Home / Romansa / Istri Naskah Mas Politikus / I : Menyerang Politikus

Share

Istri Naskah Mas Politikus
Istri Naskah Mas Politikus
Author: Rahmani Rima

I : Menyerang Politikus

Author: Rahmani Rima
last update Last Updated: 2026-01-12 18:37:33

Olla menyeduh kopi di pantry kantor surat kabar Berita Pertama, dimana ayah juga bekerja disini sebagai jurnalis veteran. Dia baru selesai sidang skripsi dan belum tahu mau kerja apa. Mencoba magang disini untuk mencari pengalaman. Ya sukur-sukur langsung diterima kerja 'kan?

"La, ayah mana? Ada berita yang masih nyangkut nih, belum bisa di publis." rekan kerja ayah mengikuti Olla yang membawa gelas kopi ke ruangan.

"Bentar, aku tanya ayah dulu, mungkin masih di jalan." Olla duduk di kursi milik ayah. Sambil menelpon, tangannya mengambil figura yang menunjukkan potret dirinya, ayah dan ibu yang saling berpelukan di pantai.

Beberapa saat gak ada jawaban, Olla mencoba menelpon ulang.

"Di angkat, La?"

"Belum, tante, bentar ya."

Rekan kerja ayah yang lain, menaruh box makan siang di meja, "Ayahmu gak bisa angkat telpon, La."

Dahi Olla mengerut, "Loh, kenapa, om? Emang ayah lagi ngapain?"

Teman ayah melirik semua orang yang ada di ruangan.

"Ayah ada kerjaan meliput, ya? Tumben gak bilang ke aku." Olla membuka aplikasi chat untuk protes pada ayah.

"Hmmm," lelaki itu mengusap bahu Olla pelan, "Ayah sama ibu lagi di persidangan. Hari ini putusan cerai mereka dibacakan."

Bagai tersambar petir di siang bolong, tubuh Olla membeku. Jangan lupakan ekspresi wajah amat terkejut dan mulut melongonya. Gelas transparan yang dia gunakan untuk membuat kopi—retak, seolah mewakili hidupnya yang hancur.

"La, perceraian itu gak selamanya buruk. Semua udah jadi keputusan terbaik mereka. Yang sabar, ya."

Olla berdiri dengan mata berembun, "Kenapa mereka pisah, om?"

"Loh, bukannya mereka sering cekcok di rumah?"

"Karena itu?" Olla tertawa, "Om bercanda 'kan? mereka pasti—ibu lagi bikin konten prank buat naikin viewer?"

Suasana jadi gak nyaman. Rekan kerja ayah tahu, kalau Febiolla Ravasya adalah anak yang manja dan bergantung pada orang tua. Dia sering membanggakan diri memiliki keluarga cemara. Gak jarang hal itu membuatnya menjadikan konten di sosial media.

"La, kamu tetep jadi anak mereka. Gak akan ada yang berubah dengan kasih sayang ayah dan ibu buat kamu."

Gak ada jawaban. Olla meraih jaket dan pergi meninggalkan ruangan divisi elektronik.

Tangisnya pecah saat menuruni anak tangga. Dia masih gak terima dengan kabar dadakan mengenai perceraian ayah dan ibu. Olla pikir selama ini hubungan mereka baik saja seperti yang sudah-sudah. Dia kecewa menjadi orang terakhir yang tahu, sehingga gak bisa mencegah perpisahan itu.

Di lobi kantor, telinga Olla yang peka, mendengar dengan jelas suara pewarta di televisi tengah membicarakan sesuatu yang membuatnya ingin minggat dari kantor saat itu juga.

"Jurnalis veteran, Dirman Sanjaya resmi bercerai dengan Tarina Jamasir, seorang konten beauty vlogger yang sedang naik daun. Kabarnya, Tarina tak meminta harta gono-gini dari dua puluh tiga tahun pernikahan mereka."

"...Baik Dirman maupun Tarina menolak melakukan wawancara. Menurut kabar yang beredar, penyebab perceraian mereka adalah orang ketiga. Siapakah orang itu?"

"Dalam sebuah unggahan netizen menggunakan hengpon jadul, Tarina terlihat ditemani mediasi beberapa kali oleh seorang politikus muda, Aidan Halim. Apa sebenarnya hubungan mereka?"

Mata Olla terasa panas. Aidan Halim? Dia jelas kenal politikus yang baru kembali dari negeri Paman Sam itu. Orang namanya disebut dan mukanya seliweran dimana-mana.

