MasukCandra terkejut dengan kedatangan seorang wanita cantik di rumahnya itu. Padahal jelas-jelas selama ini, setelah dia menikah dengan Vania, dia tidak pernah merasakan lagi getaran cinta selain saat bersama istrinya. Tapi bisa-bisanya di pertemuan pertamanya dengan wanita ini, hati Candra dibuat bergetar dan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Candra tahu ini salah. Dia sadar kalau seharusnya tidak ada perasaan semacam ini setelah dia menikah dan punya anak dari Vania. Vania istri yang baik, Candra pun sangat mencintai dia. Tapi di sisi lain, Candra juga seorang pria. Dia kaya, dia punya segalanya, dan dia juga ingin merasakan cinta lain yang mungkin bisa lebih memuaskan hasratnya.
Pikiran Candra masih melayang, menatap gadis cantik yang menanyakan tentang istrinya itu. Siapa yang mengira jika wanita cantik yang membuat Candra jatuh cinta pandangan pertama adalah Irma, sahabat istrinya yang selama ini memanfaatkan uang Vania.
"Kalau Irma suka uang, bukankah mudah untuk membuat dia tertarik padaku? Harusnya aku bisa menaklukkan dia dengan harta kekayaan yang saat ini aku miliki," batin Candra.
Candra masih melamun, dan otaknya seperti berhenti di titik ini. Titik di mana Irma sengaja memamerkan tubuhnya yang seksi di hadapan Candra. Candra bisa merasakan aliran darahnya mengalir, membayangkan tubuh seksi itu berada di ranjang yang sama dengannya. Padahal dia bukan pria bajingan, tapi dia tidak bisa melawan ketertarikan dalam dirinya pada teman istrinya ini.
"Mas, kenapa? Kok bengong?" tanya Irma yang membuat Candra kaget mendengarnya.
"Tidak, tidak apa-apa. Masuklah. Vania ada di dalam. Aku panggil dia sebentar!" ucap Candra, walau sebenarnya enggan berpisah dari gadis cantik di hadapannya itu.
Candra pun memanggil istrinya yang ada di kamar anak-anak. Melihat wajah cantik Vania yang selama ini setia dan patuh padanya, Candra merasa berdosa punya perasaan suka semacam ini pada wanita lain.
"Tidak boleh, aku tidak boleh mengecewakan Vania. Bagaimanapun Vania sudah melakukan banyak hal untukku. Dia mencintaiku dengan sepenuh hati. Dia juga mengorbankan nyawanya saat melahirkan dua anak perempuanku, dan dirawat di rumah sakit hampir satu bulan lebih," batin Candra terus merasa bersalah menatap wajah istrinya.
Pikiran Candra berkecamuk. Akan lebih baik jika dia tidak lagi bertemu dengan Irma. Wanita itu terlalu mendekati tipe wanita yang Candra sukai secara fisik. Kalau terus dekat dengan Irma, Candra takut dia khilaf.
Setelah itu Candra pun mendekati Vania untuk memberitahukan tentang kedatangan Irma ke rumah itu. Terlihat istrinya langsung antusias, dan mencari keberadaan Irma yang ada di ruang tamu. Candra pun berjalan masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai dua. Dia berusaha untuk mengendalikan diri dari hasrat tidak pantas yang melintas di pikirannya terhadap teman istrinya itu.
Keesokan harinya, Candra bangun pagi. Dia melihat Vania masih tidur di sampingnya dengan wajah cantik alami tanpa riasan. Melihat Vania saat itu, Candra pun kembali mengingat masa lalu tentang hubungan mereka di masa dia masih jadi bos Vania.
Siapa yang mengira jika pria dingin, arogan, dan tidak pernah jatuh cinta seperti Candra bisa menyukai Vania sampai ngebet untuk menikahinya. Yang tidak bisa dia lupakan adalah saat itu Vania adalah pacar kakaknya, Galang Adiputra. Candra menyukainya, dan Vania juga menyukai Candra. Akhirnya tanpa mengabari kakaknya yang bekerja di luar negeri, Candra dan Vania menikah.
