Share

Bab 4

Penulis: Kennie Re
last update Tanggal publikasi: 2025-07-23 01:28:07

“Jika menurutmu pernikahan ini hanya main-main dan Tuhan enggan menyaksikan karena tak suka akan caraku memaksamu, maka biar iblis yang jadi saksi. Kau milikku.” –Mike–

***

Angie tampak gelisah dan mondar mandir di kamar. Dia menggigiti jemari dan menyumpah serapahi tindakannya yang begitu bodoh hari ini. Bahkan mungkin sejak kemarin.

Mengapa dia begitu percaya pada sahabatnya dan setuju saja saat gadis itu mengajaknya ke kelab malam, tempat yang tak sekali pun pernah dia masuki dan akhirnya menjadi awal mula kesialan yang dia alami?

Apa itu bourbon, margarita, vodka? Dia sama sekali tak tahu nama-nama itu. Meski kemarin sudah menenggaknya sembarangan, tetapi andai bukan sahabatnya yang memaksa, dia tak akan pernah menyentuh minuman itu barang sedikit pun.

“Bodoh, bodoh, bodoh! Kau bodoh sekali, Ji!” Angie berulang kali memukul kepala dan kemudian mengempaskan tubuh di ranjang.

Ingatannya seketika melayang ke beberapa jam lalu di mana dirinya dan Mike telah membuat perjanjian konyol yang kini menjadikannya pusing tujuh keliling. Dia dan lelaki itu sebentar lagi akan menjadi sepasang suami istri.

Sulit dipercaya!

“Bagaimana kalau aku tidak mau menanda tanganinya? Aku masih berusia sembilan belas tahun dan baru saja merasakan kehidupan perkuliahan yang bebas dan pekerjaan yang bagus. Aku tidak mau menjadi boneka seseorang.”

Kala itu, Angie berusaha meyakinkan Mike bahwa hidup dengannya akan sangat merepotkan.

“Diam! Jika kau tidak mau menanda tanganinya, aku bisa menembakmu saat ini juga dan membuang mayatmu ke laut.” Mike memberi isyarat ke luar jendela, di mana laut luas layaknya samudra Hindia terbentang di bawah jembatan yang tengah mereka lewati. “Atau kau ingin aku mengikat lalu menenggelamkanmu ke sana? Itu pasti akan lebih menyenangkan.”

Seketika Angie bergidik menatap seringai Mike.

Bagaimana jika saat Mike menenggelamkannya, dia tidak langsung mati melainkan harus bertarung dulu dengan malaikat maut? Tercebur ke laut dan harus menyaksikan kematian secara perlahan pasti sangat menyiksa. Terlebih, Angie adalah seorang pengidap Talasofobia dan beberapa fobia lain—menghadapi ketakutannya sendiri adalah senjata pembunuh paling mengerikan baginya.

Sontak, ancaman Mike berhasil mempengaruhi Angie dan segera dia meraih pulpen untuk menandatangani berkas tersebut. Akan tetapi, gerakannya terhenti saat dirinya mengingat sesuatu.

“Aku akan tanda tangan jika boleh mengajukan syarat,” ucapnya kala itu.

“Kau adalah tawanan di sini, tak ada hak untukmu bicara.”

“Kalau begitu bunuh saja aku.”

Bodoh dan nekat. Angie menyesal telah mengatakan semua itu, karena Mike bukan orang yang akan bermain-main dengan perkataannya.

Mike segera memerintahkan sopir menepikan mobil, lalu meraih Angie untuk dia bawa keluar dan melakukan apa yang menjadi ancamannya. Angie memberontak, tetapi jelas dia kalah tenaga dibanding dirinya dengan tubuh tinggi tegap.

Satu lengan saja berhasil mengangkat Angie dan menaikkannya ke pembatas jembatan, tanpa kesulitan.

“Tidak, tidak ... jangan lakukan ini! Aku tidak serius mengatakannya, Tuan. Please … turunkan aku ....” Sekujur tubuh Angie bergetar hebat, bulu kuduknya meremang bahkan hingga ke lengan. Dia menutup mata, enggan melihat ke bawah. “Kumohon turunkan aku, Mike ....”

Kening Mike berkerut seketika. Bagaimana bisa gadis itu mengetahui namanya yang sama sekali belum pernah dia sebutkan sejak awal? Sebegitu terkenalkah dia di kalangan wanita? Bahkan gadis di kelab kemarin pun tahu siapa dirinya.

“Apakah kau berubah pikiran, hah?” tanya Mike dengan seringai iblis yang selalu berhasil membuat siapa pun yang melihat, memilih untuk tidak menatap wajahnya, atau lebih memilih menyerah. Menjadi budak pun mereka rela asalkan tidak menjadi bahan bulan-bulanan lelaki gila itu.

