Share

Bab 06

Author: Norwinda
last update Last Updated: 2025-11-19 18:55:47

“Mas Kevin.” Suara Anya terdengar lirih dan hampir tak terdengar. Senyuman getir terbit di bibirnya yang pucat.

“Aku datang ke sini bukan untuk pulang,” ucap Kevin sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan map di tangannya ke meja.

“Kamu harus tanda tangani surat cerai ini agar perceraian kita cepat diproses,” tekannya.

“Mas… berapa kali aku bilang, aku tidak mau cerai. Mas, kan, tahu, aku hanya punya kamu. Aku tidak punya siapa-siapa selain Mas.”

“Aku tidak peduli. Kamu tidak bisa memberikan apa yang aku inginkan, jadi lebih baik kita cerai. Ibuku pun mendukung keputusanku ini.”

Anya tertunduk, tangannya menyentuh perutnya dan sesuatu terbesit dalam pikirannya.

“Kalau aku bisa hamil, apa Mas tidak akan menceraikanku?” tanya Anya dengan suara gemetar.

Kevin tersenyum meremehkan.”Yakin bisa hamil?”

Anya berbalik dan melangkah masuk ke dalam toilet membuat Kevin mengernyit keningnya. Tidak lama perempuan itu kembali dan menyodorkan dua benda pipih yang dengan ragu Kevin ambil.

Ia tertegun dan perlahan menatap istrinya dengan tatapan tak percaya.”Kamu hamil?” tanya Kevin seakan memastikan setelah melihat dua garis merah pada tespeck di tangannya.

Anya mengangguk, meskipun perasaannya tak karuan. Karna ia berbohong, ia memang hamil, tapi anak yang ia kandung bukan darah daging suaminya. Namun, hanya cara ini untuk menyelamatkan pernikahan mereka.

“Apa sekarang Mas akan tetap menceraikanku? Aku sudah bisa memberikan hal yang sejak dulu Mas tagih padaku.” Anya berucap sambil menahan air matanya yang hampir meluruh.

Tatapan Kevin bergulir. Laki-laki itu diam terpaku di tempat seperti patung. Antara percaya dan tidak.

“Aku minta Mas akhiri hubungan dengan perempuan itu. Aku sudah memberikan apa yang Mas mau, dan aku juga mau Mas fokus pada rumah tangga kita dan anak yang aku kandung sekarang.”

Anya membelai lembut perut datarnya dari balik baju.

Sementara itu Kevin masih diam membisu, laki-laki itu tampak sangat berat melakukan apa yang Anya minta. Mengakhiri hubungannya dengan Yulia? Sangat sulit apalagi ia mencintai perempuan itu.

Entah mengapa ia merasa tak senang dengan kabar bahagia yang sebelumnya ia tunggu-tunggu.

Kevin melangkah masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan apapun, membuat Anya hanya menatap sendu kepergian suaminya.

“Apa perempuan tadi berbuat kesalahan besar, Tuan?” tanya seorang laki-laki berambut pirang.

Laki-laki yang tengah berdiri di sisi balkon, perlahan membuka matanya dan melirik asistennya yang berdiri di sampingnya.

“Jika perempuan itu membuat masalah yang membuat perasaan Anda tidak nyaman, saya akan langsung memecatnya,” ucapnya lagi.

“Tidak perlu melakukan itu,” balas Rayden. Bahkan ia semakin penasaran dan ingin memastikan lebih jauh pada perempuan itu.

Sejak mengetahui kenyataan bahwa perempuan itu hamil membuat benak laki-laki berusia 35 tahun itu tidak pernah benar-benar tenang. Ada kegelisahan yang terus mengusik, ia harus memastikan bahwa janin itu bukan darah dagingnya.

Ia bukan tipe pria yang mudah tidur dengan perempuan manapun. Terlalu banyak yang dipertaruhkan. Tidak semua perempuan berhak atau bahkan pantas mengandung benihnya. Ia paham betul nilai dirinya, dan ia tahu konsekuensi jika hal itu terbukti benar. Satu celah kecil saja bisa berubah menjadi titik lemah yang mampu meruntuhkan martabat yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

Rayden memijat pangkal hidungnya, ia merasa menyesal kenapa semalam bisa terhasut nafsunya hingga menggauli perempuan yang tak ia kenali.

“Rayden?”

Suara perempuan yang terdengar lembut membuat laki-laki itu menoleh dan perlahan berbalik badan. Ia menatap sang mama melangkah menghampirinya.

