ホーム / Romansa / Istri Kecil Pak Dekan / Part 13 : Kelengkeng?

共有

Part 13 : Kelengkeng?

作者: Cloudberry
last update 最終更新日: 2025-10-19 12:22:49
"Makanya besok-besok jangan berani ngebantah lagi kalau orang ngomong!" Tegas Jaya mengingatkan istrinya.

"Iya" sahut Luna terpaksa. Bangkit dari tempat duduknya. Berniat berjalan kegedung rektorat meninggalkan suaminya.

"Tinggalkan salad buahnya" perintah Jaya dingin menarik tupperware berisi salad buah dari tangan sang istri.

"Abanggg....." rengek Luna lagi.

"Ambil buat jajan" Jaya meletakkan dua lembar seratus ribuan ditelapak tangan sang istri.

Luna menunduk lesuh mendapati uang
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Istri Kecil Pak Dekan   Part 27

    Keadaan di kampus IAIN Curup mulai tidak kondusif bagi kerahasiaan pernikahan Jaya dan Luna. Transformasi Luna yang kini nampak seperti idol Korea—kulit bening, tubuh proporsional, dan aura yang berkelas—membuatnya menjadi magnet perhatian. Namun, masalah sebenarnya muncul bukan dari kecantikan Luna, melainkan dari sebuah kecerobohan kecil.​Sore itu, hujan turun deras mengguyur bumi Rejang Lebong. Jaya, yang tidak tega melihat istrinya kedinginan menunggu angkot, memutuskan untuk menjemput Luna di parkiran belakang gedung RKB yang sepi.​"Masuk cepat," perintah Jaya saat Luna membuka pintu mobil.​Di dalam mobil yang kacanya mengembun karena hujan, suasana terasa hangat. Jaya meraih tangan Luna yang dingin, menggosoknya perlahan untuk memberi kehangatan. Tanpa sadar, Jaya mendekatkan wajahnya, mencium pipi Luna yang kini terasa sangat lembut. Luna tertawa kecil dan membalas dengan pelukan singkat di leher suaminya.​Mereka tidak sadar, di balik sebuah pilar beton, seorang mahasiswa y

  • Istri Kecil Pak Dekan   Part 26

    Suasana di dapur Ummi Sri mendadak sesak. Jantung Luna serasa melompat ke tenggorokan saat mendengar suara ketukan pintu dapur yang semakin tidak sabar. Ibu Dekan Tarbiyah, atasan Jaya, sudah berdiri di balik pintu kayu itu. Jika pintu terbuka sekarang, beliau akan melihat Pak Dekan RKB yang terhormat sedang berdiri berdekatan dengan seorang "pelayan" yang sebenarnya adalah istrinya sendiri.​"Masuk ke dalam ruang cuci! Sekarang!" bisik Jaya dengan nada memerintah yang sangat rendah.​Tanpa membantah, Luna mendorong Jaya masuk ke area ruang cuci yang sempit di sudut dapur, lalu ia menutup pintunya rapat-rapat. Luna menarik napas sedalam-dalamnya, merapikan apronnya, dan membuka pintu dapur utama dengan senyum yang dipaksakan.​"Eh, Ibu Dekan... maaf, tadi saya sedang merapikan piring yang pecah di belakang," ucap Luna dengan suara yang kembali dibuat serak.​Ibu Dekan Tarbiyah masuk dengan gaya anggunnya, matanya menyapu sekeliling dapur yang bersih. "Tidak apa-apa, Una. Saya hanya ti

  • Istri Kecil Pak Dekan   Part 25 : Ketahuan dua ?

    Jantung Luna berdegup kencang seperti genderang perang. Permintaan Bu Warek II untuk menemuinya di ruang tengah arisan adalah sebuah jebakan maut. Ia melirik Jaya yang masih berdiri di lorong gelap.​"Bang, gimana ini? Kalau adek keluar, itu Bu Dekan Tarbiyah pasti ngenalin adek!" bisik Luna panik.​Jaya menatap istrinya tajam, lalu ia menarik kacamata hitam yang tersampir di kerah bajunya dan memakaikannya ke kepala Luna sebagai bando, lalu menarik sedikit poni hijab Luna agar lebih menutupi kening. "Tetap merunduk. Jangan banyak bicara, biar Ummi yang menghandle percakapannya."​Luna menarik napas dalam, menguatkan mentalnya, lalu melangkah keluar dengan nampan kosong sebagai alasan.​"Nah, ini dia orangnya!" seru Ummi Sri menyambut Luna. "Namanya... Una. Dia memang pendiam, Bu."​Luna menunduk sedalam mungkin. "I-iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" suaranya sengaja dibuat sedikit serak.​"Una, sambal kacang siomay ini rahasianya apa? Saya sudah makan di banyak tempat, tapi ini yang

  • Istri Kecil Pak Dekan   Part 24 : Ketahuan?

