Beranda / Rumah Tangga / Istri Kontrak Tuan Felix / Bab 4 : Ternyata Aku Istri Kedua

Share

Bab 4 : Ternyata Aku Istri Kedua

Penulis: Milla Dwi
last update Terakhir Diperbarui: 2024-09-13 17:13:48

Wanita yang bernama Queen tersebut melerai pelukannya pada lengan Felix, lalu menatap wajah dingin pria itu dengan senyum manis di bibirnya, "Bukankah kita mau pergi keluar kota bersama, untuk bulan madu?"

'Deg!' Jantung Hellena bagai disambar petir hingga hancur berkeping-keping, saat mendengar suaminya akan pergi bersama dengan wanita lain, untuk bulan madu. "Pergi bulan madu? Apa maksudnya ini?"

"Lebih baik Kau pergi sekarang Queen, sebelum kesabaranku habis!" ucap Felix pelan dengan ekspresi yang sangat dingin. Lalu pandangan pria itu beralih pada Hellena, "Aku bisa jelaskan - - -"

"Memangnya apa yang salah, jika suami istri pergi bersama untuk bulan madu?" Queen segera memotong ucapan Felix, hal ini membuat hati Hellena semakin sakit.

Felix menatap nyalang wanita di sampingnya dengan raut wajah yang semakin dingin, dan tangan terkepal erat. Sungguh, pria tersebut tidak habis pikir dengan sikap Queen yang sangat tidak tau malu. Sementara Hellena hanya menatap mereka berdua, dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Diam Queen, pergi dari sini!" geram Felix dengan nada tinggi.

"Sayang, kenapa Kau harus marah? Nyatanya kita memang suami istri, dan pagi ini kita akan pergi berbulan madu, kenapa pembantu itu bertingkah sangat menjengkelkan?" Dengan manja, Queen kembali meraih lengan Felix, dan bergelayut manja padanya.

Hellena yang tidak tahan lagi, segera berbalik badan dan dengan langkah cepat, pergi meninggalkan kedua orang tersebut. Tanpa menoleh lagi, wanita itu keluar dari mansion Felix dengan membawa luka dalam hatinya.

"Hellena tunggu!" Dengan cepat Felix mengibaskan tangan Queen, dan berlari mengejar Hellena, tetapi Queen dengan cepat meraih tangan pria itu dan menahannya.

"Sayang, Kau mau kemana? Kita harus pergi sekarang!" Queen berusaha menghalangi jalan Felix, agar pria itu tidak mengejar Hellena lagi.

"Jangan coba-coba halangi jalanku. Kau bukan siapa-siapa aku, camkan itu!" Dengan nada tinggi Felix membentak Queen, dan mendorong tubuh wanita tersebut dengan kasar, agar mau menyingkir dari hadapannya.

"Felix tunggu!" teriak Queen, akan tetapi pria itu terus berlari meninggalkan wanita tersebut seorang diri, tanpa perduli dengan teriakannya. "Awas saja kalian, aku pasti akan laporkan ke kakek Cristian!" ucap Queen, sambil menghentak-hentakan kakinya ke lantai dan memasang wajah marah.

Sementara Hellena yang berlari keluar,  berjalan selangkah demi selangkah di jalan raya, tak tau entah menuju ke mana. Wanita itu menengadahkan wajahnya, menatap langit pagi itu agar dia bisa menahan air matanya yang hampir jatuh. Sungguh, hatinya sangat terluka, menerima kenyataan jika dirinya adalah wanita kedua dalam hidup Felix.

"Tuhan, ternyata aku istri kedua. Sakit sekali hati ini, aku lari dari tua bangka itu karena tidak mau jadi istri ke empatnya, tetapi apa yang terjadi sekarang? Aku terjebak dalam pernikahan kontrak, sebagai istri kedua." gumam Hellena seorang diri. Hidupnya terasa gelap tanpa cahaya. Felix, pria asing yang telah menolongnya dari kehancuran, tapi ternyata membuatnya semakin hancur.

Andai saja ayahnya masih ada, Hellena pasti tidak akan mengalami ini semua. Ibu dan kakak tirinya tidak akan berani memaksanya untuk menggantikan kakak tirinya tersebut untuk menikahi bandot tua, sebagai pelunas hutang, padahal yang seharusnya menjalani pernikahan tersebut adalah kakak tirinya. Sayang sekali, ayahnya telah tiada, sehingga kedua ibu dan anak tersebut berani berbuat semena-mena padanya. Tak sanggup lagi menahan air matanya, wanita itu menunduk sambil terisak pilu, "Ibu, kenapa meninggalkan aku sejak aku masih bayi? Sehingga aku jadi sendirian setelah Ayah tiada."

Hancur dan kecewa, itu yang dirasakan Hellena saat ini. Ingin pergi sejauh mungkin dari Felix, tetapi dia bingung harus kemana. Di kota besar ini, Hellena tidak memiliki teman ataupun saudara. "Ayah, Ibu, kenapa tidak membawa aku pergi bersama kalian? Sekarang harus bagaimana? Aku tidak punya siapa-siapa lagi, kakak dan ibu tiriku sangat jahat padaku, sementara suamiku telah menipuku."

