Mag-log in“Apakah ini mimpi? Setelah ini kita akan bersama di bawah satu atap. Lalu, apa yang harus kulakukan padamu?” –Mike–
*** Mike dan Angie tak membutuhkan waktu lama untuk mempertegas rencana pernikahan palsu mereka. Kedua keluarga sudah bertemu dan mudah pula bagi mereka untuk setuju karena tak butuh waktu penjajakan atau sejenisnya, mengingat tenggat waktu yang Mike berikan pada Angie adalah hanya terkait pernikahan. Lelaki itu tak memberinya waktu berpikir bahkan untuk menolak, sehingga semua terjadi dengan mudah dan di sinilah dia berada—di sebuah ruang terpisah, dengan beberapa orang tengah menata busana dan riasan yang akan membuat keduanya menjadi pengantin paling cantik dan gagah seantero jagat. “Dalam tradisi kami, pengantin harus tampak lebih dibanding tamu, bahkan pengiring. Pulaslah pemerah bibir yang berwarna tajam.” Melly, ibu Angie, meraih salah satu lipstick berwarna merah terang dan menyodorkan pada perias. “Ini. Warna ini pasti akan membuat Jiji-ku makin bersinar.” “Maafkan kami, Nyonya. Sebaiknya Anda menunggu di luar agar kami bisa melakukan pekerjaan kami. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Artinya kami sudah terlambat,” ujar sang perias tampak sedikit kesal. Angie yang sejak tadi pun merasa tak nyaman akan kehadiran sang ibu, memberi isyarat agar wanita itu tetap berada di area keluarga dan mempersiapkan diri. Keluarga mereka percaya bahwa menemui pengantin saat dirias, akan membawa nasib buruk bagi pernikahan mereka. Mitos semacam itu yang dijadikan senjata ampuh oleh Angie, sehingga tak ada perdebatan di antara dirinya dan sang ibu. Tak lama berselang, salah satu perias membuka pintu dan membiarkan Melly masuk untuk memeriksa putrinya. Dia terpana saat melihat Angie dengan riasan dan gaun pengantin berwarna dusty pink melekat pas di tubuh mungilnya. Air mata Melly menetes dan hati-hati dia memeluk Angie. Pelukan terakhir dia berikan untuk putrinya sebelum berjalan menuju altar. Angie menoleh pada kakak lelaki yang dia gamit lengannya, kini tengah menyunggingkan senyum haru, meski semula enggan mengiringi untuk dia serahkan pada lelaki lain. Hanya Angie yang mereka punya dan kini akan menjadi milik seorang lelaki bermasalah yang dia masih ragukan karakternya, rasanya dia tak rela. “Aku serahkan adikku padamu untuk kau jaga. Jangan sakiti dia, bahagiakan dia. Jika kulihat sedikit saja dia meneteskan air mata karenamu, tak peduli dari mana kau berasal, aku akan menghabisimu,” bisik Jimmy pada Mike yang hanya menanggapi dengan seringai sinis. Dia tak peduli, juga tak gentar dengan ancaman semacam itu, karena yang selama ini dia hadapi jauh lebih mengerikan. Dia pernah nyaris mati karena tusukan samurai menembus perutnya ketika berhadapan dengan salah satu anggota Yakuza. Namun, nyatanya dia masih hidup hingga sekarang. Jadi, orang semacam Jimmy, tak akan membuatnya bergidik. Prosesi pernikahan berjalan lancar. Kini saatnya mereka mengucap ikrar. Seketika itu, tatapan mata Angie tertuju pada Mike yang tampak tak acuh. Bagi lelaki itu, yang mereka lakukan sekarang hanyalah sesuatu yang tak berarti, tetapi tidak bagi Angie yang menganggap ritual pernikahan adalah sebuah prosesi sakral. Tangan Angie bergetar saat memegang pengeras suara dan membaca kalimat indah tertulis di kertas yang dia bawa. Dia menulisnya sendiri sejak lama. Kala itu, hatinya berbunga dan berkhayal bahwa semua yang dia tulis adalah ikrar antara dirinya dan lelaki pujaan hatinya nanti. Sayang sekali, kenyataan terlampau jauh berbeda dengan harapan. Lidah Angie terasa kelu dan ketika membuka mulut untuk mengucapkan ikrar, seluruh hatinya seolah turut melebur bersama janji yang terucap. “Aku, Angelica Zenetta Reviera, menerima Michael Albertio Genosie sebagai suamiku, untuk saling mendukung, saling menerima, dalam suka dan duka, sakit dan sehat, dalam cinta dan kasih, tak akan pernah berpisah, dan akan selalu menyerahkan hati, sehidup dan semati, sampai maut yang akan memisahkan.” Kalimat itu terlalu berat bagi Angie, sehingga setelah ucapannya terhenti, dia limbung dan tak sadarkan diri. *** “Jiji? Apakah kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?” tanya