Home / Romansa / Istri Kecil Pak Dekan / Part 07 : Asal Tabrak?

Share

Part 07 : Asal Tabrak?

Author: Cloudberry
last update Last Updated: 2025-09-24 11:56:38

"Omong-omong beliau sudah datang belum?" tutur Luna kembali pada topik semula. Namun tidak ada satu pun diantara keduanya yang menjawab pertanyaan Luna.

"Kalau beliau belum datang. Saya mau nitip aja gimana?" Sambung Luna membuyarkan lamunan keduanya.

"Ehkkhhh....beliau sudah datang. Tapi biar ibu saja yang mengantarkannya. Kamu pasti ada kelas tahsin pagi ini. Sehingga datang secepat ini." Ucap sih ibu mengambil tas lunch box dari tangan kanan Luna.

Seluruh staf di gedung RKB tahu betul. Jaya Baya paling benci di ganggu oleh orang-orang yang tak berkepentingan seperti Luna.

Orang yang dapat menemui Jaya adalah orang-orang yang memiliki keperluan/kepentingan khusus dengannya. Jika tidak maka akan diusirnya dengan cara yang kejam.

Semua orang tahu Jaya adalah orang tergalak dan paling tegas di Institut tersebut. Tak ada seorang pun yang berani melawan kehendak nya. Termasuk Rektor (paman Jaya) dan Warek I (ayah Jaya).

"Terima kasih banyak, yah bu" Luna menyerah kan tas di tangan kanannya sukarela. Sebenar nya Luna tadi ingin menitipkan bekal suaminya. Namun karena Luna mengaku sebagai tukang cathering. Tentu ia wajib berpura-pura profesional.

"Sama-sama" ujar sih ibu menaiki anak tangga menuju lantai tiga tempat dimana ruangan Jaya berada.

"Oh iya, saya minta nomor wa kamu dong. Siapa tahu saya pengen pesen cathering sama kamu juga" ucap sih pria meminta nomor wa Luna.

"0857883686××" Luna memberi tahu nomor wa nya. Membalikkan tubuhnya berniat bergegas pergi sebelum kampus menjadi ramai.

"Oh iya, satu lagi. Nama kamu siapa? nama saya Dani." Ucap Dani mencegah kepergian Luna.

"Nama saya Luna, pak" jawab Luna singkat.

"Jangan panggil pak. Panggil saya kakak saja, saya belum tua-tua amat kok. Saya baru diawal tiga puluhan, jangan sungkan-sungkan kalau sama saya!" Ucap Dani penuh percaya diri seolah dialah pria terbaik di dunia ini.

"Iya, saya permisi dulu" Luna mengiyakan ucapan Dani begitu saja. Buru-buru meninggal kan tempat berbahaya tersebut.

Dari kalimatnya terdengar jelas jika Dani berusaha menargetkan Luna. Akan tetapi, Luna bukanlah gadis bodoh di negeri novel. Luna tahu mana pria bermutu tinggi dan berkualitas ikan teri.

Soal kualitas dan mutu tentu Jaya Baya pemenangnya. Walau Jaya terlewat galak dan tegas. Luna tidak dapat memungkirinya. Jaya adalah penyelamat nyawa kecilnya.

Mesti ia tahu betapa besar resiko yang di tanggungnya. Bila memaksa menyelamatkan Luna yang sudah koma dua bulan lebih. Jaya tetap berusaha membangunkan dirinya dari tidur panjang.

Setelah Luna jadi istrinya,Jaya memperlakukan dirinya dengan baik sangat baik malah. Jaya tidak pernah memintanya pergi ke pasar/swalayan. Jaya selalu memesan kebutuhan pokok rumahnya melalui ponsel pintarnya.

Selain membeli sembako melalui ponselnya. Jaya tak lupa membelikan beragam camilan untuk istri kecilnya. Jaya juga membiayai kuliahnya. Memberinya uang jajan setiap ia akan pergi kuliah.

Kemarin malam Jaya juga memberinya uang untuk membeli apa yang ia inginkan. Enaknya lagi Jaya tidak pernah meminta Luna melayani di tempat tidur.