"Sekarang kau istriku, Hellena!"

Hellena yang masih tertunduk, sangat terkejut saat tiba-tiba saja ada suara seseorang yang sangat dia kenal. Perlahan dia mengangkat wajahnya, dan menatap lekat wajah seseorang yang sedang berdiri di depannya. Entah sejak kapan pria itu datang.

Tanpa bicara apapun, Hellena segera berdiri dan hendak pergi dari hadapan orang tersebut, yang ternyata Felix. Namun, pergerakannya terhenti, saat sepasang tangan kekar tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan. "Kau ingat, kau tidak bisa pergi. Kita terikat kontrak. Jika kau melanggar, kau akan membayar denda dengan sangat mahal karena telah menggodaku dan membuatku menghabiskan malam itu denganmu."

Untuk sejenak Hellena tertegun, dia terkejut dengan ancaman Felix. “Kau gila!”

“Aku tidak gila, aku hanya tidak ingin andaikata benihku tumbuh di rahimmu dan kau membawa dia lari!”

Hellena cepat tersadar dari rasa terkejutnya. Dia kembali bisa menguasai diri, dan tersenyum sinis mendengar ucapan pria itu. "Kau telah menipuku, pernikahan ini tidak sah!"

“Itu konsekuensi atas perbuatan lancangmu kepadaku, Hellena. Ingat itu!”

Rasanya Hellena ingin merobek mulut Felix, wanita itu pun tersadar telah masuk ke dalam kandang binatang buas yang tidak kenal ampun. “Kau jahat! Apa salahku? Punya dendam apa Kau padaku, sampai tega menjebak aku untuk dijadikan yang kedua?" Emosi Hellena semakin tidak terkendali.

Secercah harapan yang baru saja Hellena dapat dari pria tampan tersebut, tak ubahnya seperti sebuah pisau yang mampu memberikan sayatan tak kasat mata, dan akan membawanya pada jurang kehancuran. Ini terlalu menyakitkan.

"Terserah apa yang kau pikirkan Hellena, yang pasti pernikahan kita sudah terdaftar di Catatan Sipil," Felix menatap tanpa ekspresi wanita yang mulai menangis itu.

"Biarkan aku pergi sendiri, kita cerai saja! Aku tidak mau menjadi yang kedua, karena tidak mau jadi perebut suami orang!" ucap Hellena parau, karena tangisnya.

Felix tertawa dengan sangat mengerikan dalam pandangan Hellena. “Kau pikir aku akan melepaskan dirimu begitu saja? Jangan mimpi Helena!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Kontrak Tuan Felix    Bab 46 : Ternyata Dia Di Dekatku

    Felix mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, perasaannya campur aduk. Ingin cepat sampai ke kantor, untuk memastikan kondisi sang sekretaris barunya, yang tadi dia tinggalkan dalam keadaan pingsan. “Huh!” napas berat dia hembuskan dengan kasar, “Ternyata, Kau, sangat pintar bersembunyi,” ucap Felix. Bibirnya tersungging senyum yang selama ini hampir tidak pernah dia perlihatkan di hadapan orang lain, kepalanya menggeleng pelan. Ada rasa percaya dan tidak, karena dia tak menyangka jika ternyata wanita itu selalu ada di sekitarnya.Felix memutar arah laju mobilnya. dia berubah pikiran, ingin menenangkan diri terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor dan bertemu dengan sekretarisnya. Beberapa menit kemudian, Felix sampai di tepi danau buatan yang memiliki air sangat jernih, serta di kelilingi oleh bunga yang berwarna warni, serta pohon-pohon rindang yang sangat nyaman untuk sekedar merilekskan pikiran sementara waktu.Felix duduk di salah satu kursi yang terletak di bawah pohon ri

  • Istri Kontrak Tuan Felix    Bab 45 : Cuma Mimpi

    Felix terbangun dari tidurnya dengan napas yang memburu, dan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Untuk sesaat, dia hanya diam sambil memperhatikan sekitarnya. Felix dalam kebingungannya, “Ah, sial!” geramnya.Perlahan, Felix bangkit dan berjalan kearah jendela yang masih tertutup hordeng. Seketika cahaya dari luar rumah menembus jendela, saat tangan Felix bergerak membuka hordeng. Pria itu berdiri diam, sambil memandang keluar jendela yang mengarah ke samping rumah. Tampak di luar sana, ada beberapa anak buah yang sedang berlatih beladiri, ada juga yang sedang berlari keliling halaman samping. Tapi fokus Felix tidak ke mereka, pikirannya masih melayang mengingat mimpinya barusan. “Elle ---,” gumam Felix,napas berat dia hembuskan. “Apa yang terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba, Kau datang ke dalam mimpiku?” berbagai pertanyaan muncul dalam otaknya.Felix memejamkan matanya, ingatannya kembali pada sosok Hellena dengan tubuh kurus dan perut buncitnya. Seketika rasa sesak menyeruak dalam d