Galang tahu kabar tentang pernikahan Candra dan pacarnya. Dia pun memutuskan untuk tinggal di luar negeri dan tidak pernah kembali. Sesekali dia menghubungi Candra, menanyakan tentang kabar Vania darinya. Sebenarnya kadang Candra muak dengan sikap kakaknya yang masih perduli pada mantan pacarnya, yang kini sudah jadi istrinya itu. Bahkan setelah Candra punya dua anak dari Vania pun, Galang tak pernah berhenti menanyakan tentang Vania darinya.
Vania sendiri, setelah memutuskan menikahi Candra, dia sudah lama melupakan kisah cintanya dengan Galang. Vania benar-benar jatuh cinta pada Candra, dan dia melakukan segala cara untuk menjadi istri yang baik di mata Candra. Itu juga yang mungkin mencegah Candra dari kekhilafan agar tetap setia padanya selama ini. Tapi untuk Irma, Candra sendiri tidak tahu, kenapa bisa-bisanya dia begitu tertarik dengan teman istrinya itu.
"Mas, kamu sudah bangun?" tanya Vania saat menyadari suaminya memperhatikan dia yang sedang tidur.
"Kamu sudah bangun, sayang?" bisik Candra sambil menempelkan bibirnya di pipi istri kesayangannya itu.
"Ya, aku baru bangun. Kamu mau berangkat dinas ke luar kota pagi ini kan? Aku siapkan sarapan untukmu ya!" ucap Vania yang bergegas bangun dari tempat tidur.
Tapi Candra menarik tangannya agar kembali tidur di tempat tidur sambil memeluknya. Dia menahan Vania pergi dari sisinya.
"Mana bisa aku biarkan istriku pergi sebelum aku mencicipi tubuhnya. Aku akan pergi ke luar kota. Aku mungkin akan pulang satu atau dua Minggu, dan tidak punya kesempatan untuk bercinta dengan istriku. Sebelum aku pergi, aku harus melampiaskan nafsuku dulu sebelum nantinya harus berpuasa beberapa Minggu di luar kota," batin Candra sambil tersenyum kecil menatap Vania.
"Mau kemana? Jangan pergi kemana-mana! Aku butuh kamu!" bisik Candra sambil melingkarkan tangannya di pinggang Vania.
"Vania, aku mau...."
Saat itu Vania tak bicara. Dia tentu saja paham, apa yang Candra mau. Dia membiarkan suaminya membuka bajunya, dan melakukan hal yang dia inginkan dari tubuhnya hingga Candra puas.
Entah berapa lama Candra bercinta pagi itu dengan istrinya. Kalau sudah melakukan hubungan intim seperti ini dengan Vania, rasanya Candra tidak ingin berhenti, dan tak ingin berpisah darinya. Candu wangi tubuhnya benar-benar membuat Candra hilang akal dan nyaris gila. Bahkan setelah mereka menikah selama bertahun-tahun, dia tak pernah bosan dengan rasa tubuh istrinya ini.
Saat sedang menikmati kebersamaan mereka, entah kenapa Candra membayangkan sesuatu yang tidak seharusnya dibayangkan. Candra melihat Vania yang sedang dia tiduri menjadi mirip dengan Irma. Lama kelamaan dia semakin bernafsu menyetubuhinya dengan membayangkan bahwa wanita yang dia setubuhi adalah Irma, teman baik istrinya itu.
"Mas Candra, sudah, ampun..."
Saat itu Candra merasa tidak bisa mengendalikan diri. Dia benar-benar membayangkan hal yang seharusnya tidak dia bayangkan pada sosok istrinya.
"Bagaimana bisa aku menyetubuhi istriku tapi yang kubayangkan adalah sosok Irma, teman istriku. Sialan, aku ini kenapa?" batin Candra bingung.
Candra pun perlahan melepaskan tubuh Vania setelah selesai dengan nafsu gilanya. Dia mengecup kening Vania dengan penuh rasa bersalah.
"Maaf, aku tidur denganmu, tapi yang aku bayangkan malah wanita lain," batin Candra.
Candra lalu pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap berangkat ke bandara. Tiket pesawat sudah dipesan oleh asisten pribadinya yang saat ini sudah menunggu di ruang tamu. Asistennya paling tahu, kalau Candra ada acara dinas seperti ini, dia tidak akan melepaskan istrinya sampai dia puas. Baru setelah dia merasa cukup, dia bisa pergi dinas ke luar kota dengan hati tenang tanpa terbebani hal apapun.
