Share

Istri Jelekku Ternyata Komandan Polisi
Istri Jelekku Ternyata Komandan Polisi
Author: Andrea_Wu

Bab 1. Malam Kelam

Author: Andrea_Wu
last update Last Updated: 2025-11-05 11:14:03

Sepuluh Tahun yang Lalu

Tubuh gadis itu menggeliat dalam gempuran seorang pemuda yang terus menghujamnya tanpa ampun. Napasnya terengah, suara desahan bercampur dengan aroma percintaan yang begitu kental memenuhi kamar hotel malam itu.

Beberapa kali ia menjerit tertahan, ketika hentakan pria itu menghantam titik paling sensitifnya. Wajahnya merah padam, keringat menetes di pelipis, sementara hatinya—perlahan—terasa hancur.

"Sebentar lagi… tahan sedikit lagi," gumam pria itu, sebelum desahan panjang menutup malam kelam tersebut..

Detik berikutnya, tubuh si pemuda ambruk di atasnya, terengah, lalu berbaring malas seolah tak terjadi apa-apa.

Dia menegakkan tubuhnya sebentar, untuk merotasi di mana dia berada.

"Luar biasa," ucapnya ringan. "Di saku celanaku ada cek. Tulis saja berapa pun yang kau mau. Aku pasti bayar jasamu malam ini." Dalam keadaan setengah sadar Alaric menatapnya, lalu kembali ambruk, dan berbaring di atas ranjang.

Axelia Aruna memejamkan mata rapat-rapat. Gadis itu baru berusia tujuh belas tahun—seorang siswi sekolah menengah atas yang bermimpi menikah dengan pria yang mencintainya apa adanya. Tapi kini, mimpinya hancur di hadapan pria mabuk yang bahkan tak tahu siapa dirinya.

Pelan, Aruna menyingkirkan tubuh pria itu dan bangkit dari ranjang. Matanya melirik sekilas ke arah lelaki tersebut—tertidur dengan napas teratur, namun Aruna tahu, pria itu belum sepenuhnya terlelap.

"Aku bukan pelacur," ucapnya lirih. "Aku tidak butuh uangmu."

Kaki telanjangnya menapak lantai marmer yang dingin, jemarinya memunguti pakaian yang berserakan. Setiap gerakan membuatnya meringis, rasa perih di bagian bawahnya terasa menusuk hingga ke dada.

"Berhenti!"

Suara berat itu membuat langkahnya terhenti. Aruna menoleh, mendapati pria yang baru saja merenggut kehormatannya kini duduk di ranjang, menatapnya dengan sorot tajam.

Wajahnya tampan meskipun usianya masih sedikit di atas Aruna. Rahangnya tegas, seperti seorang aristokrat, namun tatapannya begitu angkuh yang membuat Aruna muak.

"Jangan gila," ujarnya dingin. "Ambil uangku. Aku tidak mau berutang. Kau sudah melayaniku, dan aku membayarmu. Bukankah itu setimpal?"

Aruna menggertakkan gigi.

Marah? Tentu saja, dia ke sini karena undangan temannya menghadiri pesta ulang tahun. Namun, apa yang dia dapat. Justru dia diseret tiba-tiba oleh pemuda ini, dan berakhir di atas ranjang.

"Kenapa kau diam saja, ayo ambil uangku. Aku lelah, jangan bangunkan aku. Sialan, kenapa kepalaku pusing sekali."

Tanpa berpikir panjang, telapak tangan Aruna langsung mendarat di pipi pria itu—keras.

"Berengsek!" Lelaki itu menatapnya geram. "Kenapa kau memukulku? Apa aku salah bicara?"

"Aku bukan jalang," sahut Aruna, suaranya bergetar karena amarah. "Simpan saja uangmu, dan tanggung jawab atas apa yang kau lakukan!" ucapnya mutlak.

"Apa maksudmu?" Lelaki itu menyipit. "Kau sendiri yang menawarkannya, bukan? Bukannya kau memang bekerja di tempat ini? Lagipula tubuh gemukmu ini, tak mungkin membuatku terpesona kalau saja bukan karena obat perangsang sialan itu."

Dada Aruna bergetar hebat. "Aku bukan jalang, asal kau tahu!" serunya. "Harga diriku sudah kau renggut paksa. Suatu saat, aku akan menagih pertanggungjawabanmu. Dasar pria sialan, mesum, tidak tahu diri!"

"Dasar gadis bar-bar! Di luar sana bahkan banyak sekali wanita yang rela membuka kakinya untukku dengan cuma-cuma." Lelaki itu bangkit setengah berdiri, wajahnya memerah karena tamparan. "Sudah bagus aku mau membayar! Kalau tidak mau uang, ya sudah!"

Betapa arogansinya dia, padahal ini adalah pengalaman pertamanya.

Aruna tak lagi ingin berdebat. Kata-katanya hanya akan terbuang percuma untuk pria semacam itu. Ia menunduk, memunguti pakaian terakhirnya dan memakainya, lalu melangkah keluar sambil membanting pintu keras-keras.

Begitu di luar, tubuhnya gemetar.

