Masuk
“Miss Khairan Alyssa, kamu harus menikah denganku. Hanya ini caranya aku bisa memberimu perlindungan penuh yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Tidak oleh musuhku, tidak juga oleh negaramu.”
Kesadaranku belum terkumpul sepenuhnya saat mendengar kalimat panjang yang membingungkan itu. Seperti bukan kalimat yang seharusnya ditujukan untukku. Tapi percayalah, aku sangat yakin kalau tadi dia menyebut Khairan Alyssa. Memangnya ada berapa Khairan Alyssa di dunia ini? Di ruangan ini? Tunggu. Ruangan apa ini?
Mataku sontak terbuka lebar, dan pandanganku menjadi sangat fokus. Aku langsung melihat ke segala arah. Ke tubuhku, ke ruangan asing itu, tiang infus, juga pria berhidung mancung di hadapanku.
Kalau tidak geger otak, berarti ingatanku masih utuh. Laki-laki ini adalah Domnick. Domnick si Raja Kerajaan Grindlandia. Domnick Raja Grindlandia yang kaya raya tampan berkuasa dengan istri cantik jelita serba sempurna.
“Maaf, tadi kau bilang apa?” pintaku memastikan.
“Jadilah ratuku, Alyssa,” jawab Domnick dengan serius. Terlihat dari mimiknya.
Oke. Mungkin aku belum seutuhnya sadar. Raja beristri ini minta aku menikahinya? Sekarang? Kenapa? Kok bisa? Buat apa?
Kucoba memejamkan mata sekali lagi, sambil menarik nafas sebanyak mungkin. Menambah jumlah oksigen yang masuk ke otakku, agar aku bisa mengingat semua kejadian yang membuatku tiba-tiba dilamar raja ini.
****
“Sas, tolong buatkan undangan nikah sekarang! Sekarang! Aku tungguin, kamu desainer kan?”
Sasha melotot, matanya membulat keluar bagai ikan mas koki. Entah apa yang membuatnya bereaksi seperti itu. Kalimatku barusan kah, atau bentukanku yang menghampirinya rangan rambut acak-acakan?
"Siapa yang nikah?" Sasha memastikan. Pertanyaan yang sangat wajar karena Sasha sudah hapal sejarah percintaanku yang nggak ada bagus-bagusnya.
"Aku lah!" teriakku.
"HAH?"
“Sekarang juga, pokoknnya aku tungguin,” kataku cepat, sambil terus mengacak-acak rambut sendiri, rasanya ingin lenyap jadi arwah gentayangan saja daripada tetap jadi pegawai kantor ini.
Lima menit sebelumnya, aku baru saja keluar dari ruangan Direktur kami yang biasa kami panggil singkat ‘Madam’. Sesaat setelah keluar, aku mantap memutuskan dua hal. Satu, aku butuh cuti, dua, aku harus menikah! Pokoknya nikah!
“Kamu mau nikah sama siapa, Alyssa?” Sasha menyipitkan mata, mode menyelidik aktif.
Sehari-hari Sasha bekerja sebagai layouter merangkap desainer di kantor berita lifestyle perempuan ini. Pekerjaan sampingan Sasha adalah jadi tempat curhat semua kengenesanku.
Aku, Khairan Alyssa, wartawan muda yang dulunya meliput bencana alam dan konflik, setelah tersapu gelombang PHK sekarang terjebak menulis tips diet dan horoskop percintaan di kantor berita asal-asalan ini.
“Sama siapa saja terserah, yang penting Madam melepaskan aku dari penugasan berangkat ke Manila minggu depan. Aku mau pakai alasan nikah sebagai alasan nggak berangkat.”
“Al, kamu mau nikah minggu depan, padahal calon suaminya aja belum ada?” Sasha mengelus dada. “Dikira cari suami gampang, tinggal disendok dari toples.”
“Udah, buatin aja, Sas. Tulis nama mantan terakhir aku sebagai mempelai. Cetak sekarang, undangannya mau aku bawa ke Madam supaya dia batal ngajak aku ke Manila.”
Sasha tertawa miris sampai kursinya ikut berputar. “Bukannya mantan kamu baru kemarin kamu putusin? Cowok psikopat begitu masih mau kamu nikahi lagi?”
“Sst, jangan keras-keras. Sekantor belum ada yang tahu aku kembali jomblo!”
Sengaja aku merahasiakan drama terakhir itu karena malu. Dua tahun berpacaran, ujung-ujungnya bubar jalan gara-gara dia punya utang pinjol di mana-mana. Saat gagal bayar, rentenir menelepon ke mana-mana, termasuk ke ponselku dan grup keluarga besar. Cinta kami kandas bahkan sebelum sempat sampai ke acara lamaran.
“Oke, oke, Ibu Khairan Alyssa.”
Sasha memutar kursi ke arah layar, jarinya mengetik cepat. Sejumlah template undangan pernikahan serba pastel muncul. Ia cekikikan sendiri.
“Aku nggak nyangka bisa begini, wartawan serius macam Khairan Alyssa bikin undangan nikah palsu demi kabur dari Madam.”
