ログインKelopak mata perempuan itu perlahan terbuka, samar-samar ia melihat bayangan dua orang yang tengah memperhatikannya. Begitu matanya terbuka sempurna, ia terkejut melihat dua laki-laki yang menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Salah satunya laki-laki yang terakhir kali bersamanya di lift sampai akhirnya ia pingsan.
Anya bangun dari pembaringannya di sofa, tapi tubuhnya tidak bisa diajak kompromi. Karna ia merasa lemas dan pusing. Ia kembali menatap laki-laki di hadapannya dan ruangan yang tampak asing baginya. Perlahan ia menundukkan kepalanya, tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Tapi ia ingin keluar dari tempat ini. “Kamu hamil.” Mata Anya membesar dan kembali mendongak menatap laki-laki bermata grey green itu. “Apa Anda sudah merasa gejala kehamilan ini sebelumnya? Atau dari minggu belakangan ini?” tanya laki-laki satunya, yang diyakini seorang dokter yang dipanggil datang ke sini. Anya memegang perutnya dan menggeleng lemah.”Saya tidak hamil.” Suara pelan dan hati-hati. “Tetapi saat saya periksa kamu sedang hamil muda.” Anya tertegun, namun tidak menelan mentah-mentah perkataan laki-laki itu. “Tidak, itu tidak mungkin,” jawabnya tersendat-sendat.”Saya sulit hamil.” “Benarkah? Tapi dalam pemeriksaan saya kamu memang hamil. Kalau ingin tahu lebih jelas kita bisa ke rumah sakit.” Anya diam dengan tubuh menegang, perkataan laki-laki itu yang serius membuatnya antara percaya dan tidak. Sudah beberapa bulan ini ia tidak berhubungan dengan suaminya, tapi tunggu. Anya kembali mengingat saat dirinya sempat berhubungan dengan laki-laki asing di club. Apa ia hamil karna laki-laki itu? Bagaimana bisa? Bahkan saat berhubungan dengan suaminya ia tidak hamil-hamil. “Jadi kamu sudah berbohong pada saya?” Anya mendongak menatap laki-laki di hadapannya yang menatap dirinya tajam dan seperti ingin menguliti. Ia menatap sejenak wajah laki-laki itu sampai sebuah ingatan membuatnya terkejut. Bukankah laki-laki di hadapannya sekarang, laki-laki yang sama di club itu? Anya tidak bisa menyembunyikan wajah tegang dan terkejutnya. “Kamu mengatakan bahwa kamu mandul, lalu bagaimana bisa kamu hamil? Apa kamu ingin menjebak saya?” tuding laki-laki bernama Rayden Alijah Wiratama tersebut. Tatapan Rayden menelisik pakaian seragam yang perempuan itu kenakan, membuatnya berdecih. Seakan penampilan Anya sangat rendah di matanya. “Aku tidak percaya bisa berhubungan dengan perempuan rendahan,” gumamnya pelan, tapi masih bisa Anya dengar dan itu menyakitkan. “Saya tidak mengerti dengan maksud Anda, Pak.” Anya memberanikan diri membalas di saat tubuhnya masih lemas. “Jangan pura-pura bodoh. Kamu pasti bagian dari orang-orang yang ingin menghancurkan saya, dengan sengaja agar bisa mengandung anak saya.” Rayden menekan dan menyudutkan Anya yang semakin ketakutan. Dokter laki-laki yang memperhatikan bagaimana arogan dan kejamnya Rayden menyudutkan perempuan malang itu hanya mampu menonton tanpa bisa menolong. “Saya mengandung anak suami saya. Ya, ini anak suami saya.” Anya memeluk erat perutnya sendiri, menciptakan kerutan kasar di kening Rayden. “Jangan mencoba bermain-main dengan saya, saya tidak akan pernah melepaskan perempuan sepertimu.” Ucapan Rayden jelas tidak main-main. Anya bangun dari sofa dan berusaha berdiri tegak.”Saya sudah bersuami, kalaupun saya hamil sangat kecil kemungkinan kalau ini anak, Bapak.” Anya melangkah pergi hendak keluar dari ruangan ini, namun cekalan yang tajam dan kasar di pergelangan membuat tubuhnya limbung dan nyaris hampir menghantam tubuh laki-laki di hadapannya. “Berani sekali kamu mencoba pergi dari tempat ini tanpa seizinku!” desisnya tajam. Anya meringis merasakan cengkraman yang menusuk dan