"Apa yang akan kukatakan pada Mama," bisiknya serak. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya.

Malam itu, Aruna mengunjungi pesta ulang tahun teman sekolahnya yang dirayakan di klub malam terbesar di kota Shane. Tapi takdir kejam menyeretnya ke dalam kamar seorang pria mabuk di bawah pengaruh obat perangsang, yang mengira dirinya adalah wanita panggilan.

"Dasar pria berengsek," gumamnya di antara isak tangisnya yang tertahan. "Kau sudah merusak masa depanku."

Ketika hendak pergi, sesuatu menarik perhatiannya—sebuah dompet kulit coklat tua tergeletak di lantai dekat pintu kamar.

Aruna memungutnya dengan tangan bergetar. Bukan untuk mengambil uang. Ia hanya ingin tahu siapa pria itu—pria yang telah merenggut kehormatannya.

Matanya membulat ketika membaca kartu identitas di dalamnya.

"Dia...." Suaranya tercekat.

Tubuh Aruna merosot ke dinding lorong hotel yang dingin. Ia memeluk lututnya, terisak dalam diam. Dunia seakan runtuh malam itu, dan tak ada satu pun yang bisa ia percayai lagi.

Namun di tengah rasa takut dan malu, sesuatu terbesit di pikirannya—nama pada kartu identitas itu.

"Alaric Deveraux Smitt."

Putra tunggal keluarga Smitt, pemilik jaringan bisnis raksasa di kota Shane. Nama yang sering muncul di koran, di balik perusahaan-perusahaan besar dan yayasan amal bergengsi.

Aruna menatap nama itu lama, seolah berusaha mengukirnya ke dalam ingatannya.

"Akan kuingat nama ini."

Ia memasukkan kartu identitas itu kembali ke dompet, lalu berdiri hendak pergi.

Dari dalam kamar, terdengar teriakan kasar pria itu, "Cepat ambil uangku dan enyah dari sini! Aku tidak butuh kau lagi, dasar wanita murahan!"

Aruna mengepalkan tangan, menahan air mata.

"Tenang saja," gumamnya pelan. "Aku tidak butuh uangmu. Tapi suatu hari nanti, aku akan menagih semua yang sudah kau ambil dariku."

Tangannya terangkat, menyentuh perutnya yang masih datar. Ada rasa takut yang menjalari dada, namun ia menepisnya cepat-cepat.

"Tidak mungkin," bisiknya. "Tidak mungkin aku akan hamil anak pria itu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Jelekku Ternyata Komandan Polisi   Bab 83

    "Berengsek! Berani sekali kau datang kemari!" Alaric melangkah maju satu langkah, bahunya menegang, sorot matanya tajam seolah siap menerkam. Aura posesif itu tak sedikit pun ia sembunyikan. Alex Morgan tidak mundur. Pria itu justru menundukkan kepala lebih dulu—sebuah sikap yang jarang, nyaris tak pernah dilakukan oleh seseorang sepertinya. "Aku datang bukan untuk membuat masalah, Tuan Smith," ucap Alex tenang. "Aku datang untuk menyelesaikan segalanya." Aruna berdiri di antara dua pria itu. Wajahnya tenang, meski ia bisa merasakan ketegangan yang mengeras di udara. “Apa maksudmu?” tanya Aruna. Alex mengangkat wajahnya, menatap Aruna dengan sorot yang berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi ambisi untuk memiliki, tidak ada lagi ketertarikan yang berusaha dia raih. Hanya sorot mata yang penuh keikhalasan. "Aku ingin meminta maaf." Alaric menyeringai dingin. "Meminta maaf? Setelah semua sikapmu yang ingin merebut istriku." "Aku tahu," Alex mengangguk pelan. "Aku pern

  • Istri Jelekku Ternyata Komandan Polisi   Bab 82

    Hari ini adalah hari terakhir Aruna berada di Shane. Sore nanti dirinya harus kembali terbang ke Bersel untuk kembali bertugas mengemban kesatuannya di kepolisian. Apalagi dua hari kedepan dia harus segera menyiapkan persidangan tersangka kasus human traficking dengan tersangka atas nama Johan Whittaker. Ia telah mengepak semua pakaiannya kedalam koper ukuran sedang di sudut kamar apartemen milik Alaric. Tinggal menjemput Leonard dan juga Sean di rumah orangtuanya. Mata bulatnya merotasi seluruh ruangan kamar tersebut. Rasanya ia belum percaya, jika akhirnya ia telah berdamai dengan suami arogannya. Tak terasa bibirnya tersungging senyum tipis. Inilah yang ia impikan sejak dulu, berbahagia dengan orang yang ia cintai. Grepp Sepasang lengan melingkari perut ratanya. Terpaan napas hangat menyentuh leher jenjangnya, dan ia tahu siapa pelakunya. Siapa lagi jika bukan....... "Apa yang kau lakukan?" "Memeluk istriku, tentu saja." Alaric mulai menggombal. "Nanti ada yang liha