seorang wanita, tampak samar di mata Angie yang baru saja sadar setelah pingsan di altar. Dia tak sempat mendengar ikrar Mike untuknya. Lagi pula itu tak penting. Mereka bukanlah sepasang kekasih yang menikah karena saling mencinta. “Di mana aku? Apa yang terjadi?” “Kau pingsan, Sayang. Dokter sudah memeriksa dan mengatakan kalau kau stres dan kelelahan. Setelah ini, tak perlu ada bulan madu terlebih dahulu, karena kau harus beristirahat,” timpal sang ibu mertua, yang dengan perasaan cemas, menunggu Angie sadar. Angie memegang kening yang berdenyut. Dia pasti sangat merepotkan sampai semua orang khawatir. Namun, tak terlihat keberadaan Mike di ruangan itu sejak tadi. Apakah acara sudah selesai? Angie bangkit perlahan dan dengan tubuh lemah yang dipaksakan, dia ayunkan langkah menuju ke balkon. Tak ada yang mencegah apa yang ingin dia lakukan, dan ketika tiba, tak ada siapa pun di sana. Dia pejamkan mata dan menghirup udara sebanyak mungkin untuk mengisi paru-paru, sampai dia menyadari kehadiran seseorang. “Kau sudah bangun rupanya. Merepotkan sekali,” gerutu lelaki yang dia kenal. Kalimat bernada sinis itu tak digubrisnya. Dia sedang malas berurusan dengan Mike atau siapa pun. Baru beberapa hari bertemu dengan Mike dan itu pun bukan pertemuan intens, Angie merasa seluruh dunianya menjadi seperti benang kusut yang terisi hanya oleh lelaki itu. Mengapa dia begitu bodoh menerima pernikahan itu? Bukankah lebih baik mati tenggelam dibanding harus hidup di bawah satu atap dengan bajingan seperti Mike? “Sedang apa kau di sini?” tanya Angie, malas. “Aku tidak membutuhkan perhatianmu sehingga kau harus bersusah payah menungguku hingga sadar.” Mike terkekeh sembari menggeleng, menghisap rokoknya dengan nikmat sebelum kemudian menjatuhkan benda itu untuk dia injak hingga lumat. “Apakah kau lupa kalau ini juga kamarku?” Dia mengangkat tangan di mana telah melingkar sebuah cincin di jari manisnya. “Aku sekarang suamimu, Sayang. Jadi kita akan berada dalam satu kamar, satu ranjang ....” Mike melangkah mengikis jarak, sehingga Angie berjalan mundur dan ketika mereka begitu dekat, dia meraih pinggang gadis yang telah resmi menjadi istrinya. “Satu selimut ....” Sialan! Angie tak bisa bersikap tenang jika seperti ini keadaannya. Aroma parfum bercampur feromon Mike, membuatnya gelisah dan salah tingkah. Jantungnya berdegup kencang seolah tengah berlompatan ke luar. “Hey … apa yang kau pikirkan? Mengapa kau menggigit bibir seperti itu? Jangan katakan kau sedang membayangkan–” “A-apa? Jangan sembarangan!” Angie mendorong Mike yang masih terkekeh. Dia menjauh, menuju ke sisi lain dan menyadari beberapa pria berpakaian hitam tengah berjaga. Angie melongok ke bawah. Kepalanya berputar, tetapi dia sempat melihat kondisi yang tak jauh berbeda dengan yang ada di balkon—para pengawal berjaga dengan senjata di tangan. “Apa yang terjadi, Mike? Mengapa mereka menyiapkan senjata seperti itu?” Angie menoleh pada Mike yang raut wajahnya berubah serius, hingga kemudian, suara letusan terdengar nyaring dan satu orang di balkon mengerang kesakitan sebelum akhirnya tersungkur di lantai."Sudah kukatakan, apa pun yang kau minta adalah titah bagiku. Katakanlah, apa saja. Kau akan melihat itu semua tepat di hadapanmu saat itu juga." -Mike- *** Angie memakai hoodie dan helm sebelum kemudian menaiki tunggangannya. Dia sengaja menggunakan motor dibanding mobil yang mudah terlacak. Mengemudi dengan kecepatan penuh, Angie tiba di lokasi di mana dia menyekap Mike, Vivian, dan Zack. Hati-hati dia memasuki bangunan terbengkalai dan memastikan penjagaan cukup ketat. Hanya orang-orang kepercayaan yang dia gerakkan untuk misi ini. Lainnya sudah dia selesaikan sebelum tiba di tempat itu, termasuk data-data dan sampel yang telah dia serahkan ke laboratorium untuk membuktikan dugaan mengenai hal-hal di sekitar yang cukup membingungkan beberapa waktu terakhir. Mike dan Vivian terjaga saat Angie tiba, tetapi tidak dengan Zack. Wajahnya semakin pucat dan Vivian dengan air mata berderai terus mencecar Angie untuk membebaskan mereka. “Jiji, Sayang ... kau pasti mengenal Meredith.
