MasukHendra diam dengan sorot mata yang tajam.“Sebelum kita bisa memastikan apa yang sedang mereka lakukan, lebih baik Anda meninggalkan rumah lebih dulu untuk memastikan hal-hal yang tidak diinginkan.” Anan mendesak.Hendra menatap Anan yang sangat mencemaskannya.“Jika benar dia menemukan bukti tentangku, kamu tahu harus melakukan apa, Anan.”Anan mengangguk. “Saya mengerti, Tuan.”**Di rumah Arron.Kian mulai bisa makan meski tidak terlalu banyak. Dia juga harus memulihkan luka pasca operasi melahirkan.“Makanlah lebih banyak, Kian.” Arron menatap Kian yang baru saja menenggak segelas air.Tatapan Kian tertuju pada Arron.Beberapa hari ini, pria tua ini sangat mencemaskan Kian, membuatnya bersalah.“Iya, Kakek. Tapi aku sudah kenyang.” Senyum Kian diangkat kecil meski agak dipaksakan.Arron mengangguk-angguk pelan.Suasana ruang makan kembali hening.Sampai Kian berkata, “Aku mau melihat Arthur di ruang kerja dulu, Kek.”Arron mengangguk pelan.Kian bangkit dari duduknya.Kian berjala
Arthur duduk di ruang kerjanya.Jemarinya saling bertautan, tatapannya menyorot tak sabar, menunggu kedatangan Kendrick.Apa yang dikatakan Kendrick dari seberang panggilan, benar-benar membuat Arthur tak sabar.Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.Tatapan Arthur terangkat ke arah pintu.Punggungnya menegak saat melihat Kendrick muncul dari balik pintu yang baru saja terbuka.“Informasi apa?” Arthur menatap tak sabar.Kendrick berjalan menghampiri Arthur.Dia mengulurkan tablet pintar yang dibawanya pada Arthur setelah berdiri di depan meja kerja.“Ini rekaman kamera jalan di dekat sebuah taman. Meski visualiasinya kurang jelas, tapi saya yakin jika itu adalah Siska.”Mata Arthur melebar.Dia segera mengambil tablet pintar dari tangan Kendrick.Dengan seksama, Arthur mengamati video ketika Siska turun dari taksi menggendong sesuatu.“Benar, ini Siska.” Jari-jari Arthur meremat sisi tablet. “Dia membawa bayiku ke mana?”Kendrick mengulurkan tangan dengan tubuh sedikit memb
Hendra menginjakkan kaki di dalam rumah, disambut Anan yang sudah menunggunya.“Bagaimana hasilnya tadi, Tuan?” Anan berjalan di belakang Hendra menuju ruang tengah.“Tentu saja tidak ada yang sesuai. Dan itu yang aku harapkan, melihat tatapan kecewa Arthur. Harusnya tadi kamu lihat sendiri, bagaimana harapannya runtuh saat tak mendapatkan bayinya.” Hendra tersenyum tipis setelah bicara.Anan tersenyum sambil mengangguk-angguk pelan.Anan memperhatikan Hendra yang baru saja duduk di sofa, sebelum dia bertanya, “Lalu soal bayi itu, bagaimana sekarang?”Tatapan Hendra tertuju pada Anan.“Lakukan seperti yang sebelumnya aku katakan. Aku tidak mau ada masalah sedikit pun. Dan jangan sampai rahasia ini terbongkar.”**Rumah Arron begitu suram.Tidak ada lagi keceriaan setelah Kian kehilangan bayinya.Sore tadi polisi datang dan sudah memastikan kalau bayi Kian menjadi korban perdagangan manusia.Hanya saja, polisi tidak bisa melacak keberadaan pembeli dan bayi Kian.Kekecewaan ini semakin
Kian dan yang lain menunggu.Sampai beberapa orang wanita berjalan memasuki gerbang rumah.Kian berdiri, tatapannya tertuju pada gendongan para wanita ini.Ada enam orang yang membawa gendongan.Harapan Kian tiba-tiba mengendur, apakah salah satu dari mereka benar-benar membawa bayinya?Hendra turun dari teras. Dia meminta para wanita yang datang untuk berbaris rapi.Hendra menoleh pada Kian dan Arthur. Seperti orang yang sangat peduli pada nasib bayi Kian, Hendra segera berkata, “Cobalah, kalian lihat mana bayi kalian.”Kian menoleh pada Arthur, setelah melihat suaminya mengangguk, dia dan Arthur mendekati satu persatu wanita yang menggendong bayi.Kian mengecek bayi yang ada di gendongan wanita pertama. Wajah bayinya berbeda, tidak ada tanda lahir di lengan.Kian menggeleng.Mereka berpindah ke bayi lain, hasilnya sama. Sampai mereka selesai mengecek semua bayi. Tidak ada bayinya.“Bagaimana?” Hendra memastikan.Dalam hatinya benar-benar tersenyum puas melihat kekecewaan di mata Kia
