Share

Bab 07

Author: Norwinda
last update Last Updated: 2025-11-19 21:54:45

Suara berisik yang mengganggu membuat Kevin yang tengah tertidur terbangun. Ia melirik ke kamar mandi dan melihat Anya baru keluar dari sana dengan wajah yang tampak pucat.

Meskipun begitu ia memilih untuk kembali melanjutkan tidurnya, namun sentuhan lembut di lengannya membuatnya berdecak dan kembali membuka matanya.

“Mas, kepalaku pusing. Bisa tolong pijat kepalaku sebentar. Aku juga muntah-muntah sejak tadi,” adu Anya dengan rengekan manja.

“Tinggal minum obat kalau pusing, kenapa manja sekali!”

Anya tampak terkejut dengan bentakan suaminya.”Mas, aku sedang hamil.”

“Lalu, aku harus memanjakanmu begitu karna hamil?”

Kevin memilih kembali tidur dan mengeratkan selimut di tubuhnya. Anya terdiam sambil menahan pedih dalam benaknya. Ia bangkit dan melangkah keluar sambil memegangi perutnya yang masih terasa bergejolak.

“Kenapa Mas Kevin masih kasar padaku? Apa kehamilan ini tidak membuatnya bahagia?” gumamnya pilu.

Anya berusaha menenangkan perasaannya dan segera melakukan kegiatan dapur sebelum pukul tujuh pagi untuk sarapan suaminya. Ia pun juga harus berangkat bekerja.

Anya memasak bahan-bahan makanan yang tersisa di kulkas. Ia tidak sempat belanja kemarin. Ditengah-tengah memasaknya beberapa kali Anya muntah. Tubuhnya lemas sekali bahkan ia ingin menunda memasak, tapi melihat suaminya yang keluar dari kamar ia mengurungkan niatnya.

“Buatkan kopi,” perintah Kevin sambil melangkah melewati Anya, tanpa memperhatikan kondisi perempuan itu yang tak baik-baik saja.

Anya menghela napas berat dan segera membuatkan kopi. Sesekali matanya melirik suaminya yang lebih asyik memainkan ponselnya daripada memperhatikan dirinya yang sekarang tengah hamil muda.

“Mas, nanti setelah pulang kerja antarkan aku ke rumah sakit, ya?” ucap Anya sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja.

Kevin melirik istrinya dengan tatapan jengkel.”Memangnya kamu tidak bisa pergi sendiri ke sana?”

“Mas, aku kan sedang hamil. Aku ingin melihat perkembangan kehamilan pertamaku.”

“Ya sudah, berangkat sendiri. Kamu punya kaki Anya, bukan perempuan cacat!”

Hati Anya bergemuruh panas dengan bentakan suaminya, tak ada kelembutan sedikitpun meskipun ia sekarang sedang mengandung.”Apa kehamilanku ini tidak cukup membuatmu bahagia? Setidaknya aku bisa memberikan anak.”

Kevin meletakkan dengan kasar ponselnya hingga membuat perempuan itu terkejut.

“Oh, jadi kamu merasa sudah hebat karna hamil, begitu? Kamu berharap aku balas budi?” Kevin bangkit dari kursi sambil menggebrak meja, yang membuat Anya terkesiap.

“Bukan begitu maksudku, Mas.”

“Lalu apa, Anya? Ah, aku sudahlah, kamu membuat pagiku buruk!” Kevin beranjak dari ruangan tersebut.

Anya yang hendak mengejar suaminya seketika mengurung niatnya ketika suaminya membanting pintu kamar dengan keras. Kedua tangannya saling bertautan melihat kemarahan yang tak terduga.

Ia menghela napas panjang, menatap kosong sambil mengusap perutnya.

Di dalam kamar Kevin segera mengenakan pakaian kerjanya dan hanya mencuci wajahnya, lalu keluar dari kamar.

Melihat suaminya kembali muncul Anya segera menghampiri.

“Mas, aku sudah menyiapkan sarapan_”

“Tidak usah! Aku sarapan di luar!”

“Mas, tolong jangan marah seperti ini.” Anya berusaha menahan kepergian suaminya yang dipenuhi kemarahan.

Kevin menghempas tangan perempuan itu tanpa perasaan.”Seharusnya kamu bisa jadi istri yang mandiri dan tidak sedikit-sedikit minta bantuan suami! Bukan berarti karna hamil kamu jadi manja seperti ini!”

Anya memejamkan matanya sejenak mendengar segala perkataan menyakitkan.

Kevin berlalu keluar dari rumah, tak ada perubahan sedikitpun dari sikap suaminya.

