendekat ke arahku, setelan gelapnya kontras dengan wajahku yang pasti sudah sepucat mayat. Tangannya hinggap di bahuku, menenangkan.“Ia saksi. Kami ingin membawanya ke dalam perlindungan kami sebelum mendengar semua ceritanya.

  • Istri Dadakan Sang Raja   4. Nyawa Orang Ganteng

    Rupanya bukan hanya dari Madam, pesan singkat dari Kenzo juga masuk bertubi-tubi memenuhi ponselku.Chat Kenzo: Al, urusan tempat duduk gala dinner sudah beres, kan? Kamu siapkan bahan obrolan untuk Bu Dewi. Siapa saja yang duduk di mejanya. Siapa yang duduk di meja VVIP. Kalau banyak tamu dari neg

  • Istri Dadakan Sang Raja   2. Pengen Cepet Nikah

    Madam yang paling ditakuti di kantorku sebelum hidupku mendadak berbelok jadi calon ratu adalah Dewi Fortuna Wongso, direktur utama sekaligus putri bungsu kerajaan media Wongso Group. Di keluarga Wongso ada aturan tidak tertulis: semua anak harus mengelola satu perusahaan. Maka, orang s

  • Istri Dadakan Sang Raja   1. Calon Ratu, Enggak Terima Refund

    “Miss Khairan Alyssa, kamu harus menikah denganku. Hanya ini caranya aku bisa memberimu perlindungan penuh yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Tidak oleh musuhku, tidak juga oleh negaramu.”Kesadaranku belum terkumpul sepenuhnya saat mendengar kalimat panjang yang membingungkan itu. Sepert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status