“Ini darurat siaga satu, tahu!” Aku menubruk mejanya. “Tadi malam aku ditelepon, pagi ini dipanggil Madam. Madam serius minta mau aku menemani di liputan ke Manila. Sehari semalam jadi pengasuh dia saja nyawaku belum tentu cukup. Ini seminggu, Sas. Seminggu!”
“Ya sudah, kamu jujur saja bilang tidak bisa ikut.”
Aku mendengkus panjang.
“Kamu karyawan baru di kantor kita, ya? Kamu lupa cuti kerja di sini cuma disetujui kalau dipakai untuk tiga urusan. Menikah, melahirkan, atau meninggal. Aku bisa dipecat di tempat kalau menolak penugasan Madam hanya demi menjaga kewarasan.”
Sasha terkekeh, tapi matanya penuh rasa iba. “Jadi karena itu kamu berniat nikah bohongan buat kabur dari kerjaan?”
“Betul sekali.” Aku menyeringai. “Menurut kamu bagaimana?”
“Menurutku, sirkuit otak kamu terlalu keriting untuk ukuran sarjana,” balas Sasha santai.
Saat itu, aku pikir kekonyolan terbesar dalam hidupku adalah meminta dibuatkan undangan nikah palsu supaya bisa kabur dari liputan bareng atasan.
Ternyata aku salah.
Ternyata semesta punya selera bercanda yang mirip sekali dengan Madam... kebangetan!
Kami bertiga berdiri di koridor rumah sakit saat Mark menyampaikan laporan bahwa pelaku yang melukai Sasha adalah bagian korps elit pengamanan istana. Otak tersangka: Jenderal Russhel Laporan Mark mengusik sesuatu yang sejak awal sudah mengganjal di dadaku, rasa tidak aman yang bahkan tembok tebal Grindlandia tidak mampu redakan. Malam itu, ketika Ibu tertidur di kursi lipat di samping ranjang Sasha dan dokter menyatakan kondisi sahabatku mulai stabil, aku duduk sendiri di kursi kecil dekat jendela rumah sakit. Ian tadi baru saja keluar setelah memastikan obat-obatan bekerja dan tekanan darah Sasha membaik. Aku memandang kota Grindlandia yang temaram, lampu-lampu berkilau di kejauhan. Kepalaku penuh. Sasha datang ke negeri ini karena aku. Sasha dilukai karena seseorang yang ingin menyakiti calon ratu. Calon ratu itu AKU. Sekarang, bayangan bunga-bunga berlonceng ungupenuh racun itu menempel di pikiranku. Aku marah. Bukan saja pada Russhel dan orang-orangnya, bukan hanya pa
Aku baru menyadari tangan gemetarku ketika pandanganku turun ke papan kecil di depan rumpun tanaman yang merubungi Sasha tadi. Papan itu miring, setengah tertutup tanah yang terciprat. Aku berjongkok hati-hati, menghindari cabang yang menjulur, lalu menyeka pelan permukaannya dengan ujung tisu.Bunga-bunga lonceng kecil berwarna keunguan bergoyang pelan di ujung batang. Cantik. Sangat cantik. Dan sangat tidak bersahabat. Tulisan di sana kubaca perlahan.Digitalis purpurea atau Foxglove Di bawahnya, dengan huruf lebih kecil ada keterangan lebih panjang. “Bunga indah berwarna ungu dan putih, seluruh bagian tanaman mengandung glikosida jantung. Dapat menyebabkan mual, muntah, pusing, gangguan irama jantung, dan reaksi alergi berat bila tertelan atau terkena luka terbuka. Penanganan medis segera diperlukan.” Aku menelan ludah. “Sas, kenapa jatuhnya ke sini…” gumamku. Ian yang berdiri di belakangku ikut mengamati. Rahangnya mengeras. “Foxglove,” gumamnya. “Cantik, tapi beracun, bis
“Alyssa,” panggil Domnick sebelum ia benar-benar pergi. “Maaf soal gaun. Aku marah pada keadaan, bukan pada kamu. Aku tidak seharusnya memaksa.”Aku hanya mengangguk, agak tersinggung karena tiba-tiba Domnick mengurungkan niatnya.“Baik," jawabku pendek.Ia menatapku, seakan ingin bicara lebih panjang, lalu memilih mundur.“Istirahatlah bersama keluargamu. Besok-besok, kita bicara lagi. Akan kuminta Olivia meluangkan waktu lebih banyak untuk kita."Aku menggeleng, menjawab tanpa melihat ke arahnya. "Tidak perlu."Besoknya, aku memutuskan sengaja mengambil jeda dari segala percakapan tentang gaun, gaya, protokol, dan pelajaran tetek bengek soal menjadi ratu baru. Begitu jadwal latihan pagi selesai dan Olivia pergi mengurus hal lain, aku mengumpulkan pasukan kecilku. “Ibu,” panggilku. “Sasha. Mas Dokter. Ayo kita pergi keluar.” Sasha muncul dengan wajah siap bersenang-senang. “Kita kabur?” tanyanya penuh harap. “Tidak sejauh itu,” jawabku. “Kita jalan-jalan dekat sini saja.”