I’d rather sit here on my own and be alone, babe‘Cause I still feel like your manStill Feel Like Your Man – John Meyer***Jordan mengerjap dan cukup terkejut melihat Angie terlelap di sampingnya. Dia tak ingat apa yang terjadi malam tadi. Hanya minuman dan kepulangan Angie yang masih tersimpan di memori, selebihnya tidak.Dia membelai wajah Angie sebelum beranjak dari ranjang dan membersihkan diri. Apakah mereka benar sudah melakukan itu? Mengapa dia tidak ingat? Jika benar, bolehkah dia tetap di ranjang, bergelung dengan wanita pujaan hati di dalam satu selimut, dan mengulangi lagi yang semalam terlewatkan oleh kesadarannya?Sadar sudah hanyut dalam kegilaan sesaat, Jordan menggeleng. Ada pertemuan penting yang harus dia hadiri setelah sebelumnya gagal karena Mike mangkir tanpa memberi kabar dan membuatnya mengira lelaki itu bertemu Angie di suatu tempat.Itu jelas tak mungkin. Angie yang dia kenal bukanlah perempuan yang akan tidur dengan sembarang lelaki. Itu tak akan ter
“Mencintaimu adalah kesedihan. Aku tak inginkan kehadirannya, tetapi dia akan terus melekat pada diri, membelenggu hidup, bahkan hingga mati.” -Jiji- *** Angie terbangun dengan tangan-kaki terikat dan tak bisa digerakkan. Kesadaran belum penuh mengisi rongga kepala. Namun, dia tahu apa yang terjadi saat suara denting tertangkap indra pendengarnya setiap kali dia bergerak. “Shit! Tidak, tidak, tidak.” Kedua tangan yang terborgol terus dia gerakkan, tetapi tentu saja mustahil melepaskan diri. Angie bukan super hero yang bisa mematahkan besi, melainkan hanya manusia biasa. Keahlian utamanya hanyalah berkamuflase, menjadi karakter berbeda di tiap misi. Untuk kali ini, sepertinya Jim jauh lebih pintar. “Jimmy! Lepaskan aku, bajingan!” Dia berteriak menggila setelah berusaha mengingat kejadian kali terakhir, tetapi nihil. Bisa dipastikan ada campur tangan pihak lain yang membuat Angie kesulitan mengumpulkan ingatan dan dia tahu siapa. “Sialan kau, Meredith!” “Apakah kau memang
“Jika nyawaku bisa meredakan amarah dan dendammu, ambillah sesuka hatimu. Namun, kembalilah kepadaku sebagai Jiji yang kukenal dan mencintaiku.” -Mike-***Seorang lelaki membuka mata perlahan. Seolah baru tersadar dari tidur panjang, dia terhenyak, terbatuk keras sebelum mengedar pandangan ke seluruh penjuru ruangan kosong dan berdebu.Perempuan dengan setelan serba hitam duduk di sudut ruangan dengan pistol di tangan, menatap ke arahnya yang memicingkan mata, memperjelas penglihatan yang sedikit kabur. Kepalanya pengar seperti baru saja dihantam dengan cukup keras.“Hello, Husband. Did you miss me?” sapa Angie sembari berjalan mendekat, membuat lelaki itu sadar siapa yang ada di depannya. Perempuan itu berjongkok, memandanginya dengan iris cokelat yang berhasil menawan hatinya selama ini. “Kau pasti terlalu lelah sampai tidur seperti bayi.”“Jiji, apa-apaan ini?” Mike berusaha melepaskan ikatan di tangan dan kaki, tetapi percuma. Beruntung Angie tidak menyumpal mulutnya, sehing
