Home / Romansa / Istri Galak Sang Presdir / Bab 11. Malam di Rumah Felicia.

Share

Bab 11. Malam di Rumah Felicia.

Author: Laut
last update publish date: 2026-08-22 17:59:01

“Fel! Hoe! Tunggu aku! Hah! Hah!” Napas Barney ngos-ngosan.

Kakinya terasa pegal ketika berusaha mengikuti Felicia yang masuk gang berkelok dan naik tangga.

“Aduh! Tinggi sekali tempat tinggalmu!” omel Barney sambil membungkuk dan memegang kedua lututnya.

Dia mendongakkan kepala menatap Felicia yang semakin jauh.

“Waduh, kalau aku nggak cepetan, aku nggak akan tahu rumahnya yang mana,” katanya lagi.

Barney menepis rasa lelahnya dan berlari lagi menaiki tangga- tangga kecil yang tersusun rap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 144. Tempat yang Terdeteksi

    Atmosfer dalam ruangan terasa menyesakkan. Tanpa membuang waktu untuk meminta pendapat, Mr. Ferdinand langsung menghubungi nomor seseorang."Ini saya, Ferdinand," ucapnya tanpa basa-basi begitu telepon tersambung. "Cucu saya diculik. Saya baru saja menghubungi pelaku menggunakan nomor asing. Tolong kunci lokasi nomor itu!” Felicia yang baru saja keluar dari kamar membelalak mata ketika mendengar percakapan Kakek Barney. ‘Tolong kunci lokasi nomor itu? Siapa yang dihubunginya?’Percakapan masih berlangsung. Wajah Mr. Ferdinand tampak serius sekali.Seseorang menjawab dan memberi arahan, Mr. Ferdinand menganggukkan kepala. Dan panggilan pun berakhir. Mr. Ferdinand menengok ke arah Felicia. “Fel, hubungi lagi perempuan gila itu. Ajak bicara selama mungkin. Seseorang butuh koordinatnya,” katanya serius.Felicia tersentak. "Tapi Kek, dia akan menyakiti Sue jika kita lapor atau mencoba melacaknya.""Dia tidak akan tahu kita sedang melacaknya," potong Mr. Ferdinand tegas. Felicia mena

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 143. Kebimbangan Felicia

    Di sebuah ruang apartemen mahal, Angelina duduk dengan pongah. Sisa tawa kemenangan masih terdengar samar.Pikirannya melayang kembali pada siang itu. Dia merasa dewi keberuntungan sedang berpihak padanya. Saat tubuhnya bergetar menahan ketegangan, dengan entengnya Sue memberi jalan untuknya. Gadis kecil itu menatapnya bimbang. Antara ragu dan senang.“Kalau Sue kelamaan, pasti Papa Barney dan Mama akan khawatir,” kata Sue pelan.“Iya, mereka pasti sudah tunggu Sue,” sahut Angelina menegaskan.Sue mengangguk dan menyambut uluran tangan Angelina. Telapak tangan kecil yang hangat itu terasa kontras dengan tangan Angelina yang dingin dan gemetar karena tegang. ‘Tenangkan hatimu Angelina, mangsa udah di tangan. Cepat! Cepat!’ katanya dalam hati.Angelina menuntun Sue dengan langkah cepat namun diatur agar terlihat santai menuju sebuah mobil sedan hitam sewaan yang terparkir agak jauh dari area jemputan utama.Begitu pintu mobil dibuka, Sue langsung masuk ke kursi belakang dengan riang.

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 142. Ancaman Angelina

    Di ruang tengah Mansion Ferdinand, atmosfer yang tadinya hangat mendadak berubah mencekam. Morenzo berdiri di ambang pintu dengan tubuh gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, dan napasnya tersengal-sengal seperti orang yang kehabisan oksigen."Maaf Tuan Barney, Nyonya Felicia,” suara Morenzo bergetar, air mata penyesalan mulai mengalir di pipinya yang keriput. "Non Sue tiba-tiba tidak ada di sekolah. Saya lengah sebentar ketika sebuah mobil mundur hampir menabrak, dan saat saya berbalik, Non Sue sudah hilang.""Apa kamu bilang?" Barney langsung bangkit dari sofa, langkahnya lebar menghampiri Morenzo. Cengkeraman tangannya di bahu sopir tua itu mengeras. "Jangan bercanda, Morenzo! Sue selalu keluar bersama gurunya!"“Iya, Tuan, Non Sue keluar bersama gurunya, lalu menunggu saya. Mobil yang mundur menghalangi saya. Tapi begitu saya keluar, Non Sue sudah tak ada di sana,” kata Morenzo.Di sudut ruangan, Ibu Seira yang sedang memegang cangkir teh mendadak melepaskan pegangannya. Cangkir p

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 141. Jejak yang Hilang di Gerbang Sekolah.

