Masuk"Hmm ...." Hellena menggeliatkan tubuhnya yang terasa nyeri seperti baru terlindas beban berat. Bahkan untuk menggerakkan tubuh saja rasanya sakit bukan main, terlebih di bagian selangkangannya. Hellena menarik selimut untuk menutupi sinar matahari yang menyilaukan mata karena tirai yang tidak tertutup rapat.
"Aw!" Dia yang tiba-tiba beringsut duduk menggigit bibir menahan nyeri. Hellena menyadari sesuatu yang salah, saat mata terbuka dia mendapati tubuhnya telanjang, ranjang yang acak-acakan, juga pakaian robek berserakan di mana-mana. "Astaga, ini buruk." Hellena meraup wajah dengan kasar, dia merasa frustrasi. Seketika wajah Hellena memerah dan hatinya bergejolak nyeri, membayangkan semua yang terjadi padanya semalam. "Ternyata ini bukan mimpi, pengalaman pertamaku berakhir dengan orang asing." Hellena meratapi nasibnya yang sudah kehilangan mahkota paling berharga yang dia jaga selama ini. Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, dan langkah seseorang yang berjalan mendekat. Perlahan Hellena mengangkat wajahnya, dan terlihat seorang pria berdiri membelakanginya dengan rambut yang masih basah, dan tubuh yang bertelanjang dada hanya berbalut handuk di pinggangnya. “Hei ... “ Hellena menelan ludah, melihat tubuh kekar di depannya di mana beberapa tanda merah tertinggal di bagian dada milik lelaki itu. Perlahan pria itu memutar tubuhnya, dan menghadap ke Hellena. Dengan suara dingin dia berkata, “Katakan padaku, bagaimana kau akan bertanggung jawab atas perbuatanmu semalam?” Bertanggung jawab? Oh, ayolah Hellena yang kehilangan keperawanannya. Hellena sampai terbengong mendengar ucapan pria itu, dia tidak tau harus bagaimana. Semua masih seperti mimpi baginya. Matanya menatap wajah dingin dengan mata sipit, dan bibir belah yang menambah kadar ketampanannya. Auranya sangat tegas dan mendominasi. “Anda membuatku tidak bisa berkata-kata, Tuan!” Hellena memijat kening, bayangan perbuatannya berkeliaran tanpa bisa dielak. ‘Baiklah, aku salah, aku yang memaksa lelaki itu.’ “Kau harus bertanggung jawab, kau harus menikahi aku!” Hellena terperangah, menatap ngeri wajah dingin di depannya, yang sedang berganti pakaian. Pikirannya seketika kacau, tidak tau dengan keputusan yang harus diambil. Dia baru saja kabur untuk menghindari pernikahan, tetapi di tempat sekarang dia harus menikah dengan pria yang baru saja ditemui sebagai bentuk tanggung jawab karena telah memaksa lelaki itu menghabiskan malam dengannya, sungguh bayaran tidak adil, “Ta ... tapi ....” “Kau tidak punya pilihan lain, aku tidak mungkin mengambil resiko untuk hal yang akan menghancurkan martabat dan nama baikku!” Lelaki itu menjeda kalimatnya, “Baiklah, bagaimana dengan menikah kontrak? Terima tawaranku, ini terakhir sebagai belas kasihan untuk dirimu yang sudah lancang. Atau kau mau aku jebloskan ke penjara atas tuduhan telah menggoda dan melakukan tindakan kriminal terhadap Felix Alexander!” ucap pria itu dingin tanpa ekspresi. “Bersihkan dirimu, aku tunggu di meja makan!” lanjutnya lagi, sambil berlalu meninggalkan Hellena yang masih terpaku di kamar itu. Felix Alexander, nama itu menggema di ingatkan Hellena. Siapa yang tidak kenal dengan pengusaha terkaya di negaranya itu. Hellena sudah melakukan kesalahan besar telah berhubungan dengan pria yang seharusnya dihindari tersebut. Kedua pundak Hellena merosot ke bawah, hatinya terasa sesak. Kehormatannya sudah terenggut, tempat tinggal pun tidak ada. “Mungkin ini yang terbaik, menikah kontrak dengannya. Setidaknya aku punya tempat tinggal untuk sementara waktu,” gumam Hellena. Ponselnya berdering, dengan cepat dia mengambilnya dari saku celana yang semalam dikenakan. Terdengar napas berat darinya begitu melihat kontak nama yang memanggilnya. “Hellena, kau kemana? Kenapa tidak pulang dari semalam?” Suara temannya terdengar parau. Air mata