Enam bulan lalu Aidan baru menyelesaikan tugasnya menjadi Diplomat Muda di kedutaan besar Republik Indonesia di Washington, Amerika Serikat.

Begitu kembali, Aidan langsung bergabung menjadi wakil komisi 6 Departemen Ekonomi Negara. Programnya yang mumpuni membuatnya dikenal luas masyarakat, selain karena tampangnya yang enak di pandang.

Olla meremas jaket yang masih dia jinjing, "Aidan, awas lo, ya!"

Sebelum benar-benar pergi, Olla untungnya ingat ada rapat yang digelar siang ini. Dia malah sudah telat karena baru ingat rapat di majukan satu jam lebih awal. Dengan tergesa, dia berlari ke aula.

Olla cepat masuk dan duduk di pojok tempat khusus para jurnalis magang.

"...Untuk liputan siang ini, saya mau kalian mendapat berita mengenai program terbaru dan tatalaksana komisi 6. Cari tahu juga mengenai kegiatan aktivis yang dilakukan Aidan Halim di akhir pekan." tutur redaktur.

Salah satu jurnalis magang mengangkat tangan, "Pak, apa perlu kita mencari tahu kehidupan pribadi Aidan Halim untuk menambah informasi, mumpung kantor mau Anniversary? Ya sebut aja sebagai bumbu berita."

"Contohnya?"

"Seperti menanyakan siapakah perempuan yang disembunyikannya selama beberapa tahun ini, dan kenapa dia tidak memperkenalkan ke publik siapa kekasihnya. Bahkan Airan Halim saja, kakaknya, tidak tahu siapa perempuan itu."

Olla menajamkan telinganya. Kedua alisnya mengerut serius, tak menyangka bahwa politikus yang digandrungi halayak terutama perempuan muda itu menyembunyikan kekasihnya selama ini.

'Jangan-jangan pacarnya itu—ibu, makannya di sembunyiin?' batin Olla.

Redaktur menimbang, "Saya rasa gak perlu. Cukup tanyakan hal-hal terkait pekerjaan dan aktivitasnya aja. Lagian kita ini 'kan jurnalis berita, bukan gosip."

"Baik, pak, dimengerti,"

Salah satu jurnalis senior mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan, "Tolong dicatat baik-baik ya, untuk reporter dan adik-adik yang magang, bahwa kita bekerja di Berita Pertama bukan di gosip pertama."

Ucapan itu disambut gelak tawa dari yang lain termasuk Olla. Kini, rasanya dia tahu apa yang harus dilakukan pada Aidan Halim.

"Untuk yang liputan seperti biasa ya, satu jurnalis utama dan dua cadangan, untuk kameramen cukup satu. Rapat saya akhiri. Begitu nanti di depan gedung dewan, jurnalis yang sudah mendapat informasi untuk melakukan siaran langsung, dan yang lain kirim file untuk saya sunting segera. Apakah ada yang mau ditanyakan?"

Olla mengangkat tangannya, "Pak, izin tanya, apa jurnalis magang boleh ikut liputan?"

"Dalam liputan kali ini gak perlu. Nanti kita cari momen lain yang liputannya lebih fleksibel."

"Ta-tapi saya—mau ikut, pak." tutur Olla dengan wajah mengiba.

Redaktur baru ingat, hari ini adalah sidang putusan perceraian Dirman Sanjaya. Mata Olla yang terlihat merah, membuatnya ikut bersimpati.

"Ya sudah kamu boleh ikut."

Grup jurnalis Berita Pertama tiba di lokasi. Mereka duduk ngemper menunggu selesainya rapat komisi 6.

Olla sudah menyiapkan pertanyaan untuk diberikan pada Aidan. Dia akan menjadikan momen ini untuk mempermalukan sang politikus yang ternyata orang ketiga yang membuat keluarganya hancur.

"Aidan Halim keluar!" teriak jurnalis berita lain.

Keadaan menjadi kacau. Semua jurnalis berlomba-lomba mendekati Aidan untuk melakukan wawancara. Olla tentu saja menjadi salah satunya.

"Pak Aidan, apakah betul komisi 6 siap bekerja sama dengan komisi 9 di bidang kesehatan, yaitu membatasi pembelian Gula dalam jumlah tertentu, termasuk untuk pedagang, guna menekan angka Diabetes yang terus meningkat? Bagaimana dengan protes pelaku usaha UMKM atas itu?"

