تسجيل الدخولTak butuh waktu lama.Pelayan wanita tasi kembali membawa nampan besar berisi makanan yang Kian dan Ginny pesan. Aroma harum dari uap makanan yang menguar di udara menusuk indera penciuman. Kian diam memperhatikan pelayan menyajikan satu persatu makanan yang dipesannya, tanpa menanyakan banyak hal lagi agar tak membuat pelayan ini merasa tak nyaman.“Silakan menikmati hidangannya.” Pelayan tersenyum ramah pada Kian dan Ginny.Kian mengangguk sambil membalas senyum pelayan ini. “Terima kasih, ya.”Pelayan mengangguk pelan, lalu membalikkan tubuhnya dan meninggalkan meja Kian.Setelah pelayan itu menjauh. Kian dan Ginny mulai mengambil sendok. Mereka mencicipi hidangan di atas meja satu per satu. Baru suapan pertama, gerakan mengunyah keduanya mendadak melambat. Mereka saling tatap dengan mata mereka yang membola lebar.“Bu Kian, jelas-jelas makanannya enak sekali,” bisik Ginny, dia tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. “Bumbunya pas, dagingnya juga empuk.”“Benar.” Kian membalas
Rasa penasaran Kian semakin meledak. Dia tidak bisa tenang dan hanya duduk di kursinya.Kian harus mencari tahu lebih lanjut.Dia segera bangkit dari kursinya lalu berdiri dan melangkah keluar dari ruang kerja.Begitu menginjakkan kaki di luar, Kian menghampiri meja asistennya. “Ginny, ikut aku sekarang.” Kian berdiri di depan meja sambil menatap Ginny yang baru saja mendongak ke arahnya.Ginny segera berdiri dari duduknya. “Anda mau ke mana, Bu?” Ginny lebih dulu memastikan. “Kita datangi salah satu tempat makan yang pernah di-review buruk oleh Rose.” Kian bicara dengan nada pelan agar tak menarik perhatian karyawan lain.Ginny terkejut, tapi kemudian dengan sigap mengambil tasnya dan mengikuti langkah Kian meninggalkan ruang divisi menggunakan lift, lalu menuju area parkir.Mereka berkendara ke sebuah restoran yang lokasinya berada di area strategis kota. Tak butuh waktu lama hingga keduanya tiba di sana.Sampai Kian menyadari kalau suasana di luar bangunan tampak begitu lengang.
Begitu berhasil meninggalkan pusat kebugaran tanpa diikuti, Rose mengembuskan napas panjang. Jantungnya berdegup kencang, dan tangannya sedikit gemetar saat mencengkeram kemudi. Dia benar-benar panik setelah berhadapan langsung dengan Kian dan Arthur tadi.Sambil mengemudikan mobilnya membelah jalanan, Rose segera memasang earphone dan menghubungi sebuah nomor. Dia menunggu beberapa detik, sampai panggilan tersambung dan terdengar suara seorang wanita dari seberang telepon.“Pimpinan HW. Company baru saja menemuiku langsung di tempat pusat kebugaran.” Rose bicara dengan sangat cepat.“Apa yang mereka katakan kepadamu?” Rose mendengar suara wanita dari seberang panggilan, lalu dia menjelaskan, “Mereka mengajak mediasi. Mereka bilang siap tanggung jawab kalau produk mereka memang bermasalah.” Rose masih agak gelisah. Matanya yang menyorot panik sesekali melirik kaca spion untuk memastikan dia benar-benar tak dibuntuti. “Sekarang aku harus bagaimana? Orang-orang itu pasti tidak akan
Kian dan yang lain sangat terkejut mendengar penolakan dan pengusiran dari Rose–nama akun influencer yang mengkritik produk HW. Company.Penolakan Rose ini tentu membuat semua orang semakin yakin jika ada sesuatu di balik tindakan Rose membuat dan menyebar video tentang produk HW. Company.Kian benar-benar tidak menyangka jika harus menghadapi wanita seperti ini.Belum juga Kian mengeluarkan argumen untuk mendesak Rose agar mau duduk berdiskusi dengan mereka. Kian melihat Rose memutar tubuhnya dengan gerakan cepat lalu menyambar tas olahraga yang tergeletak di atas kursi.Namun, sebelum Rose pergi, Kian dengan sigap menggeser posisinya berdiri untuk menghalangi Rose pergi begitu saja.“Tunggu sebentar, Nona Rose.” Kian bicara dengan nada pelan dan sopan. Meski tak menyukai sikap wanita di depannya ini, tapi Kian tetap tersenyum lalu berkata, “Kami datang ke sini murni dengan niat baik. Video yang Anda unggah di akun Anda sudah menggiring opini publik dan menciptakan persepsi yang san