  • Istri Kontrak Tuan Felix    Bab 44 : Sesal

    “Sial! Kenapa aku sampai melupakan keberadaan istri dan calon anakku?” gumam Felix, sangat pelan sehingga hanya dirinya sendiri yang mendengar. Seketika matanya terpejam dengan tangan terkepal erat. Ada rasa nyeri yang menyerang hati, terbayang kembali perlakuannya terhadap Hellena, sang istri kontrak. Perlahan pria itu berbalik badan, tanpa sepatah kata berjalan keluar meninggalkan ruangan. Langkahnya lebar, dengan tatapan dingin yang menebarkan aura mencekam terhadap orang di sekitarnya. Tanpa menoleh lagi, Felix terus berjalan cepat meninggalkan kantor beserta orang-orang terdekatnya dalam kebingungan. Masuk ke dalam lift, pria itu menyandarkan tubuh di dinding lift dengan mata terpejam dan tangan terlipat di dada. Bayang-bayang kejadian lalu, saat dia dengan tega menyiksa dan menganiaya Hellena, kini hadir kembali mengusik hati dan pikirannya. “Kau benar, Elle, aku memang manusia iblis yang tidak punya hati! Bahkan aku hampir membunuh calon anak kita!” ucap lirih Felix, penuh p

  • Istri Kontrak Tuan Felix    Bab 43 : Pingsan

    Sepulang dari pertemuannya dengan, Tuan Clark, wajah Felix, semakin datar dan dingin. Membuat aura di sekitarnya terasa mencekam. Begitu turun dari mobil, Felix pergi begitu saja menuju ruangannya. Meninggalkan Mark, dan Lena, yang dibuat pusing dengan sikap bosnya yang terlihat marah.Lena melihat ke arah, Mark, dan kebetulan pria itu juga sedang melihat ke arahnya. "Kenapa, Tuan Felix seperti orang sedang marah ya? Bukannya kita tidak membuat kesalahan?" ucap Lena, pelan. Seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri."Jangan terlalu ingin tau urusan orang lain!" tegas Mark, dengan wajah yang tak kalah datarnya dengan sang bos. Setelahnya, dia langsung pergi begitu saja, meninggalkan Lena yang masih terbengong, merasa heran dengan sikap dua pria tersebut."Uh! Mau heran, tapi ini manusia kulkas, jadi ya sudahlah. Biar aku saja yang menjadi api untuk membakar dua manusia es berjalan itu," gumam Lena, sambil terkekeh geli, menertawakan ucapannya sendiri.Tanpa menunda waktu, wanita

  • Istri Kontrak Tuan Felix    Bab 42 : Kulkas Berjalan

    Felix memasuki ruang privat yang ada di restoran tersebut, diikuti oleh Lena dan Mark. Saat Lena akan duduk di tempat yang agak jauh dari Felix, tiba-tiba tangan kekar seseorang menariknya, hingga wanita itu terduduk di kursi samping kiri Felix, sementara Mark duduk di samping kanan sang bos."Mau kemana, Kau?" tanya Felix, datar."Mau duduk yang jauh dari, Tuan!" jawab Lena acuh."Memangnya aku virus yang harus Kau jauhi ha!" emosi Felix kembali meningkat."Bukan cuma virus biasa, tapi virus yang meresahkan!" gumam Lena, tanpa sadar."Bukan aku yang meresahkan, tapi Kau!" ucap Felix, pelan tapi tetap saja tajam. "Baru kali ini aku punya sekretaris yang sangat meresahkan, tidak mau dengar apa perintah, Bosnya. Selalu bertindak atas keinginan sendiri!" gerutu Felix."Makanya, jadi Bos itu yang baik, jangan seperti kulkas berjalan, irit bicara, sekali bicara langsung tancap gas!" rutuk Lena, dengan bibir mengerucut."Astaga, Mark, dari mana Kau dapat manusia langka ini? Baru sehari dia

  • Istri Kontrak Tuan Felix    Bab 41 : Sekretaris Yang Meresahkan

    Lena mengernyit heran dengan sikap bos barunya tersebut, ‘Kenapa dia bersikap seperti suami posesif?’ batin Lena, heran dengan semua sikap Felix. Lena terdiam sejenak, tiba-tiba matanya melebar dengan jantung yang berdetak semakin kencang, ‘Apa jangan-jangan, dia mengenaliku?’ batin Lena lagi.“Hey, Kau! Apa tidak dengar apa kataku!” ucap Felix, dengan tatapan dingin.Seketika Lena tergagap, mendapatkan pertanyaan tersebut, “Ah, i … iya, Tuan, maaf!” ucap Lena, tergagap. Dan dengan cepat dia masuk ke mobil, tepat di samping Felix. Wanita itu berusaha keras untuk menetralkan debaran jantungnya, agar Felix dan Mark tidak curiga padanya.“Kenapa wajahmu pucat? Apa Kau takut padaku?” tanya Felix, dengan senyum miring.“Tentu saja takut, wajah Tuan, seram seperti iblis cari mangsa,” gumam Lena, pelan tanpa ada niat untuk menjawab ejekan Felix. Tapi siapa sangka, gumamannya terdengar juga oleh telinga Felix, dan Mark, yang memang sangat tajam hingga bisa mendengar dengan jelas gumaman Lena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status