Meskipun suatu hari nanti Luna akan meninggalkan Jaya demi impiannya. Luna tidak akan pernah menghadiahi sang suami dengan topi hijau (perselingkuhan). Luna akan menjaga kesuciannya hanya untuk Jaya. Entah kapan pria berstatus suaminya itu akan meminta hak nya.

Buru-buru Luna melepaskan jaket, topi, dan maskernya di balik semak-semak. Memasukkan perlengkapan penyamarannya ke dalam tas punggungnya. Lalu buru-buru mengayunkan kakinya menuju masjid ulul albab.

"Alhamdulillah gak ada yang liat aku kayaknya deh" Batin Luna melihat kearah sekitar sepih. Cuma ada beberapa petugas kebersihan yang sedang bertugas.

Melangkah masuk ke dalam masjid dan duduk disana. Menanti teman-temannya datang dan acara tahsin di mulai.

Jam makan siang tiba. Jaya membuka bekal kedua dari istrinya. Di sana ada nasi hangat dan Gulai tunjang favoritnya.

Kemarin siang Jaya sengaja meminta Luna memasakkan lauk favoritnya, untuk breakfast dan makan siangnya. Pastinya memerintah sang istri tak segampang mengarahkan para mahasiswa dan mahasiswi.

Jaya menyuap istrinya menggunakan sekeranjang apel fuji segar. Tentu Luna tidak berani menolaknya jika sudah seperti itu. Baru Jaya menyuapkan dua sendok nasi ke mulutnya. Jaya terjingkat kaget melihat kedatangan umminya yang terlihat marah.

"Ada apa ummi?" tanya Jaya lembut pada ibunya yang terlihat panik.

"Itu istrimu! Di suruh ngaji asal tabrak aja!" jelas Ummi Sri singkat pada putra sulungnya.

"Asal tabrak gimana Ummi?" tanya Jaya tidak mengerti maksud perkataan sang Ummi. Kalau soal tajwid tidak mungkin Umminya bisa semarah itu.

Walau keluarga mereka adalah keluarga yang taat dalam beribadah. Mereka dapat memaklumi jika ada orang yang salah dalam membaca tajwid.

Tidak memahami tajwid dengan sempurna adalah hal yang wajar. Yang terpenting sebagai umat islam adalah memiliki niat membaca dan mempelajari al-quran.

"Itu masa istrimu tanda fathah di baca kasrah, tanwin di bacanya sukun, panjang pendeknya tidak di perhatikan sama sekali. Dan masih banyak lagi! Pas di bilangin bukannya dengerin malah kabur dia!" Tutur Ummi Sri menjelaskan kronologinya.

"Ummi tahu dari mana?" tanya Jaya menanyakan sumber informasi yang Umminya dapatkan.

"Dari adikmu lah" jawab Ummi Sri santai.

"Uhukkk....uhukkk......." Jaya tersedak mendengar jawaban umminya.

"Haduhh....pelan-pelan nak." Menepuk pelan punggung putranya.

"Minum dulu nak" Ummi Sri mengambil segelas air untuk Jaya.

"Hmmmm.....jadi Alfaranzi yang menguji tahsin hari ini?" Jaya menanyakan kebenarannya pada Umminya.

"Iya, pas itu bocah kabur dikejar adikmu. Ummi juga lihat, makanya ummi lagsung nanya ke adikmu. Terus Ummi kesini. Bener-bener tuh bocah udah gede gak ada akhlaknya sama sekali" ummi Sri mengingat Luna yang terlambat satu jam selama empat hari saat pelaksanaan PBAK.

"Huffff........." Jaya menghela nafasnya panjang.

"Sudahlah ummi. Besok-besok kalau ada pengujian tahsin dan sebagainya. Biar Jaya yang menjadi pengujinya." Ucap Jaya memberi solusi pada Umminya.

"Iya kali yah. Nanti biar ummi bilang sama abah." Ummi Sri menyetujui saran yang di berikan oleh putra sulungnya.

"Omong-omong gimana rumah tangga kalian? Apa ada masalah?" Tanya Ummi Sri menanya kan perihal rumah tangga putranya dengan gadis asing yang tak dikenalnya.

"Kami baik-baik saja, ummi" ungkap Jaya sambil tersenyum halus.

"Benarkah?" Ummi Sri tak yakin dengan jawaban sang putra. Takutnya Jaya menyembunyikan perihal masalah rumah tangganya sama seperti dulu.

