Lucas mengetuk pintu kamar Indira sebelum membukanya dan masuk setelah mendengar suara Indira mempersilakannya masuk.
Lucas menghampiri Indira yang duduk di sofa. “Ada apa, Ma? Apa ada masalah serius?”Lucas mendudukkan diri di sofa tunggal yang menghadap Indira.Indira menatap Lucas tajam. “Jujur sama mama, apa kamu bertengkar dengan Sera kemarin?”Lucas mengernyit. Bingung kenapa Indira tiba-tiba bertanya seperti itu.“Tidak, Ma,” jawab Lucas berbohong.“Kamu jangan bohong sama mama, Lucas.” Indira berkata tegas. “Adi melihat malam tadi Sera berlari menuju pantai dan menangis di pantai.”Lucas terkejut.“Mama tahu kalau dalam rumah tangga pasti ada masalah dan pertengkaran, tapi mama tidak ingin hal seperti ini sampai terulang lagi,” lanjut Indira. “Bagaimana kalau orang lain yang melihatnya? Bisa-bisa akan menjadi rumor buruk untukmu nanti. Cobalah untuk menyelesaikan masalah tanpa harus menimbulkan masalah baru.”“Baik, Ma. Aku akan mengingatnDi kamar inap Lucas."Paman, tolong maafkan Mama. Mama berkata seperti itu karena Mama takut, jadi emosinya sedikit tidak terkontrol. Sampai saat ini Mama masih trauma dengan apa yang terjadi sama Papa waktu itu. Kecelakaan yang menimpa Mama dan Papa waktu itu sangat membekas di hati Mama. Tolong maafkan Mama, Paman." Lucas meminta maaf untuk Indira, yang tentu saja itu hanya formalitas.Walau hubungan mereka tidak baik, tapi Lucas tetap harus menunjukkan sikapnya kepada Alvin, meski dalam hatinya sangat muak karena harus bersandiwara di hadapan mereka semua.Alvin tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, Lucas. Wajar seorang ibu bersikap seperti itu. Tidak ada orang tua yang ingin kehilangan anaknya.""Terima kasih, Paman."Lucas menatap Satria. "Maaf, Kek. Karena aku, Kakek jadi harus meninggalkan Danau Gladiol.""Tidak perlu dipikirkan. Keselamatanmu jauh lebih penting. Aku bisa ke sana lagi lain kali." Satria menjawab dengan nada datar, begitu juga dengan raut wa
Indira mengepalkan kedua tangannya menahan amarah atas pertanyaan tiba-tiba Satria."Aku tidak tahu," jawan Indira ketus.Di saat seperti ini, mana mungkin Indira memikirkan orang lain. Karena di kepalanya sudah penuh dengan kondisi Lucas yang terluka.Satria menatap Indira. "Apa kamu tidak memberi tahu mereka?""Tidak. Untuk apa aku memberi tahu mereka? Seandainya mereka tahu pun, apa gunanya untuk mereka? Lucas bukan anak mereka. Yang ada mereka akan senang kalau melihat Lucas terluka seperti ini."Satria kesal dengan ucapan Indira, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya bisa memendam kekesalannya dalam hati."Mama, jangan berkata seperti itu," ucap Lucas menatap Indira.Indira menatap Lucas. "Biarkan saja. Memang seperti itu kenyataannya. Kamu bukan anak mereka. Dan mereka pasti sangat senang kalau kamu terluka. Atau, mungkin mereka berharap kamu mati agar Adi bisa mendapatkan warisan keluarga Mahendra sepenuhnya.""Mama.""Indira!"Lucas
Chiara menunggu dengan gelisah. Kekhawatiran tampak jelas di wajahnya."Chiara, tenang. Lucas pasti baik-baik saja," ucap Sera berusaha menenangkan Chiara."Aku takut, Sera." Chiara berkata dengan suara bergetar. "Aku takut. Aku nggak mau kehilangan Kak Lucas.""Aku tahu. Tapi aku yakin Lucas akan baik-baik saja.""Kakek, ayo cepat!" Chiara mengulurkan tangannya untuk membantu Satria turun dari perahu. Sera pun dengan cepat membantu."Apa yang terjadi? Bagaimana Lucas bisa kecelakaan?" tanya Satria sambil berjalan cepat."Aku juga nggak tahu, Kek," jawab Chiara menahan tangis. "Mama barusan nelpon aku dan bilang kalau Kak Lucas kecelakaan."Ingin rasanya Chiara berlari meninggalkan Satria yang dianggapnya terlalu lamban.Satria sendiri berusaha berjalan dengan cepat. Mengabaikan napasnya yang mulai sesak."Kekak, pelan-pelan saja. Saya yakin Lucas akan baik-baik saja," ucap Sera ketika melihat wajah Satria yang begitu merah dengan napas terengah-engah.Satria menatap Sera tajam. Bagai