"Pak Aidan, kami dengar, usul yang anda berikan terlalu beresiko, karena akan membuat stok Gula justru menumpuk karena pembelian yang di batasi akan menghambat pertumbuhan ekonomi?"

"Pak Aidan, jika usul tersebut tidak jadi di sah kan, apa bapak memiliki opsi lain untuk keberlangsungan program terbaru komisi yang bapak wakili?"

Aidan tersenyum sok ramah pada semua jurnalis, "Saya akan jawab semua pertanyaan kalian. Ada pertanyaan lain?"

Olla mengangkat ujung ponselnya ke dekat mulut Aidan, "Pak Aidan apakah benar anda menyembunyikan kekasih anda dari publik selama ini, karena dia adalah istri dari jurnalis veteran Dirman Sanjaya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Naskah Mas Politikus    XVI : Aidan Cemburu?

    Olla sudah diberi tindakan, berupa suntik antihistamin untuk mengobati bidurannya. Untungnya gak sampai harus opname, karena gak ada sesak nafas. Sebenarnya pun dia sudah dibolehkan pulang setelah infus habis, tapi Aidan keukeuh mau merawat inapkan istri naskahnya. Dan Olla kepaksa nurut karena badannya pun sedikit lemas karena efek alerginya. Dia gak punya daya upaya untuk melawan. Pikirannya sempet mikir, kenapa Aidan malah mau menahanya disini. Dia gak tahu sudah disiapkan naskah apa lagi. Bodo amat lah. "Infus vitaminnya sudah terpasang," kata suster sambil mengecek laju infus, "Ada yang bisa saya bantu lagi, mbak Olla, pak Aidan?""Ada yang bikin kamu gak nyaman dan pingin diganti, sayang?" Tanya Aidan.Olla menggeleng. Dia memang gak butuh apa-apa lagi, "Makasih banyak, sus.""Sama-sama, mbak Olla. Kalau begitu saya permisi."Selepas suster pergi, Aidan duduk ditepian ranjang menggenggam tangan Olla. Wajahnya serius banget, "Maafin aku ya, La?"'Aku?' Olla mengula

  • Istri Naskah Mas Politikus    XV : Mengelabui Aidan

    Sebelum AIdan menjawab pertanyaannya, Lucy baru terlihat batang hidungnya. Olla melirik Lucy memintanya sembunyi sebelum bertemu Aidan. Dari sebrang, Lucy mengangguk paham."Gue ke toilet dulu."Aidan bangkit, membuat Olla terpaksa harus mendorongnya kembali duduk, "Ngapain?""Anter kamu. Ada mbak Ria.""Gak usah keseringan cari muka. Kerja aja, jangan makan gaji buta. Gaji lo tuh duit gue itu, uang rakyat sipil."Olla buru-buru ke toilet untuk mengatur strategi bersama Lucy yang sudah menunggunya disana."Luc!""Jadi gimana?""Kita harus singkirin dulu mbak Ria.""Siapa tuh?""Aspri gue, yang tadi berdiri gak jauh dari meja gue.""Anjay, beneran jadi istri pejabat lo ya, jadi iri gue.""Jadi istri pejabat gak ada enaknya, percaya sama gue. Apa-apa harus di atur, apalagi depan media."Lucy diam. Matanya melirik sinis."Kenapa lo?""Jangan-jangan pernikahan lo juga di atur."Sekarang Olla yang diam."Lo benci sama dia, sampe nuduh pacar yang dia sembu

  • Istri Naskah Mas Politikus    XIV : Serius?

    Airan mengeluarkan ponsel dan menunjukkan chat dari Olla, "Kamu chat sharelock lokasi ini ke kakak, setengah jam lalu."Aidan merebut ponsel Airan. Dibacanya pelan-pelan isi pesan itu.Olla yang penasaran karena merasa dia gak mengirim pesan apapun pada kakak ipar palsunya, melongokan kepalanya ke layar. Dia pun menganga pada kecerobohannya sendiri. "Kamu ngapain minta kakak kesini, sayang?" Tanya AIdan sedikit ketus, "Kakak sibuk loh."Olla melirik Aidan dan Airan silih berganti. Dia gak mungkin bilang kalau dia sebenarnya ingin mengirim pesan pada Lucy, bisa berantakan rencananya untuk mengelabui Aidan soal asisten pribadi itu."Eum.. aku kayaknya gak fokus deh, kak. Aku tadi--niat laporan ke ayah. Iya, gitu." Jawabnya berusaha meyakinkan, padahal nada ragunya kentara banget."Bener kayak gitu?" Todong Aidan."Iya, mas. Aku 'kan apa-apa cerita ke ayah." Olla menatap Airan, "Maaf ya, kak.""Gak papa. Hari ini kakak lagi free kok sampe siang, jadi gak masalah."Aida

  • Istri Naskah Mas Politikus    XIII : Olla Bingung!