"Iya"

"Bagaimana? Apa kalian tidur terpisah?" Tanya Ummi Sri mengkhawatirkan kondisi putranya.

Ummi Sri masih ingat betul saat Jaya anaknya berumah tangga dengan mantan kekasih SMA nya. Keduanya kerap kali tidur terpisah ketika Ummi Sri dan suaminya berkunjung ke rumah sang putra secara mendadak.

Awalnya Ummi Sri pikir semua itu cuma kebetulan dan jarang terjadi. Nyatanya setelah di selidiki Jaya sering menerima perlakuan tidak adil dari menantunya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kecil Pak Dekan   part 18 : Dimsum

    Luna mengerjap pelan membuka kelopak matanya perlahan. Mengintip area sekitar sebelum benar-benar bangkit dari tidurnya. Memastikan jika Jaya suaminya sudah pergi ke masjid di seberang jalan bersama iparnya. Dengan mengendap-ngendap Luna melangkah keluar ke teras rumah. Seingatnya tadi saat ia pura-pura tidur di dada sang suami. Belanjaan pemberian Jaya belum dibereskan sama sekali.Tepat seperti dugaannya. Barang-barang tersebut masih berada diluar. Kemeja, rok, celana dasar, baju tidur, gamis, dress, hijab, hotpant, kaos, pakaian dalam, bodycare, haircare, oralcare, dan skincarenya. Masih berserakan di luar. Secepat kilat gadis kecil dengan sejuta ide dan kreasi itu. Berlari cepat menuju ruang laundry mengambil sebuah keranjang plastik besar, yang biasanya digunakan untuk menampung pakaian bersih atau kotor. Mengalih fungsikannya menjadi tempat penyimpanan barang-barangnya sementara waktu. Lalu meletakannya begitu saja di kamarnya. Menarik selimut tebal dari tempat tidurnya. Me

  • Istri Kecil Pak Dekan   Part 17 : Koala

    "Makanya nikah biar tahu gimana rasanya punya istri," Kelakarnya menyombongkan diri. "Halah, bullshit," kilah Alafaranzi membela diri. Lebih baik lama menikah dari pada sebentar cerai. Pernikahan Jaya tidak semulus jalanan tol. Meski saat menikahi kekasihnya dulu Jaya tergolong mapan, mampu, dan tampan. Jaya tetap saja dikhianati oleh cinta dan istri pertamanya Isabella. Padahal menurut abang nya lumayan royal memberi istrinya uang jajan. Seratus juta sebulan nilai yang fantastis tentu saja, teruntuk masyarakat kabupaten. Nyatanya uang segitu terlihat kecil dimata Isabella. Demi mendapatkan uang bulanan yang lebih banyak. Wanita kabupaten paling beruntung itu meninggalkan suaminya Jaya Baya. Lalu menikah dengan salah satu unta arab yang terkenal memiliki banyak istri."Cepatlah! To the point saja, Zi. Jika tidak penting pulang sana!" Ketus Jaya tak sabaran. "Sabar bang! Sabar! Ini masalah bisnis keluarga kita," Jelas Alfaranzi cepat sebelum kembali usir oleh Jaya Baya. Duduk di

  • Istri Kecil Pak Dekan   Part 14 : Me Time

    Suara ketukan terdengar dari luar ruangan. Perlahan pintu ruang dekan terbuka. Menampil kan sosok gadis kecil berkulit kusam, berdiri lemas di ambang pintu. Keringat mengalir tipis di pelipisnya, kulitnya berminyak, surai rambut nya terlihat mengintip dari hijabnya. Wajahnya kusut tertekuk hijabnya sudah tak lagi pada tempatnya. "Masuk!" perintah Jaya dingin. Membolak-balik setumpuk berkas di mejanya. "Abang" lenguh gadis kecil itu menghempaskan pantatnya di kursi dihadapan suaminya."Capek?!" "Hhh__" mengangguk pelan. "Abang juga capek. Kerja cari uang buat biayain kamu kuliah. Tapi kamunya gak hargain usaha, abang!" Tutur Jaya datar, mengintimidasi istri nakalnya. Luna terkesiap mendengar perkataan Jaya. Sadar jika Jaya mengetahui perbuatan buruknya di belakang punggung sang suami. "Abang" Luna mengerucutkan bibirnya merasa bersalah. Berusaha meminta maaf pada sang suami dengan kepatuhannya. "Kerjakan tugas ulumul quran, disini," perintah Jaya mengetuk pena-nya sekali ke mej

  • Istri Kecil Pak Dekan   Part 15 : Mogok?

