MasukAnya buru-buru menjauh dari Rayden, ia segera turun dari ranjang. Namun, karna tak hati-hati ia langsung terjatuh ke bawah.Rayden refleks langsung bangun dari kasur. Ia segera membantu Anya yang memegangi perutnya.“Kamu tidak apa-apa?” tanya Rayden begitu khawatir.“Aku… aku tidak apa-apa,” jawab Anya sambil berdiri itu pun dibantu oleh Rayden.“Lain kali lebih hati-hati saat turun dari ranjang, kamu sedang hamil besar, Anya.”Perempuan itu hanya mengangguk. Ia melirik kedua tangan Rayden masih memegang pinggangnya.“Bisa dilepaskan?” Rayden langsung melepaskan rengkuhannya. “Bapak bisa kembali ke kamar Anda sendiri.” Ucapan Anya yang tersirat sendirian halus membuat Rayden langsung tersadar.“Maafkan aku, Anya. Aku sampai tidak sadar tidur di sini.”Anya hanya mengangguk kecil, dan setelahnya melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Pun saat Anya sudah di dalam terdengar suara Zico di sana.“Hati-hati di dalam sana, jangan sampai terpeleset.” Setelahnya terdengar suara pintu kamar y
Awalnya Anya ingin langsung istirahat. Tapi ia urungkan ketika ingin memakan buah-buahan yang disediakan oleh Rayden.Suasana ruang makan sunyi, hanya terdengar bunyi kecil garpu yang menyentuh piring. Anya menyuap potongan buah ke dalam mulutnya perlahan. Tatapannya melayang ke arah balkon yang sengaja dibiarkan terbuka. Angin malam menyusup masuk, membawa hawa sejuk.Langkah kaki terdengar mendekat.Anya tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang. Hanya mereka berdua di unit apartemen ini.Rayden muncul, tanpa banyak suara ia menarik kursi dan duduk tepat di seberang Anya. Wajahnya tampak lebih segar dari sebelumnya, rambutnya masih basah, jelas baru saja selesai mandi. Tak ada sapaan. Hanya tatapan yang mulai saling menyadari keberadaan satu sama lain.“Suka dengan buahnya?” tanya Rayden sekadar basa basi.Anya hanya mengangguk kecil, ia menundukkan kepalanya sambil kembali memakan buah itu.“Aku membelikan sesuatu untukmu.”Perempuan itu mendongak begitu Rayden kembali bicara
Setelah terdiam karna terkejut, kini Kevin membuka suara.”Ada hubungan apa Bapak dengan dia?” tanyanya.Rayden semakin menarik Anya hingga masuk ke dalam dekapannya, membuat dua orang di depannya semakin terkejut dengan tindakannya.“Saya rasa kamu bisa menilai sendiri,” jawab Rayden dingin.Kevin mengulum pipi dalamnya. Melihat sikap posesif laki-laki di hadapannya, sulit baginya untuk tetap berpikir jernih. Namun, mustahil Rayden menjalin hubungan istimewa dengan Anya. Tidak mungkin. Kevin berusaha menepis segala dugaan yang berputar di kepalanya.“Ajari dia untuk menjaga sikapnya,” lanjut Rayden dengan nada peringatan. “Saya tidak akan ragu membawa masalah ini ke kantor polisi jika Anya sampai disakiti.”Keduanya terdiam. Tidak ada lagi kata yang terucap. Rayden perlahan melepaskan lingkaran lengannya dari pinggang Anya.“Ayo kita duduk.”Anya menuruti tanpa bantahan. Ia segera mengambil tempat duduknya, berusaha mengabaikan kehadiran mantan suaminya, yang meski dari sudut matanya,
Pukul lima sore….Rayden berpamitan pada Hanum, lalu meminta izin untuk membawa Anya pergi bersamanya. Anak-anak panti tampak berat berpisah dengan Anya. Beberapa di antara mereka bahkan tak kuasa menahan tangis ketika harus ditinggalkan oleh perempuan itu.“Selama Tante tidak ada, kalian jangan nakal, ya,” ucap Anya lembut sambil menyentuh pipi anak-anak itu satu persatu.Anak-anak berwajah polos dengan mata berkaca-kaca itu mengangguk serempak. Tanpa diminta, mereka memeluk Anya erat, seakan tak ingin melepaskannya, dipenuhi rasa sayang dan kehilangan.“Jangan lupa berkabar dengan kami, Nak Rayden. Bila Anya melahirkan tolong hubungi Ibu,” pinta Hanum.Rayden mengangguk seraya tersenyum.”Ibu tenang saja. Pasti akan saya kabari. Atau bila tidak ada waktu senggang kami akan berkunjung ke sini.”Hanum mengangguk. Tatapannya beralih pada Anya.“Jaga kandungan kamu sebaik mungkin ya, Anya. Semoga Tuhan selalu memberkati kebahagiaan untukmu.”Kedua wanita itu berpelukan sejenak, dan perla
Rayden memijat pangkal hidungnya, dan perlahan menoleh pada gorden tipis yang terlihat di luar sudah sangat terang.Ia pun bangun dari kasur yang tadi malam ia tempati. Entah tidak biasa atau bagaimana, tapi yang jelas tubuhnya terasa pegal-pegal sekali.Rayden masih mengenakan pakaian yang semalam, karna ia tidak memiliki pakaian ganti. Laki-laki itu keluar dari kamar, dan langsung disambut oleh suara anak-anak serta kesibukan di dapur.Namun, Rayden justru melangkah ke pintu utama. Begitu tiba di sana, matanya langsung menyorot ke arah sosok Anya. Ia menyandarkan bahunya di sisi pintu sambil bersedekap dada.Pandangannya hanya terpaku pada perempuan itu. Apalagi melihat senyuman yang sudah lama tak ia lihat dari Anya.Anya tertawa lepas dengan anak-anak panti. Namun, tawa itu perlahan lenyap begitu melihat Rayden tengah memperhatikannya.Bibirnya mungkin diam, namun dari sorot mata laki-laki itu memancarkan sesuatu yang membuat Anya langsung membuang muka dan pura-pura tidak meliha
Anya mengusap wajahnya, ia memandangi luar jendela yang sudah tampak gelap di sana. Tidak terasa sudah dua jam ia mengurung diri dalam kamar ini.Ia bangkit dari kasurnya dan melangkah keluar. Begitu melangkah ke dapur, suasana dalam rumah itu terasa sangat sepi sekali. Apa anak-anak sudah makan malam dan tidur?Namun, Anya mendengar samar-samar orang yang tengah mengobrol di ruang tengah. Karna penasaran Anya melangkah ke sana, ia mengintip dari balik tembok.Pupil matanya melebar melihat Rayden masih di sini, dan tampak serius mengobrol dengan Harum. Perlahan Anya melangkah mundur, namun tak sengaja ia menyandung sesuatu yang membuatnya langsung jatuh terduduk di lantai.Mendengar suara keras, Hanum sontak bangkit dan melangkah ke sumber suara.“Anya?” Hanum buru-buru membantu perempuan itu bangkit.”Kamu tidak apa-apa?”Perempuan itu menggeleng dengan kepala menunduk. Sementara itu Rayden langsung mendekati Hanum begitu nama Anya disebut.Rayden tertegun melihat sosok Anya. Tanpa bi