Candra keluar dari kamar mandi, dan menatap Vania berjalan mendekatinya sambil memberikan jas kantor yang sudah dia siapkan untuk suaminya itu.
"Bodohnya aku! Sudah punya istri cantik, baik, dan penurut seperti Vania, kenapa malah tiba-tiba tertarik dengan gadis binal semacam Irma? Kalau salah satu karyawan laki-lakiku benar-benar pernah tidur dengan Irma, bukankah wanita itu sama saja seperti wanita binal yang jual diri demi uang? Lalu, kapan aku bisa punya kesempatan untuk mencicipinya juga? Setidaknya aku ingin sekali mencicipinya, dan aku harap aku bisa melakukan itu tanpa sepengetahuan istriku," batin Candra yang masih terus memikirkan tentang sahabat istrinya itu.
Selepas Candra pergi ke luar negeri, Vania dan Galang memulai hari baru mereka. Sebagai pasangan suami istri baru, Galang nampak lengket dengan Vania. Bahkan pagi itu, saat jam menunjukkan pukul 5 pagi, tubuh Vania dipeluk erat-erat oleh suaminya. Tak diizinkan pergi kemanapun olehnya. "Kak Galang, lepaskan pelukanmu! Aku harus bangun untuk membuatkan sarapan anak-anak," keluh Vania, berusaha berontak dari pelukan Galang. "Masih pagi. Tidurlah sebentar lagi!" balas Galang, tanpa membuka matanya yang masih tidur. "Ahk, aku benar-benar tidak bisa tidur lagi! Kak Galang, lepaskan aku! Aku harus bangun!" "Tidak boleh bangun! Temani aku tidur sebentar lagi!" balasnya lagi sambil mempererat pelukannya. Melihat sikap manja Galang, Vania hanya bisa pasrah. Dia pun kembali memejamkan mata, berusaha tidur lagi, walaupun matanya sudah tidak mengantuk. "Vania, kapan kita buat adik untuk Kanaya, dan Tania?" bisik Galang, yang tiba-tiba berbisik di telinga Vania. "Apa? Adik? Bu
Candra mengikuti langkah Vania ke arah pesta pernikahannya. Di sana nampak seorang pria dan wanita paruh baya, menatap sedih melihat kondisi Candra saat itu. "Nak, kamu kenapa jadi begini? Bagaimana bisa jadi seperti ini? Kenapa tidak mengabari kami jika kamu mengalami kesulitan?" tanya ayah Candra, khawatir. "Ma, Pa, aku tidak apa-apa. Aku tidak mengabari kalian, karena tak mau kalian khawatir. Ma, Pa, maafkan aku! Aku tidak bisa mempertahankan perusahaan." "Sudahlah, jangan menangis! Yang penting kamu tidak apa-apa. Vania menikah dengan kakakmu, kamu tidak keberatan kan? Papa berharap kita sekeluarga bisa hidup rukun selamanya." "Ya, Pa, aku tidak keberatan. Aku bahagia melihat Vania dan kakakku bahagia. Aku percaya kakakku bisa menjaga dan membahagiakan Vania seumur hidupnya." "Baguslah, bagus. Akhirnya keluarga kita bisa rukun dan berkumpul kembali. Sekarang, ayo kita lanjutkan pesta pernikahan ini." Candra menganggukkan kepalanya. Dia kembali memfokuskan perhatiann
Beberapa hari setelah kematian Irma, Candra mulai gelisah. Dia mendapati dirinya juga tertular penyakit yang sama yang dimiliki mantan istrinya itu. Tiga kali dia memeriksa kondisinya ke tiga rumah sakit, tapi hasilnya sama, dia positif HIV. Dengan kondisi keuangan yang tak memadai, tentu saja Candra khawatir. Pengobatan rutin yang cukup menguras kantong, tak menjamin kesembuhan penyakitnya. Rasanya, nyawanya sudah diujung tanduk. Dalam hati Candra terus berpikir, apakah ini karmanya karena telah mengkhianati wanita baik seperti Vania. Candra bermodal nekad, kembali ke rumah Vania untuk melihat mantan istrinya itu. Dari jauh dia meratapi nasibnya penuh kesedihan. Rasa sesal pada pengkhianatan yang dia lakukan berujung menghancurkan dia sehancur-hancurnya. "Vania, jika waktu bisa diulang kembali, aku tidak akan membiarkan diriku memilih pilihan bodoh untuk mengkhianatimu. Vania, maafkan aku! Aku menyesal!" gumamnya sambil meneteskan air mata. Saat masih fokus menatap Vania yang
