Share

3. Perjanjian

Author: Anita Kim
last update Last Updated: 2024-07-19 10:02:31

Saat pagi menjelang, Shafa segera membantu pelayan untuk menyiapkan makanan. Sebelumnya ia berusaha membantu Dewa, namun suaminya justru malah mengusirnya dari kamar dan tidak mau menerima semua bantuan yang Shafa berikan.

Tak lama Dewa sudah tiba di ruang makan. Shafa cukup kagum, karena merasa Dewa sangat mandiri meskipun dirinya buta.

Dewa berdehem, membuat para pelayan merasa kebingungan.

“Dimana Rania?”

Shafa sendiri sejak pagi tidak melihat kehadiran istri pertama suaminya itu, sehingga dia hanya bisa diam dan tidak menjawab pertanyaan Dewa.

“Maaf Tuan, Saya tidak tahu. Saya belum melihat Nyonya sejak pagi tadi." Terdengar nada gugup di suara pelayan yang menjawab Dewa. Raut wajah Dewa semakin berubah menjadi dingin setelah mendengar jawaban itu.

Dewa mengambil ponselnya dari saku dan menekan sebuah tombol panggilan cepat.

"Mas Dewa," sahut orang di sebrang telepon. Napas Rania terengah-engah, seperti baru menyelesaikan lari marathon 10 km.

"Kamu dimana, Ran?" tanya Dewa pada istri pertamanya.

"Aku lagi olahraga pagi, Mas. Mas Dewa lagi apa? Udah sarapan? Monyet peliharaan kamu udah bangun, dia enggak ngapa-ngapain kamu kan?"

Salah satu tangan Dewa mengepal kuat, mendengar napas Rania di sebrang telepon membuat kepalanya panas. Dia bukan tidak tahu, hanya saja, berusaha menutupi itu.

"Ya udah, Mas. A-aku tutup dulu ya, mau ke kamar mandi dulu, sakit perut. Bye, muach!" Rania langsung menutup telepon dengan buru-buru.

Dewa menggertakan giginya mendengar hal itu.

Di sisi lain Rania, kembali melanjutkan aktifitasnya setelah menutup telepon.

"Keterlaluan kamu, Rania. Kamu memberikan playing kiss pada pria lain saat sedang berhubungan denganku?" Seorang pria dengan tubuh tegap menatap kesal Rania.

"Sayang," sahut Rania dengan susah payah, dia berusaha mendorong dada Manendra tapi tenaga pria di atas tubuhnya benar-benar sangat kuat. "Ah-aku, melakukan itu karenah, aku enggak mau dia curigah, Babe."

"Oh, enggak mau curiga," sarkas Manendra. "Oke, kamu memang minta dihukum, Rania."

Dengan gerakan cepat Manendra membalik tubuh seksi istri kakaknya sendiri. Pria itu sama sekali tidak segan menghujam wanita yang seharusnya tidak dia sentuh.

Bukan malu atau merasa bersalah, Rania pun terlihat sangat menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Olaraga pagi yang dia katakan pada suaminya tidak lain adalah mengadu peluh bersama dengan adik iparnya sendiri.

Keduanya melepaskan longlongan seperti serigala setelah ledakan yang kesekian kali terjadi. Bukan hanya pagi, mereka sudah melakukannya sejak malam, tapi selalu merasa tidak puas dan menginginkan lagi dan lagi.

"Eumm, kamu memang yang terbaik, Ndra."

"Hebat mana aku sama suami kamu, Sayang?" tanya Manendra setelah membaringkan tubuhnya di samping Rania.

“Jelas kamu,” jawab Rania dengan nada penuh menggoda.

** ** **

"Ah, panas." Shafa meringis saat bubur yang ditumpahkan suaminya mengenai sedikit punggung tangannya.

Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca. Entah apa yang mengganggu pikiran Dewa, tepat setelah dia selesai menelpon, Dewa tiba-tiba mengamuk.

