로그인Kian bergegas melangkah kembali ke rumah utama bersama Mia setelah mendengar apa yang pelayan katakan.Begitu melangkah masuk ke dalam ruang tengah.Tatapan Kian tertuju pada Arthur sedang duduk di sofa dengan pandangan tertuju ke layar televisi besar yang menyala.Kian menghentikan langkahnya, pandangannya kini tertuju pada siaran berita yang sedang berlangsung.“Ada apa, Sayang?” Kian mulai bertanya.Tatapan Arthur tertuju pada Kian. Dia membuat gerakan dengan tangan agar Kian duduk di sampingnya. “Duduklah dulu. Kamu juga, Mia.” Begitu Kian sudah duduk di sampingnya dan Mia duduk di sofa tunggal, Arthur mencari chanel berita lain lalu memperlihatkan berita yang baru saja ditontonnya. “Lihat apa yang baru saja disiarkan di beberapa chanel berita.”Kening Kian berkerut dalam. Pandangan mereka semua kini tertuju sepenuhnya pada layar kaca yang sedang menayangkan sebuah video wawancara eksklusif secara langsung dari kediaman Rose.Di layar televisi. Rose tampak duduk dengan wajah se
Sore hari.Kian melangkah menyusuri jalan setapak di taman belakang menuju paviliun tempat yang Mia tinggali sementara agar terhindar dari jangkauan luar dan tekanan dari Luna.Kian sudah berdiri di depan pintu. Dia tak langsung masuk ke dalam, tapi mengetuk pintu lebih dulu dan menunggu sampai Mia membukanya.Tak beberapa lama kemudian, terdengar suara knop yang diputar.Kian menatap Mia yang berdiri di hadapannya saat pintu di hadapannya ini terbuka.Kian tersenyum hangat pada Mia. “Bu Kian, masuklah.” Mia langsung membuka lebar pintu paviliun.“Kita bicara di luar saja, Mia. Udaranya sejuk dan lebih menenangkan daripada di dalam,” kata Kian agar Mia bisa membiasakan diri dengan suasana di tempat ini.Mia mengangguk patuh. Dia keluar lalu duduk di kursi yang ada di depan paviliun bersama Kian.Kian menatap Mia yang diam dengan tatapan tertunduk.Kian lebih dulu menghela napas panjang, lalu membuka suara. “Bagaimana kondisimu, Mia? Apa tempat ini cukup nyaman untukmu?”Mia mengangka
Di dalam ruang kerja Arthur yang tenang di gedung HW. Company.Sisa-sisa ketegangan dari konferensi pers tadi siang perlahan mulai mencair. Kian masih duduk di sofa bersama Arthur setelah kepergian Mia.Arthur sudah meminta orang untuk mengawal dan menjaga Mia dengan selamat.“Terima kasih banyak, ya. Kamu sudah mengizinkan Mia untuk tinggal sementara di paviliun belakang rumahmu. Dengan begitu, dia akan aman dari ancaman atau intimidasi dari pihak Luna dan orang-orangnya.” Kian menatap penuh syukur karena Arthur selalu mendukung setiap keputusan yang dibuatnya.Tangan Arthur membelai lembut rambut Kian, bibirnya tersenyum kecil, lalu dia membalas, “Tidak perlu berterima kasih. Semua ini juga demi HW. Company.”“Lagi pula, itu hanya untuk sementara waktu sampai kehebohan ini sedikit mereda dan tim hukum kita berhasil menyelesaikan semua berkas gugatan resmi untuk menyeret Luna dan Rose ke pengadilan. Setelah itu, Mia akan aman di mana pun dia tinggal nantinya.”Kian mengangguk-angguk
Suara di seberang sana bukan suara lembut Adam yang biasa memanjakannya, melainkan sebuah bentakan menggelegar yang sarat akan kemurkaan. Luna terbungkam, detak jantungnya seolah berhenti berdenyut.“Gara-gara kebodohan dan keangkuhanmu itu, namaku ikut terseret di konferensi pers tadi pagi, Luna! Kamu menyebut namaku di video rekaman sialan itu!”Suara Adam terdengar penuh kemarahan dengan napas memburu kasar.Belum juga Luna membuka suara lagi, sudah kembali terdengar suara Adam.“Siang ini, istri dan keluarga besarku tahu soal hubungan kita! Posisiku di partai dan pemerintahan sekarang sedang berada di ujung tanduk karena skandal ini! Paham kamu!”“Say-sayang, aku tidak bermaksud ... itu rekaman tersembunyi–”“Cukup! Jangan pernah hubungi nomor ini lagi!” potong Adam dari seberang panggilan. “Jangan pernah berharap aku akan membantumu. Urus sendiri masalah hukummu, dan jangan berani-berani menyeret namaku lebih jauh kalau kamu masih sayang dengan nyawamu!”Luna terkesiap.Sambunga