Hellena jatuh, bersamaan sambungan telepon yang dia matikan. Tangannya mengepal keras, dengan gigi bergemeletuk mengingat kejadian semalam. Dia menyadari, temannya telah menjebak dirinya. Temannya itu benar-benar pandai bersandiwara. Terlihat sangat mencemaskannya, siapa sangka jika dia telah menyiapkan jurang untuk menghancurkan dirinya. Hellena memeluk selimut, dengan mata merah karena menangis. Nasib sial melingkar pada hidupnya, selain dikhianati teman yang dipercaya. Dia juga membenci kakak dan juga ibu tirinya, yang telah menyebabkan dirinya berada dalam situasi seperti ini, “Kakak, Ibu, kenapa kalian tega merancang perjodohanku dengan pria tua yang sudah memiliki tiga istri?” Setelah puas menangis, Hellena dengan cepat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dengan tergesa-gesa, dia memakai kembali pakaiannya, dan segera keluar kamar untuk menemui pria itu di meja makan. Hellena menarik kursi, dan duduk di hadapan sang pria. “Aku terima tawaran Anda, asalkan aku diijinkan untuk tinggal di sini dan keselamatanku benar-benar terjamin.” “Tentu saja! Setelah kita mendaftarkan pernikahan, kau akan tinggal di sini sebagai Nyonya Muda Alexander!” ucap pria itu dingin.” Gadis itu merasa tertekan dengan keadaan, Hellena pergi dari rumah karena tidak ingin menikah dengan orang yang tidak dicintai, tapi nasib kembali membawa pada pernikahan tanpa cinta. Namun, pilihan itu lebih baik daripada harus menjadi istri ke empat seorang lelaki tua bangka. Suara bariton kembali terdengar. “Kau masih punya kesempatan untuk membatalkan pernikahan ini, jika memang kau tidak menginginkannya."Felix mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, perasaannya campur aduk. Ingin cepat sampai ke kantor, untuk memastikan kondisi sang sekretaris barunya, yang tadi dia tinggalkan dalam keadaan pingsan. “Huh!” napas berat dia hembuskan dengan kasar, “Ternyata, Kau, sangat pintar bersembunyi,” ucap Felix. Bibirnya tersungging senyum yang selama ini hampir tidak pernah dia perlihatkan di hadapan orang lain, kepalanya menggeleng pelan. Ada rasa percaya dan tidak, karena dia tak menyangka jika ternyata wanita itu selalu ada di sekitarnya.Felix memutar arah laju mobilnya. dia berubah pikiran, ingin menenangkan diri terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor dan bertemu dengan sekretarisnya. Beberapa menit kemudian, Felix sampai di tepi danau buatan yang memiliki air sangat jernih, serta di kelilingi oleh bunga yang berwarna warni, serta pohon-pohon rindang yang sangat nyaman untuk sekedar merilekskan pikiran sementara waktu.Felix duduk di salah satu kursi yang terletak di bawah pohon ri
Felix terbangun dari tidurnya dengan napas yang memburu, dan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Untuk sesaat, dia hanya diam sambil memperhatikan sekitarnya. Felix dalam kebingungannya, “Ah, sial!” geramnya.Perlahan, Felix bangkit dan berjalan kearah jendela yang masih tertutup hordeng. Seketika cahaya dari luar rumah menembus jendela, saat tangan Felix bergerak membuka hordeng. Pria itu berdiri diam, sambil memandang keluar jendela yang mengarah ke samping rumah. Tampak di luar sana, ada beberapa anak buah yang sedang berlatih beladiri, ada juga yang sedang berlari keliling halaman samping. Tapi fokus Felix tidak ke mereka, pikirannya masih melayang mengingat mimpinya barusan. “Elle ---,” gumam Felix,napas berat dia hembuskan. “Apa yang terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba, Kau datang ke dalam mimpiku?” berbagai pertanyaan muncul dalam otaknya.Felix memejamkan matanya, ingatannya kembali pada sosok Hellena dengan tubuh kurus dan perut buncitnya. Seketika rasa sesak menyeruak dalam d