Dewa terdiam, kesal, marah, semuanya bercampur menjadi satu. Kebaikan Shafana, bukan membuat dia lebih tenang malah menjadi bensin yang disiramkan ke bara api.

“Saya bilang jangan sentuh saya!” seru Dewa.

"Nggih, Mas," sahut Shafana lirih. Dewa begitu memperhatikan istri pertamanya tapi memperlakukan Shafa seperti manusia yang terjangkit penyakit menular.

"Kamu harus sadar diri, Shafa. Kamu cuma istri simpanan," batin Shafana melihat Dewa yang kini sudah menjauh dan kembali ke kamarnya.

Dewa menggeram kesal. Lima tahun menikah dengan Rania, awalnya dia pikir Rania tulus mencintainya. Wanita itu benar-benar terlihat baik. Namun, siapa sangka jika ternyata Rania dengan berani berselingkuh di belakangnya.

Dewa tersenyum sinis begitu ingatannya kembali pada empat bulan yang lalu, hari pertama dimana Dewa menangkap basah perselingkuhan Rania dan Manendra, adik seayahnya.

Dewa yang terbangun subuh hari, mendapati Rania istrinya tidak berada di sampingnya. Dirinya meraih kursi roda dan mencoba mencari keberadaan Rania.

Siapa sangka Dewa justru malah mendengar suara desahan Rania.

"Oh, Nendra lebih cepet!"

Di atas tubuh Rania ada seorang pria, mereka berdua sama-sama full naked. Di atas sofa di ruang karoke dengan pintu terbuka, mereka terlihat begitu intim.

"Tahan sebentar, kita keluarkan bersama."

Hati Dewa mencelos, bajingan dan jalang yang ada di depannya ternyata adik dan istrinya. Rania, wanita itu mengkhianatinya bahkan saat beberapa minggu lagi mereka akan merayakan ulang tahun pernikahan.

Dewa yang tidak terima dikhianati, mulai merencanakan untuk membalas dendam pada keduanya dengan perlahan dan dengan cara yang paling menyakitkan dan memalukan.

"Rania!" panggil Dewa.

Kedua manusia yang hampir mencapai puncaknya itu terdiam, mereka mematung melihat Dewa yang ada di ruangan tersebut. Namun, hanya untuk beberapa detik karena detik berikutnya Manendra kembali menghujam kakak iparnya.

Mereka yakin bahwa Dewa tidak dapat melihat mereka.

"Babe," bisik Rania, dia menggeleng, meminta Manendra untuk tidak bergerak.

"Kepalang tanggung, Sayang."

"Rania, kamu di sini?" tanya Dewa pura-pura tidak melihatnya. Setelah kecelakaan yang menimpanya, Dewa memutuskan untuk pura-pura buta. Dia ingin menjebak dan mencari tahu pelaku yang melakukan hal itu. Siapa sangka, Dewa justru juga mendapati perselingkuhan istrinya sendiri.

Dewa meraba apapun yang ada di dekatnya dan dengan sengaja memecahkan sebuah asbak tebal. Keadaan di kamar kedua yang temaram menjadi semakin gelap di mata Dewa.

"Bagaimana ini?" kesal Rania.

"Jawab aja! Aku selesai," kata Manendra lega setelah mendapatkan pelepasan.

"Bajingan, " kesal Rania sambil mendorong Manendra. Pria itu tersenyum kemudian mencuri ciuman kekasihnya itu.

Rania kemudian menghampiri Dewa dengan suara parau, bertingkah seolah baru bangun tidur padahal sedang mengenakan pakaian.

"Mas Dewa, kenapa ke sini?" tanya Rania mendekati suaminya. Dia menyentuh punggung tangan Dewa tapi suaminya itu menghindar secara halus.

"Aku mau tidur, bereskan pecahan kacanya!" titah Dewa.