    Hari Rabu yang dikhawatirkan Luna akhirnya tiba. Kediaman megah Abah Edi dan Ummi Sri sudah tampak ramai sejak pukul sepuluh pagi. Mobil-mobil mewah berderet di halaman, menandakan tamu arisan Ummi Sri bukan orang sembarangan—kebanyakan adalah istri-istri pejabat kampus dan tokoh masyarakat di Curup.​Luna datang lebih awal, diantar oleh Jaya melalui pintu samping agar tidak menarik perhatian. Kini, Luna berdiri di dapur luas milik mertuanya, mengenakan gamis sederhana berwarna cokelat susu yang ia padukan dengan apron (celemek) bunga-bunga milik Ummi Sri. Jilbabnya ia lilitkan dengan rapi ke belakang agar tidak mengganggu pergerakannya.​"Luna, tolong tata dimsum dan siomay-nya di piring saji ya, Nak. Oh iya, saus kacangnya jangan lupa ditaruh di mangkuk kecil," instruksi Ummi Sri dengan lembut sambil sibuk menata gelas-gelas kristal.​"Siap, Mi!" sahut Luna antusias.​Di dapur, Luna merasa seperti penguasa. Rasa gugupnya menghadapi tamu-tamu terpandang itu hilang saat ia mulai memeg

  • Istri Kecil Pak Dekan   Part 23 : Katering

    ​Hari Rabu yang dikhawatirkan Luna akhirnya tiba. Kediaman megah Abah Edi dan Ummi Sri sudah tampak ramai sejak pukul sepuluh pagi. Mobil-mobil mewah berderet di halaman, menandakan tamu arisan Ummi Sri bukan orang sembarangan—kebanyakan adalah istri-istri pejabat kampus dan tokoh masyarakat di Curup.​Luna datang lebih awal, diantar oleh Jaya melalui pintu samping agar tidak menarik perhatian. Kini, Luna berdiri di dapur luas milik mertuanya, mengenakan gamis sederhana berwarna cokelat susu yang ia padukan dengan apron (celemek) bunga-bunga milik Ummi Sri. Jilbabnya ia lilitkan dengan rapi ke belakang agar tidak mengganggu pergerakannya.​"Luna, tolong tata dimsum dan siomay-nya di piring saji ya, Nak. Oh iya, saus kacangnya jangan lupa ditaruh di mangkuk kecil," instruksi Ummi Sri dengan lembut sambil sibuk menata gelas-gelas kristal.​"Siap, Mi!" sahut Luna antusias.​Di dapur, Luna merasa seperti penguasa. Rasa gugupnya menghadapi tamu-tamu terpandang itu hilang saat ia mulai meme

  • Istri Kecil Pak Dekan   Part 22 : Pagi indah

    Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar lama Jaya di rumah utama terasa lebih menyengat dari biasanya. Luna mengerjap, merasakan beban berat di pinggangnya. Lengan kokoh Jaya masih melingkar protektif di sana, seolah takut jika ia melepaskannya sedetik saja, istrinya akan lari kembali ke perpustakaan untuk menggoda pria lain.​Luna mencoba bergerak, namun ringisan kecil lolos dari bibirnya. Pantatnya masih terasa panas, dan lehernya terasa kaku. Ingatan tentang kejadian kemarin sore berputar seperti kaset rusak; amarah Jaya yang meledak, seretan di depan Ummi Sri, hingga tangisannya yang pecah di bawah kungkungan suaminya.​"Sudah bangun?" Suara bariton Jaya terdengar serak khas orang bangun tidur, tepat di belakang telinga Luna.​Luna hanya bergumam pelan, masih enggan menoleh. Ia merasa malu sekaligus masih sedikit kesal.​Jaya menghela napas, ia bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di tepi ranjang. Matanya tertuju pada leher Luna yang kini dihiasi t

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status