Pukul setengah sembilan pagi, Anya baru berangkat bekerja. Perempuan itu melangkah terseok-seok dan hampir jatuh ketika turun dari angkutan umum.

Ia berjalan setengah berlari memasuki area perusahaan dan berpapasan dengan satpam yang berjaga di sana.

“Kenapa datangnya terlambat?” tegur satpam itu.

“Anu… saya ada urusan, Pak.” Hanya jawaban itu yang bisa Anya katakan sebelum melanjutkan kembali langkahnya yang tergesa-gesa.

Langkah Anya terlalu terburu-buru saat memasuki bangunan perusahaan hingga ia tidak memperhatikan jalan. Tubuhnya hampir terjengkang ketika bahunya menabrak seseorang. Sambil meringis, ia mengusap kening yang terasa ngilu, lalu perlahan mendongak.

Matanya melebar melihat sosok sang presdir yang menatap tajam padanya. Tubuhnya tanpa sadar gemetar ketakutan dengan kedua tangan terkepal.

Rayden melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.”Kamu baru datang di jam di mana semua orang sudah bekerja?” desisnya tajam.

Anya tak menjawab apapun selain menundukkan kepalanya. Matanya melirik tipis pada sekitarnya, di mana beberapa karyawan yang lewat menatap ke arahnya seakan ia akan habis di tangan laki-laki itu.

Rayden sedikit mendekat, suaranya merendah, namun justru terasa semakin menusuk.“Saya tidak senang dengan pekerja yang datang terlambat… dan pembohong.” Bisikan itu meluncur dingin, tepat di telinga Anya. Tubuh perempuan itu menegang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Suryani Yani
cerita nya jelek bgt ko thor tetang perempuan tolol karena cinta ga bagus thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 57

    Awalnya Anya ingin langsung istirahat. Tapi ia urungkan ketika ingin memakan buah-buahan yang disediakan oleh Rayden.Suasana ruang makan sunyi, hanya terdengar bunyi kecil garpu yang menyentuh piring. Anya menyuap potongan buah ke dalam mulutnya perlahan. Tatapannya melayang ke arah balkon yang sengaja dibiarkan terbuka. Angin malam menyusup masuk, membawa hawa sejuk.Langkah kaki terdengar mendekat.Anya tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang. Hanya mereka berdua di unit apartemen ini.Rayden muncul, tanpa banyak suara ia menarik kursi dan duduk tepat di seberang Anya. Wajahnya tampak lebih segar dari sebelumnya, rambutnya masih basah, jelas baru saja selesai mandi. Tak ada sapaan. Hanya tatapan yang mulai saling menyadari keberadaan satu sama lain.“Suka dengan buahnya?” tanya Rayden sekadar basa basi.Anya hanya mengangguk kecil, ia menundukkan kepalanya sambil kembali memakan buah itu.“Aku membelikan sesuatu untukmu.”Perempuan itu mendongak begitu Rayden kembali bicara

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 56

    Setelah terdiam karna terkejut, kini Kevin membuka suara.”Ada hubungan apa Bapak dengan dia?” tanyanya.Rayden semakin menarik Anya hingga masuk ke dalam dekapannya, membuat dua orang di depannya semakin terkejut dengan tindakannya.“Saya rasa kamu bisa menilai sendiri,” jawab Rayden dingin.Kevin mengulum pipi dalamnya. Melihat sikap posesif laki-laki di hadapannya, sulit baginya untuk tetap berpikir jernih. Namun, mustahil Rayden menjalin hubungan istimewa dengan Anya. Tidak mungkin. Kevin berusaha menepis segala dugaan yang berputar di kepalanya.“Ajari dia untuk menjaga sikapnya,” lanjut Rayden dengan nada peringatan. “Saya tidak akan ragu membawa masalah ini ke kantor polisi jika Anya sampai disakiti.”Keduanya terdiam. Tidak ada lagi kata yang terucap. Rayden perlahan melepaskan lingkaran lengannya dari pinggang Anya.“Ayo kita duduk.”Anya menuruti tanpa bantahan. Ia segera mengambil tempat duduknya, berusaha mengabaikan kehadiran mantan suaminya, yang meski dari sudut matanya,

