Home / Romansa / Istri Gelap Sang CEO Dingin / Wanita Yang Tak Boleh Ada

Share

Wanita Yang Tak Boleh Ada

Author: Reju
last update Last Updated: 2025-10-14 17:15:58

Malam menelan kota seperti selimut sutra hitam yang dingin. Lampu-lampu di bawah berkedip samar di antara tirai hujan, sementara mobil hitam panjang berhenti di depan bangunan kaca menjulang di distrik bisnis paling elit.

Bagi sebagian orang, penthouse di puncak gedung itu adalah simbol kekuasaan.Bagi Alaire Davina, tempat itu adalah penjara yang dibungkus kemewahan.

Sopir membuka pintu dan menunduk.

“Silakan masuk, Nyonya.”

Kata itu membuat bahunya menegang. Nyonya. Sebutan yang seharusnya membuat seseorang bahagia, kini terdengar seperti ejekan. Ia turun perlahan; sepatu hak rendahnya beradu dengan marmer basah, memantulkan gema yang terasa menelan dirinya sendiri.

Lift naik tanpa suara.

Ketika pintu terbuka di lantai teratas, aroma sandalwood menyambutnya lembut tapi menyesakkan. Ruangan itu begitu luas, nyaris tanpa sekat, dengan dinding kaca menjulang memperlihatkan kota di bawah hujan. Segalanya tampak sempurna: furnitur hitam, lampu kekuningan, dan kesunyian yang nyaris kejam.

Dan di dekat jendela, berdiri Nayel Arvanden.

Tanpa menoleh, pria itu berkata datar, “Mulai malam ini, tempat ini milikmu juga. Tapi hanya di atas kertas.”

Nada suaranya tenang, tapi setiap katanya seperti pisau tumpul yang mengiris perlahan.

Alaire menatap punggung tegap itu lama. “Tempat yang terlalu besar untuk satu orang,” katanya akhirnya.

“Justru karena itu aku membangunnya,” jawab Nayel, suaranya datar, nyaris tanpa napas. “Aku tidak suka berbagi ruang dengan siapa pun.”

Keheningan menggantung. Hanya hujan yang berbicara di antara mereka.

Nayel menoleh sedikit. “Semua kebutuhanmu sudah diatur. Ada kamar pribadi, perpustakaan, dan dapur kecil. Kau bisa melakukan apa pun yang kau mau, asalkan tidak meninggalkan gedung ini tanpa izinku.”

Alaire mengangkat dagu pelan. “Dan kalau aku tetap melakukannya?”

Tatapan Nayel menajam. “Maka seseorang di luar sana akan membayar akibatnya.”

Alaire terdiam. Tidak perlu disebut nama, ia tahu maksudnya: ayahnya.

“Dan satu hal lagi,” lanjut Nayel, langkahnya mendekat beberapa langkah hingga jarak mereka hanya satu bayangan lampu. “Jangan pernah membuka ruangan di ujung koridor barat.”

Kening Alaire berkerut. “Ruangan itu?”

“Tidak penting.” Ia menatap lurus ke arahnya, sorot matanya kelabu seperti logam dingin. “Anggap saja itu tidak ada.”

Lalu pria itu berjalan melewatinya, aroma aftershave dan kekuasaan samar menempel di udara. Pintu ruang kerjanya tertutup perlahan, menyisakan Alaire sendirian dalam keheningan yang nyaris menjerat napas.

Hari-hari berikutnya berlalu dalam sunyi.

Nayel jarang pulang. Kadang ia datang larut malam, dengan jas basah hujan dan mata letih yang tidak pernah menatapnya lama.

Saat tiba, ia hanya berkata singkat, “Tidurlah,” lalu menghilang di ruang kerja yang selalu tertutup.

Alaire mencoba bertahan. Ia membaca buku, menulis catatan kecil, memasak untuk dirinya sendiri — meski tak pernah lapar. Tapi setiap langkah di penthouse terasa seperti diawasi. Ia mulai hafal ritme lampu, suara pintu otomatis, dan dengung halus sistem keamanan di langit-langit.