menyiksa dari laki-laki itu di pergelangan tangan, membuat matanya berair menahan sakit. “Tuan Rayden.” Teguran seorang laki-laki yang baru memasuki ruangan memotong ketegangan dan fokus Rayden buyar. Cengkeramannya mengendur. Kesempatan itu tak disia-siakan Anya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia menghentakkan tangan Rayden, melepaskan diri, lalu berlari keluar dari ruangan yang mengerikan ini. Melihat perempuan itu berhasil kabur Rayden meradang. Matanya melotot tajam seakan telah melepaskan mangsanya. Tubuh Anya langsung meluruh ke lantai setelah berhasil kabur dan bersembunyi dalam toilet. Keringat bercucuran membasahi wajahnya yang terlihat memerah menahan ketakutan yang membuat rongga dadanya sesak. Air mata yang berusaha ia tahan-tahan kini meluruh. Ia mencengkram erat perutnya. “Ini pasti bohong, aku tidak mungkin hamil.” Anya terisak-isak dalam toilet yang sunyi dan hening itu. Sangat sulit baginya mempercayai ini semua. Dua tahun ia menunggu kehamilan ini dan kenapa ia baru hamil? Bukan ia tidak bahagia, ia pasti sangat bahagia bila itu benar. Masalahnya ia takut, takut janin yang ia kandung bukan darah daging suaminya. Melainkan… Membayangkan wajah laki-laki itu sudah menciptakan ketakutan yang semakin membuat tubuhnya gemetar. Ia tidak bisa berbuat apapun bila benar mengandung darah daging dari laki-laki yang ternyata bos besar di perusahaan ini. “Heh! Ternyata kamu di sini.” Suara bentakan seseorang membuat Anya terkejut dan spontan langsung bangkit dari lantai. Mata berairnya mengerjap melihat Amel yang menatap tajam padanya. “Aku sudah bilang kamu bersihkan toilet di lantai bawah, kenapa di sini huh? Ingin menghindari tugas? Begitu?” Anya menundukkan kepalanya sambil berusaha mengendalikan perasaannya yang hancur. “Maaf, Mbak. Aku tidak enak badan _” “Alah! Alasan. Baru sehari bekerja di sini sudah begini. Lemah banget jadi perempuan!” Amel mendorong kasar bahu Anya yang hanya diam menerima ini semua. Ia tak mempunyai tenaga untuk membela dirinya saat ini. Semuanya terlalu rumit. “Sekarang kamu bersihkan toilet di lantai bawah sekarang. Awas saja tidak dilakukan!” Amel menunjuk dengan tatapan penuh kecaman di sana. Anya menghela napas pelan, suasana yang tegang dan penuh emosi kini kembali sunyi setelah Amel keluar dari toilet ini. • • “Anya, kamu sakit?” Ayu meraba-raba dahi perempuan itu yang terasa panas. “Aku baik-baik saja, Yu.” Perlahan Anya menyingkirkan tangan temannya itu.”Aku hanya tidak enak badan.” Tatapan Ayu menyendu dan mengusap bahu perempuan itu.”Kalau tidak enak badan, kamu bisa istirahat dulu tidak perlu melakukan tugas.” “Tidak. Nanti bu Lidia marah, aku baru bekerja sehari di sini. Kalau aku tidak kerja bisa-bisa dipecat.” Sungguh, Anya takut kehilangan pekerjaannya. Dirinya yang hanya tamatan sekolah menengah atas, sangat sulit mencari pekerjaan di kota besar ini. “Ya sudah, sekarang kamu makan dulu. Setelah itu minum obat. Oke?” Anya mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia mulai memakan makan siangnya di sebuah rumah makan yang tidak jauh dari perusahaan. Baru beberapa suapan Anya tersedak. Buru-buru ia mengambil segelas air putih dan meminumnya. Pandangannya tiba-tiba terpaku pada sosok laki-laki yang ia kenali. Kevin, suaminya terlihat keluar dari area perusahaan tempat ia bekerja. Yang membuat hatinya pedih suaminya terlihat mesra dengan seorang perempuan yang menunggu di luar perusahaan. Setelah sebulan tanpa kabar ternyata suaminya bersama perempuan itu? “Anya, kamu kenapa?” Ayu menyadari perubahan raut wajah perempuan itu. Anya bangkit dari kursinya.”Aku keluar sebentar.” “Mau ke mana, Anya?” Perempuan itu buru-buru keluar dari rumah makan itu dan segera