    Olla menggeliat ketika gorden kamarnya dibuka lebar-lebar. Oleh siapa lagi kalau bukan manusia satu itu. "Aidan!""Kamu bisa disiplin gak? Jam berapa ini?"Olla melirik nakas, tempat dimana jam digital bertengger, "Baru jam tujuh.""Baru kamu bilang? Sekarang kamu bangun, mandi dan siap-siap. Kamu ada jadwal maen tenis hari ini.""Lo aja sana." Olla memeluk bantal.Aidan yang terbiasa hidup serba teratur, merasa menghadapi Olla adalah peer besar. Sudah suka melawan, manajemen waktunya jelek pula. Dia menghampiri Olla nyaris menciumnya, "Bangun atau saya--""Heh!" Olla mendorong Aidan, "Jangan suka cari kesempatan ya sama gue! Kita emang pernah ngelakuin itu, tapi cukup sekali! Gak sudi gue di jamah sama cowok serakah kayak lo!""Serakah?"Olla turun dari ranjang dengan wajah super kesal, "Lo punya pacar, tapi pas mabok malah maen sama gue. Apa namanya kalo bukan serakah? Jangan biasain diri bebas ngelakuin apapun karena lo politikus deh, gak mempan di gue.""Udah

  • Istri Naskah Mas Politikus    XII : Nurut!

    Olla terus menarik ujung roknya ketika wawancara selesai. Aidan masih bicara dengan kepala jurnalis. Olla sibuk memikirkan apa yang harus dilakukan sebagai bentuk terima kasih karena Aidan sudah membelanya. Dia tahu benar, ucapan Aidan akan mempengaruhi bagaimnana netizen menilainya nanti."Yuk pulang, sayang." Aidan memeluk pinggang Olla.Tak banyak protes, Olla menurut. Saat sampai rumah, Aidan gak bicara apapun. Dia sibuk dengan lembaran berkas yang baru saja diserahkan Rendi."Mas, aku boleh ngobrol sebentar?" Tanya Olla. Dia mau istirahat tapi merasa perlu mengucapkan terima kasih pada suaminya sebelum lupa.Rendi yang duduk tak jauh dari Aidan bangkit untuk pergi ke belakang rumah, memberikan ruang supaya Olla bisa ngobrol dengan Aidan.Olla duduk disebelah Aidan, "Eum, mas, makasih." Katanya masih setengah berakting."Buat?""Aku tahu kok tadi kamu ngomong kayak gitu supaya netizen gak makin sibuk caci aku. Soal bar dan baju 'kan sebenernya semua atas kemauan a

  • Istri Naskah Mas Politikus    XI : Sisi Baik Aidan

    Olla berteriak kencang bersama Lucy di acara konser band favoritnya. Tubuhnya bergerak lincah, melompat kegirangan saat pikirannya terasa damai karena tidak perlu lagi mengikuti aturan suami naskahnya. "Habis ini jadi 'kan nemenin gue beli parfum?" tanya Lucy berteriak. "Jadi dong." Jawab Olla berteriak juga. "Pak Aidan gak papa emang?" "Eum... Gak papa lah." Lucy menarik tubuh Olla agar tidak lagi melompat, "Gue lupa tanya. Tadi lo kesini sama siapa?" "Supir." Olla gak bohong, dia memang datang sama supir keluarga mama. "Pak Aidan tahu lo kesini 'kan?" Selidik Lucy. "Tahu lah." "Syukur deh. Jangan cari masalah lo sama dia. Rakyat sipil kayak kita mending ikut aturan yang ada aja, cari aman.""Iya-iya, lo ngomong kayak gitu udah berapa kali coba?" Setengah kesal, Olla berusaha mengembalikan moodnya untuk menikmati sisa konser. Dia heran, kenapa Lucy malah berada dipihak Aidan. Sahabatnya jelas-jelas adalah dirinya.Belum lima menit berlalu, Olla

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status