“Sial! Kenapa aku sampai melupakan keberadaan istri dan calon anakku?” gumam Felix, sangat pelan sehingga hanya dirinya sendiri yang mendengar. Seketika matanya terpejam dengan tangan terkepal erat. Ada rasa nyeri yang menyerang hati, terbayang kembali perlakuannya terhadap Hellena, sang istri kontrak. Perlahan pria itu berbalik badan, tanpa sepatah kata berjalan keluar meninggalkan ruangan. Langkahnya lebar, dengan tatapan dingin yang menebarkan aura mencekam terhadap orang di sekitarnya. Tanpa menoleh lagi, Felix terus berjalan cepat meninggalkan kantor beserta orang-orang terdekatnya dalam kebingungan. Masuk ke dalam lift, pria itu menyandarkan tubuh di dinding lift dengan mata terpejam dan tangan terlipat di dada. Bayang-bayang kejadian lalu, saat dia dengan tega menyiksa dan menganiaya Hellena, kini hadir kembali mengusik hati dan pikirannya. “Kau benar, Elle, aku memang manusia iblis yang tidak punya hati! Bahkan aku hampir membunuh calon anak kita!” ucap lirih Felix, penuh p
Sepulang dari pertemuannya dengan, Tuan Clark, wajah Felix, semakin datar dan dingin. Membuat aura di sekitarnya terasa mencekam. Begitu turun dari mobil, Felix pergi begitu saja menuju ruangannya. Meninggalkan Mark, dan Lena, yang dibuat pusing dengan sikap bosnya yang terlihat marah.Lena melihat ke arah, Mark, dan kebetulan pria itu juga sedang melihat ke arahnya. "Kenapa, Tuan Felix seperti orang sedang marah ya? Bukannya kita tidak membuat kesalahan?" ucap Lena, pelan. Seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri."Jangan terlalu ingin tau urusan orang lain!" tegas Mark, dengan wajah yang tak kalah datarnya dengan sang bos. Setelahnya, dia langsung pergi begitu saja, meninggalkan Lena yang masih terbengong, merasa heran dengan sikap dua pria tersebut."Uh! Mau heran, tapi ini manusia kulkas, jadi ya sudahlah. Biar aku saja yang menjadi api untuk membakar dua manusia es berjalan itu," gumam Lena, sambil terkekeh geli, menertawakan ucapannya sendiri.Tanpa menunda waktu, wanita
Felix memasuki ruang privat yang ada di restoran tersebut, diikuti oleh Lena dan Mark. Saat Lena akan duduk di tempat yang agak jauh dari Felix, tiba-tiba tangan kekar seseorang menariknya, hingga wanita itu terduduk di kursi samping kiri Felix, sementara Mark duduk di samping kanan sang bos."Mau kemana, Kau?" tanya Felix, datar."Mau duduk yang jauh dari, Tuan!" jawab Lena acuh."Memangnya aku virus yang harus Kau jauhi ha!" emosi Felix kembali meningkat."Bukan cuma virus biasa, tapi virus yang meresahkan!" gumam Lena, tanpa sadar."Bukan aku yang meresahkan, tapi Kau!" ucap Felix, pelan tapi tetap saja tajam. "Baru kali ini aku punya sekretaris yang sangat meresahkan, tidak mau dengar apa perintah, Bosnya. Selalu bertindak atas keinginan sendiri!" gerutu Felix."Makanya, jadi Bos itu yang baik, jangan seperti kulkas berjalan, irit bicara, sekali bicara langsung tancap gas!" rutuk Lena, dengan bibir mengerucut."Astaga, Mark, dari mana Kau dapat manusia langka ini? Baru sehari dia
Lena mengernyit heran dengan sikap bos barunya tersebut, ‘Kenapa dia bersikap seperti suami posesif?’ batin Lena, heran dengan semua sikap Felix. Lena terdiam sejenak, tiba-tiba matanya melebar dengan jantung yang berdetak semakin kencang, ‘Apa jangan-jangan, dia mengenaliku?’ batin Lena lagi.“Hey, Kau! Apa tidak dengar apa kataku!” ucap Felix, dengan tatapan dingin.Seketika Lena tergagap, mendapatkan pertanyaan tersebut, “Ah, i … iya, Tuan, maaf!” ucap Lena, tergagap. Dan dengan cepat dia masuk ke mobil, tepat di samping Felix. Wanita itu berusaha keras untuk menetralkan debaran jantungnya, agar Felix dan Mark tidak curiga padanya.“Kenapa wajahmu pucat? Apa Kau takut padaku?” tanya Felix, dengan senyum miring.“Tentu saja takut, wajah Tuan, seram seperti iblis cari mangsa,” gumam Lena, pelan tanpa ada niat untuk menjawab ejekan Felix. Tapi siapa sangka, gumamannya terdengar juga oleh telinga Felix, dan Mark, yang memang sangat tajam hingga bisa mendengar dengan jelas gumaman Lena