menyeberang jalan menghampiri suaminya yang sudah hendak masuk ke dalam mobil taksi. “Mas!” Kevin terkejut melihat kemunculan Anya yang kini menahan tangannya. “Mas, kamu ke mana saja selama satu bulan ini? Aku mencari kamu.” Anya menangis terisak-isak menatap suaminya. Lagi, Kevin masih bersikap kasar dan menepis genggaman tangan istrinya tersebut.”Ini bukan urusanmu, Anya!” Kevin melirik seragam yang Anya kenakan, raut wajahnya sedikit terkejut. “Mas Kevin ayo kita pergi.” Suara manja Yulia yang berada dalam mobil mengalihkan perhatian Anya. Tidak ada sedikitpun raut bersalah di wajah perempuan itu, yang telah menghancurkan rumah tangganya dan merebut suaminya. “Kamu…” Anya menunjuk Yulia dengan suara gemetar.”Apa tidak ada laki-laki lain di dunia ini sampai kamu merebut suamiku?” Yulia justru memperlihatkan ekspresi menyebalkan dan tak suka dengan perkataan Anya. “Jangan salahkan Yulia, yang salah itu kamu!” sentak Kevin tajam.”Kamu mandul, seharusnya itu sudah cukup membuatmu sadar kenapa aku memilih Yulia.” Yulia tampak tersenyum pongah mendengar itu, tersenyum lebar melihat wajah penuh kesakitan Anya. “Minggir!” Kevin mendorong Anya dan bergegas masuk ke dalam mobil. Perempuan itu menangis tersedu-sedu memandangi mobil itu pergi. Hancur, hatinya dihancurkan tanpa sisa oleh suaminya sendiri. Tubuh Anya tersentak ketika merasakan pelukan dan ia melirik Ayu kini memeluknya dengan sangat erat. “Ayu… apa aku memang pantas mendapatkan ini semua?” “Tidak. Kamu sangat tidak pantas diperlakukan buruk seperti ini. Kamu perempuan baik.” Ayu perlahan melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di wajah Anya. “Jadi, dia suamimu?” tanya Ayu, ia tidak tahu bila Anya telah menikah setelah mereka bertahun-tahun tidak bertukar kabar. Anya mengangguk dengan tatapan kosong. “Kamu tahu, suamimu bekerja di perusahaan ini juga. Aku kira perempuan yang tadi istrinya, karna mereka sering terlihat bersama.” “Ayu, aku sebenarnya baru tahu mas Kevin bekerja di sini juga.” “Apa? Suami macam apa dia itu.” Ayu semakin geram. Anya menundukkan kepalanya semakin dalam dan menyeka air mata yang kembali ingin meluruh. “Sekarang kamu tenangkan dirimu, ya. Aku yakin laki-laki seperti suamimu itu akan mendapatkan karmanya,” ucap Ayu berusaha untuk menghibur. Anya hanya tersenyum hambar. Keduanya kini memilih untuk kembali ke tempat kerja. Meskipun begitu, Anya semakin banyak melamun dan sesekali menangis. Terlalu menyakitkan bila menyangkut tentang suaminya. Pukul setengah delapan malam, Anya baru kembali ke rumah. Langkahnya gontai dan raut wajahnya lesu berbalut kesedihan. Ia menjatuhkan dirinya ke sofa. Melamun beberapa saat, sampai ia mengingat sesuatu dan mengeluarkan dua bungkus benda yang ia beli di apotek. Tespeck. Ia ingin memastikan dirinya benar-benar hamil atau tidak. Karna pernyataan dokter tadi kurang meyakinkan baginya. Anya bangkit dari tempat duduknya dan segera menggunakan dua benda itu sekaligus untuk memastikan. Napasnya tertahan begitu melihat hasil tespeck yang baru saja ia gunakan. Dua garis merah muncul dengan jelas, seakan menampar semua keraguan yang ada dalam benaknya. Ada bahagia yang meletup, setidaknya kini ia bisa membungkam semua tudingan suaminya yang menganggapnya mandul. Namun, kebahagiaan itu langsung terpangkas oleh satu kenyataan getir, besar kemungkinan janin yang kini bertumbuh di rahimnya bukan milik suaminya. Perkataan laki-laki bernama Rayden itu terus terngiang-ngiang dalam telinganya. Membuatnya tanpa sadar menutup telinganya. Namun, semuanya buyar ketika terdengar ketukan keras dari luar pintu rumah. Anya tersentak, buru-buru menaruh tespeck di sisi wastafel, lalu melangkah cepat menuju sumber suara. Saat pintu