Share

Bab 04

Author: Norwinda
last update Last Updated: 2025-11-15 22:35:30

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Anya datang lebih pagi ke perusahaan besar yang ada di pusat kota. Ia melangkah memasuki area perusahaan dan di sana ia melihat Ayu sudah menunggu dirinya.

Ia tersenyum dan semakin mempercepat langkahnya.

“Aku kira kamu akan datang lebih lambat dariku,” ucap Anya begitu sampai menghampiri Ayu.

“Tentu saja tidak. Aku sengaja berangkat pagi saat tahu kamu hari ini masuk bekerja.”

“Setelah ini apakah aku akan langsung melakukan tugasku?”

“Tentu saja, biasanya setiap tugas akan diatur oleh leader yang akan mengawasi pekerjaan kita. Kamu tenang saja, pekerjaannya tidak berat.”

Anya mengangguk. Mereka berdua pun masuk ke dalam perusahaan yang mulai ramai oleh karyawan yang berdatangan.

Ketika Ayu menggiringnya memasuki lobi langkahnya terhenti ketika dua orang laki-laki melewati mereka berdua. Ayu membungkuk singkat pada dua laki-laki itu.

Melihat itu, sejenak Anya memandangi wajah dua lelaki itu yang melangkah dengan ekspresi tegas dan datar. Hanya anggukan kecil membalas sapaan para karyawan.

“Anya, kenapa diam?” tegur Ayu, membuat Anya tersentak.

“Tidak apa-apa. Tadi siapa?” tanyanya sedikit penasaran.

“Ah, itu Pak Rayden. Presdir di perusahaan ini. Kenapa memangnya? Terpesona?” kelakar Ayu terkekeh kecil.

Anya diam. Ia merasa tidak asing dengan wajah laki-laki itu. Seperti pernah melihatnya, tapi di mana?

“Tapi kamu harus hati-hati dan jangan sampai membuat kesalahan sekecil apa pun di depannya,” bisik Ayu, nadanya merendah seakan takut seseorang mendengar. Anya langsung menatap heran.

“Memangnya kenapa?”

“Bos kita itu otoriter. Cara bicaranya tajam, dan dia tidak pernah mengulang dua kali kalau sudah memberi instruksi. Kemarin, ada karyawan baru langsung disuruh pulang dan tidak pernah kembali hanya gara-gara minuman tumpah sedikit ke sepatunya. Sederhananya, dia akan menyingkirkan siapapun yang melenceng dari standarnya.

Dan katanya, itu bukan yang terburuk yang pernah dia lakukan pada karyawan. Ada yang lebih buruk lagi.”

Anya menelan ludahnya mendengar itu. Ia kembali melirik laki-laki itu yang telah menghilang dari pandangan matanya.

“Sebaiknya kita segera ke ruang kerja, pasti Bu Lidia sudah menunggu.” Ayu menarik pergelangan tangan Anya.

Begitu sampai di ruangan tempat para pegawai cleaning servis berkumpul, Anya dan Ayu meletakkan tas mereka di loker yang disediakan.

Terlihat tatapan tegas dan tajam seorang perempuan berumur.

“Baik, semuanya sudah berkumpul?”

Perempuan bernama Lidia menatap para pegawai baru di sini dengan sikap tegas, namun tetap ramah. “Saya akan menjelaskan tugas dan aturan selama kalian bekerja di sini.”

“Tanggung jawab utama kalian adalah menjaga kebersihan area perusahaan,” lanjutnya, “dan bila diperlukan, kalian juga akan menjalankan job desk tambahan bila dibutuhkan.”

Ia menyapu ruangan dengan pandangan serius.“Selama bekerja di sini, tidak ada yang boleh melanggar aturan. Disiplin adalah hal utama. Apa kalian mengerti?”

“Mengerti, Bu!”

Serentak semua orang menyahut. Anya terlihat bersemangat dan tampak siap dengan pekerjaan di hari pertamanya. Ia menyapu pandangan ke sekitar, memperhatikan beberapa pegawai baru lainnya. Dari cara mereka diterima tanpa banyak proses, ia bisa menebak perusahaan ini memang sedang sangat membutuhkan tenaga cleaning servis.