  • Istri Jelekku Ternyata Komandan Polisi   Bab 81

    "Jam berapa Leonard tiba di Bandara?" tanya Alaric yang duduk di belakang kemudi, sedangkan Aruna duduk di sisinya dengan ponsel yang sejak tadi menjadi fokusnya. "Sekitar jam 10 pagi, pesawatnya tidak delay, jadi dia akan sampai tepat waktu." Alaric mengangguk, lalu mengenggam tangan sang istri. Aruna yang merasa hangat di telapak tangannya, lalu menoleh ke samping guna untuk menatap tangannya sendiri. "Al." "Kenapa? Apa tidak boleh?" Aruna menggeleng pelan. "Tidak, hanya saja kita sudah tak muda lagi." "Untuk jatuh cinta pada seseorang tak perlu di waktu muda saja. Karena aku akan mencintaimu sampai kita menua bersama, Sayang." Dikecupnya tangan Aruna, membuat dada wanita itu berdesir hebat. Wajahnya merona hebat. Ia tak pernah merasakan perasaan membuncah seperti ini. Apa seperti rasanya dicintai sepenuh hati? "Kenapa, Sayang?" Aruna menggeleng cepat. "Tidak ada, aku hanya bahagia."Alaric kembali tersenyum, dikecupnya lagi tangan sang istri, lalu menatap mata sekelam

  • Istri Jelekku Ternyata Komandan Polisi   Bab 80

    Leonard dan Dylan berjalan pelan keluar dari area bandara. Sepanjang berada di pesawat Leonard menggerutu kesal, karena apa? Karena komandan menyebalkannya itu ternyata berada di pesawat yang sama dengannya dan Dylan.Andai saja dia tahu sejak awal, ia memilih untuk batalkan penerbangan, dan ikut penerbangan selanjutnya.Dia juga tak menyangka, kalau Klause Vincent juga memiliki jadwal libur yang sama dengannya. Atau mungkin pria itu mengambil cuti tahunannya.Dia bahkan baru tahu akhir-akhir ini, jika Klause Vincent berasal dari Shane.Kebetulan yang menyebalkan, bukan. Ia menyeret kopernya dengan brutal diikuti Dylan yang terus tertawa di sampingnya. Mata cokelatnya memincing dengan raut wajah kesal. "Tertawa saja terus, Sersan, dan habiskan kotak tertawamu biar wajah mu keriput dan Leona tak mau padamu." Leonard kesal sendiri. Kenapa nasibnya selalu sial begini. Sungguh sialan, dia harus segera mencari pacar agar dia tak disangka suka pria, dan lebih parahnya komandannya lah ya

  • Istri Jelekku Ternyata Komandan Polisi   Bab 79

    "Lesu sekali kau, Sersan?" Dylan meletakan segelas kopi di hadapan polisi muda berwajah tampan tersebut. Kepalanya yang tertelungkup di atas meja, kini mendongak menatap pemuda berpangkat sersan polisi yang kini memilih duduk di depannya. Dylan Yi, pemuda itu masih asyik meniup secangkir americano yang ia pesan di kantin kantor, seraya melirik Leonard yang masih memainkan ponselnya dengan tak bersemangat. Kepalanya menggeleng pelan, tak mengerti apa yang terjadi dengan pemuda pewaris ADS grub itu. "Hei, ada apa denganmu, kau sakit?" tanya Dylan sekali lagi. "Aku rindu Mommy dan Sean." Dengan jengah Dylan memutar bola matanya. "Sudah sebesar ini kau masih merengek? Astaga Sersan. Komisaris juga baru pergi kemarin, besok akhir pekan, kau ada jadwal jaga tidak?" "Tidak ada." Dia menjawab dengan gelengan kepala. "Kita ke sana, aku juga rindu Shane." "Bilang saja kau ingin mencari gadis-gadis cantik di sana?" Leonard mencibir. Beberapa detik kemudian, dia menegakkan tubuh

  • Istri Jelekku Ternyata Komandan Polisi   Bab 78 (Warning 21+)

    Suara desahan saling bersahutan di kamar dengan nuansa romantisme yang terbangun di antara kedua pasangan yang kini merasakan kembali indahnya rasa cinta. Aruna mendongak memberi akses pada suaminya yang kini mengecup leher jenjangnya yang putih pucat. Wanita itu berusaha menahan desahannya di saat gelombang nikmat kini menghantamnya, hingga rasanya semua otot persendiannya melunak. "Ahhh, Kak Deve." "Yes Honey." "Sudah cukup aku...," Alaric merangkak naik. Membelai dada terbuka yang membuat hasratnya berada di puncak. Apalagi wajah cantik yang kini pasrah di bawahnya. Sepuluh tahun sudah dia menahannya. Sekarang Alaric tak lagi bisa membendungnya. Ingin mengeksekusi tubuh istrinya pagi ini. Bahkan tak ingin menunggu matahari kembali ke peraduannya. Nafsu untuk mencicipi tubuh putih mulus ini sudah tak bisa dirinya kuasai. "Runa, You are beautiful." "Jangan menggombal, Tuan muda Smith." "Aku tidak, bagi Alaric, Aruna sangatlah cantik." Termakan kata-kata manis suaminya. A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status