dibuka, dadanya langsung mengencang. Suaminya berdiri di ambang, wajahnya kaku dengan tatapan tajam di sana. Di tangan laki-laki itu, sebuah map merah mencolok, seakan membawa kabar yang tidak akan mungkin berpihak padanya.Mobil sedan putih yang dikendarai Rayden melaju perlahan begitu memasuki pekarangan sebuah rumah. Dari balik kaca jendela, Anya melihat banyak anak-anak kecil berlarian dan bermain di halaman.Keningnya berkerut. Matanya menyipit, berusaha memastikan apa yang sedang dilihatnya. Namun, beberapa detik kemudian, raut wajahnya berubah menjadi terkejut.Perlahan, Anya mengalihkan pandangannya dari pemandangan luar dan menoleh kepada Rayden.“Kita ke panti?”“Iya. Sudah lama, kan, kamu tidak ke sini. Karna tempat ini masih satu kota jadi kita sekalian mampir ke sini.”Anya perlahan tersenyum haru.”Terima kasih ya, Mas.”“Sama-sama. Nikmati waktumu bersama mereka sekalian memperlihatkan bayi kita.”Anya mengangguk. Tanpa bisa menahan diri ia langsung memeluk Rayden yang langsung membalas dan mengusap lembut punggungnya.Mobil sedan putih itu mulai dikerumuni anak-anak yang tampak penasaran. Begitu pintu mobil terbuka beberapa raut wajah anak-anak di sana terlihat kegirangan.“Tante Anya! Tan
Setelah keributan antara ibu dan anak itu. William dan beberapa anggota keluarga lainnya segera melerai pertengkaran itu dan meminta agar Rayden lebih tenang.Mereka tak menyalahkan siapapun saat ini. Karena yang harus mereka lakukan adalah menenangkan suasana agar tidak semakin pelik masalah diantara keduanya.“Rayden, kendalikan emosimu. Om tahu, Mamamu salah dan Om akui itu. Tapi dengan kamu mengamuk dengan emosi yang tidak terkendali, yang ada masalahnya akan semakin runyam,” ucap William menasehati.Rayden mengembuskan napas berat.”Aku sudah sangat-sangat kecewa dengan sikap Mama, Om. Dan sekarang Mama melakukan hal yang kejam pada Anya dan anakku. Siapa lagi yang akan bertindak kecuali aku.”“Andai Aca tidak memberitahuku, apa yakin Anya dan anakku akan baik-baik saja dan mungkin….” Rayden tampak tak sanggup untuk melanjutkannya.“Om paham, Rayden. Kalau Om diposisimu, mungkin Om akan melakukan hal yang serupa. Tapi kamu jangan lupa, Mamamu itu akan semakin menjadi-jadi bila kam
Malam semakin larut dan dengkuran halus terdengar samar di kamar hotel yang diliputi keheningan itu. Namun, sesekali suara lenguhan bayi terdengar.Rayden menepuk lembut paha putranya ketika akan terjaga dan tangan yang lain ia biarkan direbahi Anya. Perempuan itu tidur di sampingnya sambil memeluk erat dirinya, setelah satu jam lebih menangis.Tidak bisa ia lakukan dan membiarkan Anya meluapkan semuanya. Ia tahu betul bagaimana kehidupan Anya yang tidak mudah. Dan wajar sekali perempuan itu mereka sangat terluka perasaannya.Alis Anya mengerut, pelukannya pada Rayden sedikit mengendur.Perempuan itu membuka matanya yang terasa berat dan perih.“Kenapa bangun?” tanya Rayden melihat perempuan itu terjaga.“Ravyan mana?” Suaranya serak dan hampir hilang.“Dia ada disampingku. Sedang tidur. Kamu lanjut tidurnya.”“Tapi… Mas tidak tidur? Apa Ravyan rewel?”“Dia tidak rewel. Kamu tenang saja.”Anya melirik tangan laki-laki itu yang ia rebahi. Sontak ia langsung bangun.”Maaf, Mas.”“Tidak p
“Kita kembali ke villa?” tanya William sambil melirik ke belakang di mana Rayden sibuk menggendong bayinya dan membiarkan Anya untuk tenang.Perempuan itu tak banyak bicara hanya diam, namun isak tangis tak bisa disembunyikan oleh perempuan itu.“Kita tidak perlu ke villa, cukup antarkan kami ke hotel Paman,” balas Rayden.William mengangguk dan menambah kecepatan mobilnya di tengah hujan yang sedikit mereda.“Kemarilah, Anya.”Rayden meraih bahu perempuan itu dengan lembut, lalu menariknya hingga bersandar di dadanya. Ia memeluk Anya erat, membiarkannya meluapkan tangis yang sejak tadi berusaha ditahan.“Tenang... kamu sudah aman. Aku di sini.”Suara Anya bergetar di sela isaknya. “Aku takut... aku tidak bisa melindungi Ravyan.”Rayden mengusap punggungnya perlahan, berusaha menenangkan perempuan yang gemetar dalam pelukannya.“Jangan berpikir seperti itu. Ravyan baik-baik saja.”Ia kemudian mengecup lembut kening Anya, seakan ingin menghapus seluruh ketakutan yang memenuhi hati pere