Rania tertohok, dia tersenyum miris seraya melihat punggung Dewananda yang sudah mulai menjauh. "Awas saja kamu Dewa. Tunggu sampai Nendra menggantikanmu menjadi CEO!" gumam Rania sambil mengepalkan kedua tangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Evi Erviani
klw begini mah aku dukung bgd si istri kedua itu
goodnovel comment avatar
Evi Erviani
ya ampun jijik bgd sama si Rania ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Kedua CEO Buta   33. Menunggu Diceraikan

    Di bawah cahaya lembut yang menari di lantai marmer, langkah tergesa seorang wanita tua melintasi lorong yang sunyi. Oma Nalani, dengan pakaian anggunnya yang berwarna gading, masuk ke dalam kamar Dewa dan Shafana tanpa menunggu aba-aba. Wajahnya menyiratkan kecemasan yang dalam, kedua matanya langsung tertuju pada sosok perempuan yang tengah terbaring di ranjang king-size.Di samping ranjang, seorang dokter tengah melepas stetoskopnya. Dengan suara tenang, ia menjelaskan kondisi pasiennya."Demamnya sudah mulai turun, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya hanya memberikan infus vitamin booster agar kondisinya cepat pulih," ujar sang dokter kepada Dewa. "Nyonya Dewa akan baik-baik saja."Mata Dewa menatap lurus menatap perempuan itu. Sementara itu, Shafana yang mendengar dokter menyebutnya sebagai Nyonya Dewa, menegang. Ia menelan ludah, lalu perlahan memalingkan wajahnya, tidak berani bertemu tatapan suaminya meksipun dia tahu kalau suaminya buta. Ada debar tak biasa dalam dada

  • Istri Kedua CEO Buta   32. Mulai Perhatian

    Malam itu, Rania mengenakan gaun merah anggun yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya dihiasi riasan yang menonjolkan kecantikannya. Namun, tatapan matanya penuh tipu daya. Masa ovulasinya tiba, membuatnya lebih bersemangat, tapi bukan untuk mendekati suaminya.Dewa, yang duduk di kursi roda dengan wajah dingin tanpa ekspresi, hanya mengangguk kecil ketika Rania pamit dengan alasan pekerjaan dadakan. Dia tahu perempuan itu berbohong, tapi memilih tidak berkata apa-apa. Saat Rania mencoba mengecup pipinya, Dewa menghindar dengan halus. Sikapnya semakin menunjukkan bahwa hubungan mereka hanya formalitas semata."Aku pergi ya, Mas. Kalau ada apa-apa minta sama Mbak Ima.""Heumm!" Dewa yang kala itu ada di ruang keluarga berpaling. Setelah Rania pergi, suasana rumah kembali hening. Dewa memutar roda kursi rodanya menuju lift untuk naik ke kamar. Ada sesuatu yang membuatnya terusik malam ini. Dia berhenti di depan pintu kamar mandi, mengetuk perlahan.“Shafa,” panggilnya dengan su

  • Istri Kedua CEO Buta   31. Kecemburuan Naura

    Dewa tanpa sadar menarik ujung bibirnya ketika melihat Shafana yang tertidur bersandar di bahunya. Pria itu membetulkan duduknya agar Shafana lebih nyaman. Roy yang melihatnya dari depan tersenyum tipis. Plak! Hening, keromantisan yang sebelumnya terasa berubah menjadi kepanikan untuk Roy. Dia ingin sekali pura-pura tidak mendengar dan tidak melihat. "Kenapa banyak nyamuk," gumam Shafana dalam tidurnya. Kelopak mata Dewa terpejam, pria itu menurunkan tangan Shafana dari wajahnya, tapi hal yang lebih gila terjadi, wanita itu merubah posisinya, dia meringkuk, menjadikan paha Dewa sebagai bantalan. Kedua tangan Dewa mengepal, dia berusaha untuk tetap baik-baik saja ketika wajah Shafana menyentuh area yang seharusnya tidak dia sentuh. Dewa memalingkan wajah, menggigit bibir dalamnya gelisah. Roy kembali tersenyum, wajah Shafana yang menghadap perut Dewa pasti membuat Dewa tidak nyaman. ** ** Di dalam kamar mandi, Dewa terdiam cukup lama di bawah guyuran air dingin. P

