LOGIN25 tahun kemudian.“Kayson, sampai kapan kau akan seperti ini?”“Astaga, Ibu—”“Dengar, umurmu sudah 25 tahun!” Anna berkacak pinggang dan menatap putranya dengan tajam. “Sampai kapan kau akan melajang dan menolak semua gadis yang Ibu perkenalkan?”Kayson menghela napas dan meletakkan berkas di tangannya. Ia mendongak, menatap ibunya yang berdiri di depan meja kerjanya, masih memelototinya.“Ibu, aku sedang bekerja sekarang, jadi—”“Ini yang terakhir.” Anna menyela cepat, merasa kesal dan juga gemas dengan sikap putranya yang kelewat menutup diri. Sudah puluhan gadis yang ia perkenalkan, tetapi Kayson selalu menolak mereka semua. “Gadis ini sangat pintar dan manis, Ibu yakin kau akan menyukainya. Cobalah untuk berkenalan, dan jika gagal, Ibu tidak akan mencampuri hubungan asmaramu lagi. Bagaimana?”Tawaran itu terdengar sangat menggiurkan. Terlebih lagi, Kayson sudah lelah dengan semua acara kencan buta yang Ibunya selenggarakan. “Ibu serius? Ini yang terakhir?” tanyanya, memastikan.
Anna tertidur cukup lama setelah sarapan.Ketika ia membuka mata, bukan Fay yang berada di kursi samping tempat tidurnya, melainkan Kaiden.Kaiden menunduk menatapnya dengan tatapan lembut, penuh kasih. Wajahnya masih sangat pucat, membuat luka-luka di kulitnya tampak menonjol. Warnanya merah meradang, beberapa sudah mulai berubah menjadi ungu.Meskipun begitu, tatapan dan ekspresinya yang teduh seolah memudarkan semua luka mengerikan itu.Kaiden tersenyum dan mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Anna dengan lembut. Gerakannya begitu halus dan hati-hati, seolah dia takut akan menyakiti sang istri. “Bagaimana perasaanmu, Sayangku?”“Aku merasa lebih baik. Jauh lebih baik setelah melihat wajah tampan suamiku ini,” jawab Anna, tersenyum manis.Senyum Kaiden melebar. Wajahnya terlihat dua kali lipat lebih menawan. Ia menunduk, dan mengecup lembut puncak hidung Anna. “Bagaimana bisa kau baru bangun dan sudah menggoda suamimu?”Anna tersipu dan mencoba memalingkan muka, tetapi Kaiden tida
Rasanya seperti tenggelam di laut yang dingin. Seluruh tubuhnya membeku, ia tidak bisa bergerak. Ia ingin menyerah dan menyerahkan hidupnya. Namun, sebuah tangan terasa menariknya ke permukaan.Sayup-sayup, Anna bisa mendengar suara riuh dari kejauhan. Kemudian, suara itu lenyap dan berubah menjadi suara lembut yang familier.Fay?Anna mencoba membuka matanya yang terasa berat. Rasanya seolah kelopak matanya telah direkatkan menggunakan lem. Samar-samar, ada sesuatu yang terasa berdenyut, menusuk-nusuk bagian belakang kepalanya.Tanpa sadar, ia mengerang dan mencoba untuk memijat kepalanya, tetapi tangannya tidak bisa digerakkan.“Nyonya! Anda akhirnya sadar!”Suara Fay terdengar nyaring di atasnya.Anna mengerjap-ngerjap, berusaha membersihkan pandangannya yang terasa berkabut. Sekali lagi ia mencoba menggerakkan tangannya untuk mengucek mata, tetapi tubuhnya terlalu lemas.“Nyonya, apa Anda bisa mendengar saya?” tanya Fay, nadanya khawatir. Setelah beberapa saat, wajahnya akhirnya
Tidak ada tanda-tanda kalau bantuan akan segera datang.Sejauh mata memandang, hanya ada gurun tak berujung yang terlihat. Anna hanya bisa melihat tembok pembatas Mosirette dari kejauhan. Ukurannya sangat kecil, yang menandakan kalau jaraknya sangat jauh. Ia tidak mungkin bisa menempuh jarak sejauh itu dalam keadaan seperti ini. Kaiden terluka dan tak sadarkan diri. Denyut nadinya sangat lemah, meskipun darah di punggung, perut, bahu, dan sudut mulutnya telah berhenti mengalir.Anna hanya bisa membebat luka Kaiden seadanya menggunakan robekan bagian bawah pakaiannya. Jika dibiarkan seperti itu terus, lukanya bisa mengalami infeksi, apalagi dengan keadaan gurun yang anginnya terus bertiup. Debu pasir dan kuman akan memperparah luka Kaiden dalam waktu semalam.Ia harus mencari bantuan terdekat.Tetapi di mana?Anna memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil kedinginan sambil memikirkan jalan keluar yang bisa ia tempuh. Di sampingnya, tubuh Kaiden ia sandarkan ke batang pohon agar luka di