Anya melangkah menyusuri jalanan yang lengang sambil berusaha menahan isak tangisnya. Bayi Ravyan dipeluk erat di dadanya. Tangisan sang buah hati tak kunjung reda, seakan merasakan kepedihan yang sedang menghimpitnya.Ia terus berjalan tanpa tujuan. Tempat ini begitu asing baginya. Ia bahkan tidak tahu sedang berada di mana. Namun, ia sadar, menangis sekeras apa pun tidak akan mengubah keadaan.Langit mulai menggelap, sementara udara sore kian menusuk kulit. Anya refleks mengeratkan pelukannya, berusaha menghangatkan tubuh mungil Ravyan. Hatinya semakin diliputi kepanikan saat teringat seluruh pakaian dan perlengkapan bayinya masih tertinggal di dalam mobil yang telah membawanya pergi.Kalaupun ada, setidaknya bisa menghangatkan tubuh putranya. Ia tak masalah dirinya kedinginan.Langkah Anya akhirnya terhenti di sebuah bangunan sederhana yang menyerupai pendopo di tepi jalan. Tempat itu tampaknya memang disediakan sebagai area singgah bagi para pengendara yang ingin beristirahat.Den
Pada akhirnya, Anya memilih ikut bersama Arum. Di dalam mobil Alphard itu juga sudah ada beberapa anggota keluarga lain yang tampaknya datang terlambat, sehingga mereka bergabung dalam rombongan Arum.Anya menunduk menatap bayinya yang terlelap pulas di dalam gendongannya. Syukurlah, si kecil tetap tenang sepanjang perjalanan. Ia tidak menangis ataupun rewel, membuat Anya bisa sedikit bernapas lega di tengah suasana yang terasa canggung.Perlahan matanya melirik semua orang yang diam membisu. Mereka seakan sudah kelelahan hingga tidak bicara apapun.Matanya beralih melihat perempuan yang menyetir dengan Arum yang duduk di samping. Perempuan itu terlihat tertutup dengan jaket dan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya.Perjalanan telah berlangsung lebih dari satu jam lebih. Setelah melewati jalan tol menuju Bandung, mobil akhirnya keluar dan melanjutkan perjalanan di jalan raya seperti biasa.Namun, tak lama kemudian suasana mulai berubah. Mobil memasuki kawasan yang diapit hutan
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Anya datang lebih pagi ke perusahaan besar yang ada di pusat kota. Ia melangkah memasuki area perusahaan dan di sana ia melihat Ayu sudah menunggu dirinya.Ia tersenyum dan semakin mempercepat langkahnya.“Aku kira kamu akan datang lebih lambat dariku,” ucap
Satu bulan kemudian…Anya dibuat gelisah dan semakin digantung oleh suaminya sendiri yang jarang pulang ke rumah, bahkan suaminya sudah menghentikan kiriman uang ke rekeningnya. Bagaimana bisa ia memenuhi kebutuhannya bila suaminya sendiri hilang entah ke mana.Untuk kesekian kalinya ia menelpon su
Alis laki-laki itu berkerut, tidak mengerti dengan keberanian perempuan di depannya. Namun, sebelum ia memulainya, bibir lembut itu tiba-tiba menyentuh bibirnya lebih dulu. Seketika darahnya berdesir, sensasi panas menjalar cepat ke seluruh tubuhnya.Ia terdiam, menahan gejolak yang mulai menguasai
“Mas Kevin.” Suara Anya terdengar lirih dan hampir tak terdengar. Senyuman getir terbit di bibirnya yang pucat.“Aku datang ke sini bukan untuk pulang,” ucap Kevin sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan map di tangannya ke meja.“Kamu harus tanda tangani surat cerai ini agar perceraia