Setelah pembagian tugas untuk para pekerja baru selesai, Anya mendapat jatah membersihkan lantai lima, tepatnya ruang rapat utama. Ia langsung ke sana bersama seorang cleaning service senior yang sudah bertahun-tahun bekerja di perusahaan itu.

Baru beberapa menit mengepel, tubuhnya tiba-tiba terasa tidak nyaman, entah karna lelah, gugup, atau udara ruangan yang pengap. Tapi ia tetap bergerak, menyelesaikan bagian demi bagian.

Sesekali matanya melirik ke arah Amel. Perempuan itu duduk santai di kursi pojok, memainkan ponselnya seakan shift hari ini bukan urusannya. Tidak ada sedikitpun niat membantu, padahal tugasnya jelas sama.

“Kenapa melihatku seperti itu, huh?” Teguran tajam Amel membuat Anya tersentak, ia buru-buru kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Kamu di sini pekerja baru, jadi kerjakan semuanya dengan benar. Aku di sini cukup mengawasimu saja,” lanjutnya.

Anya menghela napas pelan. Ia berusaha fokus dengan pekerjaannya tanpa memperdulikan perempuan itu yang bersantai-santai, sampai akhirnya ia selesai. Senyuman lega terpatri di wajahnya, setidaknya ia bisa istirahat setelah ini.

Ketika Anya merasa pekerjaannya selesai dan ia bisa keluar dari ruangan itu, langkahnya tertahan. Amel berdiri di depan pintu, memandangnya dengan tatapan yang membuat kening Anya otomatis mengernyit.

“Sekarang kamu turun dan bersihkan toilet karyawan di lantai bawah,” ucap Amel memerintah seperti bos.

“Bukannya bu Lidia bilang tugasku hanya ruangan ini?” Anya mencoba memastikan.

Amel mendengus kasar.“Denger, kamu itu anak baru. Jadi tugasmu ya ikut saja apa yang aku bilang. Bersihkan toilet itu sekarang. Cepat! Sebelum jam makan siang selesai.”

Anya ingin protes tapi ia tak mampu melakukannya, karna sadar ia baru bekerja di sini. Sebisa mungkin untuk tidak mencari masalah yang bisa saja membahayakan posisinya. Pada akhirnya ia hanya bisa menurut, membuat Amel tersenyum puas.

Anya keluar dari ruangan itu dengan napas berat, bergegas menuju lift. Ia mencoba masuk ke lift pertama, tapi ruangannya sudah penuh. Beberapa karyawan langsung menunduk atau pura-pura sibuk, dan pintu lift tertutup begitu cepat seakan mereka sengaja tak memberikan ruang untuknya.

Anya menelan rasa tidak nyaman itu dan beralih ke lift satunya. Begitu ia menekan tombol tutup, pintu yang hampir mengatup itu tiba-tiba tertahan. Seorang laki-laki masuk, gerakannya tegas, auranya kuat, dan jelas bukan karyawan biasa.

Tubuh Anya langsung kaku. Ia melirik laki-laki itu sekilas, dan menangkap tatapan heran dari laki-laki itu seakan ia baru saja melakukan pelanggaran besar.

“Ini lift khusus, kenapa kamu memakai lift ini?”

Suara berat nan tajam itu membuat Anya mendongak menatap laki-laki itu yang juga memandangnya. Presdir. Laki-laki yang ia lihat di lobi tadi. Seketika perkataan Ayu langsung berdegung di telinganya, membuat rasa gugup dan takut menghimpit dadanya.

Tamatlah dirinya.

“Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau ini lift khusus.” Anya menundukkan kepalanya dan perlahan mundur ke belakang seakan menjaga jarak. Tetapi ia merasa laki-laki itu masih menatapnya, membuatnya semakin gugup dan tertekan dengan situasi mereka hanya berdua di sini.

Anya mengusap matanya merasa pandangannya buram dan tubuhnya yang gemetar, tiba-tiba ia hilang kesadaran dan langsung jatuh pingsan ke lantai.