Chiara tahu Sera pasti akan terkejut dengan kenyataan ini. Sebelumnya Chiara pun terkejut saat Indira memberi tahu dia dan Lucas kenyataan itu. Tapi justru itu akan menjadi kartu AS mereka untuk melawan Alvin dan Emily.“Ya. Tapi kamu jangan beritahu siapa pun,” lanjut Chiara. “Kakek sendiri juga belum tahu. Karena itu, Kak Lucas akan menunggu waktu yang tepat buat membuka rahasia ini, yaitu saat Kakek memberikan warisannya pada Kak Lucas. Sebelum itu terjadi, kita harus berpura-pura nggak tahu. Sebab Paman dan Bibi juga berambisi pingin mendapatkan warisan keluarga Mahendra. Mereka itu sangat serakah.”Sera benar-benar terkejut. Tidak menyangka kehidupan keluarga Lucas begitu rumit."Pantas saja Lucas terlihat berambisi untuk menjadi pewaris," pikir Sera yang merasa kasihan dengan apa yang terjadi dengan Lucas dan Indira."Apa Paman tahu kalau dia bukan anak kandung Kakek?" tanya Sera."Nggak tahu. Tapi sepertinya Paman nggak tahu. Kakek juga nggak tahu. Kalau K
Chiara menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Sera. "Kenapa? Kamu takut?" bukannya menjawab, Chiara justru bertanya balik."Tidak. Hanya merasa heran saja.""Kakek sengaja mengosongkan tempat ini selama kita liburan di sini. Walaupun ini bukan pulau pribadi kami, tapi area Danau Gladiol dan sekitarnya udah Kakek beli. Jadi, selama kita di sini, kita bebas ke mana aja selama masih di tempat punya keluarga kita."Danau Gladiol dan area di sekitarnya memang dibeli oleh Satria, karena itulah mereka bisa bebas pergi ke mana saja. Tentunya selama masih dalam kawasan milik keluarga Mahendra.Walaupun Danau Gladiol adalah tempat pribadi, tapi Satria mengizinkan pengunjung resort untuk berwisata ke Danau Gladiol. Bahkan Danau Gladiol masuk ke salah satu dalam pelayanan wisata untuk para pengunjung. Hanya saja Danau Gladiol akan ditutup sementara jika Satria datang berlibur. Alasannya tentu karena Satria tidak ingin ada yang mengganggu dirinya menikmati pemandangan danau
Emily yang merasakan aura Satria begitu gelap pun memutuskan untuk tidak memojokkan Lucas lebih lanjut."Sama-sama, Lucas." Emily tersenyum kecil.Alvin menghela napas lega karena istrinya bisa berhenti memprovokasi Lucas sebelum Satria menegurnya. Begitu juga dengan Adi. Walaupun mereka ingin menjatuhkan Lucas, tapi mereka tidak ingin apa yang mereka lakukan akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri.Berbeda dengan Indira yang sedikit kecewa. Padahal dia ingin melihat bagaimana Emily bertindak. Sayangnya wanita itu sangat pandai membaca situasi."Siapa yang menyangka kalau tahun ini kita merayakan ulanh tahun Kakek dengan tambahan anggota baru," ucap Alvin mengubah topik pembicaraan agar sedikit mencair."Paman benar. Tahun kemarin kita ngerayain ulang tahun Kakek cuma berenam berenam. Tapi sekarang ada Sera yang ikut ngerayain bersama kita." Chiara menyahuti dengan penuh keriangan seperti biasanya."Ya. Dan mungkin tahun depan Kakek akan menjadi buyut." Emily tidak mau kalah dna iku