    Dua bulan telah berlalu sejak adu debat Kitty and Jack di ruang pertemuan.Jalan tengah yang mereka sepakati waktu itu ternyata adalah suatu keputusan paling genius. Strategi mereka meraih sukses besar.Kampanye digital raksasa itu viral di mana-mana, mencetak rekor penjualan tertinggi bagi klien mereka.Di atas panggung perayaan, di hadapan ratusan pasang mata staf dan media, Barney bahkan tak segan merangkul Felicia."Kegalakanmu di ruang pertemuan waktu itu benar-benar menyelamatkan proyek ini, Sayang,” bisiknya di telinga Felicia. Wanita itu hanya tersenyum tipis, menyikut pelan pinggang suaminya sambil bergumam, "Kalau aku nggak tarik urat leher, kau nggak akan percaya." *********“Hem! Kamu boleh tertawa sekarang, lihat aja nanti, apa kamu masih bisa melakukannya!” Angelina mengepalkan tangan kuat-kuat.Dia mengangkat gelas kristal yang ada di tangan dan menyesap pelan wine yang ada di dalamnya. Kepalanya berpikir keras, memutar otak, mencari cara yang tepat.“Menyu

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 140. Nostalgia di Ruang Pertemuan.

    Setelah menghabiskan masa bulan madu, Felicia dan Barney mulai aktif kembali dengan pekerjaannya.“Gimana? Apa kamu udah siap bekerja lagi, Sayang?” tanya Barney setelah sarapan.Felicia tersenyum. “Pasti. Apalagi kali ini adalah kerjasama pertama kita.”Mereka berangkat bersama. Memasuki area perusahaan dengan langkah mantap diikuti tatapan para karyawan lainnya.“Ssst! Akhirnya Felicia ke sini lagi,” bisik salah satu karyawan.“Iya mereka bekerja sama. Emang hebat Felicia, dia pantas mendapatkan pasangan seperti Mr. Barney,” jawab rekannya.Barney, Felicia dan orang-orang yang bersangkutan berkumpul di ruang pertemuan.Namun pagi itu, suhu udara di sana mendadak turun hingga beberapa derajat.Di ujung meja oval, Felicia berdiri tegak dengan pembawaan dingin yang sangat familier bagi orang-orang lama di kantor itu.Rambut pendeknya disibak kasar dan tatapan matanya tajam menghunus lurus ke arah ujung meja satunya, tempat Barney duduk sambil melipat tangan di dada dengan rahang menger

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 139. Langkah Awal di Rumah Baru.

    "Harusnya itu aku!" desis Angelina, suaranya parau dan bergetar hebat. Jemarinya mencengkeram tepi meja rias hingga kuku-kukunya memutih. "Kursi itu, gaun itu, senyuman Barney, semuanya harusnya milikku!"Cahaya biru dari layar televisi berukuran besar memantul di bola mata Angelina yang merah. Siaran berita hiburan nasional masih menayangkan potongan gambar kemegahan pesta di gedung pertemuan Eleor. Di dalam kamar yang gelap itu, napasnya memburu. Felicia tersenyum anggun dalam balutan gaun putih tulang, digandeng erat oleh Barney Ferdinand yang gagah dengan setelan tuksedo hitam.Di kepala Angelina, bayangan itu terus berputar bagaikan kaset rusak yang sangat menyiksa.“Brengsek! Dasar brengsek!” teriaknya.Dengan sekali sentakan emosi yang meledak, Angelina meraih botol parfum kaca di dekatnya dan melemparnya tepat ke arah wajah Felicia di layar televisi. Prang! Botol itu pecah berkeping-keping, meninggalkan goresan dalam pada layar, namun gambar kebahagiaan sepasang kekasih i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status