Angie mengangguk, tubuhnya kaku saking takut membayangkan jika bergerak sedikit saja, dia akan terjatuh dan menjadi santapan ikan-ikan di bawah sana.

“Well, aku suka pilihanmu. Jangan melawan lagi kalau kau masih sayang nyawamu.” Mike menurunkan Angie dan membiarkan tubuhnya tergolek di tanah.

Napas Angie tersengal. Membayangkan diri nyaris mati konyol, membuatnya tak berkutik dan membeku.

“Berjalanlah! Kutunggu di mobil,” ucap Mike kemudian melangkah meninggalkan Angie yang tak henti menyumpah serapahi tindakan lelaki maniak tak berperasaan. Belum menjadi istri saja, dia sudah layaknya mainan seru bagi lelaki itu. Apa jadinya nanti setelah mereka tinggal di satu rumah?

“Aku ti-tidak bisa berjalan, bajingan! Apakah matamu buta?” Angie memberi isyarat agar Mike membuka ikatan di tangan dan kakinya. Namun, karena lelaki itu bersikap tak acuh, dia bersiul supaya Mike berbalik. “Hey! Buka ikatanku dulu, brengsek!”

Mike berbalik, tetapi saat tiba di hadapan Angie, dia tidak membuka ikatan melainkan meraih tubuh gadis itu untuk dia bawa kembali ke mobil.

“Sekarang tanda tangani!” titah Mike saat tiba di mobil, kemudian melonggarkan dasi yang sejak tadi terasa mencekik. Angie masih membeku, air mata menetes di pipi membayangkan kehidupannya setelah ini.

“Aku ingin mengajukan syarat penting,” ujar Angie, setelah mengusap air mata. “Kumohon ....”

Mike mengangkat sebelah alis, tampak berpikir. Entah mendapat dorongan dari mana, dia akhirnya mengangguk. “Baiklah. Kau boleh mengutarakan keinginan, tetapi apakah akan kukabulkan atau tidak, terserah padaku.”

Meski sama halnya dengan berjudi—menang atau kalah, Angie tak akan pernah tahu, tetapi setidaknya dia mencoba memastikan keluarganya baik-baik saja.

“Pertama, kalian harus memberi jaminan keamanan bagi kakak dan ibuku, karena kehidupan kalian yang pasti memiliki banyak musuh tentu akan membahayakan mereka jika ada yang tahu tentang ini.”

“Oke. Mereka akan menerima perlindungan dari kami. Sudah?”

“Ada lagi. Setelah menikah, tidak akan ada kontak fisik,” imbuh Angie.

Kali ini Mike menggeleng. “Kau harus tahu beberapa hal yang membuatku memilihmu untuk menjadi pengantin tawananku. Satu, karena kau sudah tidur denganku.”

Mendengar pernyataan Mike, Angie mendengkus. “Kau ini lucu. Bukankah seharusnya aku yang meminta pertanggung jawaban untuk masalah itu? Aku masih virgin dan kau sudah mengambilnya.”

“Apa kau pikir hanya kau yang masih perawan sementara aku sudah tidak perjaka?” timpal Mike, yang membuat Angie mengatupkan bibir. Tawanya nyaris meledak. Lelaki seperti Mike tak pernah berurusan dengan perempuan sebelumnya? Sangat sulit dipercaya. “Sudah, cukup! Kau tidak boleh bicara sebelum aku selesai.”

Angie membiarkan lelaki yang mulai tantrum itu melanjutkan perkataan yang baginya penting. Akan tetapi bagi Angie, inti dari kesemuanya hanya satu: hidupnya pasti akan seperti di neraka setelah ini.

“Alasan kedua yang memperkuat alasan pertama adalah karena ayahku menginginkan keturunan dariku. Jadi kesimpulannya, aku tidak mengabulkan permintaanmu untuk tidak adanya kontak fisik,” lanjutnya.

Angie gelagapan, belum membaca apa saja yang tertera dalam surat, juga belum memahami apa yang sebenarnya menjadi alasan utama Mike memilihnya sejak semula. Baginya, ini semua adalah nasib buruk. Apakah ada hubungan dengan sahabatnya, ataukah memang dia hanya sedang tertimpa kesialan berkepanjangan?