“Mama baru saja datang dari pernikahan sepupumu,” ucapnya yang hanya dibalas tatapan oleh Rayden.”Beberapa orang di sana sempat mempertanyakan dirimu yang belum menikah.”

“Rayden.” Arum menyentuh lengan putranya.”Mama harap kamu tidak menunda-nunda untuk menikah. Kita butuh cucu dan penerus.”

“Ya, aku paham, Ma. Tapi sekarang aku harus fokus pada pekerjaan dan membangun perusahaan baru.” Suara Rayden terdengar datar, seperti sebuah keputusan final.

Arum mengembuskan napas panjang, jelas kecewa. “Coba hentikan dulu obsesi kerjamu itu. Masa depanmu jauh lebih penting, Ray.”

Rayden menunduk, bibirnya tertarik ke samping dalam decihan kecil, reaksi khasnya ketika topik ini muncul. Meskipun begitu Arum tahu putranya selalu tak suka setiap kali pembicaraan mengarah ke urusan pribadi.

Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin membiarkan putranya terus terobsesi dengan kerja, kerja, dan kerja. Tanpa memikirkan seorang perempuan yang setidaknya bisa menjadi ibu yang melahirkan pewaris untuk putranya.

“Bila aku hanya memberikan cucu saja tanpa menikah, bagaimana?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 57

    Awalnya Anya ingin langsung istirahat. Tapi ia urungkan ketika ingin memakan buah-buahan yang disediakan oleh Rayden.Suasana ruang makan sunyi, hanya terdengar bunyi kecil garpu yang menyentuh piring. Anya menyuap potongan buah ke dalam mulutnya perlahan. Tatapannya melayang ke arah balkon yang sengaja dibiarkan terbuka. Angin malam menyusup masuk, membawa hawa sejuk.Langkah kaki terdengar mendekat.Anya tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang. Hanya mereka berdua di unit apartemen ini.Rayden muncul, tanpa banyak suara ia menarik kursi dan duduk tepat di seberang Anya. Wajahnya tampak lebih segar dari sebelumnya, rambutnya masih basah, jelas baru saja selesai mandi. Tak ada sapaan. Hanya tatapan yang mulai saling menyadari keberadaan satu sama lain.“Suka dengan buahnya?” tanya Rayden sekadar basa basi.Anya hanya mengangguk kecil, ia menundukkan kepalanya sambil kembali memakan buah itu.“Aku membelikan sesuatu untukmu.”Perempuan itu mendongak begitu Rayden kembali bicara

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 56

    Setelah terdiam karna terkejut, kini Kevin membuka suara.”Ada hubungan apa Bapak dengan dia?” tanyanya.Rayden semakin menarik Anya hingga masuk ke dalam dekapannya, membuat dua orang di depannya semakin terkejut dengan tindakannya.“Saya rasa kamu bisa menilai sendiri,” jawab Rayden dingin.Kevin mengulum pipi dalamnya. Melihat sikap posesif laki-laki di hadapannya, sulit baginya untuk tetap berpikir jernih. Namun, mustahil Rayden menjalin hubungan istimewa dengan Anya. Tidak mungkin. Kevin berusaha menepis segala dugaan yang berputar di kepalanya.“Ajari dia untuk menjaga sikapnya,” lanjut Rayden dengan nada peringatan. “Saya tidak akan ragu membawa masalah ini ke kantor polisi jika Anya sampai disakiti.”Keduanya terdiam. Tidak ada lagi kata yang terucap. Rayden perlahan melepaskan lingkaran lengannya dari pinggang Anya.“Ayo kita duduk.”Anya menuruti tanpa bantahan. Ia segera mengambil tempat duduknya, berusaha mengabaikan kehadiran mantan suaminya, yang meski dari sudut matanya,