Laki-laki itu tampak terkejut melihat Anya terbaring di lantai. Ia tidak langsung menolong melainkan menendang kecil sepatu yang perempuan itu kenakan. Seakan memastikan.

“Bangun, jangan pura-pura pingsan di depan saya,” ucap Rayden, seakan menganggapnya hanya akting.

Tetapi perempuan itu tak merespon apapun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dinar kasih 1205
waah jangan2 anya hamil
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 51

    Rayden meringis sambil memegangi kepalanya saat kesadarannya perlahan kembali. Pandangan yang semula buram mulai menajam, disusul aroma obat-obatan. Ia langsung mengenali tempat itu, rumah sakit.Saat menoleh, pintu ruangan terbuka. David muncul dan segera melangkah mendekat, wajahnya jelas dipenuhi kekhawatiran.“Tuan…”David menahan napas begitu melihat kondisi Rayden yang jauh dari kata baik. Luka lecet tampak jelas di kepala dan beberapa bagian tubuhnya.“Bagaimana Tuan bisa mengalami kecelakaan seperti ini?”Rayden tak menjawab, namun ia merasakan sakit disekujur tubuhnya. Namun, kata-kata yang keluar dari mulutnya justru tentang Anya.“Apa kamu sudah menemukan, Anya?” Rayden menatap David penuh harap. Bahkan dalam keadaan seperti ini pikirannya kembali tak tenang.David terdiam sejenak.“Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Saya menemukan posisi Anya sekarang.”Sorot mata Rayden seketika berubah, ada binar penuh harap di sana. “Kalau begitu aku ingin ke sana.” Ia merasa tak sabar in

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 50

    Ketukan keras di pintu kamar membuat Arum terusik. Wanita paruh baya itu bangkit dari sofa, lalu melangkah membuka pintu.“Ada apa?” tanyanya.Pelayan di hadapannya tampak cemas.“Tuan Muda Rayden mencari, Nyonya.”Kening Arum berkerut. Ia melangkah ke balkon dan mengarahkan pandangannya ke lantai bawah. Seketika matanya melebar. Rayden berdiri di sana dengan aura amarah yang begitu kentara, dan gerak tubuhnya tak mampu menyembunyikan gejolak emosinya.Meskipun begitu tanpa ragu, Arum turun dari lantai atas. Begitu tiba di bawah, ia menghampiri putranya dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya.“Akhirnya kamu pulang juga, Nak,” ucap Arum penuh kehangatan.Bukannya membalas dengan sikap yang sama, Rayden terlihat marah dan wajahnya mengeras.“Kenapa Mama tega mengusir Anya?”Sejenak raut wajah Arum membeku. Keterkejutan itu hanya berlangsung sepersekian detik sebelum segera ia tutupi. Ia tertawa sumbang.“Maksudmu apa, Nak? Mama tidak mengerti.”“Mama tidak perlu berpura-pura. Aku t

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 49

    Rayden dilanda kepanikan yang nyaris tak terkendali. Napasnya memburu, pikirannya kacau. Semua terjadi terlalu cepat, terlalu mendadak, hingga ia tak sempat menyiapkan diri atas tindakan nekat yang Anya lakukan. Situasi ini jelas di luar dugaannya.Di sisi lain, Jumi berdiri terpaku. Tubuhnya kaku, matanya menatap sang majikan yang kehilangan kendali. Rasa takut mencengkeram dadanya, namun anehnya, ada kelegaan kecil yang menyelinap di sela kecemasan itu. Berhari-hari ia dihantui rasa bersalah karna gagal menjalankan perintah Rayden dengan sempurna.Rayden segera menekan layar ponselnya. Ia menghubungi David, berharap bisa segera menemukan Anya. “Ya, Tuan.” Terdengar suara David dari seberang sana.“Kamu cepat ke apartemen sekarang, ada hal penting.”“Maaf, Tuan. Tapi hari ini saya harus menghadiri rapat, untuk menggantikan Anda.” Dengan hati-hati David berucap.“Lupakan dengan rapat itu. Ini lebih penting. Cepat segera ke sini.” Tanpa menerima bantahan apapun, Rayden langsung menu