Keesokan harinya.Kian duduk di kursi, hanya diam menghadap ke jendela kamar.Tatapannya kosong menembus jendela, seolah tak ada apa pun yang bercermin di bola mata indahnya yang kini begitu sayu.“Kamu sudah bangun dari tadi?” Kecupan hangat didaratkan tepat di pucuk kepala Kian. Kedua tangan Arthur kini mengusap lembut pundak Kian.“Kenapa tidak tidur lebih lama?” Arthur kembali bicara.“Bagaimana bisa tidur lebih lama, jika aku tidak bisa memastikan putraku tidur nyenyak dengan perut yang kenyang setelah minum susu.”Balasan Kian membuat Arthur terdiam.Ini sudah hari kelima semenjak bayi mereka menghilang, tapi masih tak ada tanda-tanda keberadaan mereka.Kedua tangan Arthur dilepas dari pundak Kian. Dia melangkah ke samping kursi, lantas meraih telapak tangan Kian untuk digenggam erat.“Kita sudah melakukan segala upaya untuk menemukannya. Kita hanya bisa berusaha, tapi juga tetap mengingat kesehatan, Kian. Jika kita jatuh, siapa yang akan mencarinya?” Hanya ini yang bisa Arthur l
“Kalian sudah pulang.”Arron berdiri dari duduknya.Dia melangkah menghampiri Kian dan Arthur yang berdiri termangu di tengah pintu.Arron menatap wajah Kian yang lesu. Ketika menoleh pada Arthur, cucunya ini mengangguk.Arron menahan diri untuk tak bertanya tentang usaha keduanya mencari keberadaan bayi Kian.“Kamu pasti lelah. Bagaimana kalau kamu istirahat dulu?” Arron melihat tatapan Kian yang begitu hampa.Saat Arron menyadari ke mana arah tatapan Arthur sekarang, Arron menoleh pada tamu mereka yang duduk di sofa.Hendra sudah berdiri memandang mereka bertiga.“Hendra datang mencari kalian. Dia sudah mendengar soal kejadian yang menimpa ….” Arron menjeda kalimatnya.Hendra menatap pada Kian dan Arthur. Dia melangkah menghampiri.“Aku turut bersimpati atas apa yang terjadi pada kalian. Kedatanganku kemari, ingin menawarkan bantuan.” Hendra bicara begitu berdiri di hadapan Arthur dan Kian.Arthur saling tatap dengan Kian.Meski sempat berselisih dan tak percaya pada Hendra, tapi pr
Daniel terkapar dengan darah segar yang menggenang di lantai setelah Oliver mengambil ponselnya dan meninggalkannya begitu saja.Yang tanpa Oliver tahu, Daniel memiliki ponsel lain yang dia gunakan untuk menyimpan semua bukti-bukti kejahatan Oliver.Dengan napas yang berat dan kesad
Melangkah meninggalkan meja Kanaya setelah menyerahkan file desain revisi yang Kian buat. Kian sekarang masuk ke dalam lift, lalu naik menuju rooftop perusahaan.Ketika menginjakkan kaki di rooftop, tatapan Kian langsung tertuju pada Arthur. Suaminya sudah di sana, kini berdiri memandang ke hampara
Di rumah mewah Arron.Napas kasar berulang kali Arron embuskan. Kedua tangannya kini meremat kuat pangkal tongkat yang digenggamnya.“Apa Arthur sudah ada tanda-tanda mengajukan perceraian dengan wanita itu?” Tatapan Arron menajam saat tertuju pada Malvin–asisten pribadinya.Malvin menggeleng pelan
Saat jam istirahat.Kanaya masih duduk di belakang meja kerjanya. Matanya menelisik ke seluruh ruangan, memastikan sudah tidak ada satu karyawan pun yang tertinggal di ruang departemen desain, semuanya pergi ke kantin untuk makan siang.Bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju meja Kian. Kanaya