Yang pasti, Angie tak punyai kesempatan dan pilihan ketika Mike lagi-lagi menodongkan benda kesayangannya agar Angie tak akan pernah berubah pikiran. Mimpi buruk akan dimulai, tepat setelah coretan terakhir jemarinya di atas kertas yang dia terima.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Kontrak Tuan Genosie (INDONESIA)   Bab 58

    "Sudah kukatakan, apa pun yang kau minta adalah titah bagiku. Katakanlah, apa saja. Kau akan melihat itu semua tepat di hadapanmu saat itu juga." -Mike- *** Angie memakai hoodie dan helm sebelum kemudian menaiki tunggangannya. Dia sengaja menggunakan motor dibanding mobil yang mudah terlacak. Mengemudi dengan kecepatan penuh, Angie tiba di lokasi di mana dia menyekap Mike, Vivian, dan Zack. Hati-hati dia memasuki bangunan terbengkalai dan memastikan penjagaan cukup ketat. Hanya orang-orang kepercayaan yang dia gerakkan untuk misi ini. Lainnya sudah dia selesaikan sebelum tiba di tempat itu, termasuk data-data dan sampel yang telah dia serahkan ke laboratorium untuk membuktikan dugaan mengenai hal-hal di sekitar yang cukup membingungkan beberapa waktu terakhir. Mike dan Vivian terjaga saat Angie tiba, tetapi tidak dengan Zack. Wajahnya semakin pucat dan Vivian dengan air mata berderai terus mencecar Angie untuk membebaskan mereka. “Jiji, Sayang ... kau pasti mengenal Meredith.

  • Istri Kontrak Tuan Genosie (INDONESIA)   Bab 57

    I’d rather sit here on my own and be alone, babe‘Cause I still feel like your manStill Feel Like Your Man – John Meyer***Jordan mengerjap dan cukup terkejut melihat Angie terlelap di sampingnya. Dia tak ingat apa yang terjadi malam tadi. Hanya minuman dan kepulangan Angie yang masih tersimpan di memori, selebihnya tidak.Dia membelai wajah Angie sebelum beranjak dari ranjang dan membersihkan diri. Apakah mereka benar sudah melakukan itu? Mengapa dia tidak ingat? Jika benar, bolehkah dia tetap di ranjang, bergelung dengan wanita pujaan hati di dalam satu selimut, dan mengulangi lagi yang semalam terlewatkan oleh kesadarannya?Sadar sudah hanyut dalam kegilaan sesaat, Jordan menggeleng. Ada pertemuan penting yang harus dia hadiri setelah sebelumnya gagal karena Mike mangkir tanpa memberi kabar dan membuatnya mengira lelaki itu bertemu Angie di suatu tempat.Itu jelas tak mungkin. Angie yang dia kenal bukanlah perempuan yang akan tidur dengan sembarang lelaki. Itu tak akan ter

  • Istri Kontrak Tuan Genosie (INDONESIA)   Bab 56

    “Mencintaimu adalah kesedihan. Aku tak inginkan kehadirannya, tetapi dia akan terus melekat pada diri, membelenggu hidup, bahkan hingga mati.” -Jiji- *** Angie terbangun dengan tangan-kaki terikat dan tak bisa digerakkan. Kesadaran belum penuh mengisi rongga kepala. Namun, dia tahu apa yang terjadi saat suara denting tertangkap indra pendengarnya setiap kali dia bergerak. “Shit! Tidak, tidak, tidak.” Kedua tangan yang terborgol terus dia gerakkan, tetapi tentu saja mustahil melepaskan diri. Angie bukan super hero yang bisa mematahkan besi, melainkan hanya manusia biasa. Keahlian utamanya hanyalah berkamuflase, menjadi karakter berbeda di tiap misi. Untuk kali ini, sepertinya Jim jauh lebih pintar. “Jimmy! Lepaskan aku, bajingan!” Dia berteriak menggila setelah berusaha mengingat kejadian kali terakhir, tetapi nihil. Bisa dipastikan ada campur tangan pihak lain yang membuat Angie kesulitan mengumpulkan ingatan dan dia tahu siapa. “Sialan kau, Meredith!” “Apakah kau memang

  • Istri Kontrak Tuan Genosie (INDONESIA)   Bab 55

    “Jika nyawaku bisa meredakan amarah dan dendammu, ambillah sesuka hatimu. Namun, kembalilah kepadaku sebagai Jiji yang kukenal dan mencintaiku.” -Mike-***Seorang lelaki membuka mata perlahan. Seolah baru tersadar dari tidur panjang, dia terhenyak, terbatuk keras sebelum mengedar pandangan ke seluruh penjuru ruangan kosong dan berdebu.Perempuan dengan setelan serba hitam duduk di sudut ruangan dengan pistol di tangan, menatap ke arahnya yang memicingkan mata, memperjelas penglihatan yang sedikit kabur. Kepalanya pengar seperti baru saja dihantam dengan cukup keras.“Hello, Husband. Did you miss me?” sapa Angie sembari berjalan mendekat, membuat lelaki itu sadar siapa yang ada di depannya. Perempuan itu berjongkok, memandanginya dengan iris cokelat yang berhasil menawan hatinya selama ini. “Kau pasti terlalu lelah sampai tidur seperti bayi.”“Jiji, apa-apaan ini?” Mike berusaha melepaskan ikatan di tangan dan kaki, tetapi percuma. Beruntung Angie tidak menyumpal mulutnya, sehing

