LOGINArthur berjalan tergesa-gesa menuju ruang security.Dia baru saja mendapat kabar perkembangan kasus penculikan bayinya.Saat masuk ke dalam ruang security rumah sakit, tatapan Arthur tertuju pada seorang perawat yang duduk dengan kepala tertunduk.“Dia pelakunya?” Arthur langsung memberikan tuduhannya.“Bukan, Pak.” Dokter menatap ke perawat yang merupakan asistennya. “Dia yang membuka akses ke pelaku agar bisa keluar masuk dengan leluasa melalui jalur tenaga medis.”Arthur begitu geram. Dia ingin mendekat tapi security menahannya.“Di mana bayiku?!” Arthur berteriak penuh amarah.Tubuh perawat ini gemetaran. Dia tidak berani mengangkat pandangan.Perawat ini ketahuan karena tertangkap kamera CCTV yang terpasang di pintu akses untuk tenaga medis.Dia sudah memasukkan pelaku penculikan ke dalam rumah sakit tiga jam sebelum kejadian.“Jika kamu mengatakan, di mana wanita itu membawa bayiku, mungkin aku akan memberimu keringanan hukuman.” Arthur menatap dengan kilatan dari matanya.“Saya
Arron baru saja sadar.Dia menatap langit-langit kamar, sebelum menoleh ke samping ketika mendengar suara Malvin.“Bagaimana perasaan Anda, Tuan? Saya akan panggilkan Dokter untuk memeriksa Anda lebih dulu.” Malvin siap berbalik, tapi terhenti karena panggilan lirih dari Arron.“Bagaimana kondisi Kian dan Arthur? Apa cicitku sudah ketemu?” Suara Arron sangat lemah.Malvin tertunduk dalam.“Anda jangan memikirkan itu dulu, Tuan. Yang terpenting sekarang menstabilkan kondisi Anda.” Malvin takut jika informasi yang dimilikinya membuat kondisi Arron semakin parah.“Bagaimana bisa aku tidak berpikir? Cucuku terpukul dan cicitku hilang, bagaimana bisa aku tidak berpikir?” Arron mencengkram dadanya setelah bicara dengan sangat emosional.Malvin panik. Dia menekan tombol memanggil perawat, sebelum menenangkan Arron.“Bayi Tuan Arthur memang belum ditemukan. Tapi saya sudah mengerahkan orang untuk mencari keberadaan penculiknya. Saya juga sudah meminta bantuan teman Anda di kepolisian untuk me
Arthur keluar dari ruang dokter.Tulang-tulang di kedua kakinya seperti dilepas paksa.Tak ada tenaga untuk hanya sekadar melangkah.Bahkan, Arthur sampai limbung. Tubuhnya menabrak dinding di sisi kirinya.“Bagaimana caranya aku menjelaskan pada Kian.” Kepala Arthur tertunduk dalam.Perlahan cairan bening menetes dari pelupuk matanya.Bagaimana? Hanya ini kata yang melintas di kepalanya.Arthur tidak bisa menyampaikan kabar buruk ini pada Kian.“Tuan Arthur.”Kepala Arthur diangkat pelan.Tatapannya perlahan tertuju pada Malvin yang berdiri di hadapannya.Pria paruh baya yang sudah mengabdi hampir setengah dari hidupnya ini pada sang kakek, kini menatap nanar pada Arthur.“Anda baik-baik saja, Tuan?” Malvin menatap sendu.Arthur menggeleng pelan.Malvin membantu Arthur berjalan. Dia mengajak Arthur duduk di bangku selasar yang ada di koridor rumah sakit.“Apa yang pihak rumah sakit katakan, Tuan?” Malvin mengajak bicara untuk melegakan perasaan Arthur.Arthur menggeleng, tatapannya
Cengkraman Arthur menguat, bahkan dia tidak peduli lagi kalau yang sedang ada di depannya ini seorang perempuan.“Pak, te-nang-kan diri-mu du-lu.” Dokter tergagap karena tercekik kuat.Saat itu dua perawat dan security datang.Mereka menarik tangan Arthur agar terlepas dari pakaian dokter.Arthur berteriak keras.Mata Arthur memerah, menyorot penuh amarah.Bagaimana bisa rumah sakit menghilangkan bayinya?“Bagaimana bisa kalian memintaku tenang? Kalian harus bertanggung jawab!” Arthur berusaha memberontak. Tapi kedua tangannya ditahan security dan perawat.“Kami tahu jika salah. Tapi ini penculikan dan bukan sebuah kesengajaan dari kami. Kami harap Anda bisa tenang dan kita lakukan investigasi sama-sama.” Dokter mencoba menenangkan.“Argh! Bagaimana bisa kalian memintaku tenang?!” Wajah Arthur merah padam, sebelum tatapannya berubah sendu.Bagaimana caranya dia mengatakan ini ke sang istri?Saat Arthur masih ditahan security. Arron tiba di sana bersama Kendrick dan Malvin.“Ada apa in