Setelah bicara dengan Ginny. Kian meninggalkan ruang kerjanya dan pergi ke lantai tempat ruangan suaminya berada.Kian melangkah cepat menyusuri koridor menuju ruang kerja Arthur begitu keluar dari lift yang baru saja terbuka di lantai ini. Saat tiba di depan pintu eksekutif, dia langsung mendorongnya lalu masuk dan mendapati suaminya tengah memeriksa beberapa dokumen di balik meja kebesarannya.“Arthur.” Kian memanggil lembut.Kian melihat tatapan suaminya kini teralihkan ke arahnya.“Kamu bawa kabar soal kasus video itu?” Arthur berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan sang istri.Kian mengangguk-angguk pelan.Kian berjalan ke sofa dan mendudukkan diri di sana.Kian menunggu Arthur duduk di sampingnya, sebelum dia mulai menjelaskan semua hasil laporan yang tadi diberitahukan oleh Ginny termasuk kejanggalan terkait sikap influencer itu.Arthur mendengarkan dengan seksama, hingga keningnya berkerut dalam. “Rasanya memang sangat tidak masuk akal. Jika dia memang merasa dirugik
Di perusahaan HW. Company.Kian melangkah keluar dari lift lalu menuju ke ruang kerjanya.Saat melewati kubikel milik Ginny, Kian memanggil asistennya itu hanya dengan isyarat matanya yang membuat Ginny langsung berdiri dari duduknya.Begitu Kian melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya, Ginny mengikuti Kian lalu berdiri di depan meja dengan beberapa berkas tebal di dalam dekapannya.Ginny menunggu Kian duduk lebih dulu, sebelum dia menyampaikan informasi yang dimilikinya.“Bagaimana hasil penyelidikannya?” Kian langsung bertanya saat tatapannya tertuju pada Ginny.Ginny meletakkan berkas yang dibawanya di atas meja lalu mendorong pelan ke arah Kian. “Ini laporan hasil penyelidikan dari tim terkait kasus video viral yang heboh kemarin, Bu.”Tangan Kian terulur ke arah map yang baru saja Ginny letakkan, lalu segera membuka lembar pertama pada berkas laporan tersebut dan membaca dengan seksama. “Jadi, bagaimana hasil investigasinya, Ginny?”Kian bertanya dengan tatapan tertuju ke
Kian sudah sampai di HW. Company dan sekarang ada di dalam lift yang bergerak naik.Begitu pintu lift terbuka di lantai ruangannya, Kian keluar dan melangkah di koridor. Sebelum sampai di ruang kerjanya, Kian menoleh ke meja kerja Ginny."Ginny, ikut ke ruanganku sekarang.” Kian memberi perintah ta
Matahari siang itu bersinar cukup terik di atas halaman sekolah. Setelah bel berbunyi, anak-anak kelas taman kanak-kanak berhamburan keluar menuju area bermain terbuka.Diana berjalan dengan langkah cepat dan riang menuju perosotan berwarna cerah. Namun, langkahnya mendadak melambat saat mendengar
Pria itu menengok ke kanan dan kiri memastikan situasi, lalu kembali menatap pada Sienna.“Begini, nanti kamu pura-pura terkejut kalau ada wanita yang mendekatimu bersama beberapa orang yang membawa kamera di belakangnya.”Sienna mengerutkan kening, sampai dia kembali mendengar pria ini bicara.“Na
Pintu ruangan kerja Arthur terbuka perlahan. Kian melangkah masuk dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya, membawa sebuah paper bag berisi beberapa kotak bekal makanan yang dipesannya.Saat melihat Arthur sibuk di balik meja, Kian dengan cepat memanggil. "Sayang, ayo makan siang dulu." Tatapan