  • Istri Kontrak Tuan Genosie (INDONESIA)   Bab 54

    “Nyawa dibalas nyawa, Mike. Andai ayahku membunuhmu, aku pun akan melenyapkannya.” -Jiji-***“Hari ini aku dan The Black Venom akan mengadakan pertemuan,” ujar Jordan sembari menilik tampilan rapinya di cermin di kamar Angie. Yang diajak bicara tak memberi respons.Angie baru bisa terlelap selama dua jam karena terus memikirkan pertemuan dengan Mike. Pagi hari buta suara berisik di luar kamar membangunkannya dan ternyata Jordan tengah menyibukkan diri dengan koleksi senapan. Sekarang, baru hendak memejamkan mata lagi, lelaki itu masuk tanpa mengetuk pintu dan memintanya ikut menghadiri rapat. Yang benar saja!“Bagaimanapun, kau adalah pasanganku sekarang.” Jordan beralasan.Andai Jordan tahu, Mike dan Angie sudah menandatangani akta pernikahan sah dan menghancurkan surat kontrak mereka. Jadi, Angie masih bagian keluarga Genosie. Ikut sebagai pasangan Jordan hanya akan menimbulkan masalah baru ditambah kesempatan bertemu Mike.Dia masih enggan melihat wajah lelaki itu.“Sayang

  • Istri Kontrak Tuan Genosie (INDONESIA)   Bab 53

    "Tak bisakah kita kesampingkan masalah organisasi dan hanya pedulikan perasaan kita sekarang? Aku rindu, otu yang kuingin kau tahu. Namun, bagaimana denganmu? Tak inginkah kau berhenti sejenak dan habiskam malam panas seperti dulu?" -Mike-***Angie membuka jendela hati-hati, melangkah berjinjit tanpa menimbulkan suara. Seseorang masih terbaring di ranjang, lelap dan tampak tak terganggu dengan kehadirannya di sana.Dia tidak datang untuk misi, melainkan hanya hal remeh-temeh yang selama dua tahun ini seharusnya dia lakukan, tetapi terhalang oleh keadaan.Perlahan dia belai rahang lelaki di ranjang, lalu memandangi sebentar sebelum memutar tubuh untuk pergi. Beberapa menit saja seharusnya cukup. Sayang, saat dia hendak menjauhkan tangan, sebuah cengkeraman menghalangi niatnya.“Apa yang kaulakukan di sini?” sergah lelaki itu, membuka mata dan menatap wajah panik Angie yang terlihat jelas meski hanya diterangi cahaya rembulan dari luar jendela. “Kau mau kabur dan menghilang lagi? Sa

  • Istri Kontrak Tuan Genosie (INDONESIA)   Bab 8

    “Katakan sekali lagi, apa yang ayah dan ibumu harapkan dari pernikahan kita? Anak? Haruskah kita memenuhinya? Kau mau berapa, Mike? Kalau aku dua, kembar laki-laki dan perempuan. Bagaimana menurutmu?”“In your dream, Angie!”***Angie telah siap dengan pakaian terbaik, mengira kalau dirinya akan se

  • Istri Kontrak Tuan Genosie (INDONESIA)   Bab 7

    “Kau berguna untuk menjaga harga diriku. Lakukan tugasmu dengan baik, maka apa pun pemintaanmu, akan kupenuhi. Kecuali satu hal: sebuah kebebasan.” –Mike–***Tak hanya Angie yang cukup tertekan setelah kejadian di hotel yang menyebabkan sang ayah mertua harus menjalani perawatan intensif. Ibu mert

  • Istri Kontrak Tuan Genosie (INDONESIA)   Bab 6

    "Aku bisa menghabisi siapa pun yang menghalangi jalanku. Namun, mengapa tidak terhadapmu? Aku pasti sudah gila." -Mike-***“Mike! Apa yang terjadi? Ah!” Suara tembakan bersahutan membuat Angie seketika tak kuasa menahan kepanikan. Mike segera menghambur ke arahnya, melindunginya agar merunduk dan

  • Istri Kontrak Tuan Genosie (INDONESIA)   Bab 5

    “Apakah ini mimpi? Setelah ini kita akan bersama di bawah satu atap. Lalu, apa yang harus kulakukan padamu?” –Mike–***Mike dan Angie tak membutuhkan waktu lama untuk mempertegas rencana pernikahan palsu mereka. Kedua keluarga sudah bertemu dan mudah pula bagi mereka untuk setuju karena tak butuh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status