Dua hari setelah pertemuan dengan Lady Anna, Olivia mengetuk pintu kamarku dengan wajah ceria.“Lady Alyssa, isi lemari barumu sudah tiba. Hari ini kita fitting,” katanya penuh semangat.Tanpa menunggu persetujuanku, Olivia dan rombongan dayangnya yang multifungsi menyerbu masuk ke kamar. Untung Ibu sedang di kamar mandi, jadi beliau tidak perlu melihat kericuhan proses mereka menelanjangiku sampai tinggal pakaian dalam.Katanya aku perlu mencoba semua ini untuk memastikan ukurannya sesuai kalau tidak harus di-fitting ulang atau dibuang. Mubazir banget!Dua lemari besar didorong masuk, pintunya dibuka, memperlihatkan deretan gaun menggantung rapi seperti koleksi museum mode. Ada yang terbungkus plastik tipis, ada yang diselubungi kain beludru berwarna-warni seolah menyimpan rahasia, ada juga yang masih terlipat dalam kotak-kotak mewah.“Dari siapa?” tanyaku, meski sudah bisa menebak.Olivia menunjuk kartu kec
Seharian aku mengikuti Domnick bekerja seharian di Esher Palace.Dari rapat energi dengan menteri-menteri, penandatanganan nota kesepahaman, hingga pertemuan kecil dengan perwakilan organisasi kemanusiaan, aku duduk di kursi yang disediakan di sudut ruangan. Sesekali Domnick menjelaskan singkat isi agenda, sekadar agar aku tidak merasa hanya menonton tanpa mengerti.“Aku ingin kamu melihat sendiri apa yang kulakukan,” katanya di jeda makan siang.Aku mengangguk. Meski lelah, ada bagian dari diriku yang lega melihat sisi kantoran dari Domnick. Bukan hanya urusan melambaikan tangan di podium dan berpose untuk kamera, tetapi juga mendiskusikan data, grafik, dan peraturan.Mengikuti Domnick seharian di Esher Palace ternyata memberi efek samping yang tidak kuduga. Kepercayaan diriku sebagai calon ratu pelan-pelan naik.Bukan karena ruangan-ruangan megah yang kulewati, atau karena duduk di kursi tamu istimewa. Justru karena orang-orang yang bekerja di balik meja dan sisi pintu mulai memperl
Acara pertunangan berjalan lumayan lancar, kalau lumayan itu artinya hampir pingsan, salah napas, dan kecupan kaku di depan pejabat. Begitu semua tamu bubar dan dekorasi pelan-pelan dibereskan, hidupku tidak kembali tenang. Setelah lamaran, Olivia menaikkan level kesibukanku dengan program khusus persiapan pernikahan. “Seminggu sekali kita akan gladi bersih,” jelasnya suatu pagi, sambil membacakan jadwal dari tablet. “Kita akan melakukan beberapa simulasi upacara pernikahan Yang Mulia dan Lady Alyssa di Norfolk. Mulai dari berjalan menuju aula, pengambilan sumpah, prosesi di balkon, sampai sesi menyapa rakyat.” Pagi itu sarapan bahkan belum dihidangkan, tetapi Olivia sudah seperti MC buka seminar. Aku cuma sempat membeo. "Norfolk? Norfolk itu apa?" Kini, semua kegiatanku dimulai begitu matahari terbit. Cuci muka, mandi, latihan fisik di ruang kebugaran, sarapan, kemudian perpustakaan, pelajaran privat, makan siang, pelajaran lagi sampai sore. Bedanya, setelah makan malam, D
“Miss Khairan Alyssa, maukah kamu menikah denganku supaya aku bisa melindungimu?”Ternyata itu kalimat lengkapnya. Menyebalkan sekali.Begitu aku benar-benar siuman di rumah sakit, Domnick sudah ada di sisi ranjang. Wajahnya terlihat sangat khawatir.Domnick bercerita bahwa sopir mobil yang kutumpa
Aku terkaget-kaget sendiri ketika omongan Ian malam itu jadi kenyataan.Tiket pulang ke Indonesia yang sudah susah payah disiapkan pihak kedutaan berakhir dibatalkan begitu saja. Bukan karena masalah teknis, tapi karena kelakuan makhluk jejadian bernama Madam.“Besok aja pulangnya, saya belum packi
“Orang kami, dari Indonesia.”Ian menjawab dengan mantap. Ia melangkah mendekat ke arahku, setelan gelapnya kontras dengan wajahku yang pasti sudah sepucat mayat. Tangannya hinggap di bahuku, menenangkan.“Ia saksi. Kami ingin membawanya ke dalam perlindungan kami sebelum mendengar semua ceritanya.
Madam yang paling ditakuti di kantorku sebelum hidupku mendadak berbelok jadi calon ratu adalah Dewi Fortuna Wongso, direktur utama sekaligus putri bungsu kerajaan media Wongso Group. Di keluarga Wongso ada aturan tidak tertulis: semua anak harus mengelola satu perusahaan. Maka, orang s