“Nyawa dibalas nyawa, Mike. Andai ayahku membunuhmu, aku pun akan melenyapkannya.” -Jiji-***“Hari ini aku dan The Black Venom akan mengadakan pertemuan,” ujar Jordan sembari menilik tampilan rapinya di cermin di kamar Angie. Yang diajak bicara tak memberi respons.Angie baru bisa terlelap selama dua jam karena terus memikirkan pertemuan dengan Mike. Pagi hari buta suara berisik di luar kamar membangunkannya dan ternyata Jordan tengah menyibukkan diri dengan koleksi senapan. Sekarang, baru hendak memejamkan mata lagi, lelaki itu masuk tanpa mengetuk pintu dan memintanya ikut menghadiri rapat. Yang benar saja!“Bagaimanapun, kau adalah pasanganku sekarang.” Jordan beralasan.Andai Jordan tahu, Mike dan Angie sudah menandatangani akta pernikahan sah dan menghancurkan surat kontrak mereka. Jadi, Angie masih bagian keluarga Genosie. Ikut sebagai pasangan Jordan hanya akan menimbulkan masalah baru ditambah kesempatan bertemu Mike.Dia masih enggan melihat wajah lelaki itu.“Sayang
"Tak bisakah kita kesampingkan masalah organisasi dan hanya pedulikan perasaan kita sekarang? Aku rindu, otu yang kuingin kau tahu. Namun, bagaimana denganmu? Tak inginkah kau berhenti sejenak dan habiskam malam panas seperti dulu?" -Mike-***Angie membuka jendela hati-hati, melangkah berjinjit tanpa menimbulkan suara. Seseorang masih terbaring di ranjang, lelap dan tampak tak terganggu dengan kehadirannya di sana.Dia tidak datang untuk misi, melainkan hanya hal remeh-temeh yang selama dua tahun ini seharusnya dia lakukan, tetapi terhalang oleh keadaan.Perlahan dia belai rahang lelaki di ranjang, lalu memandangi sebentar sebelum memutar tubuh untuk pergi. Beberapa menit saja seharusnya cukup. Sayang, saat dia hendak menjauhkan tangan, sebuah cengkeraman menghalangi niatnya.“Apa yang kaulakukan di sini?” sergah lelaki itu, membuka mata dan menatap wajah panik Angie yang terlihat jelas meski hanya diterangi cahaya rembulan dari luar jendela. “Kau mau kabur dan menghilang lagi? Sa
“Kau berguna untuk menjaga harga diriku. Lakukan tugasmu dengan baik, maka apa pun pemintaanmu, akan kupenuhi. Kecuali satu hal: sebuah kebebasan.” –Mike–***Tak hanya Angie yang cukup tertekan setelah kejadian di hotel yang menyebabkan sang ayah mertua harus menjalani perawatan intensif. Ibu mert
"Aku bisa menghabisi siapa pun yang menghalangi jalanku. Namun, mengapa tidak terhadapmu? Aku pasti sudah gila." -Mike-***“Mike! Apa yang terjadi? Ah!” Suara tembakan bersahutan membuat Angie seketika tak kuasa menahan kepanikan. Mike segera menghambur ke arahnya, melindunginya agar merunduk dan
“Jika menurutmu pernikahan ini hanya main-main dan Tuhan enggan menyaksikan karena tak suka akan caraku memaksamu, maka biar iblis yang jadi saksi. Kau milikku.” –Mike–***Angie tampak gelisah dan mondar mandir di kamar. Dia menggigiti jemari dan menyumpah serapahi tindakannya yang begitu bodoh ha
“Cinta? Apa itu cinta? Yang kita butuhkan sekarang hanyalah kestabilan. Kau berdamai dengan ayahmu, sementara aku … sebuah kesempatan hidup—tak ingin mati konyol di tanganmu.” –Jiji–***Mike akhirnya membebaskan Angie tanpa syarat. Baginya, tak ada guna menyekap gadis tak menarik sepertinya. Dia b