Namun satu hal tetap mengganggunya: lorong barat.

Lorong yang dilarang.

Lorong yang selalu tampak lebih gelap daripada bagian lain rumah ini.

Kadang, di tengah malam, ia mendengar langkah pelan dari arah sana seperti seseorang berjalan dengan sepatu kulit di lantai marmer. Tapi ketika ia keluar untuk memastikan, lorong itu selalu kosong.

Dan malam itu, badai datang lebih besar dari biasanya.

Kilatan petir membuat langit pecah. Listrik di lantai atas padam beberapa detik, membuat seluruh ruangan tenggelam dalam kegelapan pekat.

Dalam gelap, Alaire menyalakan senter ponselnya.

Untuk alasan yang tak bisa ia jelaskan, langkahnya bergerak ke arah lorong barat ke arah yang seharusnya tidak ia tuju. Setiap langkah membuat dadanya berdebar keras. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang memanggilnya tanpa suara.

Lorong itu dingin. Lampu-lampu di langit-langit berkelap redup, cat dindingnya sedikit lebih tua. Di ujungnya, berdiri sebuah pintu besi hitam dengan panel digital di samping gagangnya.

Alaire menatap layar kecil yang menampilkan simbol pengunci. Jari-jarinya terangkat pelan, nyaris menyentuhnya.

Tapi sebelum ia sempat mundur, sebuah suara berat terdengar di belakang.

“Kau tidak seharusnya di sini.”

Alaire menoleh cepat.

Nayel berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya setengah tertutup bayangan. Tidak ada amarah di matanya hanya ketenangan yang membuat darahnya membeku.

“A-aku hanya ingin melihat…,” gumam Alaire, langkahnya mundur sedikit.

“Melihat apa?” suaranya turun satu oktaf. “Hal-hal yang bukan urusanmu?”

“Aku tidak tahu kenapa kau menyembunyikan ruangan ini. Aku hanya—”

“Cukup.”

Satu kata, tapi nadanya tajam. Nayel melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya sehelai napas. “Tidak semua hal layak untuk kau ketahui, Alaire.”

“Apakah itu… tentang aku?”

Suaranya kecil tapi berani, dan untuk sesaat, waktu seolah berhenti.

Nayel menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya keraguan, atau mungkin luka.

Lalu ekspresinya melunak, suaranya turun jadi hampir berbisik. “Tidurlah. Dan jangan pernah ulangi ini lagi.”

Ia berbalik, menekan beberapa angka di panel. Pintu besi terbuka perlahan, dan dalam sekejap cahaya dari dalam ruangan menyelinap keluar.

Cukup lama untuk Alaire melihat dinding penuh foto hitam putih.

Dan di antara puluhan wajah yang tak dikenal, ia melihat satu yang membuat jantungnya berhenti berdetak.

Ayahnya.

Sebelum sempat bicara, pintu itu sudah menutup kembali dengan suara denting besi berat.

Alaire menatap kosong, tubuhnya kaku di tempat. Hanya napasnya yang tersisa.

Nayel menatapnya sebentar, matanya kini bukan dingin tapi ada sesuatu yang aneh di sana.

Takut.

Bukan pada dirinya, tapi pada sesuatu yang ia sembunyikan.

“Lupakan apa yang kau lihat,” katanya pelan, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Alaire berdiri sendirian di lorong gelap itu. Lampu kembali menyala perlahan, tapi hawa dingin masih menggigit kulitnya.

Ia menatap pintu hitam itu lama, lalu berbisik pada dirinya sendiri,

“Siapa sebenarnya pria itu… dan kenapa aku ada di sini?”

Petir menyambar lagi, membuat kaca bergetar.

Di luar, hujan menutupi seluruh kota.