  • Istri Kedua CEO Buta   30. Semakin Dekat

    Dewa duduk di kursi kerjanya, matanya tak bisa lepas dari pintu yang masih tertutup. Apa yang dia harapkan sebetulnya, Shafana? Namun, harapan itu pupus seiring waktu berlalu dan kursi di sebelahnya masih kosong. Jari-jarinya drumming di atas meja, sebuah tanda kegelisahannya yang tak bisa dia sembunyikan. Meski berusaha keras untuk fokus pada dokumen di depannya, pikirannya melayang-layang memikirkan kemungkinan aneh yang sedang dilakukan Bima dengan istrinya. "Aku pasti sudah gila," gumam Dewa lantas menggelengkan kepalanya. Ponsel di sakunya bergetar, isyarat panggilan masuk, tapi bukan dari Shafana. Dewa menghela napas, menahan diri untuk tidak meluapkan kegelisahannya. Baru saja dia hendak menghubungi Roy, pintu ruangan terbuka dengan tiba-tiba. Shafana muncul, napasnya terengah-engah. "Maaf, Pak Dewa, aku terlambat," ucap Shafana cepat, suaranya terdengar tergesa-gesa. "Ada masalah mendadak di kantor Pak Bima yang harus aku selesaikan." Dewa hanya mengangguk pelan, berdehe

  • Istri Kedua CEO Buta   29. Hanya Mimpi?

    Jantung Shafana berdebar kencang, dipenuhi rasa lega dan kekosongan yang aneh. Kenangan malam sebelumnya, saat Dewa menciumnya dan meninggalkan bekas yang menyengat di bibirnya, terasa begitu nyata. Namun saat dia melihat pantulan dirinya di cermin, dia tidak melihat tanda-tanda pertemuan itu. Itu hanyalah mimpi. "Aku pasti sudah gila, tapi kenapa rasanya sangat nyata. Bibirnya, seperti bukan mimpi." Shafana menghela napas kasar. Dia mengabaikan perasaan yang masih tersisa dan menuruni tangga, wajahnya tertutup hijab yang mengalir, kecantikannya semakin terpancar dengan kesederhanaan dan keanggunan pakaian itu. Saat dia mencapai ruang makan, dia melihat Dewa dan Rania, istri pertama suaminya sudah duduk di meja, menikmati sarapan mereka. Tatapan Shafana tertuju pada Dewa, dan dia terkejut melihat luka mengering di sudut bibirnya. "Mas Dewa, apa yang terjadi pada bibirmu?" tanyanya, suaranya hanya bisikan. Dewa meliriknya, ekspresinya tak terbaca. "Tidak apa-apa," katanya si

  • Istri Kedua CEO Buta   28. Mulai Luluh

    Sementara itu, di ruang baca, Dewananda merenung. Dia masih berusaha memikirkan kenapa Shafana tiba-tiba marah padanya. Roy, yang setia berdiri di sampingnya, mulai berbicara. “Pak, hari ini banyak hal terjadi. Saya mendengar percekcokan di rumah Non Shafana,” katanya hati-hati. Dewananda menatap Roy dengan alis terangkat. “Bagaimana kau tahu?” tanyanya curiga. Roy menghela napas. “Saya meletakkan penyadap di rumah Non Shafana, seperti yang Anda minta,” jawabnya pelan. Dewananda terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Perdengarkan,” perintahnya. Roy mengeluarkan perangkat kecil dari sakunya dan memperdengarkan suara kekacauan yang terjadi di rumah Shafana. Suara tangisan, teriakan, dan percakapan yang penuh emosi terdengar jelas. Dewananda mendengarkan dengan seksama, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Air mata Shafana tak henti-hentinya mengalir. "Bodoh! Bodoh! Aku bodoh!" gumamnya, tangannya mencengkeram erat selimut. Kesadaran atas kesalahannya menghantamnya sepert