Dengan pengawalan ketat dari beberapa petugas keamanan studio yang tersisa, Luna dan Fio akhirnya berhasil menyelinap keluar melalui pintu darurat basement untuk menghindari wartawan yang berkerumun di luar. Mereka pergi menggunakan mobil salah satu kru pemotretan untuk mengelabui wartawan.Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Luna hanya bisa meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Napasnya memburu, sementara ponselnya tidak berhenti bergetar karena ratusan panggilan dan pesan masuk yang sengaja dia abaikan.Harapan Luna untuk menemukan ketenangan di apartemen pribadinya seketika pupus. Begitu mobil yang dikendarai Fio memasuki area gerbang kompleks apartemen mewah itu, pemandangan di depan lobi utama sudah berubah menjadi lautan manusia. Puluhan mobil van milik stasiun televisi dan ratusan wartawan telah mengepung tempat tinggalnya, lengkap dengan kamera yang siap siaga.“Sialan! Kenapa mereka tahu tempat ini?!” umpat Luna histeris, memukul dasbor mobil dengan frustrasi.“Luna,
Bukannya panik melihat Fio yang sangat cemas, Luna justru menyunggingkan senyum remeh. Luna melipat kedua tangannya di dada. Matanya masih menyorot tenang. “Lalu kenapa kalau mereka membuat klarifikasi? Takut apa? Paling mereka cuma bisa membantah soal kualitas produk mereka. Publik sudah terlanjur percaya pada video Rose, Fio. Biarkan saja mereka meronta-ronta menyelamatkan citra perusahaan mereka yang sudah hancur.” Luna bicara dengan entengnya.“Misal klarifikasi, yang kena juga Rose, bukan aku. Kenapa kamu harus sepanik ini?” Luna kembali bicara.Fio menghela napas frutasi, dia kembali menatap cemas pada Luna saat bicara.“Bukan itu, Luna! Bukan cuma soal produk!” Tangan Fio sedikit gemetar saat menunjukkan salah satu berita yang baru saja dirilis beberapa menit lalu. Itu adalah video siaran ulang konferensi pers Kian yang sudah membanjiri portal berita, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Luna. “Lihat ini! Lihat sendiri apa yang mereka tunjukkan ke media!”Luna mengerutkan
Arthur berdiri di samping meja kerjanya. Jemarinya mengusap tepian meja, memandangi tempat kerja yang selalu dibanggakannya bertahun-tahun ini.“Tuan.” Kendrick masuk ke dalam ruang kerja Arthur setelah menyapa.Kendrick meletakkan setumpuk berkas di atas meja.“Ini semua tawaran akuisisi dari bebe
Kian sudah selesai dengan Hendra. Dia keluar dari ruang kunjungan, tatapannya langsung tertuju pada Arthur yang menantinya. “Sudah selesai?” Arthur memastikan. Matanya menelisik ke setiap tubuh Kian, memastikan istrinya tak terluka. Kian mengangguk-angguk pelan. Meski yang dilakukannya tak bisa m
Di tempat lain.Arron baru saja keluar dari bandara di kota tempat dia mengasingkan Dimitri.Membawa beberapa orang bayaran, Arron ditemani Malvin menuju rumah tempat Dimitri tinggal.“Saya masih tidak menyangka Tuan Dimitri masih menyimpan dendam setelah mendapat kebaikan dari Anda. Jika bukan kar
Waktu seperti berhenti mendengar apa yang baru saja Arthur katakan.Jantung Arron berdegup kencang, napasnya sampai tertahan sejenak.“Ap-apa maksudmu, Arthur?” Arron benar-benar tak percaya dengan apa yang didengarnya.“Bayi kami sudah meninggal, Kek. Bajingan itu membunuhnya.” Arthur memeluk sema