Dan di dalam hatinya, badai baru saja dimulai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Gelap Sang CEO Dingin   Ruang Yang Menyempit

    Malam itu hujan turun pelan, bukan yang deras sampai memaksa orang menutup jendela, tapi yang cukup untuk membuat suasana terasa lebih sunyi dan hangat. Alaire berdiri di dapur, menunggu air mendidih untuk teh jahe. Rambutnya masih agak basah habis mencuci piring, menyisakan aroma sabun lembut yang samar memenuhi udara.Nayel muncul dari ruang tamu, membawa handuk kecil.“Kamu lupa keringin rambut,” ujarnya sambil menghampiri, nada suaranya terlalu biasa—tapi tatapannya tidak. Ada perhatian kecil yang tidak berani ia akui, bahkan kepada dirinya sendiri.Alaire hanya mendengus pelan. “Lagi males. Lagian bentar lagi juga kering sendiri.”Nayel berhenti tepat di belakangnya, begitu dekat sampai Alaire bisa merasakan kehangatan tubuhnya. “Nanti masuk angin.”Alaire memutar mata. “Kamu kayak bapak-bapak aja.”“Kalau itu bikin kamu nurut, boleh.”Ia mengangkat handuk dan mulai mengeringkan rambut Alaire pelan.Gerakannya hati-hati. Tidak tergesa. Tidak juga ragu. Ada sesuatu yang berubah da

  • Istri Gelap Sang CEO Dingin   Luka Lama Yang Bicara

    Senja turun perlahan, mewarnai langit desa dengan warna oranye kemerahan. Bayangan pepohonan memanjang, dan udara sore membawa aroma asin dari arah laut. Alaire menutup jendela ruang kelas setelah anak-anak pulang, lalu menghela napas lembut. Hari itu melelahkan, tapi menyenangkan.Ketika ia hendak pulang, ia melihat seseorang bersandar pada pagar sekolah.Galen.Dia tidak membawa barang apa pun. Tidak ada roti, tidak ada buku, tidak ada alasan yang bisa dipakai sebagai dalih. Hanya dirinya—dengan raut wajah yang lebih tenang dari biasanya, tapi matanya… menyimpan sesuatu.Sesuatu yang berat.“Kamu nungguin aku?” tanya Alaire, mendekat.Galen mengangguk kecil. “Boleh jalan bareng?”“Tentu.”Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju desa. Langit makin gelap, suara jangkrik mulai terdengar. Untuk beberapa menit, tidak ada yang bicara—hening yang aneh tapi tidak menegangkan. Hening yang terasa seperti jeda sebelum seseorang mengatakan sesuatu yang penting.Alaire melirik sesekali. G

  • Istri Gelap Sang CEO Dingin   Hampir

    Pagi itu, embun masih melekat di daun flamboyan, membentuk titik-titik bening yang memantulkan sinar matahari. Udara dingin tapi segar, dan aroma tanah setelah hujan malam sebelumnya masih terasa pekat. Alaire berdiri di halaman, memeriksa pot-pot bunganya, memastikan akar muda flamboyan tidak tergenang air.Ia mengenakan sweater rajut tipis warna krem, rambutnya sedikit berantakan karena baru bangun. Ada rasa tenang yang mengalir di dalam dirinya—sejenis kenyamanan yang jarang ia rasakan beberapa tahun terakhir. Ia tidak menyadari bahwa pagi itu akan membawa sesuatu yang berbeda.Suara langkah mendekat membuatnya menoleh.Galen muncul di pagar, membawa bungkusan roti hangat. “Pagi,” sapanya sambil tersenyum canggung, seolah ia sendiri tidak yakin kenapa bisa berada di sana sepagi itu.Alaire mendekat. “Pagi. Kamu… bangun pagi banget.”“Bengkel lagi sepi. Dan aku lewat sini.”“Kamu selalu ‘lewat sini’, ya?”“…mungkin.”Jawaban terakhir disampaikan dengan nada rendah namun jujur, membu