Galang yang melihat kejadian itu, menatap kesal ke arah Candra. Dia mendekat, dan menarik kerah baju Candra dengan penuh amarah. "Candra, jika kamu tahu malu, jangan pernah lagi datang temui Vania! Jangan sampai tinjuku ini melayang di wajahmu! Kalau ada lain kali, kamu datang untuk mengganggu Vania dan putrinya lagi, aku tidak akan sebaik ini. Pergilah! Kamu tidak diterima di sini!" "Sialan kamu! Beraninya kamu bersikap sekasar ini padaku? Tidak takutkah kamu jika nanti aku mengadu pada ayah dan ibu kita? Seorang kakak harusnya tidak merebut mantan istri adik kandungnya. Jelas, di sini siapa yang tidak tahu malu!" BRUKKK... Pukulan keras melayang di wajah Candra. Sepertinya Galang enggan untuk bersabar lagi. Tentu melihat emosi yang meledak-ledak dari wajah Galang, Candra pun langsung berlari pergi meninggalkan rumah itu. "Galang, awas kamu!" ancam Candra sambil terus berlari. Candra berjalan tak tentu arah. Rumahnya disita bank, perusahaan bangkrut, dan tak punya ua
Candra kembali menitikkan air mata, saat melihat kedua anaknya membuka pintu pagar rumah untuk menemuinya. Jika ingat, dulu dia memperlakukan kedua buah hatinya itu dengan buruk, tidak mengira jika mereka masih sudi menemuinya. "Putri papa. Putri-putri papa yang cantik. Maafkan papa! Papa menyesal menyia-nyiakan kalian selama ini. Papa minta maaf!" Kata-kata itu terus berulang, keluar dari mulut Candra. Kanaya dan Tania mengusap air mata ayah mereka, dengan ekspresi wajah simpati mereka. "Papa, jangan nangis! Kanaya sudah maafin papa." "Tania juga, Tania juga. Tania sudah maafin papa," sambung putri bungsu Candra. "Terima kasih, terima kasih sudah mau maafin papa. Bisakah kalian bujuk mama agar memaafkan papa juga? Bujuk mama agar bisa kembali sama papa, biar kita bisa jadi kelurga utuh lagi seperti dulu," bujuk Candra, yang seketika membuat Kanaya merubah kesal. "Papa, jangan rebut mama dari om Galang. Papa kan sudah punya Tante jahat. Papa tidak bisa sama mama lagi." Ca
Candra tak bicara. Tangannya mengepal, menahan amarahnya. Tetesan air mata jatuh membasahi pipinya. Tentu hal itu membuat Irma khawatir dan ketakutan. "Mas, ada apa? Jangan buat aku takut!" ucap Irma lagi. "Kamu darimana? Seminggu tidak pulang, apa kamu masih anggap aku sebagai suamimu?" tanya Candra, dengan suara penuh tekanan, menahan marah. "Itu, aku... Aku ada urusan. Ini urusan pekerjaan. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Jadi aku...." PLAKKK... Tamparan keras mengenai pipi Irma. Hal itu membuat Irma kaget, dan melotot menatap ke arah suaminya itu. "Mas, apa maksud kamu menampar aku begini? Aku tahu aku salah. Aku tidak seharusnya meninggalkan rumah demi pekerjaan. Tapi anak kita sakit, kita butuh banyak uang jadi aku...." "Aku apa? Jual diri? Kamu jual diri? Pekerjaan yang kamu bilang itu, maksudnya menemani pria tua tidur? Irma, seumur hidup ini, hal satu-satunya yang aku sesali adalah berselingkuh denganmu, meninggalkan Vania, dan menjadikan