    Matanya berbinar menatap semua barang impiannya ada didepan mata. Luna tak pernah menyangka jika ia akan mendapatkan barang impiannya dengan mudah. Tidak hanya Luna yang merasa bahagia. Jaya juga ikut merasakan kebahagiaan yang Luna rasakan. Sebab gadis nakal itu menciumnya beberapa kali dalam semenit. Mengucapkan terima kasih dengan caranya sendiri. Akan tetapi, kebahagian dan keceriahan sore itu hancur karena kedatangan Alfaranzi. Luna langsung bete saat melihat adik iparnya, yang lebih tua tujuh tahun dari dirinya itu. Semuanya bermula saat Luna membolos mata kuliah ulumul quran dan tidak mengerjakan tugas. Kebetulan Alfaranzi bersahabat baik dengan dosen pengampu mata kuliah ulumul quran di kelas Luna. Berbekal kesaksian dan rekaman suara sahabatnya sebagai barang bukti. Alfaranzi nekat mengadukan kelakuan jahanam Luna yang sudah kabur dari kelas ulumul quran sebanyak tiga kali. Tentu Jaya yang mendengar tingkah nakal Luna. Memberi teguran kecil kepada sang istri. Supaya tid

  • Istri Kecil Pak Dekan   Part 14 : Paket?

    "Abanggggg......" teriak Luna tak terima dengan pengaturan suaminya. "Tertelan nanti abang yang repot yah, Luna!" Mengacungkan jari telunjuknya kearah Luna. Menatap manik matanya tajam. Sengaja nada bicaranya sedikit ditinggikan. Jika tidak gadis nakal itu pasti akan mencari gara-gara dengannya. Tampak pemilik wajah cantik itu sudah mengerucutkan bibirnya. "Abanggg......" Luna merengek berharap Jaya mengizinkannya menyimpan banyak biji kelengkeng dipipinya. "Tidak boleh! Abang sibuk ya, jangan cari masalah" Tutur Jaya tegas seraya memeriksa berkas-berkas penting dihadapannya. "Abangggg....." menarik-narik celana dasar Jaya pelan, menggunakan ujung jarinya."Tidak yah! Abang ambil nanti kelengkengnya!" Ancam Jaya mengulurkan tangannya berniat mengambil keranjang rotan berisi buah-buahan milik Luna. "Tidak....tidakkk....!" Luna secepat kilat mendekap keranjang buahnya. Sebelum Jaya sempat menjangkau keranjang buahnya. "Makanya kalau abang bilang tidak boleh! Ya, tidak boleh!" Tega

  • Istri Kecil Pak Dekan   Part 13 : Kelengkeng?

    "Makanya besok-besok jangan berani ngebantah lagi kalau orang ngomong!" Tegas Jaya mengingatkan istrinya. "Iya" sahut Luna terpaksa. Bangkit dari tempat duduknya. Berniat berjalan kegedung rektorat meninggalkan suaminya. "Tinggalkan salad buahnya" perintah Jaya dingin menarik tupperware berisi salad buah dari tangan sang istri. "Abanggg....." rengek Luna lagi. "Ambil buat jajan" Jaya meletakkan dua lembar seratus ribuan ditelapak tangan sang istri. Luna menunduk lesuh mendapati uang lembaran seratus ribuan ditelapak tangannya. Jika sudah begitu ia tidak dapat membantah perkataan suaminya. Kalau ia tolak uang pemberian suaminya, besok-besok bagaimana jika membutuhkan uang. Tentu ia akan gengsi meminta belas kasihan suaminya. "Thank you bang" melambaikan tangannya lalu berlari menuju ke gedung rektorat. Mengikuti kuliah istitah meski sudah terlambat dua setengah jam. Jaya menyuapkan salad buah ke mulutnya memandangi kepergian sang istri dengan tatapan kosong. Tak per

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status