Kaiden membeku di tempat, untuk sesaat merasa syok. Sampai kemudian, alarm keras yang berbunyi menyadarkannya dari posisinya. 5 menit. Mereka hanya memiliki waktu lima menit untuk keluar dari bunker itu sampai seluruh bom yang dipasang meledak. “Kaiden, ayo!” Anna sudah berlari ke arahnya dengan membawa pistol milik Baliant. Kaiden segera berdiri dan meraih tangan Anna. Mereka berlari keluar menuju lorong, hanya untuk berpapasan dengan tiga pemberontak. Wajah mereka semua terlihat panik mendengar alarm peringatan yang berbunyi keras. Kaiden tanpa basa-basi melumpuhkan dua pemberontak yang berada di barisan paling depan. Satu lagi berusaha menembak Kaiden, tetapi Anna lebih gesit membidik kepalanya. Mereka bertiga langsung tumbang ke lantai lorong dengan bunyi gedebuk keras. “Ke sana!” Kaiden kembali menarik tangan Anna menuju lorong yang lain. Alarm terus menghitung mundur, membuat adrenalin mereka berpacu tak terkendali. “Mungkin akan lebih banyak pemberontak yang muncul m
“Ka-kaiden?”Anna berbisik rapuh, matanya melebar tidak percaya.Segaris senyum menyakitkan terbentuk di bibir Kaiden. “Ya, ini aku, Sayangku,” ucapnya dengan suara tercekat.Hatinya terasa dicabik-cabik melihat betapa ringkihnya tubuh sang istri. Berat badannya tampak turun drastis dan pipinya yang pucat terlihat sangat tirus. Air mata tanpa bisa ditahan menetes ke wajah Kaiden, merasa bersalah karena datang terlalu lama. “Maaf, aku datang terlambat.”Anna menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin mengatakan bahwa Kaiden tidak terlambat, tetapi tangis lebih dulu mengambil alih. Ia hanya bisa terisak keras saat Kaiden meraihnya dan merengkuhnya ke dalam dekapan.“Maafkan aku, maafkan aku,” bisik Kaiden berulang kali, suaranya pecah. Ia menciumi rambut Anna dalam-dalam dan menenggelamkan wajahnya di sana. Tubuhnya bergetar hebat, dibanjiri perasaan lega dan juga sesak.“Jangan minta maaf.” Anna berbisik parau. Kepalanya bersandar di dada Kaiden, merasakan debaran jantung suaminya
“Seorang prajurit kelas atas akan mengantar Anda ke perpustakaan utama, Nona.” Camila berkata setelah menata sarapan di atas meja. Anna mengangguk dan memperhatikan penampilannya sejenak. Ia kembali memakai gaun sutra yang ketat membentuk tubuh, juga rambut yang disanggul ke belakang. Camila menam
Anna merasa tidak enak badan pagi ini.Ia duduk di tepi tempat tidur cukup lama, menyentuh kepalanya yang terasa pusing. Sekeliling kamar terasa berputar untuk sejenak, lalu berangsur-angsur normal kembali. Tetapi, bagian belakang kepalanya masih menyisakan rasa sakit yang tajam.Apakah karena ia k
“Apa kau baik-baik saja?” Kaiden duduk di sisi ranjang dan mengelus pundak Anna yang tengah berbaring di sana. Setelah menonton penyiksaan yang berlangsung selama sejam lebih, Anna berakhir mual dan lemas. Darah yang terpercik dari tubuh Selena, Genevi, dan Titus otomatis mengingatkan Anna pada
Cahaya menyilaukan yang datang dari jendela membuat Kaiden terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap-ngerjap menyesuaikan pandangan dan mengerang parau. Ada titik di bagian belakang kepalanya yang masih terasa nyeri, meskipun terasa samar. Begitu matanya terbuka lebar, hal pertama yang ia lihat adalah