Hari berikutnya.Kian berbaring di ranjang pesakitan memakai baju khusus untuk operasi.Kedua tangannya menyentuh perut. Berkali-kali dia mengembuskan napas pelan.“Anda jangan terlalu tegang. Semuanya akan berjalan dengan lancar.”Kian menoleh pada perawat yang baru saja bicara. Kepalanya mengangguk pelan.Sudah waktunya Kian dibawa ke ruang operasi.Kian semakin gugup. Tubuhnya tiba-tiba begitu dingin.Saat itu, telapak tangannya digenggam erat. Kian menoleh, suaminya sudah berdiri di samping ranjang.“Aku akan menemanimu di ruang operasi, kamu jangan khawatir.” Arthur menatap penuh perhatian pada Kian.Kian mengangguk-angguk. Ketegangannya perlahan-lahan mengendur.Arthur berjalan di samping ranjang yang didorong perawat menuju ruang operasi.Kian masuk ke dalam ruang operasi lebih dulu. Sedangkan Arthur harus bersiap-siap sesuai aturan sebelum masuk ke dalam ruang operasi.Dokter dan perawat sudah bersiap di dalam.Arthur masuk ke dalam ruang operasi memakai pakaian khusus. Dia du
Keesokan harinya.Arthur duduk di tepian ranjang. Dia dengan telaten menyuapi Kian.“Padahal aku bisa makan sendiri, kenapa kamu repot-repot menyuapi?” Kian menatap Arthur yang sejak tadi menolak menyerahkan sendok padanya.“Selama ada aku. Jika kamu sakit, kamu tidak perlu susah-payah menggerakkan tanganmu hanya untuk menyuapkan makanan ke mulut.” Setelah bicara, Arthur kembali menyuapkan makanan ke mulut Kian.Kian tersenyum sambil mengunyah makanan.Dia benar-benar tidak menyangka Arthur akan seperhatian ini padanya.“Lusa kamu akan menjalani operasi. Aku ingin kamu sehat dan tenang. Jangan sampai kamu panik dan kondisimu menurun.” Tatapan Arthur menyorot cemas dan khawatir.Kian mengangguk-angguk.“Kamu tenang saja. Aku tidak akan panik, apalagi kita akan segera melihat bayi kita. Harusnya aku tidak sabar dan sangat senang.”Mendengar balasan Kian, Arthur kini lega.Setelah menyuapi Kian.Arthur pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.Kian duduk bersandar headboard sambil me
Melangkah meninggalkan meja Kanaya setelah menyerahkan file desain revisi yang Kian buat. Kian sekarang masuk ke dalam lift, lalu naik menuju rooftop perusahaan.Ketika menginjakkan kaki di rooftop, tatapan Kian langsung tertuju pada Arthur. Suaminya sudah di sana, kini berdiri memandang ke hampara
Suara lantang Kian membuat langkah pria penabrak terhenti. Kian segera mengayunkan langkah menghampiri pria tua yang pernah diselamatkannya di lampu merah waktu ini, kini Kian harus melihat pria tua itu ditabrak sampai jatuh di trotoar, bahkan makanan yang dibawa pria tua itu sampai jatuh.“Kamu j
Di rumah mewah Arron.Napas kasar berulang kali Arron embuskan. Kedua tangannya kini meremat kuat pangkal tongkat yang digenggamnya.“Apa Arthur sudah ada tanda-tanda mengajukan perceraian dengan wanita itu?” Tatapan Arron menajam saat tertuju pada Malvin–asisten pribadinya.Malvin menggeleng pelan
Saat jam istirahat.Kanaya masih duduk di belakang meja kerjanya. Matanya menelisik ke seluruh ruangan, memastikan sudah tidak ada satu karyawan pun yang tertinggal di ruang departemen desain, semuanya pergi ke kantin untuk makan siang.Bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju meja Kian. Kanaya