  • Istri Kedua CEO Buta   27. Kekacauan Yang Dibuat Shafana

    Dengan tangan gemetar, dia menyerahkan sebuah amplop tebal berisi uang. "Ayah, ini untuk kebutuhan sehari-hari atau modal usaha," katanya dengan suara serak.Malik menatap amplop itu dengan ragu. "Dari mana kau mendapatkan uang ini, Shafa? Ayah tidak ingin menerima uang dari Dewa," katanya tegas, menyebut nama suami Shafana dengan nada penuh kebencian. Malik sudah berusaha untuk tidak menaruh dendam, tapi dia tetap kecewa pada keluarga Dewa setelah mereka merebut Shadana darinya. Shafana menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang hampir tumpah. "Ayah, ini bukan dari Mas Dewa. Ini hasil jerih payahku sendiri. Aku menulis cerita dan berhasil menjualnya," jawabnya dengan tegas, meski hatinya terasa berat.Malik terdiam, matanya menatap dalam ke mata Shafana yang bengkak. "Menulis? Sejak kapan kau menulis, Nduk?" tanyanya, setengah tidak percaya.Shafana tersenyum pahit. "Sejak aku merasa dunia ini terlalu sempit untuk menampung semua perasaanku, Ayah. Menulis adalah carak

  • Istri Kedua CEO Buta   26. Titik Buta

    "Kenapa masih di sini?" tanya Dewa. Shafana yang tengah duduk di tepian ranjang itu menoleh, menatap suaminya penuh curiga. "Pak- mmas tahu aku di sini?" Jari jemari Arthur mulai bergerak, salahkan dia yang terpancing karena keberadaan istri keduanya. Dia selalu lepas kendali dan tidak bisa bersikap sesuai keinginannya. "Mas Dewa!" Shafana mengibaskan tangannya di depan wajah Dewananda. "Mas udah sembuh?" "Baumu tercium," kata Dewa. Anggaplah ini sebuah alasan yang jelas, tapi pada kenyataannya pun, dia memang bisa membedakan bau Shafana dengan bau orang lain. "Maaf, Mas. Aku memang belum mandi." Dewa memilih untuk tidak perduli. "Mas!" Shafana menahan kursi roda suaminya. "Besok, aku mau ketemu ayah." Ia memperhatikan wajah suaminya. "Boleh?" "Ayahmu?" "Kenpa?" tanya Shafana bingung. "Apa kau masih menganggap mereka keluargamu?" Kelopak mata Shafana terpejam perlahan, lantas, jika bukan keluarganya, dia mau menanggap mereka apa. "Aku hanya meminta izin, Mas. Kalau b

  • Istri Kedua CEO Buta   25. Semua Orang Memiliki Topeng?

    "Bu, sebetulnya jika Bu Rania menyerah sekarang, tidak akan ada yang menyalahkan Bu Rania." "Apa?" kaget Rania. "Menyerah? Sekarang?" Wanita itu tertawa, membuat dokter yang ada di depannya kebingungan. "Bu, sudah 3 tahun kakak Anda koma, saya hanya takut kalau semuanya akan menjadi sia-sia." Rania mengepalkan kedua tangannya. Mata wanita itu memerah tajam. "Pantaskan seorang dokter mengatakan hal itu? Saya merawat kakak saya di sini bayar, Dok." Dokter pria itu memejamkan matanya untuk beberapa saat. "Saya mengerti maksud Bu Rania, tapi Bu. Andai semuanya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, saya hanya takut Bu Rania kehilangan segalanya tanpa hasil apa-apa." "Saya tidak perduli," marah Rania. "Kakak saya harus hidup, dia akan melihat apa yang akan saya lakukan, tugas dokter hanya merawatnya dengan baik, cukup lakukan itu." "Maafkan saya, Bu." "Pergilah!" titah Rania. "Tapi, Bu... Pasien sedang...." "Saya tahu kakak saya sedang makan, saya yang akan menunggun

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status