Mag-log inSore hari.Kian duduk di kamar milik bayinya.Dia melipat kembali pakaian yang sebelumnya sudah terlipat.Dia akan melakukan hal yang sama setiap harinya seolah ada bayinya di kamar ini.“Mama sudah kehilanganmu, Mama tidak akan membiarkan papa dan kakekmu kehilangan harapan juga.”Tatapan Kian tertuju ke mainan yang tergantung di atas baby box.Bibirnya tersenyum kecil.“Mama tidak akan pernah melupakanmu. Tapi Mama juga harus menemani papamu. Jadi, jangan marah jika terkadang Mama sibuk sendiri, hm.”Kian merasakan kepiluan.Tapi hidupnya tetap harus berjalan.“Ternyata kamu di sini?”Suara Arthur mengejutkan Kian.Kian menoleh ke arah pintu, suaminya masuk ke dalam kamar.“Kamu pulang lebih awal hari ini?” Kian meletakkan pakaian yang dilipatnya di atas ranjang.Kian berdiri menghampiri Arthur.Arthur mengangguk pelan.Saat sudah berdiri di hadapan Kian. Tangan Arthur mengusap lembut rambut istrinya.“Apa ada masalah di kantor sampai membuatmu pulang lebih awal? Atau kamu mau berub
Kian berdiri di depan Arthur yang sudah memakai kemeja rapi. Dasi kini dia ikatkan perlahan melingkar di kerah kemeja suaminya.“Jika sudah sehat, aku juga ingin masuk kerja. Tidak masalah jika tak digaji sampai pabrik mulai jalan.” Setelah bicara, Kian mengangkat pandangannya, bibirnya tersenyum lebar.Arthur menahan tawanya. “Kenapa? Kamu sudah rindu dengan suasana kantor?” Arthur memastikan.“Aku bosan tak melakukan apa pun di rumah. Jika di perusahaan, setidaknya aku bisa melakukan hal yang berguna untukmu.” Tatapan Kian penuh perhatian pada Arthur.Arthur mengembuskan napas pelan. Jari-jarinya merapikan helaian rambut Kian yang agak berantakan.“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Tapi, suasana kantor tidak akan seperti dulu. Hari ini aku akan meminta pertimbangan Kendrick untuk merumahkan beberapa staff untuk efisiensi dan menjanjikan kembali pekerjaan setelah pabrik mulai berjalan. Tentu saja, mereka juga berhak memilih apakah akan tetap ingin bekerja di HW. Company atau tida
Malam hari.Kian duduk di kamarnya, menunggu kedatangan Arthur.Sesekali Kian menatap ke arah pintu kamar, tapi belum ada tanda-tanda jika suaminya akan datang.Kian masih menunggu, sampai terdengar suara langkah kaki dari luar kamar.Saat Kian membuka pintu, tatapannya langsung tertuju pada Arthur.Suaminya sudah berdiri di hadapannya.“Kenapa kamu belum tidur?” Arthur menatap heran pada Kian.Kian mengambil jas yang ditenteng suaminya, setelahnya menarik masuk Arthur ke dalam.“Menunggumu, aku tidak bisa tidur sebelum melihatmu di rumah.”Arthur tersenyum melihat kondisi Kian sudah baik-baik saja setelah banyak hal yang mereka alami.Kian meminta suaminya duduk lebih dulu setelah dia meletakkan jas di keranjang pakaian kotor. Kian mengambilkan minum, memberikan perhatian kecil untuk suaminya yang lelah.“Terima kasih.” Arthur menenggak air putih pemberian Kian.Sedangkan Kian duduk di samping Arthur, menunggu sampai suaminya selesai minum.“Soal HW. Company, apa kamu benar-benar aka
Arthur berdiri di samping meja kerjanya. Jemarinya mengusap tepian meja, memandangi tempat kerja yang selalu dibanggakannya bertahun-tahun ini.“Tuan.” Kendrick masuk ke dalam ruang kerja Arthur setelah menyapa.Kendrick meletakkan setumpuk berkas di atas meja.“Ini semua tawaran akuisisi dari beberapa perusahaan.” Kendrick bicara dengan tatapan sedih.“Apa Anda akan benar-benar melepas perusahaan ini, Tuan? Pabrik kita mulai dibangun, setelah selesai, kita bisa bangkit lagi, Tuan.” Kendrick benar-benar tidak bisa membiarkan dia dan karyawan lain kehilangan tempat bekerja mereka.“Setelah selesai dibangun, kita juga tidak tahu apakah perusahaan ini masih bisa berjalan saat waktunya tiba nanti.” Nada bicara Arthur berbalut keputusasaan. “Jika menjual perusahaan ini, setidaknya kamu dan para karyawan masih tetap bisa bekerja di sini.”Bola mata Kendrick membola. “Tidak, saya tidak akan bekerja di tempat yang tidak ada Anda.”Kendrick menolak dengan tegas.“Kita sudah bersama-sama, mengh
Kian sudah selesai dengan Hendra.Dia keluar dari ruang kunjungan, tatapannya langsung tertuju pada Arthur yang menantinya.“Sudah selesai?” Arthur memastikan. Matanya menelisik ke setiap tubuh Kian, memastikan istrinya tak terluka.Kian mengangguk-angguk pelan. Meski yang dilakukannya tak bisa mengembalikan putranya, setidaknya Kian sudah meluapkan penyesalannya pernah bertemu dengan Hendra.“Kita pulang sekarang?” tanya Kian.Arthur mengangguk-angguk pelan. Dia menautkan jemari mereka, sebelum mengajak Kian pergi dari kantor polisi.Keduanya masuk ke dalam mobil.Sebelum menyalakan mesin, Arthur mendapat panggilan dari Kendrick.“Ada apa?” tanya Arthur.“Tuan, penyidik sudah berhasil menangkap pelaku pembakaran pabrik beserta barang buktinya. Dan, Anda pasti tidak akan terkejut mendengar siapa dalang di belakangnya.”Arthur diam mendengar ucapan Kendrick, sampai dia berucap, “Hendra?”“Benar, Tuan. Dengan begini, kita benar-benar bisa menuntut Hendra sampai pria itu membusuk di penj
Di tempat lain.Arron baru saja keluar dari bandara di kota tempat dia mengasingkan Dimitri.Membawa beberapa orang bayaran, Arron ditemani Malvin menuju rumah tempat Dimitri tinggal.“Saya masih tidak menyangka Tuan Dimitri masih menyimpan dendam setelah mendapat kebaikan dari Anda. Jika bukan karena Anda, saat ini dia sudah mendekam di penjara.” Malvin ikut geram mengetahui Dimitri terlibat dalam kasus Hendra.“Aku terlalu berbaik hati padanya. Bahkan dia tak sadar, jika selama ini bisa hidup tenang karena aku diam.” Arron mengembuskan napas kasar. “Kali ini, aku tidak akan berbaik hati lagi.Malvin mengangguk pelan.Mobil mereka menuju ke area pedesaan. Tempat terpencil yang Arron siapkan untuk mengisolasi Dimitri, sayangnya Dimitri masih bisa berhubungan dengan Hendra atas bantuan Hendra.Beberapa waktu berlalu. Mereka tiba di tempat tujuan.Rumah kecil yang berada di tengah ladang yang sangat luas.Mobil berhenti di halaman rumah.Malvin lebih dulu keluar sebelum membukakan pintu