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 55

    Pukul lima sore….Rayden berpamitan pada Hanum, lalu meminta izin untuk membawa Anya pergi bersamanya. Anak-anak panti tampak berat berpisah dengan Anya. Beberapa di antara mereka bahkan tak kuasa menahan tangis ketika harus ditinggalkan oleh perempuan itu.“Selama Tante tidak ada, kalian jangan nakal, ya,” ucap Anya lembut sambil menyentuh pipi anak-anak itu satu persatu.Anak-anak berwajah polos dengan mata berkaca-kaca itu mengangguk serempak. Tanpa diminta, mereka memeluk Anya erat, seakan tak ingin melepaskannya, dipenuhi rasa sayang dan kehilangan.“Jangan lupa berkabar dengan kami, Nak Rayden. Bila Anya melahirkan tolong hubungi Ibu,” pinta Hanum.Rayden mengangguk seraya tersenyum.”Ibu tenang saja. Pasti akan saya kabari. Atau bila tidak ada waktu senggang kami akan berkunjung ke sini.”Hanum mengangguk. Tatapannya beralih pada Anya.“Jaga kandungan kamu sebaik mungkin ya, Anya. Semoga Tuhan selalu memberkati kebahagiaan untukmu.”Kedua wanita itu berpelukan sejenak, dan perla

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 54

    Rayden memijat pangkal hidungnya, dan perlahan menoleh pada gorden tipis yang terlihat di luar sudah sangat terang.Ia pun bangun dari kasur yang tadi malam ia tempati. Entah tidak biasa atau bagaimana, tapi yang jelas tubuhnya terasa pegal-pegal sekali.Rayden masih mengenakan pakaian yang semalam, karna ia tidak memiliki pakaian ganti. Laki-laki itu keluar dari kamar, dan langsung disambut oleh suara anak-anak serta kesibukan di dapur.Namun, Rayden justru melangkah ke pintu utama. Begitu tiba di sana, matanya langsung menyorot ke arah sosok Anya. Ia menyandarkan bahunya di sisi pintu sambil bersedekap dada.Pandangannya hanya terpaku pada perempuan itu. Apalagi melihat senyuman yang sudah lama tak ia lihat dari Anya.Anya tertawa lepas dengan anak-anak panti. Namun, tawa itu perlahan lenyap begitu melihat Rayden tengah memperhatikannya.Bibirnya mungkin diam, namun dari sorot mata laki-laki itu memancarkan sesuatu yang membuat Anya langsung membuang muka dan pura-pura tidak meliha

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 53

    Anya mengusap wajahnya, ia memandangi luar jendela yang sudah tampak gelap di sana. Tidak terasa sudah dua jam ia mengurung diri dalam kamar ini.Ia bangkit dari kasurnya dan melangkah keluar. Begitu melangkah ke dapur, suasana dalam rumah itu terasa sangat sepi sekali. Apa anak-anak sudah makan malam dan tidur?Namun, Anya mendengar samar-samar orang yang tengah mengobrol di ruang tengah. Karna penasaran Anya melangkah ke sana, ia mengintip dari balik tembok.Pupil matanya melebar melihat Rayden masih di sini, dan tampak serius mengobrol dengan Harum. Perlahan Anya melangkah mundur, namun tak sengaja ia menyandung sesuatu yang membuatnya langsung jatuh terduduk di lantai.Mendengar suara keras, Hanum sontak bangkit dan melangkah ke sumber suara.“Anya?” Hanum buru-buru membantu perempuan itu bangkit.”Kamu tidak apa-apa?”Perempuan itu menggeleng dengan kepala menunduk. Sementara itu Rayden langsung mendekati Hanum begitu nama Anya disebut.Rayden tertegun melihat sosok Anya. Tanpa bi

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 52

    Beberapa minggu telah berlalu, Anya menjalani kehidupannya dengan tenang, tidak ada hal yang menyulitkan baginya. Apalagi semua orang di sekitarnya sangat baik bagai keluarga yang dekat.Sore itu, Anya sibuk di dapur. Menyiapkan makan malam untuk anak-anak panti asuhan. “Kalau capek, tidak perlu bantu di dapur.”Anya sontak menoleh, ia tersenyum melihat Hanum yang datang mendekatinya. Wanita paruh baya itu paling mengkhawatirkan keadaannya.“Aku tidak capek, Bu. Lagipula aku merasa bosan bila tidak mengerjakan apapun.”“Ya sudah. Tapi kalau capek tidak usah dilanjut pekerjaannya. Apalagi perempuan hamil sepertimu pasti cepat lelah.”Anya hanya tersenyum seraya mengangguk. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya memotong daging ikan. Di sela-sela kesibukannya di dapur dengan anak-anak lain.Nanda datang masuk ke dapur sambil berteriak-teriak memanggil nama Anya. Sontak perempuan itu langsung menghentikan pergerakannya.“Ada apa, Nanda? Kenapa teriak-teriak?” tanya Anya dengan raut heranny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status