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 55

    Pukul lima sore….Rayden berpamitan pada Hanum, lalu meminta izin untuk membawa Anya pergi bersamanya. Anak-anak panti tampak berat berpisah dengan Anya. Beberapa di antara mereka bahkan tak kuasa menahan tangis ketika harus ditinggalkan oleh perempuan itu.“Selama Tante tidak ada, kalian jangan nakal, ya,” ucap Anya lembut sambil menyentuh pipi anak-anak itu satu persatu.Anak-anak berwajah polos dengan mata berkaca-kaca itu mengangguk serempak. Tanpa diminta, mereka memeluk Anya erat, seakan tak ingin melepaskannya, dipenuhi rasa sayang dan kehilangan.“Jangan lupa berkabar dengan kami, Nak Rayden. Bila Anya melahirkan tolong hubungi Ibu,” pinta Hanum.Rayden mengangguk seraya tersenyum.”Ibu tenang saja. Pasti akan saya kabari. Atau bila tidak ada waktu senggang kami akan berkunjung ke sini.”Hanum mengangguk. Tatapannya beralih pada Anya.“Jaga kandungan kamu sebaik mungkin ya, Anya. Semoga Tuhan selalu memberkati kebahagiaan untukmu.”Kedua wanita itu berpelukan sejenak, dan perla

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 54

    Rayden memijat pangkal hidungnya, dan perlahan menoleh pada gorden tipis yang terlihat di luar sudah sangat terang.Ia pun bangun dari kasur yang tadi malam ia tempati. Entah tidak biasa atau bagaimana, tapi yang jelas tubuhnya terasa pegal-pegal sekali.Rayden masih mengenakan pakaian yang semalam, karna ia tidak memiliki pakaian ganti. Laki-laki itu keluar dari kamar, dan langsung disambut oleh suara anak-anak serta kesibukan di dapur.Namun, Rayden justru melangkah ke pintu utama. Begitu tiba di sana, matanya langsung menyorot ke arah sosok Anya. Ia menyandarkan bahunya di sisi pintu sambil bersedekap dada.Pandangannya hanya terpaku pada perempuan itu. Apalagi melihat senyuman yang sudah lama tak ia lihat dari Anya.Anya tertawa lepas dengan anak-anak panti. Namun, tawa itu perlahan lenyap begitu melihat Rayden tengah memperhatikannya.Bibirnya mungkin diam, namun dari sorot mata laki-laki itu memancarkan sesuatu yang membuat Anya langsung membuang muka dan pura-pura tidak meliha

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 53

    Anya mengusap wajahnya, ia memandangi luar jendela yang sudah tampak gelap di sana. Tidak terasa sudah dua jam ia mengurung diri dalam kamar ini.Ia bangkit dari kasurnya dan melangkah keluar. Begitu melangkah ke dapur, suasana dalam rumah itu terasa sangat sepi sekali. Apa anak-anak sudah makan malam dan tidur?Namun, Anya mendengar samar-samar orang yang tengah mengobrol di ruang tengah. Karna penasaran Anya melangkah ke sana, ia mengintip dari balik tembok.Pupil matanya melebar melihat Rayden masih di sini, dan tampak serius mengobrol dengan Harum. Perlahan Anya melangkah mundur, namun tak sengaja ia menyandung sesuatu yang membuatnya langsung jatuh terduduk di lantai.Mendengar suara keras, Hanum sontak bangkit dan melangkah ke sumber suara.“Anya?” Hanum buru-buru membantu perempuan itu bangkit.”Kamu tidak apa-apa?”Perempuan itu menggeleng dengan kepala menunduk. Sementara itu Rayden langsung mendekati Hanum begitu nama Anya disebut.Rayden tertegun melihat sosok Anya. Tanpa bi

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 52

    Beberapa minggu telah berlalu, Anya menjalani kehidupannya dengan tenang, tidak ada hal yang menyulitkan baginya. Apalagi semua orang di sekitarnya sangat baik bagai keluarga yang dekat.Sore itu, Anya sibuk di dapur. Menyiapkan makan malam untuk anak-anak panti asuhan. “Kalau capek, tidak perlu bantu di dapur.”Anya sontak menoleh, ia tersenyum melihat Hanum yang datang mendekatinya. Wanita paruh baya itu paling mengkhawatirkan keadaannya.“Aku tidak capek, Bu. Lagipula aku merasa bosan bila tidak mengerjakan apapun.”“Ya sudah. Tapi kalau capek tidak usah dilanjut pekerjaannya. Apalagi perempuan hamil sepertimu pasti cepat lelah.”Anya hanya tersenyum seraya mengangguk. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya memotong daging ikan. Di sela-sela kesibukannya di dapur dengan anak-anak lain.Nanda datang masuk ke dapur sambil berteriak-teriak memanggil nama Anya. Sontak perempuan itu langsung menghentikan pergerakannya.“Ada apa, Nanda? Kenapa teriak-teriak?” tanya Anya dengan raut heranny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status