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 48

    Anya hanya bisa pasrah, terdiam tanpa suara. Pijatan lembut di perutnya, dibalur minyak kayu putih yang hangat, perlahan meresap dan menenangkan. Gejolak yang sejak tadi mengaduk perutnya pun berangsur mereda.“Kamu kenapa tidak bilang kalau sedang hamil?” ucap Hanum menatap lembut pada Anya.”Apa mantan suamimu tahu?”Anya memalingkan wajahnya, enggan menjawab. Namun, wajah yang penuh kesedihan menyelimuti tanpa bisa disembunyikan.“Anya, kenapa diam? Apa pertanyaan Ibu melukai hatimu?”Perlahan Anya kembali menatap Hanum. Dengan lidah yang terasa berat ia berucap.”Ini bukan anak mantan suamiku. Ini anak laki-laki lain.”Hanum langsung terdiam membisu mendengar itu. Anya langsung meraih tangannya dan menggenggam erat.”Aku tahu ini kesalahan fatal yang telah aku lakukan, Bu. Aku tidak sengaja berhubungan dengan laki-laki lain. Aku pun tidak ingin menggugurkannya, dua tahun ini aku sangat menunggu kehadiran seorang anak.”Anya menangis terisak-isak. Antar sedih dan takut Hanum akan mara

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 47

    Anya meneguk teh yang diberikan, cukup membuat tenggorokannya lebih hangat. Perlahan ia meletakkan cangkir itu ke meja.“Selama ini kamu ke mana saja, Nak? Kamu benar-benar menghilang tanpa ada kabar,” ucap wanita paruh baya bernama Hanum itu.“Maafkan aku, Bu. Aku sebenarnya pindah ke kota lain, dan…” Anya tampak sulit melanjutkan ucapannya.”Aku sudah menikah.”Mata Hanum melebar, jelas terkejut. Ia menggenggam tangan Anya.”Kapan kamu menikah? Lalu, di mana suamimu?”“Aku sudah menikah dua tahun yang lalu, Bu. Saat aku pindah kota, aku bertemu dengan dia dan kami mulai hubungan sampai akhirnya menikah. Tapi… aku bercerai darinya.”Anya tak dapat mengendalikan air matanya yang kembali membanjir.”Aku benar-benar sangat hancur, Bu. Dia sudah berkhianat.”Hanum memeluk Anya, berusaha memberikan ketenangan pada perempuan itu. Tangannya dengan lembut menepuk punggung Anya. Merasa sangat iba.“Aku… aku merasa bersalah dengan Ibu. Andai aku tidak nekat pergi ke kota dan–”“Tidak perlu menyes

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 46

    “Saya mohon, Mbak Anya jangan pergi.” Jumi terus memohon-mohon ketika Anya memasukkan semua pakaiannya ke dalam tas. Entah pilihannya sudah tepat atau tidak.Namun, kebencian dan ketidaksudian Arum atas kehadirannya akhirnya membuat Anya memilih pergi. Ia tak ingin terus bertahan di tempat yang hanya memberinya luka dan harapan semu. Bertahan hanya akan membuat hatinya kian remuk.“Ini pilihanku, Bi,” ucap Anya dengan suara serak.“Aku sadar, sejak awal aku memang tidak seharusnya berada di sini.”Jumi menggeleng.“Lalu… bagaimana jika pak Rayden marah? Beliau meminta saya menjaga Mbak Anya.”Anya tersenyum tipis, senyuman yang lebih mirip upaya terakhir untuk tetap kuat. “Jangan sampaikan apapun pada pak Rayden. Bibi tidak perlu merasa bertanggung jawab. Keputusan ini murni keinginanku.”Kalimat itu justru membuat Jumi runtuh. Ia menundukkan kepala, bahunya terguncang oleh isak tangis yang tak mampu lagi ditahan. Rasa bersalah menyesakkan dadanya, meski Anya berusaha meringankan rasa b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status