تسجيل الدخولKeesokan paginya, Kalisa terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Dia bermimpi buruk semalam—mimpi tentang seseorang yang mengejarnya di kegelapan, seseorang yang dia kenal namun tidak bisa dia ingat wajahnya.
Dia duduk di tepi ranjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang. Marko masih tertidur di sampingnya, wajahnya tenang. Kalisa tidak ingin membangunkannya, jadi dia berjalan pelan ke arah jende
Suasana di teras vila mendadak berubah menjadi medan perang yang penuh ketegangan. Sri Wahyuni berdiri di antara pepohonan dengan pistol di kedua tangan, mengarah tepat ke dada Bryan. Wanita itu menatap mantan kaki tangannya dengan tatapan yang bisa membunuh."Lepaskan mereka, Bryan," ulang Sri dengan suara yang dingin. "Kau tahu aku tidak segan menembak."Bryan menelan ludah, namun senyumnya tidak hilang. "Sri... aku tidak menyangka kau akan datang ke sini. Bukankah ini melanggar kesepakatan kita?""Kesepakatan kita berakhir saat kau mencoba membunuh putriku," jawab Sri dengan tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Maharani atau siapa pun yang dia cintai."Galvin menatap wanita itu dengan mata terbelalak. "Kau... kau ibunya Maharani? Kau yang membiayai Bryan selama ini?"Sri menoleh ke arah Galvin, dan untuk sesaat, ada kelembutan di matanya. "Ya. Dan aku tahu kau pasti p
Matahari pagi baru saja terbit ketika Galvin tiba kembali di rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Semalaman dia tidak tidur—setelah menyelamatkan Maharani dan menangkap Robert, dia langsung mengatur strategi untuk menemukan Marko. Namun satu hal yang membuatnya tidak tenang adalah pesan terakhir Bryan tentang "rahasia terakhir" yang akan menghancurkannya.Di lorong rumah sakit, Kalisa sudah menunggu dengan kursi roda. Meskipun tubuhnya masih lemah, wanita itu bersikeras untuk ikut membantu. Di sampingnya, Maharani duduk dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya, wajahnya masih pucat namun matanya menyala dengan tekad."Aku ikut," ujar Maharani sebelum Galvin sempat membuka mulut. "Marko adalah sahabatku juga. Aku tidak bisa hanya duduk diam."Galvin menghela napas. Dia tahu tidak ada gunanya membantah. "Baiklah. Tapi kalau keadaan menjadi berbahaya, kalian harus mengikuti perintahku tanpa protes."
Mobil Galvin melaju kencang di jalanan Jakarta yang mulai sepi menjelang tengah malam. Lampu-lampu kota berkelebat seperti garis-garis cahaya yang tak berarti. Di sampingnya, Lingga duduk dengan tablet di pangkuan, memantau pergerakan tim yang mengikuti dari belakang."Alamatnya sudah terkirim, Pak," ujar Lingga dengan suara tegang. "Sebuah gudang di kawasan pelabuhan tua di Penjaringan. Tempat itu sudah lama tidak digunakan, tapi jaringan listriknya masih aktif."Galvin mengangguk tanpa menoleh. Matanya fokus pada jalan di depannya, namun pikirannya melayang jauh—ke Maharani yang mungkin sedang ketakutan, ke ayahnya yang berjuang antara hidup dan mati, dan ke ibunya yang telah mengkhianati keluarganya."Lingga," ujar Galvin dengan suara yang tenang namun dingin. "Kalau terjadi sesuatu padaku malam ini, aku ingin kau melakukan satu hal.""Pak, jangan bicara seperti itu—""Dengarkan aku," potong Galvin dengan tegas. "Kalau aku tidak kembali, bawa Maharani ke tempat yang aman. Jauh dari
Galvin tiba di rumah sakit tempat ayahnya dirawat dengan napas terengah-engah. Lorong-lorong putih itu terasa begitu panjang, seolah sengaja memperlambat langkahnya menuju ruang gawat darurat. Di depan pintu, Lingga sudah menunggu dengan wajah pucat."Bagaimana kondisi Ayah?" tanya Galvin dengan suara yang tegang.Lingga menundukkan kepalanya. "Dokter masih berusaha, Pak. Peluru mengenai paru-paru kiri. Kondisinya sangat kritis."Galvin merasakan kakinya lemas. Dia bersandar ke dinding, mencoba menenangkan diri. Ayahnya—pria yang selama ini dia anggap kuat dan tak terkalahkan—kini terbaring di ruang operasi dengan nyawa yang dipertaruhkan."Siapa yang melakukannya?" tanya Galvin dengan suara yang bergetar."Kami belum tahu pasti, Pak. Rekaman CCTV di lorong rumah sakit menunjukkan seorang pria berpakaian hitam masuk ke kamar Marko sekitar pukul enam pagi. Wajahnya ter
Langit pagi di atas Jakarta masih kelabu ketika ambulans yang membawa Kalisa tiba di rumah sakit. Galvin duduk di dalam ambulans, tangannya masih menggenggam tangan sahabatnya yang terbaring lemah dengan selang oksigen menempel di hidungnya. Darah yang membasahi perutnya sudah dihentikan sementara oleh tim medis, namun wajah Kalisa tetap pucat seperti kertas."Bertahanlah, Lis," bisik Galvin dengan suara serak. "Kau sudah janji pada Marko. Kau tidak boleh ingkar."Kalisa membuka matanya sedikit, senyum tipis terukir di bibirnya yang kering. "Marko... bagaimana Marko?"Galvin menelan ludah. Dia belum tahu kondisi Marko. Ketika polisi menyerbu bangunan tua itu, Marko ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan luka tembak di bahu kirinya. Pria itu langsung dilarikan ke rumah sakit yang berbeda karena kondisi jalannya yang lebih stabil."Dia sedang dirawat," jawab Galvin dengan suara yang berusaha terdengar meyakinkan. "Dia kuat. Dia pasti bertahan."Kalisa mengangguk lemah, lalu
Sementara itu, di rumah sakit, Maharani merasakan kegelisahan yang luar biasa. Sudah lebih dari dua jam sejak Galvin pergi, dan tidak ada kabar apa pun. Dia mencoba menghubungi ponsel suaminya, namun tidak ada jawaban. Begitu juga dengan Kalisa dan Marko.Maharani bangkit dari ranjang meskipun tubuhnya masih lemah. Dia meraih ponselnya dan menghubungi Lingga."Lingga, apa kabar Mas Galvin? Apa kau tahu di mana dia?"Suara Lingga di ujung telepon terdengar tegang. "Maaf, Nyonya. Saya juga sedang mencari informasi. Pak Galvin pergi terburu-buru setelah menerima pesan dari Bu Kalisa. Tapi setelah itu, ponselnya tidak aktif. Saya sudah mengirim beberapa orang untuk mencari, tapi belum ada hasil."Maharani merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. "Lingga, aku takut sesuatu terjadi pada mereka. Tolong... tolong temukan mereka.""Saya akan melakukan yang terbaik, Nyonya. Tapi saya