  • Istri Gelap Sang CEO Dingin   Dekat

    Hujan turun tipis malam itu, seperti kabut yang merayap turun dari pucuk pohon. Rumput di halaman rumah Alaire mengilap, memantulkan cahaya lampu teras yang kekuningan. Suasana itu menenangkan, namun juga membuat hati mudah membuka diri—dan mungkin itu sebabnya Galen masih ada di sana, duduk di tangga teras bersama Alaire meski waktu sudah melewati pukul sepuluh malam.Alaire menatap cangkir teh hangat di tangannya. “Kamu yakin nggak mau pulang? Jalan ke rumah kamu gelap.”Galen terkekeh pelan. “Aku udah biasa jalan gelap-gelapan. Lagi pula…,” ia menatap langit yang mulai berkabut lagi, “sepertinya hujan mau turun lebih deras.”Alaire mengangguk, yakin alasan itu hanya separuh yang benar. Galen jarang pulang cepat akhir-akhir ini, entah karena pekerjaannya di bengkel meningkat atau karena dia mulai terbiasa singgah ke rumah Alaire. Kadang ia membawa roti, kadang hanya cerita receh, kadang hanya diam menemani.Dan entah sejak kapan, Alaire merasa keberadaannya bukan lagi hal yang cangg

  • Istri Gelap Sang CEO Dingin   Kebiasaan Yang Menyatukan

    Pagi itu, udara desa masih dingin dan lembut, seperti sedang mencoba memeluk siapa pun yang lewat. Alaire berjalan menuju sekolah dengan langkah tenang, mengenakan cardigan hijau tua yang membuat kulitnya tampak lebih hangat. Di tangannya ada sekeranjang kecil berisi kapur tulis, lem kertas, dan beberapa alat gambar untuk murid-muridnya.Saat ia tiba di gerbang sekolah, ia melihat seseorang sedang jongkok di depan taman kecil—menata batu-batu yang kemarin diacak-acak angin malam. Bahunya lebar, rambutnya sedikit berantakan seperti baru bangun.“Galen…?”Pria itu menoleh, tersenyum kecil seperti biasa—senyum yang tidak pernah meledak, tapi selalu terasa stabil.“Pagi, Bu Guru.”Alaire mengerutkan kening. “Sejak kapan tugasmu memperbaiki taman sekolah?”Galen berdiri sambil membersihkan tangannya. “Sejak kamu bilang anak-anak suka main di sini. Batu-batunya runcing. Aku takut ada yang jatuh.”Alaire menatapnya lama. “Kamu ke sini tiap pagi?”“Kalau sempat.” Galen mengangkat bahu. “Kebet

  • Istri Gelap Sang CEO Dingin   Dua Luka Belajar Bersama

    Hujan turun sejak subuh, membuat desa terbungkus aroma tanah yang lembap dan menenangkan. Alaire duduk di beranda rumahnya, memegang cangkir teh yang sudah tinggal setengah. Pandangannya menerawang ke pohon flamboyan mudanya yang bergoyang tertiup angin.Setiap kali hujan turun seperti ini, kenangan tentang Nayel datang tanpa diundang—tapi tidak lagi setajam dulu. Kini, kenangan itu seperti lagu lama yang lirih. Kadang membuatnya tersenyum, kadang membuat dadanya hangat dengan rasa rindu yang manis.Pintu pagar kecil diketuk pelan.Alaire menoleh. Galen berdiri di depan pagar, jaketnya sedikit basah. Ia menunduk sopan sebelum bicara.“Pagi, Bu Alaire. Maaf ganggu… tapi saya bawa ini.” Ia mengangkat keranjang anyaman kecil berisi ubi rebus.Alaire tersenyum samar. “Masuk saja, Galen. Dari pada kau kehujanan.”Galen ragu sejenak, lebih karena sifatnya yang selalu menjaga jarak, bukan karena takut. Lalu ia melangkah masuk perlahan. Setelah duduk di kursi kayu berhadapan dengannya, ia mem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status